NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — EFEK DOMINO

Alinea beneran mematung. Dia nggak berani nengok kiri-kanan karena dia tahu, begitu dia noleh, pasti ada minimal sepuluh orang yang pura-pura lagi benerin kabel monitor padahal lagi ngetawain dia di grup internal.

"Lin..." Suara bisikan pelan muncul dari balik partisi. Itu Dika, anak IT yang rambutnya selalu berantakan. "Gue cuma mau nanya satu hal sebelum lu diangkut ke lantai atas."

Alinea nengok pelan, matanya udah berkaca-kaca pasrah. "Apa?”

"Lu pakai jimat apa?" Dika nyengir nakal sambil nunjukin layar HP-nya. "Video lu udah dapet 50 likes di grup Telegram 'Volt-Tech Underground'. Lu fiks jadi martir kita semua, Lin. Selama ini kita cuma berani ngatain dia robot di dalem hati, eh lu malah face-to-face."

"Gue nggak sengaja, Dik! Mulut gue glitch!" Alinea pengen nangis tapi nggak bisa.

"Saran gue cuma satu," tambah Dika sambil balik ke layarnya. "Mending lu buruan back-up data pribadi di laptop kantor. Takutnya bentar lagi akses lu di-disable sama HR karena dianggap 'mengancam kewarasan CEO'.”

Alinea berusaha tetep napas, tapi oksigen di lantai dua rasanya makin tipis. Dia bisa denger suara sepatu hak tinggi Mbak Sari, asisten Arsenio, yang bunyi tuk-tuk-tuk cepat banget di lorong.

"Gue bukan cuma bug, Rak," bisik Alinea balik, suaranya agak bergetar. "Gue ini virus yang bikin satu sistem operasi Volt-Tech blue screen."

Raka cuma bisa ngasih tatapan "semangat-ya-semoga-selamat" sebelum dia buru-buru balik ke mejanya karena ngelihat pintu lift terbuka.

Alinea kembali menatap layar laptopnya. Spreadsheet-nya masih di sana, mengejeknya dengan baris-baris data yang nggak masuk akal. Tiba-tiba, ada bayangan yang berhenti tepat di depan mejanya.

Bukan HR. Bukan supervisor.

Mbak Sari. Wajahnya pucat, tangannya megang iPad kayak megang tameng.

"Alinea," suara Mbak Sari datar tapi ada nada panik yang disembunyikan. "Pak Arsenio minta kamu ke ruangannya. Sekarang. Bawa... kopi yang kamu bilang tadi."

Alinea mematung. "Kopi yang... tadi, Mbak?"

"Iya," Mbak Sari menelan ludah. "Katanya, dia mau ngetes 'stabilitas emosi' kopinya secara langsung.”

Satu lantai kantor langsung hening. Sumpah, kalau ada jarum jatuh, pasti kedengeran kayak dentuman meriam.

Alinea jalan menuju lift dengan langkah yang kerasa berat banget, kayak tiap kaki dipasangin pemberat 10 kilo. Pas pintu lift kebuka, dia ngelihat pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap.

"Ayo, Lin. Lo bukan bug, lo fitur terbaru Volt-Tech," bisiknya menyemangati diri sendiri, meski mukanya sepucat kertas HVS.

Lantai CEO itu beda banget suasananya. Kalau di bawah berisik suara keyboard dan tawa maksa, di sini cuma ada suara hening yang mahal. Karpetnya tebal banget sampai suara langkah kaki Alinea hilang.

Di depan meja asisten, Mbak Sari cuma ngasih kode pakai dagu ke arah pintu kayu besar di ujung lorong. Nggak pakai suara. Kayak lagi ngasih kode ke tahanan yang mau dieksekusi.

Alinea ngetuk pintu. Tok. Tok.

"Masuk." Suara Arsenio terdengar berat, jernih, dan—seperti subjek emailnya—sama sekali nggak ada emosinya.

