Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Sang Ratu Aimo
Berita tentang drama baru Leo berjudul “Hidden Obsession” menyebar seperti api di Manhattan. Lawan mainnya kali ini adalah Adeline, aktris muda berusia 20 tahun yang baru saja memenangkan penghargaan "Aktris Pendatang Baru Terbaik".
Berbeda dengan Claire yang tajam dan dewasa, Adeline memiliki citra “Nation’s First Love” lembut, polos, dan memiliki mata besar yang selalu terlihat berbinar.
Kehebohan Fans: Akankah Sebrutal dengan Claire?
Netizen New York mulai membanding-bandingkan kedua wanita di kehidupan Leo ini.
@Manhattan_Leaks: "Leo dan Adeline? Ini seperti Serigala bertemu Domba. Apa Adeline tidak takut bibirnya 'dilahap' habis oleh Leo?"
@Abelano_Update: "Gue penasaran, apa Leo bakal pakai teknik lidah lagi? Kalau sama Adeline yang sepolos itu, rasanya bakal terlalu intens. Apa Claire bakal kasih izin?"
@DramaQueen_NY: "Lihat foto behind the scene-nya! Adeline selalu tertawa malu-malu setiap didekati Leo. Kayaknya dia benar-benar terpesona sama Duta Kokop kita."
Di penthouse-nya, Claire sedang memperhatikan layar televisi yang menampilkan wawancara eksklusif Leo dan Adeline. Ia melihat bagaimana Adeline sesekali menyentuh lengan Leo saat mereka tertawa bersama.
"Bocah ingusan," gumam Claire pelan, jarinya meremas gelas kristal berisi wine.
Malam itu, saat Leo masuk ke kamar dengan wajah lelah, ia disambut dengan suasana yang lebih dingin dari biasanya. Claire sedang berbaring sambil membaca buku, tidak menoleh sedikit pun.
"Hai, Sayang. Capek sekali hari ini," ujar Leo sambil mencoba mengecup pipi Claire.
Claire menghindar dengan halus.
"Jangan dekat-dekat. Baumu bau parfum wanita lain. Manis dan... murah."
Leo terkekeh, ia langsung tahu Claire sedang dalam mode cemburu.
"Maksudmu parfum Adeline? Itu hanya tuntutan karakter, Claire. Kamu tahu dia masih sangat muda, dia bahkan gemetar saat aku hanya menatap matanya."
"Lalu? Kamu menikmati menjadi pahlawan bagi gadis kecil itu?" Claire menutup bukunya dan menatap Leo dengan tatapan sinis yang mematikan.
"Ingat ya, Leo. Kamu bisa syuting dengan siapa pun, tapi jangan coba-coba membawa gaya brutal yang kita lakukan di London ke hadapan gadis itu. Itu milikku."
Keesokan harinya, Claire memutuskan untuk melakukan inspeksi mendadak ke lokasi syuting. Ia turun dari limosinnya di depan sebuah gedung tua di Brooklyn, tempat syuting sedang berlangsung.
Saat itu, Leo dan Adeline sedang melakukan adegan di mana Leo harus membisikkan sesuatu di telinga Adeline. Adeline tampak tersipu malu, wajahnya merah padam.
Claire melangkah masuk ke area set dengan kacamata hitam dan aura penguasa. Suasana mendadak hening. Para kru menepi memberikan jalan bagi sang Ratu Aimo.
"Oh, jangan berhenti karena aku," ujar Claire dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
Adeline tampak sangat gugup melihat Claire secara langsung. "H-halo, Ms. Aimo. Sebuah kehormatan bertemu dengan Anda."
Claire hanya menatap Adeline dari atas ke bawah, lalu beralih ke Leo yang sedang menahan tawa melihat tingkah kekasihnya.
Meskipun publik mencium aroma persaingan dan sejarah masa lalu mereka, Claire dan Leo sepakat untuk tetap backstreet (merahasiakan hubungan).
Bagi Claire, membiarkan publik menebak-nebak jauh lebih elegan daripada memberikan konfirmasi murahan.
Claire datang ke lokasi syuting hari ini dengan alasan "jalan-jalan" dan mengunjungi Sutradara Han sebagai kolega sesama aktor. Namun, semua orang di set tahu bahwa kehadiran Claire memiliki tekanan atmosfer yang berbeda.
Claire duduk di kursi sutradara, menyilangkan kakinya yang jenjang sambil menyesap espresso. Matanya yang tajam di balik kacamata hitam mengikuti setiap gerak-gerik Leo dan Adeline di depan kamera.
Adegan kali ini adalah Leo harus memeluk Adeline dari belakang saat mereka melihat sunset di balkon buatan. Adeline, dengan citra polosnya, terlihat sangat gugup. Berkali-kali dia salah tingkah karena menyadari Claire sang legenda sedang menonton dari balik monitor.
"Lakukan dengan natural, Adeline. Jangan kaku begitu," teriak Sutradara Han.
Leo melirik ke arah Claire melalui sudut matanya. Ia bisa melihat Claire sedang menatapnya dengan pandangan "Awas kalau kamu berani macam-macam".
Saat jeda syuting, Leo menghampiri Claire di kursi sutradara. Di depan kru dan Adeline, mereka bersikap sangat profesional, namun percakapan mereka adalah perang dingin.
"Gimana aktingku hari ini, Ms. Aimo?" tanya Leo dengan nada sopan yang dibuat-buat, namun matanya berkilat nakal.
"Lumayan," jawab Claire pendek. "Hanya saja, pelukanmu terlihat kurang meyakinkan. Apa karena lawan mainmu terlalu... mungil? Kamu terlihat seperti sedang memeluk adik kelas, bukan kekasih."
Adeline yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menunduk, meremas naskahnya. Ia merasa sangat kecil di hadapan Claire.
Saat Claire pura-pura ingin membenahi riasannya, ia masuk ke ruang ganti pribadi Leo. Tak lama kemudian, Leo masuk dan langsung mengunci pintu. Di ruang sempit yang sunyi itu, topeng profesional mereka luruh.
"Tujuanmu ke sini sebenarnya apa, Odette? Benar-benar ingin jalan-jalan atau ingin menandai wilayah?" Leo memojokkan Claire ke meja rias, persis seperti posisi mereka di malam panas itu.
Claire melepaskan kacamata hitamnya, menatap Leo dengan intens. "Aku hanya ingin memastikan kalau si 'Duta Kokop' ini tidak lupa cara mencium yang benar karena terlalu lama berakting dengan gadis sepolos Adeline."
Claire menarik kerah baju Leo, membawanya ke dalam ciuman singkat yang sangat mendominasi. "Ingat, Leo. Di depan kamera kamu milik publik dan Adeline. Tapi di ruangan tertutup mana pun, kamu hanya milikku."
Beberapa menit kemudian, Claire keluar dari ruang ganti dengan wajah yang sangat datar dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia berpamitan pada Sutradara Han dengan sangat anggun.
"Aku pulang dulu, Han. Semoga syutingnya lancar," ujar Claire.
Leo menyusul keluar dengan bibir yang sedikit lebih merah dari sebelumnya dan rambut yang agak berantakan. Adeline memperhatikan Leo dengan bingung, sementara Siska yang menunggu di luar mobil hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan bosnya yang baru saja melakukan serangan fajar di tengah jam kerja.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰🥰
keren....