Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: MASUK KE SARANG ULAR
#
Gerbang besi megah menjulang tinggi di depan mata Bayu. Ornamen emas berkilau meski malam sudah larut. Di atas gerbang, nama keluarga terukir jelas: SAMUDERA.
Bayu berdiri di sana, tubuhnya gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena... memori Kenzo yang mengalir setiap kali dia lihat tempat ini.
Rumah.
Tapi bukan rumah.
Ini neraka yang dibungkus kemewahan.
Dia menekan tombol interkom dengan jari gemetar. Suara dengungan sebentar, lalu terdengar suara perempuan. Dingin. Malas.
"Siapa?"
Bayu menelan ludah. Tenggorokannya kering. "Aku... Kenzo."
Hening.
Lama.
Lalu terdengar tawa. Tawa rendah yang terdengar seperti ejekan.
"Oh. Kau masih hidup rupanya."
Klik.
Gerbang terbuka pelan dengan bunyi dengung mekanik.
Bayu melangkah masuk. Setiap langkah terasa berat. Kakinya lemas. Tubuhnya masih penuh luka. Tapi dia terus jalan.
Jalan setapak dari batu alam rapi menuju mansion besar yang berdiri megah di tengah taman luas. Lampu taman menyala temaram, menerangi pohon-pohon hias yang dirawat sempurna. Kolam air mancur di tengah halaman. Patung malaikat di tengahnya.
Semuanya sempurna.
Terlalu sempurna.
Seperti menutupi sesuatu yang busuk di dalamnya.
Pintu utama mansion terbuka sebelum Bayu sampai. Seorang pelayan tua berdiri di sana, wajahnya datar. Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan. Hanya... tatapan kosong.
"Masuk," katanya singkat, lalu berbalik masuk duluan.
Bayu mengikuti. Melewati pintu besar menuju ruang tamu yang luas. Lantai marmer mengkilap. Lampu kristal besar tergantung di langit-langit tinggi. Lukisan mahal di dinding. Sofa kulit mewah. Semuanya terlihat keluar dari majalah desain interior.
Tapi suasananya... dingin.
Di tengah ruangan, tiga orang duduk. Mereka menoleh saat Bayu masuk.
Pertama, seorang wanita. Mungkin akhir tiga puluhan. Cantik. Rambut panjang bergelombang, pakaian malam yang elegan, makeup sempurna. Tapi matanya... matanya tajam. Dingin. Penuh kebencian.
Valerie Samudera. Ibu tiri.
Di sampingnya, seorang laki-laki muda. Sekitar usia Kenzo, mungkin setahun lebih muda. Wajahnya tampan, rambut rapi, pakaian branded dari ujung rambut sampai kaki. Senyum meremehkan terpasang di bibirnya.
Raka Samudera. Adik tiri.
Dan di sofa terpisah, seorang pria paruh baya. Jas rapi meski sudah malam. Wajah tegas, rambut mulai beruban di sisi pelipis. Matanya tertuju ke layar tablet di tangannya. Bahkan tidak menoleh saat Bayu masuk.
Arjuna Samudera. Ayah. CEO konglomerat Samudera Group.
Valerie meletakkan cangkir tehnya pelan di meja. Tatapannya mengunci Bayu dari atas sampai bawah. Wajahnya berubah. Dari netral jadi... jijik.
"Kau masih hidup?" suaranya lembut, tapi setiap kata seperti racun. "Sayang sekali."
Bayu berdiri di sana, diam. Tangannya mengepal. Memori Kenzo membanjir lagi. Kata-kata yang sama. Diulang ratusan kali.
"Kenapa kau tidak mati saja, Kenzo? Dunia akan lebih baik tanpa sampah sepertimu."
Raka tertawa. Suara tawanya ringan, tapi menjijikkan. "Wah, Ibu. Jangan gitu dong. Pecundang memang susah mati, kan? Seperti kecoa. Diinjek tetap hidup."
Valerie tersenyum tipis. "Benar juga."
Bayu merasakan sesuatu panas merayap di dadanya. Bukan dada Kenzo. Tapi dadanya sendiri. Kemarahan. Tapi dia tahan. Dia harus tahan.
Tubuh ini masih terlalu lemah buat lawan mereka.
Belum waktunya.
"Aku... pulang," kata Bayu pelan. Suaranya serak.
"Pulang?" Raka berdiri, melangkah santai ke arah Bayu. Tangannya di saku celana. Senyumnya makin lebar. "Ini bukan rumahmu, pecundang. Ini rumah keluarga Samudera. Kau? Kau cuma... numpang."
Dia berhenti tepat di depan Bayu. Lebih tinggi sedikit. Menatap meremehkan.
"Lihat. Kau babak belur. Berantem lagi? Atau... dipukuli orang lagi?" Raka menyeringai. "Lemah. Menyedihkan."
Bayu menatap matanya. Diam.
Raka menepuk pipi Bayu pelan. Tepukan yang merendahkan. "Besok pagi kau harus hilang dari rumah ini. Ibu dan aku sudah capek lihat muka sampahmu. Mengerti?"
Bayu masih diam.
"Aku tanya, mengerti atau tidak?!"
Raka mendorong bahu Bayu keras. Bayu tersandung, jatuh ke lantai marmer. Rasa sakit meledak dari rusuknya yang sudah retak.
"Ngg..."
Bayu menggigit bibir bawahnya, menahan erangan.
Raka tertawa lagi. "Dasar payah."
Valerie berdiri dari sofa, berjalan anggun ke arah Bayu yang masih tergeletak. Sepatu hak tingginya berbunyi klik klik di lantai marmer.
