Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 4: Runtuhnya Menara Gading Miller
Matahari pagi menyapa ibu kota dengan cahaya yang terlalu terang bagi seseorang yang baru saja merencanakan kehancuran orang lain. Elara berdiri di depan jendela besar ruang makannya, menyesap kopi hitam tanpa gula. Rasa pahitnya membantu menjaga pikirannya tetap tajam.
Di ujung meja, Adrian duduk dengan wajah yang jauh dari kata segar. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur sepanjang malam. Di depannya berserakan tumpukan surat kabar dan laporan keuangan Bank Miller—bisnis utama keluarganya yang menjadi sumber kesombongannya.
"Ini tidak masuk akal," gumam Adrian, suaranya parau. "Kenapa tiba-tiba ada lima investor besar yang menarik deposito mereka secara serentak pagi ini? Dan kenapa rumor tentang hutang judiku menyebar secepat itu?"
Elara meletakkan cangkirnya dengan gerakan yang sangat tenang, hampir tanpa suara. "Mungkin karena di dunia bisnis, tidak ada rahasia yang benar-benar bisa terkubur, Adrian. Sekali darah tumpah ke air, hiu-hiu akan berdatangan."
Adrian mendongak, menatap Elara dengan tatapan curiga yang tajam. "Kau tampak sangat tenang, Elara. Padahal jika bank keluargaku goyah, rencana ekspansi Pelabuhan Utara milik keluargamu juga akan terhambat. Tidakkah kau merasa perlu membantuku?"
Elara memberikan senyum yang terlihat penuh empati, namun di baliknya ada belati yang siap menghujam. "Tentu saja aku ingin membantu. Tapi Ayah sudah sangat kecewa dengan kejadian di pesta semalam. Dia telah membekukan sementara aksesku ke dana cadangan Lane sampai masalah hutangmu diklarifikasi secara legal."
"Apa?!" Adrian berdiri dengan kasar, kursinya berderit di lantai marmer. "Dia tidak bisa melakukan itu! Kontrak kita—"
"Kontrak kita belum ditandatangani secara resmi di depan notaris kekaisaran, Adrian. Kau sendiri yang menundanya karena ingin merayakannya di pesta semalam, ingat?"
Adrian mematung. Benar. Kesombongannya sendirilah yang membuatnya menunda tanda tangan karena ia ingin memamerkan dokumen itu terlebih dahulu sebagai simbol kemenangannya. Ia baru saja menggali lubang untuk dirinya sendiri.
Satu jam kemudian, Adrian bergegas menuju Bank Miller. Namun, apa yang ia temukan di sana adalah mimpi buruk bagi setiap bankir.
Ratusan orang sudah berkumpul di depan pintu gedung yang megah itu. Bukan untuk menyimpan uang, melainkan untuk menariknya. Panik massa telah dimulai. Di sudut-sudut jalan, selebaran gelap telah disebarkan pagi-pagi buta, menyatakan bahwa Bank Miller telah menggunakan uang nasabah untuk membayar hutang judi ilegal sang pewaris, dan bank tersebut di ambang kebangkrutan.
Di dalam sebuah kereta kuda hitam yang terparkir cukup jauh dari kerumunan, Elara duduk berdampingan dengan Alaric. Mereka menyaksikan kekacauan itu melalui celah tirai yang sedikit terbuka.
"Kau sangat efisien dalam menyebarkan rumor, Alaric," ucap Elara.
Alaric, yang sedang membaca dokumen militer, tidak mengalihkan pandangannya. "Itu bukan sekadar rumor. Aku hanya memberikan 'dorongan' sedikit pada kebenaran yang sudah ada. Tim intelijenku hanya perlu membisikkan beberapa kata di pasar dan kedai minum, sisanya dilakukan oleh ketakutan manusia."
Alaric menutup dokumennya dan menoleh ke arah Elara. "Dalam tiga jam, cadangan kas Bank Miller akan habis. Adrian akan terpaksa meminjam dana darurat dari bank sentral atau menjual aset pribadinya. Dan di situlah aku akan masuk."
"Kau akan membeli asetnya?"
"Melalui perusahaan cangkang di luar negeri yang tidak bisa ia lacak. Dia akan merasa mendapatkan 'penyelamat', padahal dia sedang menyerahkan lehernya ke algojo yang sama."
Elara menatap Adrian yang kini sedang dikawal oleh petugas keamanan masuk ke dalam gedung bank di tengah cercaan massa. Di kehidupan sebelumnya, Adrian berdiri di posisi ini dengan bangga, menggunakan harta keluarga Lane untuk membeli bank-bank kecil lainnya dan menjadi taipan keuangan paling berkuasa. Sekarang, Elara mengambil segalanya kembali, satu demi satu.
