Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suasana di ruang makan rumah sederhana itu mendadak hening.
Wangi ayam bakar yang tadi menggugah selera seolah menguap, digantikan oleh ketegangan yang diciptakan oleh tatapan tajam Papa Jati.
Meskipun tampil dengan kaos oblong dan sarung, aura kepemimpinan Papa Jati tetap terpancar kuat.
Papa Jati meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Pratama tepat di manik matanya.
"Pratama,.kamu menikahi putriku bukan cuma soal cinta yang menggebu. Sekarang kamu berjualan soto, dan itu pekerjaan halal. Tapi, apakah kamu benar-benar siap jika suatu saat nanti Luna hamil? Apakah kamu siap menjadi lelaki yang bertanggung jawab penuh, menjamin gizi anakmu, pendidikannya, dan memastikan Luna tidak kekurangan suatu apa pun?"
Pratama tertegun dan meletakkan gelasnya, tenggorokannya mendadak terasa kering.
Pertanyaan itu adalah momok bagi setiap laki-laki yang sedang berjuang dari titik nol.
"Papa! Apa-apaan sih tanya begitu," potong Luna dengan wajah yang sudah memerah hingga ke telinga.
"Kita saja belum melakukannya, jadi jangan tanya yang macam-macam dulu. Mas Pratama sudah berjuang keras hari ini."
Papa Jati terkekeh melihat reaksi putrinya yang malu-malu, namun tatapannya kembali serius ke arah menantunya.
"Papa bertanya karena Papa ingin tahu mental suamimu, Luna. Dunia ini keras."
Pratama menarik napas dalam-dalam, lalu menegakkan punggungnya.
"Pak, maksud saya, Papa. Saya sadar kondisi saya sekarang jauh dari kata mapan. Tapi saya berjanji, selama tangan dan kaki saya masih bisa bergerak, saya tidak akan membiarkan Luna dan anak kami nanti kelaparan. Saya mungkin tidak bisa memberi mereka kemewahan dalam sekejap, tapi saya akan pastikan mereka memiliki ayah yang jujur dan bertanggung jawab."
Papa Jati terdiam sesaat, seolah menimbang kejujuran di balik kata-kata Pratama.
Di dalam hatinya, ia sedikit kagum dengan keberanian menantunya yang tidak gemetar menghadapi intimidasi tipis-tipis darinya.
"Ingat janji itu, Pratama. Karena jika kamu mengecewakan Luna, saya sendiri yang akan membawanya pulang," ucap Papa Jati dengan nada yang meski tenang, namun terasa sangat mengancam.
Luna hanya bisa menunduk sambil mengaduk-aduk nasinya.
Ia merasa bersalah karena membiarkan ayahnya dan suaminya berada dalam permainan "kejujuran" ini, sementara ia sendiri masih menyimpan rahasia besar tentang siapa dirinya sebenarnya.
Malam semakin larut saat mereka berpamitan dari rumah sederhana Papa Jati.
Sepanjang perjalanan pulang di atas motor, Luna hanya diam, memeluk pinggang Pratama dengan pikiran yang berkecamuk.
Ia terharu melihat bagaimana suaminya membela harga dirinya di depan sang ayah tadi.
Sesampainya di rumah, Luna segera membuka tas plastik berisi pakaian baru yang tadi dibelikan Pratama di pasar.
Ada daster katun, beberapa pasang pakaian dalam, dan kerudung baru.
Sederhana, namun Luna menghargainya lebih dari barang branded mana pun karena dibeli dengan tetesan keringat suaminya.
"Dik, ayo tidur. Sudah malam, besok kamu harus berangkat pagi ke Bandung," ajak Pratama dengan suara lembut.
Luna mengangguk pelan. "Iya, Mas."
Mereka pun berbaring di atas ranjang kayu yang sedikit berderit itu. Namun, bukannya langsung memejamkan mata, Pratama justru berbaring miring menghadap Luna.
Suasana mendadak menjadi sangat tenang dan intim.
"Dik, maaf sebelumnya..." Pratama menjeda kalimatnya, tampak ragu sekaligus tegang.
"Boleh tidak kalau Mas meminta agar kita melakukan itu? Melakukan kewajiban kita sebagai suami istri?"
