Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7: Peringatan Keras
Dua jam berlalu sejak Arsen mengurung Aluna di ruangan sebelah ruang kerjanya. Dua jam yang terasa seperti eternitas.
Aluna duduk di sofa, memeluk lututnya, matanya sembab karena menangis. Dua bodyguard masih berdiri tegak di depan pintu diam, tidak bergerak, seperti patung. Mereka tidak berbicara, tidak merespons saat Aluna mencoba memohon agar mereka membukakan pintu.
Mereka hanya menjalankan perintah Arsen.
Aluna melirik jam dinding pukul 15.30 WIB. Sudah sore. Perutnya berbunyi lapar, tetapi ia tidak punya selera makan sama sekali. Pikirannya terus memutar ulang kejadian di kafe wajah Arsen yang dipenuhi amarah, cara ia menyeret Aluna keluar, dan ancamannya pada Dimas.
Dimas pasti bingung. Pasti khawatir.
Aluna meraih ponsel pribadinya yang tersembunyi di saku celananya untungnya bodyguard tidak menggeledahnya. Ia menyalakan ponsel dengan tangan gemetar, berharap bisa mengirim pesan pada Dimas untuk menjelaskan, atau setidaknya meminta maaf.
Tetapi begitu layar ponsel menyala, notifikasi membanjiri layar.
25 Missed Calls dari Dimas
47 Pesan dari Dimas
Dengan jantung berdebar, Aluna membuka pesan-pesan itu.
Dimas: Luna, kamu baik-baik aja? Siapa orang itu?
Dimas: Aku khawatir banget. Dia kelihatan berbahaya.
Dimas: Luna, tolong bales pesanku. Aku mau tau kamu aman.
Dimas: Kalau kamu dalam masalah, bilang aku. Aku akan bantu.
Dimas: Luna, please...
Air mata kembali mengalir di pipi Aluna. Ia mulai mengetik balasan.
Aluna: Dimas, maaf. Aku baik-baik aja. Jangan khawatir. Dan tolong... jangan hubungi aku lagi. Ini untuk kebaikanmu.
Sebelum ia bisa menekan tombol kirim, pintu ruangan terbuka dengan keras.
Arsen berdiri di ambang pintu, jasnya sudah dilepas, kemeja hitamnya sedikit kusut dengan dua kancing teratas terbuka, lengannya digulung hingga siku. Rambutnya berantakan tanda ia sudah mengacak-acak rambutnya berkali-kali, kebiasaannya saat sedang frustasi atau marah.
Matanya langsung tertuju pada ponsel di tangan Aluna.
Dalam sekejap, ekspresinya berubah dari sekadar marah menjadi... murka.
"Berikan. Ponselnya," ucapnya dengan suara rendah yang berbahaya.
Aluna menggenggam ponselnya lebih erat, menggeleng cepat.
"Ini ponsel pribadi saya--"
Arsen melangkah masuk dengan cepat, bodyguard-bodyguard di pintu langsung keluar dan menutup pintu memberikan privasi untuk apa pun yang akan terjadi.
"Aku bilang," Arsen sudah berdiri tepat di depan Aluna sekarang, mengulurkan tangannya, "berikan ponselnya."
"Tidak!" Aluna berdiri, mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. "Saya punya hak untuk--"
Dalam satu gerakan cepat, Arsen meraih pergelangan tangan Aluna dan memelintirnya dengan lembut namun kuat tidak menyakiti tetapi memaksa Aluna melepaskan ponselnya. Ponsel itu jatuh ke tangan Arsen.
Mata kelamnya menatap layar ponsel membaca pesan yang belum terkirim untuk Dimas.
Rahangnya mengeras.
"Kamu," ucapnya dengan suara yang gemetar karena amarah, "masih memikirkannya? Bahkan setelah aku melarang mu? Bahkan setelah aku mengurung mu di sini?"
Arsen melempar ponsel itu ke lantai marmer dengan keras. Layarnya pecah berkeping-keping, serpihan kaca berserakan.
