Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi pertama sebagai Mrs. Armando
Mayra terbangun dengan cahaya matahari yang menyusup melalui gorden tipis kamarnya.
Untuk beberapa detik, dia bingung. Ini di mana? Kenapa langit-langitnya sangat tinggi? Kenapa tempat tidur ini terasa seperti awan?
Lalu semua memori kemarin menghantamnya seperti tsunami.
Pernikahan. Skandal. Dev. Kontrak.
Mayra adalah istri Dev Armando sekarang.
Dia duduk di tempat tidur dengan cepat, menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdebar. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Cincin platinum di jari manisnya adalah bukti nyata.
Mayra meraih ponselnya dari nakas, pukul 8 pagi. Layarnya penuh dengan notifikasi yang dibisukan semalam.
Dengan ragu, dia membuka beberapa pesan:
Dari Dina:
"MAYRA! YA AMPUN! AKU MASIH SHOCK! TELEPON AKU SECEPATNYA! AKU BUTUH PENJELASAN LENGKAP TENTANG SEMUA INI!"
Dari teman SMA-nya:
"May, kamu trending di Instagram! Semua orang ngomongin pernikahanmu! Kamu oke??"
Dari nomor tidak dikenal (mungkin wartawan):
"Nona Mayra, kami dari tabloid SOCIALITA, bisa kami minta wawancara tentang pernikahan Anda yang fenomenal?"
Dan yang paling membuat Mayra sesak adalah pesan dari ayahnya:
"Sayang, Papa tidak tidur semalam. Papa masih tidak mengerti semua yang terjadi. Tapi Papa percaya kamu. Kalau kamu butuh Papa, Papa selalu ada. Papa sayang kamu, anakku."
Air mata menggenang di mata Mayra. Ayahnya yang baik hati, yang tidak tahu apa-apa tentang kontrak, yang pikir putrinya benar-benar jatuh cinta pada Dev.
Mayra mengetik balasan:
"Pa, maafkan Mayra untuk semua ini. Mayra akan datang nanti untuk menjelaskan semuanya. Mayra juga sayang Papa. Selalu."
Setelah mengirim pesan itu, Mayra meletakkan ponselnya dan berjalan ke kamar mandi. Dia perlu mandi dan menjernihkan pikirannya.
Di bawah shower air hangat, Mayra berdiri diam membiarkan air mengalir di tubuhnya. Semua yang terjadi kemarin terasa seperti film yang dia tonton, bukan yang dia alami.
Tapi ini nyata.
Dan sekarang dia harus menghadapi konsekuensinya.
Setelah mandi, Mayra membuka lemari pakaian dan menemukan rak penuh dengan pakaian baru--semua dengan label masih menempel, semua merek desainer, semua dengan ukuran yang pas dengannya.
Marco benar-benar sangat efisien.
Mayra memilih pakaian sederhana--celana jeans hitam dan sweater krem yang longgar, terlihat santai tapi tetap modis. Dia mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut dan membiarkannya terurai alami, riasan minimal, hanya pelembap berwarna dan lip balm.
Saat dia keluar dari kamar, aroma kopi dan... panekuk? menguar dari arah dapur.
Mayra berjalan perlahan menuju area terbuka--ruang tamu dan dapur yang menyatu. Dan dia menemukan pemandangan yang tidak pernah dia duga.
Dev berdiri di meja dapur, mengenakan kaos hitam sederhana dan celana olahraga abu-abu, rambut masih sedikit basah setelah mandi, sedang... memasak?
Ada wajan di atas kompor dengan panekuk yang sedang dimasak, mesin pembuat kopi menyala dengan aroma kopi yang sedap, dan piring-piring sudah tersusun rapi di meja.
"Selamat pagi," sapa Dev tanpa menoleh, seperti dia sudah tahu Mayra ada di sana.
"Selamat pagi," jawab Mayra sambil berjalan mendekat. "Kamu... masak?"
"Terkejut?" Dev melirik dengan senyum tipis sambil membalik panekuknya dengan spatula yang sangat profesional.
"Sangat. Aku pikir CEO sukses sepertimu punya koki pribadi atau sesuatu," kata Mayra sambil duduk di kursi tinggi di meja.
"Saya punya koki yang datang kalau saya butuh. Tapi pagi-pagi seperti ini saya lebih suka masak sendiri. Terapi," jelas Dev sambil memindahkan panekuk yang sudah matang ke piring.
