NovelToon NovelToon
PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."

Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.

Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.

Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAMBAL DENDAM DAN RASA BERSALAH

"Kabelnya sudah selesai? Kalau sudah, kita keluar cari makan siang. Saya yang bayar."

Mata Nana langsung berbinar-binar seperti lampu neon. "MAKAN GRATIS?! Wah, tumben banget! Dalam rangka apa nih? Syukuran dapet asisten ganteng atau syukuran Kulkasnya lagi defrosting?"

Ghava hanya menatap Nana datar, tapi ada kilat jenaka di matanya. "Dalam rangka supaya mulut kamu berhenti ngeledek saya dan fokus buat makan. Reka, ayo ikut. Ada restoran sunda di dekat sini, katanya kamu orang Sukabumi kan? Kita lihat selera kamu seberapa bagus."

"Siap, Mas!" jawab Reka semangat.

Nana langsung merangkul boneka Imoet yang ia bawa tadi ke dalam pelukannya. "Asik! Rek, ayo cepetan! Jarang-jarang nih Kulkas Antartika mau ngeluarin duit buat traktir rakyat jelata kayak kita!"

Sesampainya di restoran Sunda tersebut, Ghava mengambil alih kendali menu dengan wajah yang sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya acuh soal makanan. Ia memesan beberapa porsi Ayam Bakar, namun saat pelayan menanyakan tingkat kepedasan sambalnya, Ghava menatap Reka dengan tatapan menantang.

"Sambal dadaknya satu porsi buat dia, tolong dibuat yang level maksimal ya. Cabe rawit setannya dibanyakin," ucap Ghava dingin sambil menunjuk ke arah Reka.

Reka sempat menelan ludah melihat pesanan itu, sementara Nana langsung melotot. Begitu pesanan datang, aroma cabai yang menyengat langsung menusuk hidung. Warnanya merah kehitaman, terlihat sangat mematikan.

"Cobain, Rek. Katanya orang Sukabumi jago makan pedas, kan? Anggap saja ini tes ketahanan mental di studio saya," ujar Ghava sambil mulai menyantap ayamnya dengan elegan, sama sekali tidak menyentuh sambal maut itu.

Reka baru saja hendak menyentuh sendoknya dengan ragu, tapi Nana langsung menarik piring sambal itu menjauh dari Reka.

"Ih! Sini tukeran aja sama aku, Rek! Mas Ghava kok jahat banget sih ospeknya? Ini mah bukan tes mental, ini mah namanya percobaan pembunuhan lewat lambung!" protes Nana kesal.

Nana kemudian mencicipi sedikit sambal itu dengan ujung jarinya. Detik berikutnya, wajah Nana langsung memerah padam, matanya berair, dan ia mulai mengipasi mulutnya dengan tangan. "HUWAA! Ini mah pedes banget! Gila, Mas! Ini mah cabai rasa dendam kesumat!"

Nana langsung menyambar gelas es teh manisnya dan meminumnya sampai tandas, lalu ia menoleh ke Reka dengan wajah protektif. "Udah Rek, kamu makan yang punya aku aja. Jangan dimakan sambal itu, nanti kamu pingsan pas lagi rapiin kabel, aku males ngerjain sendirian."

Ghava yang melihat Nana membela Reka sampai segitunya langsung merasa seleranya makannya hilang. Ia meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang cukup keras.

"Nadin, dia itu laki-laki. Masa makan sambal saja harus dilindungi asisten perempuan?" sindir Ghava, suaranya terdengar sangat cemburu meskipun ia mencoba menutupinya.

"Bukan masalah laki-laki atau bukan, Mas! Ini masalah kemanusiaan!" sahut Nana sambil masih megap-megap kepedasan. "Mas Bos jahat banget, mentang-mentang pinter main piano, sekarang mainin perut orang juga!"

Reka yang merasa suasana makin panas akhirnya tertawa canggung. "Udah, udah, Na. Nggak apa-apa kok. Mas Ghava cuma mau ngetes keberanian saya mungkin." Reka baru saja mau mengambil kembali sambalnya, tapi tangan Nana menepisnya lagi.

"Nggak boleh! Pokoknya kamu makan ayam aku yang nggak kena sambal!" tegas Nana.

Ghava hanya bisa terdiam, tangannya mengepal di bawah meja. Niat hati ingin menjatuhkan harga diri Reka, eh malah berakhir membuat Nana makin perhatian pada pria itu. Pagi ini Ghava merasa suhunya mencair, tapi sekarang hatinya terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api.

Ghava terdiam seribu bahasa saat mendengar kalimat itu. Ia menatap Nana yang kini bibirnya sudah memerah dan bengkak karena nekat memakan ayam yang berlumuran sambal maut pesanan Ghava untuk Reka tadi.