Aluna tersentak, menatap ponselnya yang hancur dengan horor.
"Kenapa Anda--"
"Karena kamu tidak bisa dipercaya!" bentak Arsen, suaranya memenuhi ruangan. "Aku sudah memberitahumu aturannya! Aku sudah memperingatkan mu! Tetapi kamu tetap melanggar! Kamu tetap menghubunginya!"
Tangannya mencengkeram bahu Aluna, mendorong tubuh mungilnya hingga menempel sempurna di dinding. Arsen mengurung Aluna di antara kedua lengannya yang bertumpu di dinding posisi yang membuat Aluna tidak bisa kemana-mana.
"Apa yang harus kulakukan agar kamu mengerti?" desisnya, wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajah Aluna. "Apa yang harus kulakukan agar kamu berhenti memikirkan pria lain? Agar kamu hanya memikirkan aku?"
Napasnya hangat menerpa wajah Aluna. Mata kelamnya menatap dalam ke mata Aluna tatapan yang intens, yang mencari, yang... putus asa.
"Saya tidak bisa berhenti hidup hanya karena Anda menginginkannya!" Aluna memberontak, mencoba mendorong dada bidang Arsen, tetapi pria itu tidak bergeming sama sekali. "Saya punya kehidupan! Saya punya teman! Saya punya hak untuk--"
"Kamu tidak punya hak untuk apa pun," potong Arsen dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat pelan berbisik, tetapi setiap kata terasa seperti pukulan. "Kamu sudah menyerahkan semua hakmu padaku saat menandatangani kontrak itu. Hidupmu sekarang... adalah milikku."
Tangannya bergerak dari dinding ke pinggang Aluna, menarik tubuh Aluna lebih dekat hingga tidak ada jarak sama sekali di antara mereka. Aluna bisa merasakan kehangatan tubuh Arsen, bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat sama cepatnya dengan detak jantung Aluna sendiri.
"Kamu merasakan ini?" bisik Arsen di telinga Aluna, tangannya di pinggang Aluna menekan dengan lembut namun possessive. "Tubuhmu bereaksi padaku. Jantungmu berdebar karena aku. Napas mu tercekat karena aku. Bukan karena Dimas. Bukan karena pria lain. Karena aku."
Aluna menggelengkan kepala, air mata mengalir.
"Itu karena saya takut pada Anda..."
"Bohong," bisik Arsen sambil tangannya yang lain bergerak ke belakang kepala Aluna, jemarinya terbenam di rambut Aluna, memaksa Aluna mendongak menatapnya. "Ini bukan hanya takut, Aluna. Kamu merasakannya juga, bukan? Tarikan ini. Koneksi ini. Obsesi ini."
Bibirnya hampir menyentuh telinga Aluna, suaranya menjadi serak.
"Aku sudah terlanjur tergila-gila padamu. Dan aku akan memastikan... kamu juga merasakan hal yang sama."
"Tidak..." bisik Aluna lemah, tetapi tubuhnya berkhianat melemas dalam pelukan Arsen, tidak lagi melawan.
Arsen merasakan perubahan itu. Senyum tipis senyum kemenangan yang gelap muncul di bibirnya.
"Bagus," gumamnya sambil hidungnya menyusuri garis rahang Aluna, menghirup aroma tubuh Aluna. "Menyerah Lah, Aluna. Berhentilah melawan. Karena kamu tidak akan menang. Aku terlalu kuat. Terlalu berkuasa. Dan terlalu... obsesif."
Tangannya di pinggang Aluna bergerak naik perlahan, menyusuri tulang rusuk Aluna melalui kain tipis kaosnya, membuat Aluna menggigil.
"Arsen..." Aluna mencoba protes, tetapi suaranya keluar sebagai bisikan lemah.
"Ssshh," Arsen membisikkan tepat di bibir Aluna tidak mencium, tetapi bibirnya menyentuh bibir Aluna dengan sangat lembut, seperti janji dari sesuatu yang lebih. "Dengarkan aku baik-baik, Aluna Pradipta. Ini peringatanku yang terakhir."
