Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.
Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.
Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Tangisan di Tengah Malam
Hujan malam itu datang seperti tirai hitam, menutupi seluruh desa. Rina terbangun dari tidur yang nyaris tak nyenyak, tubuhnya basah karena keringat dingin. Di luar jendela, tanah halaman rumahnya tampak bergerak sendiri—genangan lumpur beriak seakan ada sesuatu di bawahnya.
Sebelum Rina sempat bangun sepenuhnya, terdengar suara tangisan yang membuat darahnya membeku. Bukan tangisan manusia biasa—lebih seperti rintihan arwah yang menahan rasa sakit selama bertahun-tahun. Suara itu datang dari arah hutan, tapi terdengar sangat dekat, seolah berada di tengah ruang tamu.
Rina meraih notebook dan pena, tahu bahwa ia harus menulis atau menghadapi konsekuensi. Hujan menembus jendela, membasahi lantai kayu, dan bayangan samar mulai muncul di dinding rumah: anak-anak yang tidak pernah dikubur, wanita berambut panjang, dan arwah pria yang dulu menuntut namanya ditulis.
Salah satu bayangan, seorang anak kecil, maju lebih dekat, menatap Rina dengan mata kosong:
"Kau terlambat… tangisan kami tidak tertahankan…"
Rina menulis cepat, mengikuti simbol yang muncul di permukaan tanah basah di halaman rumah. Setiap huruf terasa berat, seakan energi arwah menembus tangannya, membekas di kulit dan pikirannya.
Tiba-tiba, bayangan wanita berambut panjang melangkah masuk ke dalam ruangan, menatap Rina langsung. Suara bisikannya terdengar di telinga Rina, menusuk lebih dalam daripada hujan yang deras:
"Kau pikir menulis nama cukup? Setiap huruf memiliki akibat…"
Rina menelan ludah, tapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara tangisan berubah menjadi teriakan. Dari tanah basah di halaman rumah, tangan-tangan transparan muncul, mencoba menarik Rina keluar, menyeretnya ke lumpur yang gelap.
Ia berjuang, menulis nama demi nama di notebook, simbol demi simbol, tetapi bayangan semakin agresif. Hujan membasahi seluruh tubuhnya, menyelimuti rumah, dan suara arwah semakin keras, seperti ribuan orang menjerit sekaligus.
Di tengah kepanikan itu, Rina melihat satu simbol berbeda—sebuah lingkaran bercahaya merah di tanah, lebih terang daripada simbol lain. Pria tua dari toko ritual pernah menyinggung simbol itu: “Lingkaran penyeimbang. Jika kau menulis di dalamnya, arwah bisa tenang sementara.”
Dengan tangan gemetar, Rina menulis simbol lingkaran itu di notebook, meniru bentuk yang ia lihat di tanah. Seketika, hujan di halaman tampak berhenti sejenak, lumpur di sekitarnya menenangkan, dan bayangan-bayangan arwah mundur perlahan.
Namun ketenangan itu hanya sementara. Rina menyadari satu hal: arwah ini tidak pernah benar-benar tenang, hujan tidak akan berhenti, dan tanah basah akan selalu menulis. Setiap malam membawa nama baru, setiap tetes hujan membawa suara tangisan baru.
Saat ia duduk di lantai, tubuh basah dan gemetar, ia memandang jendela. Di luar, wanita berambut panjang menatapnya, matanya kini penuh janji:
"Rina… ini baru permulaan…"
Dan malam itu, Rina benar-benar memahami: kutukan desa ini tidak bisa dihindari, hanya bisa dihadapi—dan setiap langkah salah akan menambah penderitaan, bagi dirinya dan semua arwah yang tersesat.
Oke, kita lanjut ke Bab 10 – Ritual Pertama yang Gagal, di mana ketegangan meningkat, Rina mencoba mengendalikan arwah dengan ritual, tapi kesalahan kecil membuat kutukan semakin berbahaya.
---
Malam itu hujan tidak lagi seperti air yang menetes—ia seperti tirai berat yang menekan desa, memaksa setiap orang yang tinggal di sana untuk tunduk pada ritme gelapnya. Rina berdiri di tengah halaman rumah, membawa notebook penuh simbol, lilin, dan alat-alat yang ia pelajari dari buku tua toko ritual.