"Pilih kasih amat Mas Bos, dulu aku nggak diginiin..." gerutu Nana sambil mengunyah dengan susah payah, sesekali mengeluarkan suara hah-huh-hah karena kepedasan. "Dulu pas pertama masuk, aku cuma disuruh beli es teh plastik di depan. Nggak ada tuh acara ospek-ospek makan sambal level jahanam begini. Kok ke Reka spesial banget?"

Reka yang melihat Nana membela dirinya sambil menahan pedas hanya bisa tersenyum tidak enak. "Na, udah... beneran nggak apa-apa kok. Sini, minum dulu," ucap Reka sambil menyodorkan gelas air mineral barunya.

Ghava yang melihat interaksi itu merasa hatinya makin "terbakar", jauh lebih panas daripada sambal yang sedang dimakan Nana. Ia tidak tahan lagi.

"Itu karena kamu itu bandel, Nadin," sahut Ghava ketus, mencoba menutupi rasa cemburunya. "Dulu saya nggak perlu ngetes kamu pakai sambal karena kamu sendiri sudah bikin saya pusing dengan ocehan kamu dari hari pertama. Kalau Reka, saya harus tahu dia itu tahan banting atau cuma modal tampang doang."

Nana langsung meneguk air dari Reka sampai habis, lalu menatap Ghava dengan mata yang masih berair. "Dih, alasan! Bilang aja Mas Bos takut kalah ganteng sama Reka, kan? Makanya mau bikin perut Reka mulas biar dia nggak bisa senyum-senyum lagi!"

"Nadin!" tegur Ghava dengan suara rendah, memperingatkan.

"Tuh kan, kalau udah kalah debat pasti pakai suara ngebass!" Nana memalingkan wajahnya ke arah Reka. "Rek, mending kita abis ini kabur aja yuk? Kita cari es krim di depan, buat mendinginin lidah aku yang udah mau copot ini. Biarin aja Mas Kulkas sendirian di sini biar makin beku sama tagihannya."

Reka tertawa kecil, melirik Ghava yang mukanya sudah hampir sama merahnya dengan sambal di meja. "Gue sih ikut gimana Mbak Asisten Senior aja," jawab Reka bercanda, yang malah makin menyulut api di hati Ghava.

Ghava langsung berdiri dari kursinya, membuat suara gesekan kursi yang cukup keras di lantai restoran. Ia merogoh dompetnya, menaruh beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja tanpa menghitungnya.

"Selesai makannya. Kita balik ke studio sekarang," perintah Ghava tegas. "Nadin, kamu ikut mobil saya. Ada revisi lagu Elvario yang harus kamu catat sekarang juga. Reka, kamu balik naik ojek atau kendaraan sendiri, saya butuh ruangan tenang sebelum kamu mulai kerja lagi."

Nana melongo. "Loh? Kok gitu? Kan tadinya berangkat bareng-bareng!"

"Nggak ada tapi-tapian. Ayo jalan," ucap Ghava sambil menarik pelan ujung kemeja Nana agar gadis itu berdiri.

Melihat Ghava yang tiba-tiba "mode otoriter", Nana hanya bisa pasrah sambil memberikan kode peace ke arah Reka. "Duluan ya Rek! Sabar ya punya Bos yang mood-nya kayak wahana halilintar begini!"

Suasana di dalam mobil terasa sangat kontras dengan keramaian di restoran tadi. Ghava yang biasanya menyukai keheningan, kali ini malah merasa terintimidasi oleh diamnya Nana. Gadis itu hanya menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap jalanan dengan wajah datar tanpa memegang ponsel atau boneka "Imoet"-nya.

"Kamu kok diem aja, Na?" tanya Ghava akhirnya, memecah kesunyian yang mencekam itu.

Nana tidak menoleh sedikit pun. "Mas Bos ini maunya gimana? Kalau aku berisik, Mas Bos marah. Sekarang aku diem, dikomen juga. Serba salah ya jadi asisten merangkap rakyat jelata," jawab Nana cuek, nadanya dingin, seolah sedang bicara dengan robot.

Ghava langsung terdiam. Ia meremas kemudi mobilnya lebih erat. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya—rasa bersalah yang bercampur dengan ego. Ia ingin minta maaf soal insiden sambal tadi, tapi lidahnya terasa kaku.

Begitu mobil Ghava memasuki pelataran parkir studio, pemandangan di depan pintu masuk sukses membuat Ghava nyaris menginjak rem dengan mendadak. Di sana, Reka sudah berdiri dengan santai sambil memainkan kunci motornya. Ternyata pria itu jauh lebih cepat sampai daripada mereka yang terjebak sedikit macet.

Begitu turun dari mobil, wajah Nana yang tadi mendung langsung berubah cerah 180 derajat.

"Wah, udah nyampai ternyata ya, Rek!" seru Nana ramah, suaranya kembali melengking ceria. Ia bahkan berlari kecil menghampiri Reka. "Gila, kamu naik apa? Terbang ya? Kok bisa lebih cepet dari Kulkas berjalan ini?"