Tangannya di belakang kepala Aluna menggenggam rambut Aluna lebih erat tidak menyakiti tetapi cukup untuk membuat Aluna tidak bisa bergerak.
"Kalau aku melihatmu dengan pria lain lagi," bisiknya dengan suara yang bergetar karena amarah yang ditahan, "kalau aku melihat ada pria lain yang berani menyentuhmu, berbicara denganmu, atau bahkan menatapmu dengan cara yang tidak seharusnya..."
Ia berhenti sejenak, mata kelamnya menatap dalam ke mata Aluna yang berkaca-kaca.
"Aku tidak akan menyakitimu," lanjutnya pelan. "Tidak pernah. Tetapi pria itu... aku akan menghancurkan hidupnya. Aku akan memastikan dia menyesal pernah mengenalmu. Aku punya kekuasaan, Aluna. Aku punya koneksi. Aku bisa membuat seseorang... menghilang."
Aluna tersentak, horor mengalir di nadinya.
"Anda... Anda mengancam akan membunuh--"
"Tidak membunuh," koreksi Arsen dengan nada datar yang justru lebih menakutkan. "Hanya... menghancurkan. Secara finansial. Secara sosial. Secara mental. Aku akan membuat hidupnya menjadi neraka, dan semua orang akan tahu bahwa itu karena dia berani mendekati apa yang menjadi milikku."
Tangannya kembali turun ke pinggang Aluna, melingkari tubuh mungilnya dengan possessive yang absolut.
"Jadi katakan padaku," bisiknya sambil dahinya menyentuh dahi Aluna, "apa kamu mau bertanggung jawab atas kehancuran hidup seseorang hanya karena kamu keras kepala? Apa kamu mau Dimas teman baikmu itu kehilangan segalanya karena kamu tidak bisa mematuhi aturan sederhana?"
Aluna terisak, tubuhnya gemetar.
"Ini tidak adil..."
"Hidup tidak pernah adil, sayang," gumam Arsen sambil tangannya mengusap punggung Aluna dengan gerakan yang kontras lembut, menenangkan, seolah ia bukan orang yang baru saja memberikan ancaman mengerikan. "Tetapi aku bisa membuatnya lebih mudah untukmu. Aku bisa memberikanmu segalanya kenyamanan, kemewahan, keamanan. Yang aku minta hanya satu hal: kesetiaanmu. Kepatuhan mu. Dan... hatimu."
Ia melepaskan pelukannya sedikit, cukup untuk bisa menatap wajah Aluna yang basah oleh air mata.
"Aku tidak akan minta maaf karena mencintaimu dengan cara yang salah," ucapnya dengan suara serak, jujur. "Ini satu-satunya cara yang aku tahu. Satu-satunya cara yang membuatku... merasa aman."
Aman?
Aluna menatapnya bingung melalui air matanya.
"Aman dari apa?"
Ekspresi Arsen berubah untuk sesaat, sangat singkat, Aluna melihat rasa sakit yang mendalam di mata kelamnya. Rasa sakit dari luka lama yang tidak pernah sembuh.
"Aman dari kehilangan lagi," bisiknya hampir tidak terdengar. "Aman dari... ditinggalkan."
Sebelum Aluna bisa bertanya lebih jauh, Arsen sudah menutup dirinya kembali topeng dinginnya kembali terpasang.
"Kamu akan tinggal di sini malam ini," ucapnya dengan nada final sambil melepaskan Aluna dan mundur selangkah. "Besok pagi, kita kembali ke mansion. Dan mulai besok, ada aturan baru."
Ia berjalan ke meja kerja dan mengeluarkan sebuah dokumen addendum kontrak.
"Mulai besok, kamu akan ditemani bodyguard kemana pun kamu pergi. Tidak ada pengecualian. Bahkan ke toilet sekalipun, mereka akan menunggu di luar. Kamu tidak boleh ke mana pun tanpa izinku. Kamu tidak boleh menggunakan ponsel tanpa seizinku. Dan kamu..." ia berhenti, menatap Aluna dengan tatapan yang membeku, "...tidak boleh keluar dari rumah kecuali kamu bersamaku."