Ia tahu malam ini adalah malam pertama ia mencoba ritual untuk menenangkan arwah—sebuah usaha untuk mengakhiri siklus hujan dan tanah basah yang menulis sendiri. Pria tua dari toko ritual pernah memperingatkan: ritual ini rumit, dan kesalahan sekecil apapun bisa memperparah kutukan.
Rina menyalakan lilin di sekeliling lingkaran simbol yang ia gambar di tanah. Setiap huruf, setiap simbol, ia salin dengan hati-hati dari notebooknya. Ia menahan napas, mengingat bisikan arwah yang selalu terdengar sejak ia pindah ke desa ini.
Ketika hujan mulai turun deras lagi, bayangan arwah muncul di tepi lingkaran—anak-anak, wanita berambut panjang, pria muda, semua menatapnya dengan intens. Tangannya gemetar, tetapi ia tahu tidak ada jalan mundur.
Dengan suara bergetar, Rina mulai membaca mantra yang tercatat di buku ritual:
"Kami mengenal kalian, kami mengakui kalian, kami menulis untuk menenangkan kalian…"
Namun, sesuatu terjadi. Angin malam masuk ke lingkaran simbol, meniup lilin, dan lumpur di tanah basah mulai bergerak sendiri. Nama-nama yang sudah ia tulis mulai terhapus dan muncul kembali, berubah bentuk.
Rina panik, mencoba menulis ulang, tetapi arwah di sekitarnya semakin agresif. Anak-anak melompat keluar dari tanah, wanita berambut panjang mengeluarkan bisikan memekakkan telinga:
"Kau salah… kau tidak bisa menulis kami sendiri!"
Seketika, tanah di bawah lingkaran simbol retak. Tangan-tangan transparan muncul, mencoba menarik Rina ke dalam lumpur. Ia berteriak, tapi suara hujan menelan teriakannya.
Dalam kepanikan, ia menulis salah satu nama dengan ejaan yang keliru. Arwah itu menjerit—jeritan yang bukan berasal dari dunia manusia—suara penuh kemarahan dan kesakitan. Hujan berubah menjadi deras, deras seperti ribuan jarum menembus kulitnya.
Rina terjatuh, basah kuyup, tubuh gemetar. Bayangan arwah berputar di sekelilingnya, semakin agresif, dan simbol di tanah bercahaya merah terang, tidak stabil, seakan menyala dari energi marah arwah yang tidak ditenangkan.
Di tengah kekacauan itu, Rina mendengar suara pria tua dari toko ritual yang entah datang dari mana:
"Hentikan! Jangan pernah menulis sebelum kau memahami simbol… Ritual setengah jadi akan membakarmu!"
Rina menatap tanah, menyadari satu hal yang menakutkan: kutukan desa ini bukan sekadar menulis nama arwah—ia memiliki aturan terselubung, simbol, urutan, dan energi yang harus dipahami sepenuhnya sebelum ritual dilakukan.
Ia berhasil bangkit, menutup lingkaran simbol dengan tubuhnya sendiri, menahan hujan dan energi arwah. Perlahan-lahan, bayangan arwah mundur, tetapi tatapan mereka tetap menakutkan:
"Ini baru permulaan… Ritual pertama gagal, dan kau sekarang lebih terikat…"
Malam itu, Rina belajar satu hal yang menakutkan:
kutukan desa ini bukan sekadar soal menulis nama—setiap langkah salah membuat arwah lebih agresif, hujan lebih deras, dan tanah lebih ganas. Dan setiap ritual yang gagal memperpendek jarak antara hidup dan mati.
Rina duduk di lantai, tubuh basah, napas tersengal. Ia tahu malam berikutnya akan lebih berat—arwah-arwah akan menguji batasnya, dan desa akan menunjukkan wajah gelap yang sebenarnya.
💚💚💚
Untukmu yang memilih membuka halaman demi halaman novel ini—terima kasih.
Setiap kata di sini lahir dari rasa, luka, dan harapan yang mungkin pernah singgah di hatimu.
Bacalah perlahan, resapi, dan biarkan ceritanya menemanimu.
Semoga kamu menemukan bagian dirimu sendiri di antara baris-barisnya.