Begitu Alinea masuk, dia ngelihat Arsenio lagi berdiri di deket jendela besar, membelakangi pintu. Sinar matahari pagi bikin siluetnya kelihatan makin tegak dan... ya, makin mirip robot canggih keluaran terbaru.

"Duduk, Alinea," katanya tanpa menoleh. "Saya baru saja membaca ulang profil kamu. Lulusan terbaik, skor TOEFL tinggi, tapi di sini tidak tertulis kalau kamu punya spesialisasi di bidang... psikiatri robot.”

Alinea menelan ludah. Mampus gue.

Alinea pasti lagi ngerasa kayak dunianya lagi spinning. Di satu sisi, dia selamat dari pemecatan. Di sisi lain, dia baru saja menandatangani kontrak dengan "iblis korporat" yang gantengnya nggak masuk akal tapi kaku banget.

"Kontrak... sisi manusiawi?" Alinea mengulang kalimat itu, suaranya agak serak. "Maksud Bapak, saya harus ngajarin Bapak cara... bernapas? Ketawa? Atau cara nggak bikin orang pingsan setiap kali Bapak lewat lorong?”

Arsenio nggak senyum, tapi ada kilatan aneh di matanya. "Semuanya. Saya butuh perspektif 'bug' seperti kamu untuk memahami apa yang salah dengan sistem saya."

Alinea menelan ludah. Bau parfum kayu mahal itu sekarang makin kerasa intens, bikin kepalanya makin pening tapi dengan cara yang... oke, jujur aja, agak bikin ketagihan.

"Bapak tahu kan ini bakal aneh?" tanya Alinea.

"Dunia sudah menganggap saya robot, Alinea," sahut Arsenio sambil melangkah mendekat. "Aneh adalah peningkatan bagi saya.”

Alinea, girl, you are in big trouble... and you're gonna love it.

Alinea menatap Arsenio, mencoba mencari celah di wajah yang seolah dipahat dari batu marmer itu. "Bapak sadar, kan, kalau ini kedengaran seperti plot film kelas B yang sering saya tonton di hari Minggu?"

"Saya tidak menonton film, Alinea. Saya membaca data," sahut Arsenio sambil kembali duduk, menyandarkan punggungnya dengan santai yang anehnya terlihat sangat berwibawa. "Dan data menunjukkan bahwa interaksi singkat kita pagi ini memicu lonjakan aktivitas di grup internal karyawan sebesar empat ratus persen. Anda adalah anomali yang efektif.”

Alinea mendengus, rasa takutnya mulai terkikis oleh kekonyolan situasi ini. "Jadi saya ini objek eksperimen? Bapak mau saya jadi apa? Konsultan emosi? Humanity coach?"

"Panggil saja 'asisten khusus'. Tapi tugas Anda bukan mengatur jadwal saya," Arsenio mengetukkan jari panjangnya di atas meja. "Tugas Anda adalah memprotes saya. Seperti tadi pagi. Beritahu saya kapan saya mulai bertingkah seperti mesin, kapan kopi saya terlalu manis, dan kapan saya harus berhenti menakuti orang-orang di lantai bawah.”

Alinea terdiam. Dia memikirkan nasibnya. Di satu sisi, ini adalah peluang untuk tetap punya gaji di akhir bulan (dan mungkin bonus yang lumayan). Di sisi lain, dia baru saja setuju untuk masuk ke dalam radar pribadi seorang pria yang bahkan tidak tahu caranya tersenyum tanpa terlihat seperti sedang memindai retina.

"Oke," Alinea akhirnya bersuara, suaranya lebih mantap sekarang. "Tapi saya punya syarat."

Satu alis Arsenio terangkat. "Syarat?”

"Kalau saya harus memanusiakan Bapak, Bapak juga harus mulai menghargai privasi saya sebagai manusia. Jangan kirim email jam sepuluh malam hanya untuk tanya kenapa stiker kucing yang saya kirim punya kuping yang beda. Dan..."

