NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29

Lampu di kamar utama itu meredup secara otomatis, menyisakan cahaya temaram yang hangat, menyapu lekuk tubuh mereka berdua. Di luar, suara angin yang menghantam pohon-pohon pinus terdengar seperti bisikan alam, namun di dalam ruangan itu, udara terasa begitu tebal dan panas hingga sulit untuk bernapas.

Jay mengunci tatapan Anna, tangannya yang besar dan hangat menangkup wajah wanita itu dengan kelembutan yang kontras dengan kekejamannya di dunia luar.

“Kau gemetar,” bisik Jay rendah, suaranya seperti getaran cello yang menyentuh relung hati Anna.

“Aku takut, Jay... tapi bukan padamu,” jawab Anna jujur. Ia merasakan jemari Jay mulai menelusuri garis rahangnya, turun ke leher, dan berhenti tepat di atas detak jantungnya yang menggila.

Jay memberikan senyuman tipis yang sangat memikat.

“Jangan takut. Di sini, aku adalah duniamu. Dan aku tidak akan membiarkan apa pun menyakitimu.”

Tanpa peringatan lagi, Jay menundukkan kepalanya. Ciumannya kali ini tidak lagi kasar seperti saat di apartemen. Kali ini terasa dalam, lambat, dan penuh kerinduan yang telah dipendam selama empat tahun. Ia mencicipi bibir Anna seolah itu adalah air di tengah padang pasir, menghisap setiap napas yang keluar dari bibir wanita itu.

Anna melenguh pelan, jemarinya menyusup ke rambut Jay yang masih sedikit lembap, menarik pria itu agar semakin dalam menguasainya. Gairah yang sempat tertunda kini meledak tanpa ampun. Jay memindahkan ciumannya ke telinga Anna, menggigit kecil di sana hingga Anna merasakan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafnya.

“Kaus ini...” gumam Jay seraya jemarinya menarik pelan ujung kaus putih yang dikenakan Anna. “Sangat menyiksaku sejak tadi.”

Jay mengangkat tubuh Anna sedikit, melepaskan kaus itu dengan gerakan perlahan namun pasti. Saat kain itu terlepas, mata Jay menggelap, penuh dengan kekaguman yang nyaris tak bisa mengontrol dirinya. 4 tahun berlalu, hanya bisa melihat Anna dari kejauhan. Baginya, Anna bukan sekadar wanita; ia adalah penebusan atas masa lalunya yang kelam.

“Kau sangat indah, Anna. Jauh lebih indah dari ribuan foto yang pernah kupandangi,” bisik Jay parau.

Tangannya kini menjelajahi kulit lembut Anna, membelai pinggangnya, lalu naik ke arah punggung, menarik tubuh Anna hingga bersentuhan langsung dengan dadanya yang bidang dan keras. Anna bisa merasakan panas dari kulit Jay, otot-ototnya yang tegang, dan bekas luka di bahu pria itu—bukti dari kehidupan keras yang ia jalani.

Anna mencium bahu Jay, merasakan ketegangan yang sama.

“Bayar hutangmu, Jay... bayar semuanya sekarang,” rintih Anna.

Jay memgerang rendah, sebuah suara kemenangan yang maskulin. Ia merebahkan Anna kembali ke atas bantal sutra, mengurung wanita itu dengan tubuhnya yang dominan. Ciumannya turun ke arah perut, meninggalkan jejak panas di setiap inci kulit Anna, sementara tangannya mengunci jemari Anna di atas kepala, menyatukan mereka dalam sebuah janji yang tak terucapkan.

Malam itu, di bawah perlindungan benteng yang tak tertembus, Jay tidak lagi menjadi seorang mafia yang kejam atau penguntit yang dingin. Ia hanyalah seorang pria yang akhirnya menemukan cahayanya. Dan bagi Anna, pria berbahaya ini adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar hidup.

Di tengah percumbuan yang semakin intens dan intim itu, Jay berbisik di sela napasnya.

“Mulai malam ini, kau bukan lagi mangsa, Anna. Kau adalah satu-satunya alasan jantung ini masih berdetak.”

————

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar mansion, menyinari kamar yang masih menyisakan aroma gairah dan sisa-sisa malam yang panjang. Jay terbangun lebih dulu. Ia menatap Anna yang masih tertidur lelap di balik selimut tebal, tampak begitu tenang dan murni, sangat kontras dengan dunia penuh darah yang sedang Jay hadapi.

Setelah memberikan kecupan lembut di kening Anna tanpa membangunkannya, Jay memakai kemejanya dan melangkah keluar menuju ruang kerja yang berada di sayap kanan mansion.

Di sana, Drew sudah menunggu dengan wajah yang lebih segar.

“Kopi, Tuan?” tawar Drew sembari meletakkan sebuah berkas di atas meja kayu.

Jay mengangguk singkat, matanya langsung tertuju pada layar monitor yang menampilkan pergerakan di Mansion Utama.

“Bagaimana pergerakan Zavier?”

Drew menarik napas panjang.

“Saya mendapatkan informasi. Pagi ini Zavier mulai bermain kotor, Tuan. Dia tidak hanya menghasut Jackman untuk mencabut hak waris Anda, tapi dia juga mulai menghubungi beberapa faksi mafia kecil untuk melacak lokasi anda.”

