NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Cintapertama
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Kecil

Pintu kaca kafe itu terbuka lagi dengan suara halus seperti biasanya. Alvaro melangkah masuk sambil merapikan jaketnya, matanya secara otomatis memindai ruangan sebelum ia sempat mengatur napasnya. Hujan tidak turun di hari ini, tetapi entah mengapa hatinya terasa sedikit berat—bukan karena kelelahan, melainkan sebuah perasaan yang sulit diungkapkan.

Kafe itu tetap sama. Meja kayu di dekat jendela masih ada di tempatnya. Lampu-lampu gantung terus memancarkan cahaya yang hangat. Aroma kopi susu tercampur dengan wangi kayu basah yang samar. Namun, satu hal langsung membuat langkah Alvaro melambat.

Aurellia.

Dia berdiri di balik meja kasir, rambutnya disanggul setengah, mengenakan kaus lengan panjang berwarna krem yang dilipat sedikit di bagian pergelangan. Dia sedang berbincang dengan seorang pelanggan, tersenyum kecil sambil mencatat pesanan. Senyum yang sama. Senyum yang, entah sejak kapan, menjadi sangat akrab.

Alvaro berdiri canggung di dekat pintu. Dia tidak langsung melangkah maju. Ada jeda beberapa detik di mana ia hanya mengamati—kebiasaannya sebagai fotografer, mencari momen yang tepat sebelum terjun ke dalamnya.

Setelah pelanggan itu pergi, Aurellia mengangkat kepalanya. Mata mereka bertemu.

Dan seketika itu juga, senyum Aurellia berubah.

Bukan senyum ramah untuk pelanggan. Bukan senyum sopan. Melainkan senyum kecil yang muncul seakan-akan tanpa sengaja, seperti sebuah refleks.

“Eh,” ujarnya sambil sedikit mengangkat alisnya. “Akhirnya. ”

Satu kata itu membuat Alvaro merasa canggung.

“Iya,” jawabnya cepat, lalu segera menyesal karena terdengar terlalu singkat. “Maksudku—iya, akhirnya… aku sampe di sini. ”

Aurellia tertawa kecil. Bukan tawa keras, tetapi cukup untuk membuat Alvaro merasa diperhatikan dengan cara yang berbeda.

“Kemarin kamu nggak kesini,” kata Aurellia sambil mengambil kain lap dan mulai mengelap meja kasir. Suaranya santai, tapi tatapannya tertuju pada Alvaro cukup lama. “Biasanya jam segini kamu udah duduk di sana. ”

Dia menunjuk meja dekat jendela.

Alvaro menggaruk tengkuknya. “Oh… iya. Kemarin ada pekerjaan mendadak. ”

“Oh? ” Aurellia menjawab. “Aku pikir kamu pindah kafe. ”

“Engga kok,” Alvaro cepat-cepat menggelengkan kepala. “Bukan. Maksudnya—aku masih… ke sini. ”

Aurellia menahan senyum. “Santai. Aku cuma becanda. ”

Alvaro menarik napas dalam-dalam, lalu akhirnya melangkah mendekat ke meja kasir. “Americano ya"

“Seperti biasa,” ulang Aurellia pelan, seakan-akan mencicipi kata itu. “Oke. ”

Dia berbalik, mulai menyiapkan pesanan. Alvaro berdiri di depan kasir, bingung harus bergerak ke mana. Apakah duduk dulu atau menunggu. Akhirnya dia memilih untuk tetap berdiri, tangannya masuk ke saku jaket, matanya mengikuti gerakan Aurellia tanpa sadar.

“Kerjaanmu apa, sih? ” tanya Aurellia tiba-tiba, tanpa menoleh.

Alvaro sedikit terkejut. “Hah? ”

“Kemarin kamu bilang ada pekerjaan mendadak,” lanjut Aurellia sambil menuang susu ke dalam gelas ukur. “Aku jadi penasaran. Kamu sering bawa kamera, kan? ”

“Oh. ” Alvaro tersenyum kecil. “Aku itu fotografer freelance. ”

Aurellia menoleh. “Oh ya? ”

“Iya. Macem-macem. Kadang acara, kadang produk, kadang juga… tergantung klien. ”

“Pantesan,” kata Aurellia. “Kamu sering perhatiin sekeliling seolah-olah sedang cari sesuatu. ”

Alvaro tertawa kecil. “Ketauan, ya. ”

“Iya,” jawab Aurellia dengan jujur. “Awalnya aku ngira kamu lagi cari stop kontak. ”

Mereka tertawa bersama. Suasana di antara mereka terasa lebih nyaman dibanding sebelumnya, seolah ada jarak yang akhirnya runtuh tanpa perlu usaha yang besar.

Aurellia meletakkan kopi susu di atas nampan kecil. “Nih. Ini Americanonya. ”

“Makasih,” ucap Alvaro. Tangan mereka hampir bersentuhan saat ia mengambil gelas, yang membuat keduanya secara refleks menarik kembali tangan masing-masing.

