"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Yang Berbeda
Rio menghela napas, hal ini sama sekali tidak menguntungkan baginya. Tapi yang paling menyebalkan adalah, sebenarnya saran dari Neiji sama sekali tidak buruk. Malahan itu menguntungkan pihak Lisa.
Namun ditolak begitu saja, bahkan dengan menjatuhkan nama Neiji? Ini menjadi semakin aneh. Perlakuan Lisa terhadap Neiji dan Dilan begitu berbeda padahal keduanya adalah anak kandungnya. Neiji seperti terlahir sebagai batu pijakan untuk Dilan. Seperti keset dan alas kaki untuk adiknya sendiri.
Tapi.
Dirinya menyipitkan tapi hanya sejenak. Wajah Neiji sempat tersenyum? Hanya sepersekian detik. Walaupun pada akhirnya ekspresinya kembali seperti semula.
Ini menjadi semakin menarik. Ada yang menakutkan dalam diri kakak tertuanya. Entah kenapa instingnya berkata demikian. Karena itulah Rio lebih cendrung menjauhi masalah jika Neiji sudah terlibat.
Tapi kali ini? Harga diri Neiji dijatuhkan di hadapan semua orang oleh ibu kandungnya sendiri.
Menghela napas, dirinya melirik ke arah Faro. Ayah kandungnya yang juga berada di pihak netral. Sama sepertinya...dalam hal ini. Yang damai otaknya di sini hanya dirinya dan ayahnya.
Mengambil kekuasaan adalah tujuannya. Tapi jikapun tidak tercapai tidaklah mengapa. Ada Faro yang berpihak padanya di rumah ini.
"Apa sudah selesai?" Tanya Rio bangkit sebagai seorang anak tengah, sekaligus orang yang paling tidak mungkin menjadi pewaris. Dirinya memang kompeten, tapi siapa yang dapat mengalahkan seorang Neiji. Seseorang yang rela melakukan apapun untuk Dilan. Tidak ada kesempatan sama sekali. Hanya saja dirinya tetap ingin berjuang. Sebagai anak haram yang dibawa oleh Faro, Rio tidak memiliki kesempatan bersaing dengan dua orang putra sah.
"Aku harus bersiap untuk rapat besok." Rio sedikit tersenyum melirik tipis, bagaikan merendahkan."Otakku tidak seencer dan selicik Neiji yang dapat mengendalikan dua jabatan seorang diri."
"Melelahkan..." Rio merenggangkan otot-ototnya melangkah menuju lantai dua.
"Anak sial itu..." Gumam Lisa dengan suara kecil. Dirinya tidak dapat berbuat apapun karena Rio akan dilindungi oleh Faro. Di rumah ini yang berbahaya bagi Dilan hanya Faro.
"Ibu... bersabarlah." Neiji tersenyum memegang jemari tangannya.
Menghempaskan tangan Neiji. Lisa kembali duduk dirinya harus tenang.
"Pernikahan akan dipercepat. Satu minggu... tidak! 3 Hari lagi. Dilan pasti tidak sabar untuk menikah dengan Lily. Dia akan memutuskan hubungannya dengan Silvia." Lisa berusaha keras untuk tersenyum.
"Ibu!" Bentak Dilan.
"Tutup mulutmu! Atau ibu akan menarik semua fasilitasmu! Tanpa uang Silvia tetap akan meninggalkanmu bukan!?" Lisa terlihat bertindak tegas. Tapi lembek di dalam, itulah sifat dan perlakuannya pada Dilan. Benar-benar berbeda dengan Neiji yang lembut di luar. Aslinya sekeras berlian Afrika.
"Aku pergi saja..." Silvia berlari keluar, menitikkan air matanya. Bagaikan pihak yang paling tersakiti.
"Silvia!" Dilan berlari mengejarnya.
"Kakek..." Lily mendekat, menempel pada sang Braja. Bagaikan ingin menangis melihat Dilan berlari mengejar Silvia.
"Kamu tenang ya?" Braja menghela napas, melirik ke arah Neiji. Neiji sejatinya calon suami yang sempurna untuk Lily. Diluar wajahnya yang memang buruk rupa. Tapi tetap saja semua keputusan ada di tangan mereka. Dirinya tidak dapat berbuat apapun.
Sedangkan Lily diam-diam menyipitkan matanya ke arah pemuda ini. Seakan penuh dengan tanda tanya. Mengapa harus setuju begitu saja.
***
Suara ayunan dari ikat pinggang terdengar. Benturan dari ujung besinya menyakitkan. Ditambah dengan rasa sensasinya yang bagaikan cambukan.
"Kenapa kamu harus mengatakan pendapatmu di hadapan semua orang!?"
"Kenapa kamu harus mengatakan akan menikahi Lily!"
"Kamu cemburu dan iri pada adikmu kan!?"
"Anak durhaka! Tidak tau diuntung!"