Dia meletakkan piring itu di depan Mayra--tiga panekuk lembut yang sempurna dengan sirup maple dan mentega.
"Wow," Mayra menatap panekuk itu dengan kagum. "Ini terlihat luar biasa."
"Coba dulu sebelum memuji," kata Dev sambil menuangkan kopi untuk Mayra. "Kamu suka kopimu bagaimana?"
"Susu, dan satu sendok gula," jawab Mayra.
Dev mengangguk dan membuat kopi sesuai pesanan. Lalu dia membuat panekuk untuk dirinya sendiri dan duduk di kursi tinggi di seberang Mayra.
Mereka makan dalam keheningan yang aneh tapi tidak sepenuhnya tidak nyaman--seperti dua orang yang masih saling mengenali.
"Panekukmu enak banget," kata Mayra setelah gigitan pertama.
"Terima kasih. Resep nenek saya," jawab Dev sambil memotong panekuknya.
"Kamu dekat dengan nenekmu?"
"Dulu. Sebelum dia meninggal lima tahun lalu," kata Dev dengan nada yang sedikit lebih lembut. "Dia satu-satunya keluarga yang benar-benar saya sayangi."
Mayra mengangguk paham. Sepertinya Dev punya masalah keluarga yang sama rumitnya dengan dirinya.
"Hari ini kita harus ke kantor catatan sipil untuk urus dokumen legal pernikahan kita," kata Dev sambil menyesap kopinya. "Dan saya sudah jadwalkan pertemuan dengan pengacara untuk membahas perjanjian pranikah dan rincian legal lainnya."
"Perjanjian pranikah?" Mayra menaikkan alis.
"Perjanjian pra-nikah tentang aset, finansial, dan lain-lain. Standar untuk pernikahan... seperti kita," jelas Dev. "Tapi tenang, saya tidak akan merugikanmu. Kontrak kita sudah jelas--500 juta di akhir tahun adalah milikmu, apapun yang terjadi."
Mayra mengangguk. "Oke."
"Dan sore nanti, kita harus ke rumah ayahmu untuk ambil barang-barangmu," lanjut Dev sambil mengecek ponselnya. "Marco sudah koordinasi dengan Pak Bambang."
"Kamu sudah hubungi Papa?" tanya Mayra terkejut.
"Marco yang hubungi tadi pagi. Memberitahu rencana kita dan meminta izin untuk mengambil barang-barang. Ayahmu setuju," jawab Dev.
Mayra merasa lega. Setidaknya ayahnya tidak marah besar.
"Oh, dan satu lagi," Dev menatap Mayra dengan serius. "Mulai hari ini, kamu tidak perlu kerja kalau tidak mau. Sebagai istriku, semua kebutuhanmu akan saya tanggung."
Mayra menggeleng cepat. "Tidak. Aku tetap mau kerja. Aku suka pekerjaanku. Dan aku tidak mau jadi istri yang hanya menghabiskan uang suami."
Dev tersenyum tipis, sepertinya dia sudah memprediksi jawaban ini. "Bagus. Saya suka wanita yang mandiri. Tapi kalau kamu butuh cuti atau apapun, bilang saja."
"Oke. Terima kasih."
Mereka melanjutkan sarapan dalam keheningan. Mayra sesekali melirik Dev--pria yang kemarin terlihat sangat formal dan menakutkan dalam tuksedo, sekarang terlihat lebih... normal? Mudah didekati? Dalam kaos sederhana dan celana olahraga, rambut agak berantakan, tidak pakai parfum sehingga Mayra bisa mencium aroma sabun dan... aroma alami Dev yang ternyata cukup menenangkan.
"Kamu tidur nyenyak?" tanya Dev tiba-tiba.
"Mengejutkan, iya," jawab Mayra. "Tempat tidurnya sangat nyaman. Dan... mungkin karena aku terlalu lelah untuk berpikir terlalu banyak."
"Bagus. Kamu butuh istirahat yang cukup," kata Dev sambil berdiri dan membawa piring kosongnya ke tempat cuci piring.
Mayra ikut berdiri untuk membantu, tapi Dev mengangkat tangan. "Biar saya saja. Kamu masih tamu di sini."
"Aku bukan tamu. Aku... istrimu," kata Mayra--kata-kata itu masih terasa asing di lidah.
