"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu kembali...
Ditengah hiruk-pikuk pesta, pandangan Dimas tertuju pada seseorang. Walaupun pandangannya sedikit terhalang oleh beberapa orang dan cahaya lampu, tapi Dimas yakin ia mengenal seseorang itu.
Tiba-tiba saja Dimas melepaskan tangan Naina yang sedang bertengger di lengannya tanpa mengucapkan sepatah katapun yang membuat Naina hanya diam terbelalak melihat Dimas yang berlalu meninggalkannya. Ingin mencegah, tapi Dimas sudah tidak terlihat, ia seperti tenggelam di tengah kerumunan Orang-orang dan cahaya lampu yang berkelap-kelip.
Naina diam sesaat, ia terlihat kebingungan. Wajahnya terlihat cemas, ia seolah tidak tau akan melakukan apa disana. Sendiri di tengah keramaian tanpa ada satupun orang yang ia kenal.
Ucapan Dimas yang menyuruh jangan melepaskan pegangan tangan seolah hanya angin lalu. Justru pria itu yang sekarang melepaskan.
Naina berusaha menenangkan diri, ia berjalan mencari tempat yang agak sepi, untuk memenangkan hati dan dirinya. Ramainya orang dan suara musik yang kencang membuat jantungnya berdetak sangat kencang. Berkali-kali matanya bergerak sekeliling untuk mencari Dimas, berharap ia akan menemukan sosok itu.
"Hei! Bukankah kamu istrinya Dimas?" Ucap seseorang menghampiri Naina, seorang pria.
"I-iya," Naina mengangguk pelan.
"Kenalin gua Angga, rekan kantor Dimas." Angga menyodorkan tangannya berharap Naina akan menyambut tangannya, tapi justru gadis itu hanya diam saja sembari memberikan senyum kecil.
Angga lantas menarik tangannya kembali, dan tidak mempermasalahkan. "Kemana Dimas?" Tanya Angga sembari melihat ke sekitar tanpa melihat sosok temannya itu.
"Tidak tau, Mas. Tadi mas Dimas pergi entah kemana. Aku tunggu tapi mas Dimas belum juga kembali."
"Ke toilet, kah?"
"Entahlah."
"Yaudah. Tunggu aja di sini, biar gua yang cari."
Naina menggangguk, "Terimakasih, ya, Mas."
Angga lantas bergegas, "Gila itu orang. Bininya tampak kali ketakutan ditinggal sendirian." Gerutu Angga di sela langkahnya.
*****
"Sarah!" Panggil Dimas, ia segera berlari dan berhenti di depan wanita yang sedang berjalan pelan itu untuk memastikan pengelihatannya tidaklah salah.
Tampak seorang wanita menggunakan gaun merah panjang serta terdapat belahan panjang sampai ke pahanya berada di depan Dimas. Rambutnya panjang bergelombang, sangat berpadu dengan parasnya yang cantik.
"Di-dimas?" Ucap wanita itu sedikit kaku memperhatikan laki-laki yang kini berada di depannya.
"Ternyata aku emang gak salah lihat."
Wanita yang bernama--Sarah itu tersenyum, seperti tidak menyangka akan bertemu dengan Dimas. "Apa kabar?" Ucapnya kemudian.
"Baik. Kamu gimana?" Dimas balik bertanya.
"Seperti yang kamu liat."
Dimas menatap Sarah lekat. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat itu. Sangat tidak menyangka akan bertemu kembali dengan orang yang selalu mengganggu hatinya selama ini.
"Boleh kita ngobrol?" Tanya Dimas, ia terpaku sembari menunggu jawaban. Kemudian gadis itu mengangguk.
Dimas dan Sarah berjalan menuju balkon, suara musik terdengar samar-samar, beberapa orang juga terlihat di arah sana seperti memang sengaja menjauhi keramaian.
"Lama sejak waktu itu," Ucap Dimas, sedari tadi ia selalu saja mencuri pandang pada Sarah.
"Iya. Gak bisa dipungkiri, aku merindukan masa saat kita sekolah. Masa ketika seolah kita adalah orang yang paling bahagia dan tanpa beban." Sarah tertawa kecil.
"Kenapa kamu bisa ada disini? Aku pikir kamu gak bakalan ke Indonesia lagi." Tanya Dimas penasaran.
"Maya, istrinya Fahri adalah sepupuku. Makanya aku ada di sini. Soal Indonesia, sepertinya aku akan menetap disini lagi."
Dimas hanya diam, entah apa yang sedang ia pikirkan. Entah mau senang atau apalah.
"Mama dan Papa akan membuka usaha disini. Aku disuruh ikut andil mengurusnya." Sambung Sarah.
"Suami kamu?" Tanya Dimas.
"Sepertinya kamu sangat ingin menanyakan hal ini dari tadi." Sarah tertawa pelan, sedangkan Dimas, ia menjadi kikuk. "Kita sudah bercerai." Sambung Sarah.
Jawaban Sarah membuat Dimas terdiam beberapa saat. Perasaannya campur aduk.
"Tau dari mana aku sudah menikah? Apa kamu sering mencari tau tentang ku?" Tanya Sarah dengan nada bercanda. Dimas semakin kikuk.
"Aku selalu mencari tau tentang kamu, Sar. Tapi semua berhenti saat aku tau kamu sudah menikah." Jawab Dimas tanpa menatap Sarah.
Sarah berjalan mengambil dua gelas minuman yang tersedia disana. Ia memberikan satu gelas yang berisi minuman berwarna merah kepada Dimas.
"Biar obrolan kita gak terlalu tegang." Ucap Sarah kembali bercanda untuk mencairkan suasana.
Dimas mengambil minuman itu dan segera menenggaknya dengan sekali tenggakan.
"Kamu gimana?" Tanya Sarah,
Hening...
Dimas menarik Sarah hingga terbenam dalam pelukannya membuat wanita itu terbelalak kaget, hingga ia pun menjatuhkan gelasnya.
"Di-dimas..." Lirih Sarah.
"Diamlah disana Sarah. Biarkan aku melepaskan rindu yang teramat sangat."
Dimas semakin memeluk Sarah dengan erat. Tapi semua itu ternyata cuma hayalan Dimas.
"Kamu kenapa malah bengong?" Tanya Salah menatap Dimas bingung.
"Ah! Enggak." Dimas gelagapan.
"Kamu pastinya juga sudah menikah, kan?"
Sebelum Dimas menjawab, Tiba-tiba Angga datang.
"Hei! Rupanya lu disini." Ucap Angga menepuk bahu Dimas.
"Oi, Bro!" Jawab Dimas. Dimas menjadi salah tingkah dengan kedatangan Angga.
"Naina nyariin lu." Ucap Angga lagi.
"Oh. Iya."
Dimas menatap Sarah. Ia seperti enggan meninggalkan tempat itu. Tapi, ada Naina yang sedang menunggunya.
Dimas lantas pergi meninggalkan Angga dan Sarah dengan perasaan campur aduk. Sedangkan Sarah hanya menatap dengan diam.
"Jadi, sudah menikah, ya?" Sarah tersenyum kecil.