"Apakah ini cukup bagimu, Elara?" tanya Alaric tiba-tiba. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan di telinganya. "Melihatnya panik seperti itu?"
Elara menggeleng perlahan. "Belum. Dia baru kehilangan uang. Aku ingin dia kehilangan martabat, cinta, dan akhirnya... harapan. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh setiap orang yang ia anggap sebagai miliknya."
Alaric meraih tangan Elara, jemarinya yang panjang dan kuat menyelip di antara jari-jari Elara. "Aku akan memastikan hal itu terjadi. Tapi ingatlah, Elara... di balik dendam ini, jangan biarkan hatimu membatu sepenuhnya. Aku tidak ingin memenangkan perang ini hanya untuk menemukan bahwa wanita yang kucintai telah menghilang di balik bayang-bayang kebencian."
Elara tertegun. Pengakuan Alaric begitu lugas, tanpa hiasan kata-kata puitis yang tak perlu. Di saat ia sedang fokus menghancurkan seseorang, Alaric justru fokus menjaganya agar tidak hancur bersama dendamnya.
Sore harinya, saat matahari mulai terbenam, Adrian kembali ke kediaman Lane. Ia tampak hancur. Rambutnya berantakan, dan ia telah melepas dasinya. Ia langsung mencari Elara di ruang perpustakaan.
"Elara... aku butuh bantuanmu. Benar-benar butuh kali ini," ucapnya sambil berlutut di depan kursi tempat Elara duduk. Ia mencoba meraih tangan Elara, tapi Elara menariknya dan berpura-pura sedang sibuk membalik halaman buku.
"Bank Miller terancam ditutup oleh dewan pengawas besok pagi jika aku tidak bisa menunjukkan jaminan sebesar 500.000 keping emas. Aku tahu keluarga Lane memilikinya. Tolong, Elara... atas nama cinta kita..."
Cinta? Kau menyebut kata itu setelah kau menuangkan racun ke gelasku?
Elara menutup bukunya dengan keras. "Aku sudah bicara dengan Ayah, Adrian. Dia memberikan satu syarat jika kau ingin dana itu keluar."
Adrian menatapnya dengan penuh harap, seolah Elara adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra. "Apa? Apa saja! Aku akan melakukannya!"
"Kau harus menyerahkan seluruh hak kepemilikan atas tanah di Pelabuhan Utara kepadaku secara pribadi sebagai jaminan. Dan... kau harus mengizinkanku menunjuk seorang auditor independen untuk mengawasi seluruh aliran dana di Bank Miller mulai sekarang."
Adrian ragu sejenak. Pelabuhan Utara adalah masa depan kekayaannya. Tapi jika banknya runtuh sekarang, ia akan dipenjara karena hutang dan penipuan.
"Baik," bisik Adrian akhirnya. "Aku setuju. Siapa auditornya?"
Elara tersenyum penuh kemenangan. "Dia adalah perwakilan dari Kediaman Ravenhurst. Namanya Kael. Dia adalah orang yang paling teliti di seluruh kekaisaran."
Wajah Adrian memucat mendengar nama Ravenhurst. Ia tahu Alaric ada di balik ini, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak tahu bahwa dengan membawa masuk Kael, ia baru saja mengundang serigala masuk ke dalam kandang dombanya.
Setelah Adrian pergi dengan membawa surat perjanjian awal yang palsu, Alaric muncul dari balik bayangan rak buku yang tinggi.
"Dia baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri," ucap Alaric.
"Dan dia melakukannya sambil berterima kasih padaku," sahut Elara dingin. "Besok, Sera akan datang kepadaku untuk mencari informasi lebih lanjut. Aku akan memberikan umpan yang akan membuatnya menusuk Adrian dari belakang untuk menyelamatkan dirinya sendiri."
Alaric mendekati Elara, melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dengan protektif. "Kau adalah pemain catur yang sangat berbahaya, Nona Lane. Aku hampir merasa kasihan pada mereka."
"Hampir?"
"Ya, hampir. Tapi rasa kasihanku tertutup oleh rasa lapar untuk melihatmu tersenyum di atas reruntuhan mereka."
Malam itu, di bawah cahaya lilin perpustakaan, sebuah rencana baru terbentuk. Bukan lagi sekadar tentang uang, tapi tentang menjatuhkan Adrian ke dalam lubang pengkhianatan yang paling dalam, di mana orang yang paling ia cintai—Sera—akan menjadi orang yang paling pertama meninggalkannya.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