NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : CINTA YANG ABADI

Sinar matahari sudah mulai menyinari setiap sudut kota ketika Lia menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di rumah sakit. Udara sore yang hangat membawa aroma bunga melati dari taman dekat kantin rumah sakit, sedikit mengurangi rasa lelah setelah bekerja selama empat jam menyortir dan mencuci puluhan helai pakaian pasien anak-anak. Dia menyimpan deterjen ke dalam wadah plastik yang kuat, kemudian mengambil tas kerja yang selalu ada di mejanya – di dalamnya ada buku catatan kecil, sapu tangan bekas, dan foto tiga bayi yang tertidur berdampingan di bak mandi plastik.

“Lia, kamu sudah selesai kerja ya?” ucap Pak Joko dengan suara khas, membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah bersih. “Hari ini ada kunjungan dari dinas sosial lho – mereka mau membahas program dukungan keluarga untuk anak-anak yang membutuhkan.”

Lia mengangguk dengan senyum hangat, mulai menyusun cucian yang bersih ke dalam rak khusus. Dia melihat foto kecil itu dengan mata penuh cinta – Mal dengan lekukan di bibirnya yang mirip Lia, Rini dengan alis yang menyerupai ayahnya, dan Adit dengan bintik merah berbentuk hati di punggung kanannya yang tidak akan pernah dilupakan.

“Saya akan pulang sebentar ya, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara lembut sambil mengambil tasnya yang sudah siap. “Anak-anak pasti sudah menunggu saya di kontrakan Bu Warsih.”

Saat berjalan pulang, Lia menyapa setiap orang yang kenal dengannya. Pedagang sayur yang baru membuka kiosnya memberikan senyum hangat: “Hai Lia, mau sayur segar tidak? Buat anak-anak kamu ya.”

“Terima kasih banyak, Bu,” jawab Lia dengan senyum hangat, membeli beberapa ikat kangkung dan bayam segar sebelum melanjutkan jalan pulang. Udara sore mulai terasa hangat dengan suara burung yang berkicau di atas pepohonan.

Ketika sampai di kontrakan, Lia melihat Mal dan Rini sudah berdiri di depan pintu dengan wajah ceria. “Bu sudah datang!” teriak mereka berdua dengan suara penuh semangat.

“Kamu berdua sudah mandi dan siap ya?” tanya Lia dengan suara hangat sambil memeluk mereka berdua. “Mari kita makan bersama ya setelah bermain sedikit.”

Setelah makan bubur ayam yang disediakan Bu Warsih, mereka bermain di halaman depan kontrakan dengan beberapa teman sebaya. Mal mengambil gambar yang digambarkannya sendiri – sebuah keluarga yang sedang makan bersama di bawah pohon besar. “Ini kita kan, Bu?” tanya Mal dengan suara lembut.

“Ya sayang, itu kita semua,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluk mereka berdua erat. “Kita akan selalu bersama ya, walau harus melalui waktu yang panjang.”

Mereka semua bermain bersama di halaman depan, membuat berbagai bentuk dari tanah liat yang ada di sudut jalan. Rio mengambil tanah liat, membentuk hati kecil yang sama dengan yang ada di punggungnya. “Ini seperti cinta keluarga ya, Bu?” tanya Rio dengan suara lembut.

“Ya sayang, itu adalah cinta keluarga yang tidak akan pernah hilang,” jawab Lia dengan suara penuh emosi sambil memeluk anak itu erat.

Setelah itu, mereka semua masuk ke dalam rumah, makan bersama dengan suasana yang hangat dan penuh cinta. Bu Warsih menyajikan makanan khas daerah yang lezat. Setelah makan, mereka duduk bersama di teras rumah sambil melihat matahari terbenam dengan warna jingga yang indah.

“Semoga cinta kita selalu ada dan tidak pernah hilang ya, Bu?” tanya ketiga anak itu dengan suara serempak.

“Ya sayang, cinta kita akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang walau melalui segala rintangan,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluk ketiga anaknya erat.

Di kejauhan, suara anak-anak yang bermain memenuhi udara dengan kegembiraan. Mereka semua merasa bahwa cinta keluarga adalah sesuatu yang abadi yang tidak akan pernah hilang. Setelah itu, mereka masuk ke dalam rumah, menyiapkan diri untuk istirahat dengan suasana yang hangat dan penuh cinta.