Aurellia berdeham. “Apa kamu mau duduk di sana lagi? ”

“Iya,” jawab Alvaro. “Kalo… nggak masalah. ”

Aurellia mengangguk. “Itu emang kursimu. ”

Alvaro melangkah ke meja dekat jendela, duduk, dan menempatkan kameranya di samping kursi. Ia membuka tutup gelas dan meniup uap panas yang keluar. Dari sudut matanya, ia melihat Aurellia bergerak bolak-balik, melayani pelanggan lain. Namun, tiap kali Aurellia melewati, tatapan mereka selalu bertemu—sekejap, singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Alvaro berdegup lebih kencang dari biasanya.

Beberapa menit kemudian, suasana kafe sedikit sepi. Aurellia membawa kain lap dan mulai membersihkan meja-meja yang kosong. Saat sampai di meja Alvaro, ia berhenti sejenak.

“Apa pekerjaan kamu kemarin agak berat? ” tanyanya sambil mengelap meja di sebelahnya.

“Agak,” jawab Alvaro. “Tiba-tiba banget. Waktu aku udah siap ke sini, tiba-tiba aku ditelepon. ”

“Pasti ganggu,” ucap Aurellia.

“Bener. Soalnya aku udah berniat buat… istirahat. ”

Aurellia meliriknya. “Istirahat dari apa? ”

Alvaro terdiam sejenak. Dari pekerjaan? Dari kelelahan? Atau dari pikiran yang gaduh?

“Mungkin dari pikiranku sendiri,” jawabnya akhirnya.

Aurellia memberikan senyuman kecil. “Kafe ini emang tempat yang cocok buat itu. ”

“Iya,” jawab Alvaro dengan suara pelan. “Itu sebabnya aku datang ke sini. ”

Aurellia berhenti mengelap. Ia berdiri di depan Alvaro, sedikit bersandar pada meja kosong. “Aku pernah mikir kamu nggak bakal datang lagi. ”

Alvaro menatapnya. “Kenapa? ”

Aurellia mengangkat bahu. “Karena orang sering banget nggak konsisten. ”

Pernyataan itu terdengar ringan, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam. Alvaro menangkapnya.

“Maaf,” ucapnya tiba-tiba.

Aurellia sedikit terkejut. “Hah? Buat apa? ”

“Bukan karena aku nggak mampir kemarin,” lanjut Alvaro. “Tapi… kalo aku bikin kamu terus kepikiran. ”

Aurellia tertawa kecil, kali ini lebih lembut. “Aku cuma penasaran, bukan kepikiran. ”

Alvaro mengangguk, meskipun ia tahu itu setengah tidak jujur. Namun, ia tidak ingin membantah.

“Kamu udah kerja disini udah lama? ” tanya Alvaro, berusaha beralih topik.

“Udah hampir setahun,” jawab Aurellia. “Aku suka tempatnya yang tidak rumit. ”

“Capek nggak? ” tanya Alvaro.

“Kadang-kadang,” jawabnya jujur. “Tapi aku suka ketemu orang-orang aneh. ”

“Kayak aku? ” tanya Alvaro sambil tersenyum.

Aurellia berpikir sejenak. “Kamu nggak aneh,” katanya. “Kamu… pendiam, tetapi keliatan banyak mikir. ”

Alvaro terdiam. Ia merasa seperti baru saja ditembus pikirannya.

“Kalo kamu? ” tanya Aurellia kembali. “Kenapa milih fotografi? ”

Alvaro menatap keluar jendela, cahaya sore mulai masuk. “Karena aku lebih mudah ngobrol melalui gambar. ”

Aurellia menganggukkan kepala pelan. “Itu masuk akal. ”

Mereka terdiam sejenak. Tidak canggung. Justru terasa nyaman.

“Aku boleh tanya sesuatu? ” ucap Aurellia.

“Silakan. ”

“Apa kamu sempat mikir buat datang ke sini kemarin? ”

Alvaro tersenyum kecil. “Iya. ”

“Kenapa? ”

“Karena aku penasaran,” jawabnya dengan jujur.

Aurellia menatapnya lebih lama kali ini, lalu memberikan senyuman tipis. “Tentang apa? ”

Alvaro mengangkat gelas kopinya sedikit. “Tentang kisah-kisah kecil yang mungkin keliatan sepele, tapi bikin orang pengen balik lagi. ”

Aurellia tertawa pelan. “Itu jawaban yang khas banget dari seorang fotografer. ”

“Kenapa kayak gitu? ”

“Karena banyak mikir,” katanya sambil pergi menjauh, tetapi senyumnya tetap tersisa.

Alvaro memandangi punggung Aurellia sampai ia kembali ke belakang kasir. Dadanya terasa hangat. Bukan hanya karena kopi. Tetapi karena obrolan kecil itu—yang entah bagaimana, terasa sebagai awal dari sesuatu yang lebih besar.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Alvaro pulang dari kafe dengan tidak merasa kosong, tetapi dengan kisah kecil yang ingin ia simpan dengan baik.

1
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!