Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Bisikan
Udara di terowongan bawah tanah itu terasa berat dan menekan dada, seolah oksigen enggan berbagi ruang dengan aroma formalin tua dan tanah basah yang menyengat. Elara menyeka keringat dingin yang mengalir di pelipisnya, tangannya gemetar saat memegang senter yang cahayanya mulai meredup tanpa alasan jelas. Dinding-dinding bata merah di kiri dan kanan mereka tampak berlendir, ditumbuhi lumut yang seakan bernapas seiring dengan detak jantungnya yang memburu.
Pak Darto berjalan dua langkah di depan, punggungnya yang bungkuk tampak tegang dalam balutan jaket kulit lusuh yang sudah memudar warnanya. Pria tua itu memegang sebuah lentera minyak kuno alih-alih senter modern, meyakini bahwa api lebih ditakuti oleh penghuni tempat ini daripada cahaya buatan manusia. Langkah kakinya nyaris tak terdengar, sebuah keahlian yang didapatnya setelah puluhan tahun menjaga RSU Cakra Buana di malam hari.
"Pak, seberapa jauh lagi kita harus berjalan?" bisik Elara, suaranya terdengar serak dan tertahan di tenggorokan karena takut memecah keheningan.
Pak Darto berhenti sejenak, lalu menoleh perlahan dengan jari telunjuk menempel di bibirnya yang keriput. "Jangan bertanya soal jarak di sini, Neng Elara," jawabnya dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Elara meremang. "Di Basement Level 4, jarak itu menipu. Kita hanya perlu mencari pintu besi dengan lambang VOC yang sudah karatan."
Mereka kembali melangkah, menyusuri lorong yang dibangun pada masa kolonial itu, sebuah jalur rahasia yang dulunya digunakan untuk mengangkut jenazah korban wabah agar tidak terlihat oleh warga kota Arcapura. Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit beton terdengar seperti hitungan mundur yang mematikan di telinga Elara. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan tak kasat mata mengawasi mereka dari sudut-sudut gelap yang tidak terjangkau cahaya lentera.
Tiba-tiba, suhu udara turun drastis hingga napas mereka mengepulkan uap putih di udara yang lembap. Elara mengeratkan jaketnya, namun rasa dingin itu bukan berasal dari cuaca, melainkan merasuk hingga ke tulang sumsum. Sebuah bayangan melintas cepat di ujung lorong, diikuti oleh suara roda brankar yang berdecit nyaring, seolah ada pasien darurat yang sedang dilarikan ke ruang operasi.
"Mundur, merapat ke dinding!" perintah Pak Darto tegas sambil menarik lengan Elara dengan kasar.
Elara menurut tanpa membantah, menekan punggungnya ke dinding bata yang basah dan dingin, memejamkan mata saat suara roda itu semakin mendekat. Bau anyir darah segar tiba-tiba menyeruak, mengalahkan bau tanah dan lumut yang sejak tadi mendominasi penciuman mereka. Suara itu melewati mereka dengan hembusan angin kencang, disertai isak tangis pilu seorang wanita yang memohon pertolongan dalam bahasa Belanda kuno.
Setelah suara itu menghilang ditelan kegelapan, Pak Darto menghela napas panjang dan kembali mengangkat lenteranya. "Itu Suster Maria," gumamnya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Dia masih mencari pasien yang hilang tujuh puluh tahun lalu."
Elara membuka matanya perlahan, jantungnya masih berdegup kencang seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya. "Apakah Dr. Arisandi tahu tentang hal ini? Tentang semua kegilaan yang ada di bawah rumah sakitnya?" tanyanya dengan nada menuntut, mencoba mengusir rasa takut dengan kemarahan.
Pak Darto tersenyum kecut, memperlihatkan deretan giginya yang kuning karena tembakau. "Dr. Arisandi bukan hanya tahu, Neng. Dia yang memberi makan tempat ini," ucapnya misterius sambil kembali melangkah maju. "Kenapa Neng pikir dia bersikeras mempertahankan bangunan tua ini saat investor ingin merobohkannya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, membuat pikiran Elara berputar liar menghubungkan fakta-fakta yang selama ini ia temukan. Dr. Arisandi, dokter bedah jenius yang dipuja di Arcapura, ternyata menyimpan rahasia kelam yang berkaitan dengan entitas supranatural di RSU Cakra Buana. Elara teringat pada berkas pasien-pasien yang sembuh secara ajaib namun kehilangan kewarasan mereka, sebuah harga yang mungkin harus dibayar untuk kesepakatan terlarang.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi raksasa yang tampak sangat tidak pada tempatnya di lorong kuno itu. Pintu itu dilengkapi dengan kunci biometrik modern yang berkedip merah, kontras dengan engsel-engsel besinya yang dimakan karat zaman. Di tengah pintu, terdapat sisa cat pudar yang membentuk lambang medis kuno bercampur dengan simbol-simbol esoterik yang tidak Elara kenali.
"Ini dia," kata Pak Darto, suaranya bergetar bukan karena takut, melainkan karena antisipasi. "Ruang Arsip Terlarang. Atau setidaknya itu yang tertulis di denah resmi. Tapi kami para penjaga lama menyebutnya 'Kamar Perjanjian'."
