Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garam di Atas Luka
Malam di Jakarta terasa kian menyesakkan bagi Hilman. Di luar, sisa hujan sore tadi masih menyisakan genangan yang memantulkan cahaya lampu jalan yang remang. Di dalam rumah mungil itu, suasana jauh lebih sunyi dari biasanya. Hilman baru saja mengirimkan dua juta rupiah terakhirnya kepada Andini—uang yang sebenarnya ia kumpulkan dari sisa tenaganya yang sudah habis untuk menggenapkan tabungan masa depan mereka. Kini, sakunya benar-benar kosong. Bahkan untuk membeli sebutir telur pun, ia tak lagi mampu.
Hilman berjalan dengan langkah terseret menuju dapur. Jarinya yang terluka dan dibalut perban seadanya oleh Syifa masih berdenyut kencang, memberikan sensasi panas yang menjalar hingga ke bahu. Perutnya melilit perih; ia belum makan sejak kemarin siang karena semua uang yang ia pegang selalu ia prioritaskan untuk kebutuhan Andini dan sekolah Syifa.
Ia membuka magic com. Beruntung, masih ada sisa nasi putih yang mulai mengeras di pinggirannya—nasi yang ia masak sendiri tadi pagi. Ia mengambil piring plastik yang sudah kusam warnanya, menyendok sisa nasi itu dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih terasa kaku.
Ia membuka lemari dapur yang kosong melompong. Tidak ada mi instan, tidak ada kerupuk, bahkan tidak ada kecap. Yang tersisa hanyalah sebuah toples kaca kecil berisi garam dapur.
Hilman menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang diiringi suara mengi dari paru-parunya. Dengan perlahan, ia menaburkan sejumput garam di atas nasi putihnya. Ia duduk di lantai dapur yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang lembap. Baginya, ini sudah cukup. Selama ia masih bisa menelan sesuatu untuk memberikan tenaga bagi jantungnya agar tetap berdetak hingga esok hari, itu sudah lebih dari cukup.
Ia menyuap nasi garam itu perlahan. Rasanya asin, namun tenggorokannya yang kering membuatnya sulit menelan. Setiap kali ia mengunyah, rasa sakit di jarinya dan sesak di dadanya seolah beradu, menciptakan simfoni penderitaan yang hanya ia sendiri yang tahu.
Tanpa ia sadari, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, sepasang mata kecil sedang mengamati dengan tatapan yang menghancurkan hati.
Syifa, yang terbangun karena rasa haus, berdiri mematung. Ia melihat ayahnya—pahlawannya yang biasanya tampak begitu kuat di matanya—kini duduk meringkuk di lantai dapur yang gelap, hanya ditemani lampu kuning temaram yang berkedip-kedip. Ia melihat tangan ayahnya yang diperban gemetar saat menyuap nasi putih tanpa lauk itu.
Air mata Syifa luruh seketika tanpa suara. Ia teringat tadi sore, ibunya pergi dengan pakaian yang sangat cantik, membawa tas bermerek, dan memamerkan uang di dalam dompetnya sebelum berangkat menemui Reno. Ibunya bercerita tentang rencana makan malam mewah di sebuah restoran yang menyajikan daging mahal.
Kenapa Mama makan enak, tapi Ayah makan garam? tanya hati kecil Syifa.
Gadis kecil itu tidak tahan lagi. Ia melangkah keluar dari kegelapan, mendekati ayahnya dengan langkah kaki yang telanjang di atas lantai semen. "Ayah..." bisiknya dengan suara bergetar.
Hilman tersentak. Ia buru-buru menyembunyikan piringnya di balik kakinya, mencoba menghapus noda garam di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Eh, Syifa... Kenapa bangun, Nak? Mau minum?"
Syifa tidak menjawab. Ia justru berlutut di depan ayahnya, menatap piring yang coba disembunyikan Hilman. "Ayah makan apa?"
"Ayah... Ayah makan nasi goreng spesial, Nak. Tapi lampunya mati jadi kelihatannya putih saja," bohong Hilman, mencoba memberikan senyum terbaiknya meski wajahnya pucat pasi.
Syifa menggeleng. Ia meraih piring itu dari tangan ayahnya. Matanya melihat butiran kristal putih yang belum rata bercampur dengan nasi. Ia mengambil sedikit nasi itu dan memasukkannya ke mulutnya. Rasa asin yang menyengat langsung memenuhi lidahnya.
"Ini bukan nasi goreng, Yah... ini nasi garam," isak Syifa pecah. Ia memeluk leher ayahnya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di pundak Hilman yang kasar. "Kenapa Ayah makan garam? Ayah lapar ya? Uang Ayah ke mana? Kenapa Mama nggak kasih Ayah makan?"
Hilman memejamkan mata, memeluk putrinya dengan tangan kirinya yang masih sehat. Dadanya terasa sesak, bukan karena penyakitnya, tapi karena ia tak sanggup melihat putrinya ikut merasakan penderitaannya.