Aluna menatapnya dengan horor.
"Itu... itu sama saja dengan penjara!"
"Itu adalah perlindungan," koreksi Arsen dingin. "Perlindunganmu dari dunia luar. Dan perlindungan dunia luar... dariku."
Ia melemparkan addendum itu ke meja di depan Aluna.
"Tanda tangani."
"Tidak!" Aluna menggeleng keras. "Saya tidak akan--"
Dalam sekejap, Arsen sudah kembali berada tepat di depan Aluna, mengurungnya di dinding lagi dengan gerakan yang lebih agresif kali ini.
"Tanda tangani," ulangnya dengan suara yang berbahaya, "atau aku akan pastikan Dimas kehilangan beasiswanya besok pagi. Aku tahu dia kuliah dengan beasiswa penuh. Aku tahu keluarganya miskin. Tanpa beasiswa itu, dia harus drop out. Hidupnya... hancur."
Aluna menatapnya dengan mata terbelalak.
"Anda... Anda tidak akan..."
"Coba saja aku," tantang Arsen dengan senyum dingin. "Coba tolak aku sekali lagi, dan kita lihat apa yang terjadi pada Dimas besok."
Aluna tahu Arsen tidak main-main. Pria ini punya kekuasaan. Punya koneksi. Dan yang paling menakutkan punya obsesi yang cukup gila untuk benar-benar melakukan ancamannya.
Dengan tangan gemetar dan air mata mengalir, Aluna berjalan ke meja dan meraih pena.
Ia membaca addendum itu setiap klausul lebih mencekik dari yang sebelumnya. Tetapi ia tidak punya pilihan.
Tidak jika ia ingin melindungi Dimas.
Tidak jika ia tidak ingin orang lain menderita karena obsesi Arsen padanya.
Dengan tarikan napas dalam, Aluna menandatangani dokumen itu.
Begitu tanda tangannya selesai, Arsen meraih dokumen itu dengan cepat seolah takut Aluna akan berubah pikiran dan menyimpannya di brankas pribadinya.
"Bagus," gumamnya dengan kepuasan yang jelas di wajahnya.
Ia berjalan kembali ke Aluna dan menarik Aluna ke dalam pelukannya pelukan yang possessive, yang menuntut, yang... memiliki.
"Kamu membuat keputusan yang tepat," bisiknya di rambut Aluna sambil tangannya mengelus punggung Aluna naik-turun. "Aku tahu ini sulit untukmu sekarang. Aku tahu kamu membenciku. Tetapi suatu hari... suatu hari kamu akan mengerti bahwa semua yang kulakukan adalah karena aku mencintaimu. Dengan caraku sendiri. Dengan cara yang gelap, mungkin. Tetapi nyata."
Aluna tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku, beku.
Ia sudah tidak punya air mata lagi untuk ditumpahkan.
Yang tersisa hanya kekosongan.
Kekosongan dari seseorang yang baru saja menyerahkan kebebasannya sepenuhnya.
Malam itu, Aluna tidur di sofa ruangannya Arsen menawarkan untuk tidur di ruang kerjanya yang ada sofa panjang, tetapi Aluna menolak. Ia tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan pria itu.
Tetapi Arsen tidak benar-benar pergi.
Ia duduk di kursi direkturnya, menatap Aluna melalui kaca transparan yang memisahkan ruang kerja dan ruangan Aluna menatap seperti penjaga yang menjaga harta paling berharganya.
Dan sepanjang malam, ia tidak tidur.
Ia hanya menatap.
Memastikan Aluna tetap di sana.
Memastikan Aluna tidak akan pergi.
Karena bagi Arsen Mahendra, Aluna Pradipta bukan hanya obsesi.
Ia adalah segalanya.
Dan ia akan melakukan apa pun apa pun untuk mempertahankannya.
Bahkan jika itu berarti menghancurkan Aluna perlahan dari dalam.