Luna membelalakkan matanya sampai jantungnya berdegup kencang.
Bukan hanya karena permintaan itu, tapi karena tatapan Pratama yang begitu dalam dan penuh luka lama.
"Jujur saja, Dik. Sejak Mas menikah dengan Juwita dulu, Mas belum pernah melakukan hubungan intim. Mas sama sekali belum pernah menyentuhnya sebagai suami."
"Apa? Tapi kalian menikah cukup lama, Mas?"
Pratama tersenyum pahit, menatap langit-langit kamar yang kusam.
"Juwita selalu mengatakan kalau dia belum siap jadi ibu. Setiap kali Mas mendekat, dia selalu menghindar dengan seribu alasan. Dia bilang dia tidak mau tubuhnya rusak karena hamil. Ternyata, Mas baru sadar kalau dia memang tidak pernah berniat membangun masa depan dengan Mas."
Pratama kembali menatap Luna, kali ini dengan tangan yang perlahan menggenggam jemari istrinya.
"Mas ingin memulai hidup yang benar-benar baru dengan kamu, Luna. Mas ingin kamu jadi wanita pertama dan terakhir dalam hidup Mas. Tapi kalau kamu belum siap, Mas tidak akan memaksa."
Luna merasa bersalah karena membohongi Pratama tentang identitasnya kini berbenturan dengan rasa kasih yang luar biasa dalam.
Ia melihat seorang pria tulus yang pernah disia-siakan, dan ia tidak ingin menjadi wanita kedua yang melakukan hal yang sama.
Luna menghela napas panjang, lalu perlahan ia mengikis jarak di antara mereka.
Ia meletakkan tangannya di pipi Pratama yang kasar.
"Mas, aku istrimu. Aku siap," bisik Luna lembut.
Malam itu, di dalam kamar kecil dengan cahaya lampu yang telah dipadamkan, hanya menyisakan keremangan dari celah jendela, suasana terasa begitu sakral.
Pratama mendekat, menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya yang berpacu liar.
Dengan penuh kasih, ia mendaratkan ciuman lembut di bibir Luna.
"Dik, maaf ya kalau Mas sedikit kaku," bisik Pratama tepat di telinga istrinya.
Suaranya serak, penuh dengan ketulusan sekaligus keraguan.
Luna yang juga merasa gugup hanya bisa menyahut pelan, "I-iya Mas, tidak apa-apa."
Pratama kembali mencium bibir istrinya, kali ini dengan sedikit penekanan yang menuntut namun tetap penuh kelembutan.
Luna, yang mulai terbawa suasana, perlahan melingkarkan lengannya di leher sang suami, membalas ciuman itu dengan perasaan yang campur aduk antara cinta dan keinginan untuk membahagiakan pria yang telah sah menjadi imamnya.
Perlahan dan penuh kehati-hatian, Pratama melepaskan pakaiannya sendiri, lalu jemarinya yang kasar namun lembut mulai menyingkap daster katun yang baru saja mereka beli di pasar tadi sore.
Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh deru napas yang memburu.
Tak lama kemudian, suara desahan mulai terdengar jelas di keheningan malam.
"Dik, jangan keras-keras kalau mendesahnya," bisik Pratama dengan napas yang memburu di ceruk leher Luna.
Ia sadar betul dinding rumah kontrakan mereka tidaklah kedap suara.
Luna dengan cepat menutup mulutnya menggunakan punggung tangan, berusaha sekuat tenaga meredam suara yang keluar demi menjaga privasi mereka dari telinga tetangga sebelah.
"Dik, maaf jika sakit..." gumam Pratama saat ia mulai menyatukan raga mereka untuk pertama kalinya.
Luna hanya bisa mengangguk pasrah. Matanya terpejam rapat, dan jemarinya mencengkeram erat punggung tegap suaminya, merasakan sensasi asing yang menyerang seluruh sarafnya.
"S-sakit, Mas..." rintih Luna lirih di balik sela jemarinya.
Pratama berhenti sejenak, mengecup kening Luna dengan penuh cinta untuk memberikan ketenangan.
Malam itu, di atas ranjang kayu yang berderit pelan, mereka bukan lagi dua orang asing yang terjebak dalam skenario penyamaran.