Dev menatapnya dengan tatapan yang aneh--seperti terkejut tapi juga... senang?
"Benar. Kamu istriku," ulang Dev dengan nada yang lebih lembut. "Tapi tetap, untuk hari ini, biar saya yang beres-beres. Kamu duduk santai saja."
Mayra tidak membantah lagi. Dia kembali duduk sambil menyesap kopinya, mengamati Dev yang mencuci piring dengan sangat profesional. Siapa sangka CEO tajir melintir ini bisa dan mau mencuci piring sendiri?
Setelah selesai, Dev mengeringkan tangannya dan berbalik menatap Mayra.
"Kita berangkat jam 10 untuk ke kantor catatan sipil. Itu satu setengah jam lagi. Kamu butuh apa-apa?" tanya Dev.
"Aku... mungkin aku mau menjelajah penthouse ini? Supaya lebih familiar?" kata Mayra.
"Silakan. Kamu bebas ke mana saja kecuali kantor rumah saya, ada dokumen rahasia di sana. Sisanya, ini rumahmu sekarang," jawab Dev.
Rumahmu sekarang.
Kata-kata itu membuat sesuatu yang hangat menyebar di dada Mayra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu setengah jam kemudian, Mayra dan Dev sudah siap untuk keluar.
Mayra mengenakan gaun sederhana biru navy dengan blazer putih--terlihat profesional untuk ke kantor pemerintahan. Dev mengenakan kemeja putih dengan celana bahan hitam dan jam tangan mewah, kembali ke mode CEO.
Mereka turun menggunakan lift pribadi dan menuju basement parkir di mana Pak Herman sudah siaga dengan Bentley hitam.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapa Pak Herman sambil membukakan pintu belakang.
"Pagi, Pak Herman," jawab Mayra dengan senyum.
Di dalam mobil, Dev membuka laptop dan mulai bekerja, rupanya pria ini tidak pernah berhenti bekerja bahkan di mobil. Mayra menatap keluar jendela, melihat Jakarta yang sibuk di pagi hari.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Dina:
"MAY! KAMU DI MANA?! AKU UDAH NELPON KANTOR, KATA MEREKA KAMU CUTI SEMINGGU! CERITAIN DONG! AKU PENASARAN BANGET!"
Mayra tersenyum kecil dan mengetik balasan:
"Din, maaf ya bikin kamu khawatir. Aku baik-baik saja. Nanti sore aku ke kantor deh, kita makan siang bareng. Aku jelasin semuanya. Janji."
"AWAS YA, HARUS! Btw, kamu dan Dev Armando itu... beneran atau gimana? Instagram udah HEBOH banget soal kalian!"
Mayra melirik Dev yang masih fokus dengan laptopnya, lalu mengetik:
"Situasinya... rumit. Nanti aku cerita langsung deh."
"OKE BAIKLAH! Tapi Mayra, jujur aja? Dev Armando itu GANTENG BANGET. Naik kelas banget, girl!"
Mayra hampir tersedak membaca pesan itu. Dia melirik Dev lagi--dan harus mengakui, Dina tidak salah. Dev memang... sangat tampan. Bahkan tanpa tuksedo kemarin, bahkan hanya dengan kemeja sederhana, pria ini tetap memancarkan aura yang membuat orang-orang menoleh.
"Ada yang lucu?" tanya Dev tiba-tiba tanpa mengangkat mata dari laptop.
"Ah, tidak. Cuma Dina--sahabatku--dia penasaran tentang situasi kita," jawab Mayra.
"Dia akan jadi salah satu dari banyak orang yang penasaran," komentar Dev sambil menutup laptopnya. "Kamu siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan datang?"
"Sejujurnya? Tidak," jawab Mayra. "Tapi aku tidak punya pilihan kan?"
"Kamu selalu punya pilihan, Mayra," kata Dev sambil menatapnya. "Tapi pilihanmu kemarin membawa kamu ke sini. Dan sekarang kita hadapi bersama."
Mobil berhenti di depan Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Selatan. Gedung pemerintah yang cukup ramai dengan orang-orang yang datang untuk berbagai urusan administrasi.
Dev dan Mayra turun dari mobil--langsung menarik perhatian orang-orang di sekitar. Dev dengan aura CEO-nya dan Mayra dengan kecantikan alaminya membuat pasangan yang sangat menarik perhatian.
"Ikut saya," kata Dev sambil membimbing Mayra masuk ke gedung.
