NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 34

Malam telah larut saat Jay melangkah masuk ke dalam kediamannya dengan raut wajah yang kaku setelah rapat yang melelahkan. Pikirannya tidak tenang; sebuah panggilan misterius dari nomor tak dikenal baru saja mengusik ketenangannya.

Tanpa membuang waktu, Jay memerintahkan Drew, tangan kanannya, untuk melacak jejak digital pembicaraan tersebut.

Di tengah perang dingin antar saudara yang kian memanas, Jay tahu betul bahwa ada pihak ketiga yang sedang mengintai, siap memetik keuntungan dari darah yang tumpah di antara mereka.

“Lacak pembicaraan tadi. Siapa orangnya.” Perintah Jay ketika keluar dari mobil dan masuk ke dalam mansion, para pelayan yang berada di sekitarnya langsung menundukkan kepala dan membungkuk ketika Jay melewati mereka.

Drew pun hanya menjawab dengan kepala menunduk dan punggung membungkuk.

Langkah kaki Jay terdengar menjauh.

Drew segera bergegas menuju ruang kendali di lantai bawah tanah. Di sana, deretan monitor menyala terang, dikelilingi oleh para ahli keamanan dan pengawal yang sigap. Tugas mereka satu: menemukan siapa pengecut yang berani menghubungi sang tuan besar.

Sementara itu, Jay melangkah menaiki tangga menuju lantai atas. Keheningan di dalam kamar utama sempat membuatnya tercekat. Anna tidak ada di tempat tidur.

Rasa cemas mulai merayap, mendorong Jay membuka satu per satu pintu ruangan dengan gerakan gusar. Namun, kekhawatiran itu sirna saat ia membuka pintu walk-in closet.

Di sana, Anna duduk dengan tenang di depan cermin besar. Ia tampak begitu anggun, menyisir rambut panjangnya dengan gerakan ritmis dan patuh, layaknya seorang gadis kecil yang tak berdosa.

Jay mendekat, ketegangan di bahunya perlahan meluruh. Sebuah senyum tipis terukir saat ia melingkarkan lengannya di bahu Anna, memeluk wanita itu dari belakang.

Jay membenamkan wajahnya, seolah ingin menumpahkan seluruh beban hidupnya ke pundak Anna. Baginya, Anna adalah tempatnya melakukan recharge energi—sebuah oase di tengah gurun konflik yang ia hadapi.

“Kau lelah?” tanya Anna lembut. Jemarinya yang ramping mulai membelai kepala Jay, menyisir rambut pria itu dengan penuh kasih sayang.

Tubuh tinggi Jay membungkuk, punggungnya melengkung demi mencari kenyamanan pada pelukan itu. Sebagai jawaban, ia mendaratkan kecupan-kecupan pelan di ceruk leher Anna, sengaja meninggalkan tanda kemerahan di sana sebagai segel kepemilikan.

“Lumayan,” bisik Jay parau. “Tapi hanya dengan melihatmu dan memelukmu seperti ini, rasanya energiku sudah kembali penuh.”

Di tengah suasana hangat itu, Anna mulai melancarkan maksudnya. Ia meminta izin untuk pergi ke rumah sakit esok hari. Anna memang dikenal aktif dalam kegiatan amal, memberikan hadiah bagi anak-anak penderita kanker yang sudah ia anggap sebagai adik-adiknya sendiri.

Namun, raut wajah Jay seketika berubah. Ada keraguan yang berat di matanya. Baginya, dunia di luar sana sedang tidak baik-baik saja; bahaya mengintai di setiap sudut jalanan, terutama bagi seseorang yang sangat berharga baginya.

“Aku ingin ke rumah sakit besok.”

Jay langsung menatapnya.

“Sekarang?”

“Besok pagi,” Anna menggeleng lembut. “Anak-anak pasti sudah menungguku. Sudah hampir waktunya kunjungan bulanan.”

Jay terdiam. Ia tahu tentang itu. 4 tahun lamanya ia mengawasi Anna.

Anna rutin mengunjungi bangsal anak-anak penderita kanker. Membawa hadiah kecil. Duduk berjam-jam menemani mereka menggambar atau sekadar bercerita.

Ia tak pernah memamerkannya. Ia hanya melakukannya.

“Aku akan kirim pengawalan penuh,” ucap Jay akhirnya.

Anna menghela napas kecil.

“Jangan terlalu mencolok. Mereka bukan target perang.”

Jay menatapnya lebih dalam.

“Kau adalah target perang.”

Anna tersenyum lembut, menyentuh pipi Jay.

“Tidak semua hal harus kau kendalikan. Lagi siapa yang akan memulai perang saat di Rumah sakit.”

“Kau tidak pernah tahu Anna betapa kejamnya dunia ku.”

Hening sejenak. Tatapan Jay berubah lebih dalam, lebih posesif.

“Tidak semua hal harus kau kendalikan Jay.”

“Selama kau bersamaku,” suaranya rendah dan tegas, “semuanya harus dalam kendaliku.”

“Anak-anak akan tidak nyaman jika terlalu banyak pengawal, mereka pasti akan takut.” Kata Anna.

“Keadaan di luar masih sangat berbahaya, Anna. Aku tidak bisa membiarkanmu keluar tanpa pengawasan ketat,” tolak Jay dengan nada tegas namun khawatir.