Elara mengeluarkan perangkat peretas elektronik yang ia bawa, sebuah alat kecil yang ia rakit dari tutorial di forum dark web. Ia menempelkan alat itu pada panel kunci, jemarinya menari lincah di atas layar sentuh kecil untuk mem-bypass sistem keamanan canggih tersebut. "Beri aku waktu dua menit, Pak," ucapnya fokus, keringat kembali menetes di dahinya.
Sementara Elara sibuk dengan kodenya, Pak Darto berdiri membelakangi pintu, mengangkat lenteranya tinggi-tinggi untuk mengawasi lorong yang baru saja mereka lewati. Kegelapan di ujung sana tampak menggeliat, seolah ada massa hitam pekat yang perlahan merayap mendekati posisi mereka. Suara geraman rendah mulai terdengar, bukan dari manusia, melainkan seperti suara binatang buas yang kelaparan.
"Cepat sedikit, Neng," desak Pak Darto, tangannya meraba saku jaket dan mengeluarkan segenggam garam kasar bercampur kemenyan. "Mereka tahu kita ada di sini. Penjaga lorong ini tidak suka kita mengusik tuannya."
"Sedikit lagi..." gumam Elara, mengabaikan peringatan itu demi memecahkan algoritma terakhir. Layar alatnya berubah menjadi hijau, dan terdengar bunyi *klik* mekanis yang berat dari dalam pintu besi itu.
Elara mendorong pintu berat itu sekuat tenaga, engselnya menjerit memekakkan telinga saat logam bergesekan dengan logam. Bau yang keluar dari ruangan itu bukanlah bau busuk, melainkan aroma antiseptik yang sangat kuat bercampur dengan wangi bunga melati yang menusuk hidung. Pemandangan di dalamnya membuat Elara ternganga, membekukan darah di nadinya seketika.
Ruangan itu luas, diterangi oleh lampu operasi modern yang menyorot ke sebuah meja bedah di tengah ruangan. Di dinding-dindingnya, terdapat rak-rak kaca berisi toples-toples spesimen yang diawetkan, namun isinya bukan organ tubuh biasa, melainkan benda-benda yang tampak seperti jimat dan boneka jerami. Dan di tengah ruangan itu, berdiri seseorang dengan jas putih bersih yang membelakangi mereka, sedang sibuk mencatat sesuatu di atas meja bedah.
"Selamat malam, Elara. Dan kau juga, Pak Darto," suara bariton itu terdengar tenang namun berwibawa, menggema di dinding-dinding batu. Sosok itu berbalik perlahan, wajahnya tertutup masker bedah, namun tatapan matanya yang dingin dan tajam tak bisa disembunyikan di balik kacamata frameless-nya.
"Dr. Arisandi," desis Elara, tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih. "Jadi benar dugaan saya. Anda menggunakan praktik klenik untuk eksperimen medis Anda."
Dr. Arisandi tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering dan tanpa emosi. Ia melepaskan sarung tangan lateksnya yang berlumuran cairan hitam pekat, lalu membuangnya ke tempat sampah medis di sampingnya. "Klenik? Itu kata yang sangat kasar untuk menyebut ilmu pengetahuan leluhur, Elara. Saya hanya memadukan apa yang dilupakan sejarah dengan apa yang ditawarkan masa depan."
Pak Darto melangkah maju, menaburkan garam di ambang pintu sebagai batas pelindung. "Hentikan ini, Dok. Arwah-arwah itu tidak tenang. Anda mengganggu keseimbangan tanah Arcapura," serunya dengan nada memohon.
"Keseimbangan?" Dr. Arisandi menatap Pak Darto dengan tatapan meremehkan. "Saya menyelamatkan nyawa, Darto. Orang-orang kaya di kota ini rela membayar miliaran untuk satu tahun tambahan hidup mereka. Dan 'teman-teman' kita di bawah sini... mereka hanya butuh sedikit wadah baru sebagai bayarannya."
Elara merasakan mual yang hebat saat menyadari implikasi dari ucapan dokter itu. Ia melihat ke arah meja bedah di belakang Arisandi, di mana sesosok tubuh terbaring kaku di bawah kain penutup hijau. Tangan pucat yang menyembul dari balik kain itu mengenakan gelang pasien dengan nama yang sangat familiar bagi Elara.
"Itu..." Elara tercekat, suaranya hilang ditelan kepanikan. "Itu bukan pasien biasa, kan?"
Dr. Arisandi tersenyum di balik maskernya, matanya menyipit membentuk bulan sabit yang mengerikan. "Dia adalah donor sukarela, Elara. Atau setidaknya, jiwanya sudah setuju untuk bertukar tempat." Dokter itu melangkah mendekat, sementara lampu-lampu di ruangan itu mulai berkedip-kedip liar, menandakan lonjakan energi supranatural yang masif.
"Lari, Neng!" teriak Pak Darto tiba-tiba, mendorong Elara ke samping tepat saat sebuah bayangan hitam besar menerjang dari langit-langit ke arah tempat Elara berdiri tadi.
Elara jatuh terguling di lantai yang dingin, sementara Pak Darto kini berhadapan dengan makhluk bayangan itu dengan hanya bermodalkan lentera dan doa-doa kuno. Pintu besi di belakang mereka terbanting menutup dengan sendirinya, mengunci mereka bertiga—atau berempat dengan makhluk itu—di dalam ruangan terkutuk ini.