Ternyata Dev sudah membuat janji, mereka langsung dipandu ke ruang khusus tanpa perlu antri seperti orang lain. Hak istimewa orang kaya, pikir Mayra.
Seorang petugas wanita paruh baya dengan senyum ramah menyambut mereka.
"Selamat pagi, Tuan Armando, Nyonya Armando. Selamat atas pernikahan Anda," sapanya sambil mempersilakan mereka duduk.
"Terima kasih," jawab Dev.
"Saya sudah terima dokumen-dokumen dari pengacara Anda," kata petugas sambil membuka folder. "Akta nikah dari gereja, KTP Anda berdua dan kartu keluarga, semuanya lengkap."
Petugas itu mengetik di komputer selama beberapa menit, lalu mencetak beberapa dokumen.
"Silakan tanda tangan di sini, Pak, Bu," katanya sambil menyodorkan dokumen.
Mayra membaca dengan teliti--dokumen legal yang menyatakan pernikahan mereka sah secara hukum. Nama lengkapnya sekarang tercatat sebagai Mayra Andini Kusumo Armando.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Mayra menandatangani.
Dev menandatangani dengan gerakan yang sangat lancar dan percaya diri--jelas bukan kali pertama dia menandatangani dokumen legal penting.
"Selesai," kata petugas sambil memberi mereka salinan dokumen. "Selamat, Anda sekarang resmi suami istri menurut hukum negara. "
Resmi.
Legal.
Tidak bisa dibatalkan dengan mudah.
Mayra menatap dokumen di tangannya, bukti hitam di atas putih bahwa dia sekarang adalah Mrs. Dev Armando.
"Terima kasih," kata Dev sambil berdiri.
Mereka keluar dari kantor dan kembali ke mobil.
"Selesai sudah," kata Dev sambil menyimpan dokumen di tasnya. "Secara legal, kamu adalah istriku sekarang."
"Dan kamu suamiku," tambah Mayra.
Dev menatapnya dengan tatapan yang aneh--seperti kata-kata itu membuat sesuatu berubah di dalam dirinya.
"Ya. Aku suamimu," ulang Dev, dan ini pertama kalinya dia menggunakan kata "aku" bukan "saya" saat bicara dengan Mayra. Lebih personal. Lebih... intim.
Mayra merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
***
Siang itu, setelah pertemuan dengan pengacara yang membahas perjanjian pranikah dan berbagai rincian legal yang membuat kepala Mayra pusing, mereka makan siang di restoran Jepang yang tenang.
"Sore nanti kita ke rumah ayahmu," kata Dev sambil memakan sushi dengan sumpit yang sangat mahir. "Marco sudah koordinasi. Barang-barangmu akan dikemas dan dibawa ke penthouse."
"Aku bisa kemas sendiri," kata Mayra.
"Saya tahu. Tapi akan lebih cepat kalau ada yang bantu. Dan kamu pasti, tidak ingin berlama-lama di sana mengingat situasinya," kata Dev dengan pengertian.
Mayra mengangguk. Dev benar. Menghadapi Siska dan mungkin Zakia setelah skandal kemarin, tidak akan menyenangkan.
"Kamu akan temenin aku?" tanya Mayra pelan.
Dev menatapnya. "Tentu. Kamu istriku. Dan suami seharusnya ada saat istrinya butuh dukungan, kan?"
Mayra tersenyum--senyum tulus yang membuat mata Dev melembut sedikit.
"Terima kasih, Dev."
"Berhenti bilang terima kasih. Kita partner sekarang. Patner saling membantu," kata Dev.
Partner.
Kata itu terngiang di kepala Mayra.
Mungkin ini memang bukan pernikahan cinta.
Tapi setidaknya, ini adalah kemitraan yang setara.
Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.
***
Pukul 4 sore, Bentley hitam berhenti di depan rumah keluarga Kusumo.
Mayra menatap rumah yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama 25 tahun dengan perasaan campur aduk. Banyak memori di rumah itu--ada yang baik (dengan ayah dan almarhum ibunya), ada yang buruk (dengan Siska dan Zakia).
"Siap?" tanya Dev.
Mayra menarik napas dalam. "Siap."
Mereka turun dari mobil bersama. Marco sudah ada di sana dengan van untuk membawa barang-barang, pria berusia 30 tahun dengan kacamata dan penampilan yang sangat rapi dan profesional.