Anna tidak menyerah. Ia tahu persis titik lemah pria di hadapannya. Ia mulai membujuk, suaranya merendah menjadi bisikan yang menggoda. Jemarinya tidak lagi sekadar membelai, melainkan memberikan sentuhan-sentuhan provokatif yang membakar pertahanan Jay. Ia menggunakan pesonanya, memainkan ritme emosi dan hasrat Jay agar pria itu luluh dan memberikan izin yang ia dambakan.

Jay menarik napas panjang, namun sudut bibirnya tak bisa menahan kedutan senyum. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Anna.

Gerakan jemari Anna yang kini merambat dari tengkuk menuju dadanya, ditambah tatapan mata yang mendongak manja, adalah senjata yang tentu saja berhasil melumpuhkan logika Jay yang biasanya sedingin es.

“Kau mulai menggunakan cara kotor, hmm?” gumam Jay, suaranya kini lebih berat, serak oleh tawa kecil yang tertahan. Sembari mengecup bibir kekasihnya itu.

Jay kemudian mengangkat tubuh Anna agar berdiri lalu memutar tubuh Anna agar mereka saling berhadapan sepenuhnya di meja rias itu. Lalu Anna duduk kecil di meja rias.

Jay memerangkap tubuh ramping Anna di antara kedua lengannya yang kekar, menumpu pada meja rias. Jay menatap lekat manik mata Anna, menikmati bagaimana wanitanya itu terus melancarkan 'serangan' lembut—sebuah provokasi yang halus, namun sangat efektif.

“Anak-anak itu menungguku, Jay. Aku sudah menjanjikan mainan baru untuk mereka,” bisik Anna. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan.

Napasnya yang hangat terasa di bibir Jay.

“Hanya sebentar. Aku akan membawa pengawal paling tangguh yang kau punya jika itu membuatmu tenang. Namun hanya beberapa jangan terlalu banyak.”

Jay terkekeh pelan. Pria yang tegas dan tak bisa di pengaruhi itu mendadak hampir tak percaya ia bisa luluh oleh kekasihnya. Jay menyisir anak rambut Anna ke belakang telinga dengan ibu jarinya, gerakannya penuh kasih namun posesif.

“Kau tahu pengawal pun tidak akan cukup menenangkan pikiranku jika kau berada di luar sana saat situasi sedang panas seperti ini. Tapi...”

Jay menjeda kalimatnya, sengaja menggantung kata-katanya sementara tangannya menarik pinggang Anna agar lebih merapat.

Anna tersenyum kemenangan saat menyadari ketegasan di mata Jay mulai mencair, digantikan oleh binar penuh pemujaan. Anna dengan cepat memberikan satu kecupan singkat namun dalam di sudut bibir Jay, sebuah sentuhan akhir yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan pria itu.

“Baiklah, kau menang,” desah Jay akhirnya, menyerah pada pesona Anna.

“Tapi dengan satu syarat: aku sendiri yang akan memilih siapa pengawalnya, dan kau tidak boleh lepas dari jangkauan GPS-ku sedetik pun. Dan satu lagi...” Jay mengecup dahi Anna lama.

“Kau harus pulang sebelum matahari terbenam. Mengerti?”

Anna mengangguk antusias, wajahnya cerah seketika. Namun, sebelum ia sempat berterima kasih, Jay kembali membungkuk, membisikkan sesuatu di telinganya dengan nada yang menjanjikan.

“Karena aku sudah memberimu izin, kurasa aku berhak mendapatkan 'recharge' energi yang lebih lama malam ini. Dan kau tidak di izinkan untuk meminta berhenti, karena aku tidak akan menahan diri.” Bisik Jay di telinga Anna.

Bersambung

1
Arifgreenday
lnjut
samiya
next
May Maya
tuh akibat org ngeyel bgtu Anna Jay GK perlu harum manis dia tuh butuh nya kau n kepatuhan mu skrg dah kyak bgni yg susah Jay blm lg kau jg akan d sakiti hadehhhhh Jay yg sabar ya
wiliss
ngiyiill
graver el mubarak
lanjut
celline
lnjut
gogled
sioop
higdominos
upp
bambangsans
up
lalisafajr
next
johanna
upp lg
Bluekastil
yup
Yuyun
upp
Javiz
next
Laura
lnjut
ppok
upp
@emak aisyah
mampuss siksa sekalian,di bilangin ngeyel,males banget aku Ama orng yang di kasih perhatian malah sok berkuasa segala baik² saja ternyata,rugi sendiri kan Anna² wanita sialan
eva nindia
ngeyel bngett deh anna pdhal klo mau beli nnti z breng am jay 🙈
tpi bgitu la wanita 😅🤭
siapa ni yg nyulik anna, zavier kah atwa si penelepon misterius 🤔
gak kebyang semurka apa c jay skrg...
thor hayu up lagiii 😁
May Maya
Bagus
May Maya
cari masalah n penyakit sendiri ini si namanya ana hrusnya kau bs memahami situasi Jay saat ini kejadian saat d apartemen Jay kan bisa buat mu takut n tau kondisi nya sperti apa sampai2 Jay membawa mu k mention yg jauh agar kau aman eh skrg kau malah ingin pergi k tempat umum d mna para penjahat bs memburu mu sbgai kelemahan jay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!