Reka tertawa, matanya menyipit ramah. "Gue kan pake motor, Na. Nyelip-nyelip dikit nyampe deh. Lidah lo udah nggak apa-apa? Masih pedes?"

"Dikit sih, tapi liat kamu udah nyampe sini jadi adem lagi," canda Nana sambil tertawa lepas.

Ghava yang baru saja turun dari mobil mematung di samping pintunya. Ia melihat pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Giginya bergemeletuk kecil.

"Kok sama saya di mobil dia judesnya minta ampun, tapi sama cowok ini lembut banget?" pikir Ghava dalam hati.

Dadanya terasa makin panas, bukan karena sambal, tapi karena ia merasa posisinya sebagai "pusat semesta" di studio itu mulai terancam oleh kehadiran pria asal Sukabumi tersebut. Ghava pun berjalan melewati mereka dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan.

"Nadin, Reka! Masuk sekarang. Jam istirahat sudah lewat lima menit!" bentak Ghava tanpa menoleh, langsung masuk ke dalam studio dengan aura yang lebih dingin dari kutub utara.

Nana hanya melirik punggung Ghava sambil berbisik ke Reka, "Tuh kan, Rek... Antartikanya kambuh lagi. Kayaknya dia butuh service besar-besaran deh."

Suasana studio yang tadinya penuh dengan aura persaingan mendadak berubah tegang. Di pojok ruangan, Nana yang biasanya sangat aktif kini hanya diam meringkuk di atas sofa lipat. Suara pulpennya yang tadi menggores kertas sudah lama berhenti.

"Aku catatnya sambil rebahan deh, kayak capek banget," pamit Nana tadi dengan suara yang agak serak, dan Ghava hanya mengangguk tanpa menoleh karena masih fokus pada layar monitor.

Namun, sepuluh menit kemudian, Reka yang sedang merapikan beberapa file di dekat sofa mulai merasa ada yang tidak beres.

"Nadin, catat bagian ini lagi... Nana?" panggil Reka pelan.

Tidak ada jawaban. Reka menengok dan seketika matanya membelalak. Ia melihat Nana meringkuk dengan tubuh gemetar, wajahnya yang tadi ceria kini berubah pucat pasi, dan butiran keringat dingin sebesar biji jagung memenuhi dahi dan pelipisnya.

"Na? Kamu nggak apa-apa?" ucap Reka panik. Ia segera mendekat dan menggoyangkan tubuh Nana dengan lembut. "Na! Bangun, Na! Muka lo pucat banget!"

Mendengar nada panik di suara Reka, Ghava langsung memutar kursinya dengan gerakan kilat. Jantungnya seolah mencelos melihat asistennya yang biasanya "ajaib" itu kini tak berdaya.

"Nadin kenapa?!" bentak Ghava, suaranya naik satu oktav. Ia langsung melompat dari kursinya, mengabaikan semua pekerjaan dan kabel yang menghalangi jalannya.

Ghava berlutut di samping sofa, menyisihkan tangan Reka dari bahu Nana dengan gerakan protektif. Ia menyentuh kening Nana. "Panas... tapi badannya dingin banget. Nadin! Buka mata kamu!"

Nana hanya melenguh pelan, tangannya mencengkeram perutnya dengan sangat erat. Sepertinya efek sambal "dendam kesumat" tadi benar-benar menghancurkan lambungnya yang ternyata sensitif.

"Perut... sakit banget, Mas..." rintih Nana dengan suara yang nyaris hilang.

Ghava menatap wajah pucat itu dengan rasa bersalah yang luar biasa. Ia tahu ini gara-gara keegoisannya tadi di restoran. Rasa cemburunya telah membuat Nana kesakitan seperti ini.

"Reka! Ambilkan kotak P3K dan air hangat sekarang!" perintah Ghava tanpa menoleh, matanya hanya terpaku pada Nana. Tangannya yang gemetar kini mendekap kepala Nana, mencoba memberikan kehangatan. "Maafin saya, Na... Maafin saya. Tahan sebentar, ya?"

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
lnjut banyakk
Pa Muhsid
jangan jangan mantan nana nih kalo iya sikat ghav na jangan kasih kendor
falea sezi
di kubur gmn gav kenyataan lu dlu. pcrn ma. nadin sering tidur bareng kan hmmmmm km. itu g cocok buat Nadine pantes surya ngotot gk. kasih restu wong qm bukan cowok baik dih/Puke/
falea sezi
g rela deh klo dpet gava laki. bekas dih
falea sezi
berarti gava ma selya uda sering nganu dih g sepolos yg q bayangin
falea sezi
cwek ga tau malu si selya
falea sezi
baru nyimak
yoke oktaviansyah
💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!