"Selamat sore, Tuan, Nyonya," sapa Marco dengan sopan. "Pak Bambang sudah menunggu di dalam."
Mayra dan Dev berjalan masuk bersama.
Di ruang tamu, Bambang duduk sendirian dengan wajah yang lelah. Saat melihat Mayra, dia langsung berdiri dan memeluk putrinya dengan erat.
"Mayra... Papa sangat khawatir," bisik Bambang.
"Aku baik-baik saja, Pa. Sungguh," jawab Mayra sambil membalas pelukan ayahnya.
Bambang melepaskan pelukan dan menatap Dev yang berdiri dengan hormat di beberapa langkah di belakang.
"Tuan... Dev," sapa Bambang.
"Pak Bambang," Dev mengangguk hormat. "Terima kasih sudah mengizinkan kami datang."
Bambang menghela napas panjang. "Duduk. Kita harus bicara."
Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu--Mayra di tengah, Dev di sampingnya, Bambang di seberang mereka.
"Mayra," Bambang memulai dengan suara pelan. "Papa butuh penjelasan. Yang jujur. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba menikah dengan... Dev?"
Mayra melirik Dev, seolah meminta izin. Dev mengangguk sedikit.
Mayra menarik napas dalam. "Pa, Arman dan Zakia berselingkuh di belakangku. Sudah berbulan-bulan. Aku menemukan buktinya beberapa hari sebelum pernikahan."
Bambang menutup matanya, wajahnya terlihat sangat sakit. "Papa... Papa tidak tahu. Papa tidak pernah curiga..."
"Aku tahu, Pa. Mereka sangat pandai menyembunyikan," kata Mayra sambil memegang tangan ayahnya. "Dan aku... aku tidak bisa menikah dengan pria yang mengkhianatiku, Pa. Aku tidak bisa."
"Papa mengerti. Papa mengerti, sayang," Bambang menggenggam tangan Mayra. "Tapi... kenapa Dev? Kenapa tidak batalkan saja pernikahannya?"
"Karena aku tidak mau terlihat sebagai korban yang menyedihkan, Pa," jawab Mayra jujur. "Aku mau mereka tahu bahwa aku bisa mendapat yang lebih baik. Dan Dev... Dev bersedia membantu aku."
Bambang menatap Dev dengan tatapan penuh selidik. "Apa maumu dari putri saya?"
"Kejujuran, Pak," jawab Dev dengan tenang. "Saya tidak akan bohong pada Anda. Pernikahan ini adalah... settingan. Kontrak. Bukan cinta."
Bambang tertegun.
"Tapi," lanjut Dev dengan serius. "Meskipun ini kontrak, saya berjanji akan memperlakukan Mayra dengan hormat. Melindunginya. Tidak akan menyakitinya seperti yang dilakukan Arman. Ini adalah kemitraan yang setara dan saya sangat serius dengan komitmen saya."
Bambang menatap Dev lama, lalu menatap Mayra. "Kamu... oke dengan ini, sayang?"
"Aku oke, Pa," jawab Mayra dengan yakin. "Ini pilihanku. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa aku yang memegang kontrol atas hidupku sendiri."
Bambang terdiam, memproses kata-kata putrinya. Lalu perlahan, dia mengangguk.
"Baiklah. Kalau ini pilihanmu, Papa akan dukung," kata Bambang akhirnya. "Tapi Mayra, Papa hanya mau kamu bahagia. Itu saja yang penting buat Papa."
"Aku tahu, Pa. Dan aku akan bahagia. Aku janji," kata Mayra sambil tersenyum.
Tiba-tiba pintu depan terbuka dengan keras.
Siska masuk dengan wajah merah padam, Rania di belakangnya dengan mata sembab.
"MAYRA ANDINI KUSUMO!" teriak Siska dengan marah. "APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN?! KAMU MEMBUAT KELUARGA KITA MALU! SEMUA ORANG NGOMONGIN KITA! INSTAGRAM, FACEBOOK, SEMUA TEMPAT!"
Mayra berdiri dengan tenang. "Aku tidak membuat keluarga kita malu, Mama. Zakia yang melakukan itu dengan berselingkuh dengan tunanganku."
"JANGAN SALAHKAN KAKAKMU! KAU YANG MEMILIH UNTUK MEMBUAT SKANDAL DI PERNIKAHAN!" teriak Siska.