"Sstt... jangan nangis, Sayang. Ayah suka garam kok. Garam itu enak, bikin Ayah kuat," bisik Hilman, meskipun suaranya sendiri terdengar pecah. "Uang Ayah... uang Ayah sudah Ayah simpan di tempat yang aman. Nanti, kalau sudah waktunya, Syifa bisa beli apa saja yang Syifa mau. Syifa bisa makan enak setiap hari sama Mama."
"Syifa nggak mau makan enak kalau Ayah makan garam!" teriak Syifa di tengah tangisnya. "Syifa benci Mama! Mama jahat sama Ayah! Mama pergi terus sama Om Reno, tapi Ayah sakit sendirian di sini!"
"Jangan begitu, Nak... Mama itu... Mama itu sedang berusaha untuk kebahagiaan kita juga," ucap Hilman, sebuah kebohongan paling besar yang pernah ia ucapkan demi menjaga citra seorang ibu di mata anaknya.
Syifa melepaskan pelukannya, menatap mata ayahnya yang sayu. "Ayah bohong. Syifa dengar Mama marah-marah tadi sore. Syifa lihat Mama buang kado Ayah ke sampah. Syifa lihat Mama nggak mau obatin jari Ayah yang berdarah."
Syifa kemudian berdiri, berlari menuju kamarnya, dan kembali dengan membawa sebuah celengan plastik berbentuk ayam yang sudah mulai kusam. Ia membanting celengan itu ke lantai hingga pecah, mengeluarkan koin-koin dan beberapa lembar uang seribuan yang lusuh.
"Ini uang tabungan Syifa, Yah. Ada sepuluh ribu. Ayah beli telur ya? Ayah jangan makan garam lagi... nanti Ayah makin sakit," ucap Syifa sambil menyodorkan uang-uang itu dengan tangan yang gemetar.
Dada Hilman seolah meledak. Ia meraih tangan kecil putrinya, mencium jemarinya dengan penuh kasih. Ia tidak mengambil uang itu. Ia hanya menarik Syifa ke dalam pangkuannya.
"Simpan uang Syifa ya. Ayah sudah kenyang kok," kata Hilman. "Syifa tahu nggak? Ayah punya rahasia besar."
Syifa menyeka air matanya. "Rahasia apa, Yah?"
Hilman membisikkan sesuatu di telinga Syifa, sesuatu yang selalu menjadi kekuatannya bertahan di tengah makian Andini. "Ayah sudah siapkan harta karun buat Syifa dan Mama. Jumlahnya banyak sekali. Cukup buat Syifa sekolah sampai tinggi, cukup buat Mama beli rumah yang besar. Tapi hartanya masih di dalam kotak ajaib, belum bisa dibuka sekarang."
"Syifa nggak butuh harta karun, Yah. Syifa cuma mau Ayah sembuh," sahut Syifa polos.
Malam itu, di dapur yang dingin dan gelap, seorang pria yang sekarat dan seorang anak kecil yang tulus duduk bersandar bersama. Hilman akhirnya menghabiskan sisa nasi garamnya, bukan karena ia lapar, tapi karena ia ingin menghargai tangisan putrinya. Bagi Hilman, setiap butir nasi yang asin itu kini terasa manis karena cinta Syifa.
Namun, di tengah momen mengharukan itu, Hilman kembali terbatuk. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikannya. Darah segar menetes ke piring plastiknya, merusak putihnya nasi yang tersisa.
Syifa terdiam, matanya melebar melihat warna merah itu. "Ayah... itu apa?"
Hilman segera menutup piring itu. "Bukan apa-apa, Nak. Hanya... sirup merah tadi Ayah minum. Sudah, Syifa tidur ya. Ayah mau cuci piring dulu."
Setelah berhasil membujuk Syifa kembali ke kamar, Hilman berdiri dengan sangat susah payah. Ia mencuci piring itu, membersihkan noda darah di lantai dengan kain pel, dan kembali duduk di kursi dapur. Ia mengambil buku catatan kecilnya.
"17 Februari. Hari ini Syifa menangis melihatku makan nasi garam. Maafkan Ayah, Syifa. Ayah harus menghemat setiap rupiah demi angka satu miliar itu. Sedikit lagi, Nak. Hanya satu juta lagi. Ayah janji, setelah satu juta itu ada, Ayah tidak akan makan garam lagi. Ayah akan beristirahat dengan tenang."
Di kejauhan, terdengar suara tawa Andini yang baru saja turun dari mobil Reno di ujung gang. Ia melangkah masuk ke rumah dengan perasaan menang karena baru saja mendapatkan tas baru lainnya, tanpa tahu bahwa suaminya baru saja melewati malam paling menyedihkan dengan nasi garam dan air mata anak mereka.
Andini masuk ke rumah, melihat Hilman di dapur, dan langsung membuang muka. "Mas! Bau anyir apa ini? Kamu nggak bersih ya ngepelnya? Dasar nggak becus!" teriaknya sambil membanting pintu kamar.
Hilman hanya tersenyum getir. Ia sudah biasa. Ia hanya berharap, garam yang ia makan malam ini bisa memberinya sedikit kekuatan untuk satu hari terakhir di pabrik esok pagi—hari di mana ia akan menggenapkan janjinya, apa pun risikonya.