Mereka semua berbaring di atas kasur yang nyaman, dengan wajah yang penuh kedamaian. Lia melihat anak-anaknya yang sudah tertidur pulas, dengan wajah yang penuh kebahagiaan. Dia menyimpan foto kecil tiga bayinya kembali ke dalam tasnya, kemudian juga tertidur dengan nyenyak di samping mereka.

Di langit yang sudah mulai gelap dengan bintang-bintang yang bersinar terang, mereka semua merasakan kedamaian yang mendalam. Cinta keluarga mereka adalah sesuatu yang abadi dan tidak akan pernah hilang walau melalui segala rintangan hidup yang ada. Semua cerita tentang perjuangan dan kebahagiaan mereka akan selalu hidup dalam hati setiap orang yang menyaksikannya.

Mereka semua bangun dengan senyum keesokan paginya, melihat matahari yang mulai menyinari setiap sudut kota. Udara pagi yang segar membawa aroma bunga dan suara burung yang berkicau. Mereka semua sarapan bersama dengan suasana yang hangat dan penuh cinta.

Setelah sarapan, Lia mengantar anak-anaknya ke sekolah dengan jalan kaki yang santai. Di jalan, mereka menyapa semua orang yang kenal dengan senyum hangat. Di sekolah, Lia menyapa guru kelas mereka: “Anak-anak sudah siap belajar ya, Bu Guru.”

“Ya, Lia, mereka sudah siap,” jawab guru dengan senyum hangat.

Setelah mengantar anak-anak, Lia kembali ke rumah sakit untuk bekerja. Di jalan, dia melihat seorang anak laki-laki dengan rambut pirang sedang bermain dengan tanah liat – ketika anak itu berbalik, terlihat bintik merah berbentuk hati di punggungnya.

“Hai Bu, mau lihat bentuk hati yang saya buat?” tanya anak itu dengan suara lembut.

“Cantik sekali, nak,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil membantu membentuk hati yang lebih rapi. “Ini seperti cinta keluarga kita ya.”

“Ya Bu, itu seperti cinta yang tidak akan pernah hilang,” jawab anak itu dengan suara lembut.

Setelah itu, Lia membawa anak itu untuk bertemu dengan Mal dan Rini di sekolah. Ketika mereka bertemu, wajah mereka langsung bersinar ceria. “Kakak!” teriak mereka berdua dengan suara penuh kegembiraan.

Mereka semua bermain bersama di halaman sekolah, membuat berbagai bentuk hati dari tanah liat dan bunga yang dikumpulkan dari sekitar taman. Suasana penuh dengan tawa dan candaan yang membawa kebahagiaan bagi semua orang di sekitar.

Setelah itu, mereka pulang bersama ke kontrakan Bu Warsih. Di jalan, mereka menyapa semua orang yang kenal dengan senyum hangat. Ketika sampai di kontrakan, Bu Warsih sudah menunggu dengan makanan hangat.

“Selamat datang kembali, keluarga yang bahagia,” ucap Bu Warsih dengan senyum hangat.

Mereka semua makan bersama dengan suasana yang sangat hangat. Setelah makan, mereka duduk bersama di teras rumah sambil melihat langit yang mulai gelap dengan bintang-bintang yang bersinar.

“Cinta kita akan selalu ada kan, Bu?” tanya ketiga anak itu dengan suara serempak.

“Ya sayang, cinta kita akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang walau melalui segala rintangan,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluk mereka ketiga erat.

Di langit malam yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang, mereka merasakan bahwa cinta keluarga mereka adalah sesuatu yang abadi dan tidak akan pernah hilang. Semua cerita tentang perjuangan dan kebahagiaan mereka akan selalu hidup dalam hati setiap orang yang menyaksikannya.

Mereka semua tertidur dengan nyenyak di bawah selimut yang hangat, dengan wajah yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Lia melihat mereka dengan mata penuh cinta, menyimpan foto kecil tiga bayinya kembali ke dalam tasnya. Dia juga tertidur dengan nyenyak di sisi anak-anaknya, dengan hati yang penuh rasa syukur atas segala yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!