Dev berdiri, menempatkan dirinya sedikit di depan Mayra, gerak protektif yang naluriah.
"Nyonya Kusumo," kata Dev dengan suara yang sangat tenang tapi penuh ancaman. "Saya sarankan Anda menurunkan suara Anda saat berbicara dengan istri saya."
Siska tertegun, jelas dia tidak pernah diintimidasi seperti ini sebelumnya.
"Istri Anda?" Siska tertawa sinis. "Dia istrimu hanya karena dia mau balas dendam! Ini bukan pernikahan yang benar!"
"Nyata atau tidak, secara legal dia adalah istri saya sekarang," jawab Dev dengan nada final. "Dan saya tidak mengizinkan siapapun--termasuk Anda--untuk bicara dengan kasar pada dia."
Mayra merasakan sesuatu yang hangat di dadanya mendengar Dev membelanya.
Zakia yang selama ini diam akhirnya angkat bicara dengan suara bergetar. "Mayra... aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud--"
"Tidak bermaksud apa, Kak?" potong Mayra dengan tatapan dingin. "Tidak bermaksud tidur dengan tunanganku? Tidak bermaksud merencanakan untuk terus selingkuh bahkan setelah aku menikah dengan dia? Atau tidak bermaksud ketahuan?"
Zakia menangis. "Aku... aku hanya--"
"Kamu hanya selalu iri dengan apa yang kumiliki," potong Mayra lagi. "Sejak Mama Siska menikah dengan Papa, kamu selalu cemburu dengan apapun yang aku punya. Mainanku, teman-temanku, nilai-nilaiku, pekerjaanku. Dan sekarang kamu merebut tunanganku. Tapi kali ini, kamu tidak menang, Kak. Kali ini, aku yang menang."
Zakia terduduk di sofa, menangis semakin keras.
Siska menatap Mayra dengan tatapan benci. "Kamu egois! Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri! Tidak peduli reputasi keluarga!"
"Reputasi?" Mayra tertawa sinis. "Mama peduli soal reputasi sementara putri Mama tidur dengan tunangan putri tiri Mama? Ironis sekali."
Bambang akhirnya berdiri. "CUKUP! SEMUANYA CUKUP!"
Semua orang terdiam.
"Siska, Zakia," Bambang menatap istri dan anak tirinya dengan tatapan yang sangat kecewa. "Kalian berdua yang memulai semua ini dengan perbuatan kalian. Jangan salahkan Mayra karena dia memilih untuk melindungi dirinya sendiri."
"Tapi--" Siska mau membantah.
"Tidak ada tapi," potong Bambang dengan tegas. Ini pertama kalinya Mayra melihat ayahnya begitu tegas pada ibu tirinya. "Mayra sudah membuat keputusannya. Dan sebagai ayahnya, saya dukung dia."
Bambang berbalik menatap Mayra dan Dev. "Ambil barang-barangmu, sayang. Dan..." dia menatap Dev. "Jaga dia dengan baik."
"Saya akan melakukan nya, Pak," janji Dev.
Marco dan beberapa pembantu yang dia bawa mulai naik ke kamar Mayra untuk mengemas barang-barang. Mayra ikut naik untuk memastikan semua yang penting dibawa.
Di kamarnya yang dulu penuh dengan memori, Mayra mengambil foto-foto penting, buku-buku favorit, beberapa pakaian yang punya nilai sentimental, dan perhiasan dari almarhum ibunya.
Dev berdiri di ambang pintu, mengawasi dengan tenang.
"Kamu yakin cuma bawa segini? Kamu bisa bawa apapun yang kamu mau," kata Dev.
"Ini cukup," jawab Mayra sambil menatap kamarnya untuk terakhir kalinya. "Yang lain... hanya barang. Ini yang penting."
Dalam satu jam, semua barang Mayra sudah dikemas dan dibawa ke van.
Mayra berpamitan dengan ayahnya di depan rumah--pelukan yang panjang dan penuh air mata.
"Papa akan datang berkunjung kapanpun kamu mau," bisik Bambang.
"Terima kasih, Pa. Aku sayang Papa," bisik Mayra balik.
Lalu Mayra dan Dev masuk ke Bentley dan meninggalkan rumah itu.
Meninggalkan masa lalu.
Menuju masa depan yang tidak pasti.
Tapi dengan harapan yang baru.
******
Bersambung....
menunggu mu update lagi