Lagi-lagi dirinya hanya dapat menahan segalanya. Apa salah jika dirinya iri pada Dilan? Dilan memiliki segalanya. Sedangkan apa yang dimiliki olehnya? Sama sekali tidak ada.
"Ibu..." Neiji berusaha untuk tersenyum.
"Tau apa kesalahanmu? Kesalahanmu, jika ingin menjadi kakak dan anak yang baik, kamu harus mengalah untuk adikmu. Maka ibu akan menyayangimu." Ucapnya memeluk putranya sendiri.
Tangannya perlahan melepaskan collondion yang menutupi sedikit wajah Neiji. Melepaskan kacamatanya, wajah yang benar-benar tampan terlihat. Lebih tampan jauh mengalahkan Dilan. Dan ini yang dibencinya. Tidak ada yang boleh melebihi Dilan.
"Ingat! Tetap sembunyikan wajahmu. Wajah rupawan dapat menjadi bencana. Lebih baik seumur hidup berpura-pura menjadi penyuka sesama jenis, dibandingkan dengan merusak hidup adikmu sendiri. Mengerti?" Ucapnya menyeringai.
"Mengerti." Jawaban dari Neiji.
Rambutnya dijambak, kemudian dihempaskan hingga membentur tepi tempat tidur. Pelipisnya sedikit berdarah.
Kala wanita tempramental itu melangkah pergi. Neiji terdiam, dulu ibunya adalah tujuan hidupnya. Satu-satunya orang yang dikasihinya dan membalas rasa kasihnya. Walaupun Neiji menyadari itu palsu.
Tapi sekarang dirinya memiliki rasa cinta yang nyata. Rasa cinta yang berbalas. Apa yang harus dilakukan olehnya? Tangannya gemetar, pelipis di wajahnya mengeluarkan darah segar. Mengalir menuju pipinya.
Perlahan dirinya tersenyum, akan menemukan cara. Cara termudah untuk menghancurkan seorang Dilan menginjaknya, hingga menjadi keset, dalam hubungannya dan Lily.
"Be... benar...Lily adalah milikku..." Gumamnya tersenyum, tapi terlihat ganjil dibalik luka dan seringai kejinya.
Bagaikan sosok ini berubah perlahan. Benar-benar seperti dua orang yang berbeda.
***
Di tempat lain, lebih tepatnya di area depan rumah. Lily menghentakkan kakinya beberapa kali menahan rasa kesal. Jika dirinya menikah dengan Dilan, kemudian berhubungan dengan Neiji hingga memiliki Meiji, maka masa depan tidak berubah sama sekali. Apa yang harus dilakukannya?
Neiji juga belum menghubunginya hingga sekarang. Matanya melirik ke arah kedua orang tuanya yang menatap sinis ke arahnya. Ditambah dengan Rini yang dengan sengaja menabrak bahunya.
Mereka memendam permusuhan tingkat tinggi. Itu sudah pasti.
Memasuki mobilnya sendiri. Guna menyetir menuju rumahnya.
Tapi.
Tiba-tiba saja sebuah pesan masuk ke handphonenya saat hampir 40 menit menyetir di tengah kemacetan.
'Temui aku di Jalan mawar, apartemen Cempaka, Tower kedua, Unit 567G. Kode aksesnya, tanggal ulang tahunmu.'
Pada akhirnya Neiji mengirimkan pesan padanya. Barulah dirinya menghela napas lega. Apa yang harus dilakukan untuk menghentikan pernikahan yang akan dilangsungkan tiga hari lagi?
***
Apartemen yang terletak berlawanan arah dengan kedatangan dirinya. Tetap saja harus menunggu kemacetan ini maju.
"Sialan! Dasar monyet penjarah truk kecelakaan!" Gumamnya memberikan jari tengah tanda cinta, mengingat penyebab kemacetan yang terjadi sepanjang jalan kenangan.
Cukup lama memang, baru setelah dua jam berlalu dirinya dapat sampai menuju tempat yang dimaksud.
Menghela napas, menaiki lift, sudah pasti Neiji sampai terlebih dahulu dibandingkan dengan dirinya.
Langkahnya berhenti di hadapan unit yang dimaksud. Menekan kode sesuai dengan tanggal ulang tahunnya.
Kala pintu terbuka matanya menelisik. Tempat ini begitu rapi seperti pemiliknya. Seseorang terlihat duduk menggunakan jubah mandi, duduk membelakanginya. Seorang pria...
Mungkin itu Neiji. Tapi kala dirinya mendekat melihat dari sudut yang berbeda. Wanita itu menyipitkan matanya, menelan ludahnya.
"Neiji?"
masa baktinya udah selesai saat kau melukai Lily
selamat menikmati hari hari sedih mu yaa
jadi bayangin lagi muka nelangsa nya
kasiaaan 😜🤣🤣
lepaskan lah...yg harus dilepaskan 😜🤣🤣