"Kenzo," panggilnya lembut, tapi nada suaranya seperti pisau. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau kabur dari rumah dua hari lalu. Kau kira aku tidak mencarimu?"
Dia berjongkok, sejajar dengan Bayu. Tangannya meraih dagu Bayu, memaksa mendongak menatapnya.
"Aku harap kau mati di luar sana. Benar-benar harap." Matanya menatap dalam. Tidak ada kehangatan. Hanya kebencian murni. "Tapi kau kembali. Seperti penyakit yang tidak sembuh-sembuh."
Valerie melepas dagu Bayu kasar, lalu berdiri.
"Bawa dia ke kamar," perintahnya ke pelayan yang masih berdiri di sudut ruangan.
Pelayan itu mengangguk, lalu menarik lengan Bayu. "Ayo."
Bayu berdiri dengan susah payah. Kakinya goyah. Tapi dia ikut. Karena dia tidak punya pilihan.
Saat melewati sofa tempat Arjuna duduk, Bayu melirik sekilas. Ayahnya. Ayah Kenzo. Pria yang seharusnya melindungi.
Tapi pria itu bahkan tidak menoleh. Tidak peduli anaknya diperlakukan seperti sampah. Matanya tetap tertuju ke layar tablet. Jari-jarinya sibuk mengetik.
Seperti Kenzo tidak ada.
Seperti Kenzo tidak pernah ada.
Sesuatu di dada Bayu terasa... remuk. Sakit yang aneh. Sakit yang nggak bisa dijelaskan.
Ini bukan rasa sakitnya. Ini rasa sakit Kenzo yang tersisa. Anak kecil yang dulu menangis setiap malam, berharap ayahnya akan datang. Akan memeluk. Akan bilang semuanya akan baik-baik saja.
Tapi tidak pernah datang.
Tidak pernah.
Pelayan itu membawa Bayu naik tangga marmer lebar. Melewati koridor panjang dengan karpet merah tebal. Lampu dinding antik menerangi lukisan keluarga yang terpajang rapi.
Ada satu lukisan besar. Keluarga Samudera. Arjuna di tengah, tersenyum bangga. Valerie di sampingnya, cantik dan anggun. Raka di depan, senyum sempurna.
Tapi tidak ada Kenzo.
Seolah dia tidak pernah jadi bagian dari keluarga ini.
Mereka berhenti di ujung koridor. Di depan pintu kayu tua yang cat-nya sudah mengelupas. Berbeda jauh dari pintu-pintu lain yang mewah.
Pelayan itu membuka pintu dengan kunci tua yang berkarat.
"Masuk."
Bayu melangkah masuk. Ruangan kecil. Sempit. Tidak ada jendela. Hanya kasur tipis tanpa sprei, meja kayu lapuk, dan lampu bohlam redup di langit-langit.
Ini bukan kamar.
Ini gudang.
"Kau akan dikunci di sini. Jangan coba keluar," kata pelayan itu datar, lalu menutup pintu.
Klik.
Suara kunci berputar.
Bayu berdiri di tengah ruangan gelap. Napasnya pendek. Tubuhnya gemetar.
Dia berjalan pelan ke kasur, lalu duduk. Pegas kasur berbunyi keras, menusuk pinggulnya.
Bayu menatap kosong ke lantai kayu retak di bawah kakinya.
Ini... rumah Kenzo.
Tapi ini lebih mengerikan dari arena bawah tanah. Lebih menyakitkan dari dikhianati Dika.
Karena di sini... Kenzo disiksa oleh orang yang seharusnya menyayanginya.
Keluarga.
Bayu menutup matanya. Napas panjang. Tapi dadanya sesak.
"Kenapa... kenapa lo harus ngerasain ini, Kenzo..."
Bisikannya pelan. Gemetar.
Air mata jatuh tanpa sadar. Mengalir perlahan di pipi yang penuh lebam.
Ini bukan air matanya. Tapi air mata Kenzo yang tersisa. Kesedihan yang tidak pernah hilang. Rasa sakit yang mengendap bertahun-tahun.
Lalu... dia mendengarnya.
Suara dari luar. Samar. Tapi jelas.
Suara Valerie dan Raka. Mereka berbicara. Pelan. Seperti merencanakan sesuatu.
Bayu mendekat ke pintu. Menempelkan telinga di celah kayu.
"...besok pagi. Kita harus cepat."
"Tapi Ibu, bagaimana kalau Ayah tahu?"
"Ayahmu tidak akan peduli. Dia bahkan tidak ingat Kenzo masih hidup."
Tawa pelan.
"Kita buang dia jauh. Ke panti asuhan atau apa. Yang penting... dia hilang dari hidup kita."
"Atau... kita selesaikan sekalian?"
Hening.
"Jangan bodoh, Raka. Kita bukan pembunuh. Biarkan jalanan yang selesaikan dia."
Langkah kaki menjauh. Suara menghilang.
Bayu mundur dari pintu. Duduk lagi di kasur.
Jantungnya berdegup keras. Tidak takut. Tapi... marah.
Mereka mau buang Kenzo. Lagi.
Seperti sampah.
Tapi sekarang... Kenzo bukan Kenzo lagi.
Bayu menatap tangannya yang gemetar. Tangan kurus penuh luka.
"Gue nggak akan kabur," gumamnya pelan. Suaranya serak. "Gue nggak akan jadi pecundang lagi."
Dia berbaring di kasur tipis. Menatap langit-langit retak.
"Kalian mau buang gue? Silakan coba."
Matanya perlahan menutup.
Tapi di kepalanya, satu tekad mengakar kuat.
Gue akan balik. Gue akan buat kalian semua berlutut.
Dan kalian... akan nyesel pernah nganggap Kenzo sebagai sampah.