“Dia selalu iri. Sejak kecil, dia berpikir bahwa dengan memukulku, dia bisa membuktikan bahwa dia lebih kuat. Dia tidak sadar bahwa rasa sakitlah yang membentukku menjadi seperti sekarang.”

“Tuan, Jackman sepertinya memberikan restu diam-diam pada Zavier untuk melakukan ini,” tambah Drew dengan nada khawatir.

“Ini bukan lagi sekadar persaingan saudara. Ini adalah perburuan kepada anda.”

Jay tersenyum sinis, sebuah senyum yang sanggup membuat musuh-musuhnya gemetar.

“Zavier pikir dia mengenaliku. Dia pikir kelemahanku adalah Anna. Dia lupa, bahwa seseorang yang memiliki sesuatu untuk dilindungi jauh lebih berbahaya daripada seseorang yang tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan.”

Jay mengetukkan jarinya ke meja.

“Biarkan dia mencari. Biarkan dia menghabiskan sumber dayanya untuk mengejar bayangan. Sementara itu, Drew… Periksa apakah ayahku benar-benar yang telah mengirim orang-orang itu tadi malam ke apartmenku. Dari gerakan mereka dan bagaimana mereka memakai topeng seperti bukan gaya ayahku.”

“Tentang itu Tuan. Lencana yang di pakai salah satu pengawal ternyata palsu.”

Jay mengernyitkan dahi dan tersenyum tipis.

“Haruskah kita melaporkan pada Tuan Jackman jika seseorang telah mencatut namanya dalam operasi semalm?”

“Tidak perlu. Aku suka itu. Dia benar-benar memakai nama ayahnya dengan baik. Aku tahu siapa yang merencanakan penculikan pada Anna. Aku juga memang sudah memprediksinya, selain itu dari awal aku kesana memang ingin melepaskan ikatan yang merantaiku.” Kata Jay menyesap kopi nya.

“Dan satu lagi,” Jay menatap Drew dengan intensitas yang mematikan.

“Siapkan tim sniper terbaik untuk berjaga di perimeter luar. Jika ada satu pun orang suruhan Zavier yang melintasi garis batas hutan, jangan beri peringatan. Kirim mereka kembali ke Mansion Utama dalam peti mati sebagai hadiah.”

Drew mengangguk patuh.

“Dimengerti, Tuan. Lalu bagaimana dengan Nona Anna?”

Jay terdiam sejenak, tatapannya melembut saat memikirkan wanita yang ada di dalam kamarnya.

“Dia tidak boleh tahu sejauh mana kegilaan Zavier. Biarkan dia merasa aman di sini untuk sementara. Aku akan menyelesaikan urusan ini dengan tanganku sendiri.”

Tiba-tiba, suara langkah kaki kecil terdengar dari arah pintu. Jay menghentikan obrolannya dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih hangat saat melihat Anna berdiri di ambang pintu dengan mengenakan jubah mandi yang sedikit kebesaran, tampak bingung melihat Jay yang sudah sibuk sepagi ini.

“Jay?” panggil Anna pelan.

“Masuklah, Sayang,” ujar Jay, memberi isyarat pada Drew untuk keluar.

“Hanya urusan bisnis kecil. Tidak ada yang perlu kau cemaskan.”

Jay tersenyum dan mengangkat tangannya isyarat meminta Anna untuk datang.

Bersambung

1
@emak aisyah
tidak tau lagi mau berkata apa,di tunggu pertempurannya Thor pastikan Jay tak terkalahkan
wiwied
next
@emak aisyah
ya ampun,bang NEWBE update bersamaan tapi kenapa aku lebih milih Jay,Jay aku padamu 😍😍
daniez
upp
daniez
ok
@emak aisyah
keren,tidak ada kata selain keren,KEREN KALI THOR semangat di tunggu updatenya 🙏
@emak aisyah
cas cis cus pokoknya gas torr
@emak aisyah
satu kesalan satu ciuman bikin kesalahan trs aahhh🤣🤣
@emak aisyah
lah jadi kacau,kasihan Anna nggk tau apa² jadi sasaran semua orang gerak cepat Jay simpan jangn sampai ada yang menyentuhnya
@emak aisyah
nggk bisa nafas aku bacanya
@emak aisyah
masuk babak menegangkan,apakah Jay masih diam saja saat di tindas zavier
@emak aisyah
blm terjadi tapi aku udah kasihan Ama Anna
@emak aisyah
lah kirain tak sama,ternyata sama² psikopat
@emak aisyah
ko bisa orng berbahaya kaya Jay bisa kuat diam saja di siksa😔😔
@emak aisyah
keren tidak salah kalian author terbaik semangat thor💪💪
@emak aisyah
halo kakak author salam kenal saya fans NEWBEE HK mau ikut nimbrung di sini🙏🙏
eva nindia
makasih up nya thor...
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
eva nindia
baguss kluar ajaa jay,,, bangun dinasti baru mu....
eva nindia
🙄 knapa insting c jackman gak jalan
eva nindia
cba tahta itu d serahin ke zavier djamin ancurr 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!