Alinea menarik napas panjang, "jangan pecat saya kalau suatu saat protes saya terlalu... jujur."

Arsenio menatapnya lama, sebuah keheningan yang biasanya akan membuat nyali Alinea ciut. Tapi kali ini, dia balas menatap. Dia menantang sang CEO.

"Kesepakatan," kata Arsenio singkat. Dia mengambil sebuah pulpen fountain mahal, mencoretkan sesuatu di atas kertas memo, lalu menggesernya ke arah Alinea.

Di sana tertulis: MULAI BESOK. JAM 08:00. KOPI HITAM TANPA UJI STABILITAS EMOSI.

Alinea mengambil memo itu, menyelipkannya ke saku rok span-nya yang terasa sangat sesak hari ini. Begitu dia berdiri dan berbalik menuju pintu, dia bisa merasakan tatapan Arsenio masih tertuju pada punggungnya. Tatapan yang tidak lagi terasa dingin seperti es kutub, tapi lebih seperti sirkuit yang sedang memanas.

Begitu pintu klik tertutup dan Alinea kembali berdiri di lorong sunyi itu, dia baru sadar kalau kakinya gemetar hebat. Mbak Sari, si asisten profesional, menoleh kepadanya dengan wajah yang seolah bertanya: Kamu masih utuh?

Alinea hanya bisa memberikan senyum miring yang lelah. Dia berjalan menuju lift, mengabaikan serbuan notifikasi di ponselnya yang bergetar tanpa henti di saku.

Dia masuk ke dalam lift, memencet tombol lantai dua, dan saat pintu mulai tertutup, dia melihat bayangannya sendiri di cermin. Pipinya bersemu merah. Bukan karena malu, tapi karena adrenalin yang masih terpompa kencang.

"Lo gila, Lin," bisiknya pada pantulannya sendiri. "Lo baru aja sepakat buat jadi pawang kulkas premium."

Pintu lift berdenting terbuka di lantai dua. Begitu Alinea melangkah keluar, suara riuh rendah yang tadinya memenuhi ruangan mendadak hilang. Raka sudah berdiri di depan kubikelnya, memegang botol air mineral seolah itu adalah piala kemenangan.

"Lin! Lo nggak bawa kardus?!" seru Raka heboh.

Alinea berjalan menuju mejanya dengan kepala tegak, meskipun hatinya masih terasa seperti habis naik roller coaster. Dia duduk, membuka kembali laptopnya, dan melihat spreadsheet yang tadi dia benci.

"Gue nggak jadi dipecat, Rak," kata Alinea santai, meski jari-jarinya masih terasa dingin.

"Terus? Lo di-SP? Atau disuruh bersihin dispenser sekantor?”

Alinea melirik ponselnya yang menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, tapi dia tahu betul siapa pemiliknya dari gaya bicaranya yang kaku.

Unknown: Besok jangan pakai parfum floral itu lagi. Terlalu berisik untuk hidung saya.

Alinea tersenyum, jari-jarinya menari di atas layar untuk menyimpan nomor itu dengan nama: MR. ROBOT (FREEZER MODE).

"Gue baru aja dapet proyek baru, Rak," sahut Alinea sambil menyimpan ponselnya kembali. "Proyek memperbaiki sistem yang paling error di gedung ini."

Hari itu, Alinea sadar. Karirnya di Volt-Tech tidak berakhir. Tapi hidupnya yang tenang? Itu yang baru saja berakhir. Di balik layar monitor yang berderet-deret, di antara gosip yang beterbangan seperti lalat, Alinea tahu bahwa besok akan menjadi hari yang sangat, sangat panjang.

Sistem memang sedang glitch, tapi entah kenapa, Alinea tidak ingin memperbaikinya secepat itu. Dia ingin melihat seberapa jauh kerusakan ini bisa membawanya.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!