Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Hari Pertama Kerja
#
Zidan berdiri di teras rumah megah Pak Rahmat sambil terus lap keringat di kening. Jantungnya berdebar nggak karuan. Tangan gemetar pegang kunci motor yang masih dia pegang erat.
Pak Rahmat ngebuka pintu utama rumahnya lebar lebar. Di belakangnya keliatan ruang tamu yang luas banget. Lantai marmer mengkilap. Sofa sofa besar warna krem. Lampu gantung kristal di langit langit. Lukisan lukisan di dinding.
"Ayo masuk Zidan. Jangan malu malu."
"Ba...baik Pak." Zidan melangkah masuk dengan hati hati banget. Takut sepatunya yang udah lecek ngotori lantai yang bersih itu.
"Duduk dulu. Bapak jelasin tugas tugas kamu."
Zidan duduk di ujung sofa. Pantatnya cuma nempatin seperempat bagian aja. Punggung tegak. Tangan di paha. Kayak tentara yang lagi dihukum.
Pak Rahmat ketawa liat tingkah Zidan. "Santai aja. Nggak usah tegang gitu. Kamu bukan tamu. Kamu sekarang karyawan Bapak. Anggap rumah sendiri."
"Iya Pak. Maaf."
Pembantu datang bawa dua gelas teh manis dan piring kue kue. Zidan ngeliatin kue itu dengan mata agak melotot. Kue sus. Kue lapis. Nastar. Semuanya kelihatan mahal.
"Makan. Jangan sungkan." Pak Rahmat ambil satu kue sus terus gigit.
Zidan ragu ragu ambil satu nastar. Gigit pelan. Rasanya enak banget. Lumer di mulut. Beda sama gorengan yang dia makan setiap hari.
"Enak kan? Ini bikinan koki rumah. Dia jago bikin kue."
"Enak banget Pak. Manis tapi nggak eneg."
Pak Rahmat senyum puas. "Nanti kamu dikenalin sama semua orang yang kerja di rumah ini. Ada koki, ada pembantu dua orang, ada tukang kebun, ada satpam. Total ada enam orang termasuk kamu."
"Baik Pak."
"Sekarang Bapak jelasin tugas kamu. Kamu sopir pribadi Bapak. Artinya kamu anterin Bapak kemana Bapak pergi. Ke kantor, ke pabrik, ke meeting, ke undangan, kemana aja. Jam kerja dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore. Kalau ada lembur, Bapak kasih uang tambahan. Mengerti?"
"Mengerti Pak."
"Mobil yang biasa Bapak pake ada tiga. Mercedes yang kemarin kamu benerin. Toyota Alphard putih buat acara acara resmi. Sama Toyota Avanza hitam buat sehari hari kalau kemana yang deket deket aja. Kamu harus bisa nyetir semua."
Zidan menelan ludah. Tiga mobil. Semua mewah. Dia yang biasa nyetir angkot butut sekarang harus nyetir mobil puluhan juta bahkan ratusan juta.
"Pak, saya... saya belum pernah nyetir mobil semahal itu. Saya takut rusak."
"Makanya sekarang Bapak ajarin dulu. Ayo ke garasi."
Mereka ke garasi yang luasnya kayak rumah Zidan. Di sana parkir tiga mobil yang tadi disebutin. Mengkilap semua. Kayak baru keluar dari showroom.
Pak Rahmat buka pintu Mercedes. "Naik. Kamu yang nyetir. Bapak yang ngajarin."
Zidan naik dengan hati hati banget. Duduk di kursi sopir yang empuk banget. Baunya wangi. Beda sama angkot yang bau keringat penumpang. Setirnya halus. Dasbor penuh tombol tombol yang dia nggak ngerti fungsinya.
"Tenang. Sama aja kayak mobil biasa. Cuma lebih halus aja. Ayo coba starter."
Zidan pencet tombol starter dengan tangan gemetar. Mesinnya nyala halus banget. Hampir nggak kedengaran.
"Sekarang coba jalan pelan pelan keluar garasi."
Zidan injak gas pelan. Mobilnya maju smooth banget. Beda banget sama angkot yang suka njengat njengat.
"Bagus. Sekarang keluar ke jalan. Kita keliling komplek dulu biar kamu biasa."
Mereka keliling komplek Permata Hijau yang isinya rumah rumah mewah semua. Zidan nyetir pelan banget. Keringat ngucur meski AC mobil dingin banget.
"Santai Zidan. Kamu terlalu tegang. Pegang setirnya jangan terlalu kenceng. Napas yang teratur."
"Iya Pak. Maaf. Saya gugup."
"Wajar. Nanti juga biasa."
Setelah keliling komplek tiga kali, Pak Rahmat bilang mereka mau ke kantor.
"Sekarang kita ke kantor Bapak. Di jalan raya. Kamu siap?"
"Siap Pak. Saya coba."
Zidan keluar dari komplek dengan hati hati. Begitu masuk jalan raya, jantungnya kayak mau copot. Mobil mobil pada ngebut. Dia nyetir di jalur kiri dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam. Mobil mobil lain pada nyalip sambil klakson.
"Zidan, ngebut dikit. Kamu terlalu pelan. Orang pada kesel di belakang."
"Tapi Pak, saya takut nabrak."
"Nggak akan nabrak. Kamu bisa kok. Ayahmu dulu jago nyetir. Kamu pasti bisa juga."
Zidan tarik napas dalam terus injak gas sedikit lebih dalam. Kecepatannya naik jadi enam puluh kilometer per jam. Lebih baik. Mobilnya stabil. Halus banget jalannya.
"Nah gitu. Bagus."
Dua puluh menit kemudian mereka sampe di gedung perkantoran lima lantai. Di depan gedung ada tulisan besar "RAHMAT GARMENT INDUSTRIES".
Zidan parkir di basement parkir khusus direktur. Pak Rahmat turun sambil rapiin jasnya.
"Kamu tunggu di sini aja. Nanti siang jam dua belas Bapak turun buat makan siang. Kamu anterin ke restoran. Oke?"
"Baik Pak."
Pak Rahmat masuk lift. Zidan duduk sendirian di mobil sambil ngeliatin sekeliling. Basement parkir yang bersih. Mobil mobil mewah di kanan kiri. Semua rapi. Semua mahal.
Dia ngeliatin dasbor mobil Mercedes ini. Kulit asli. Kayu jati di beberapa bagian. Layar LED buat GPS. Sistem audio yang dia nggak ngerti cara pakainya.
"Gila. Ini mobil harganya berapa ya? Ratusan juta pasti. Dan aku yang nyetir. Aku yang pegang tanggung jawab."
Dia ketuk ketuk setir pelan sambil senyum senyum sendiri.
"Ayah, kalau Ayah masih hidup pasti bangga liat aku sekarang. Anak Ayah jadi sopir pribadi pengusaha kaya. Nyetir mobil mewah. Dapat gaji lima juta. Ayah pasti seneng."
Matanya mulai panas. Dia inget ayahnya yang meninggal waktu dia masih SMA. Meninggal konyol gara gara kecelakaan kerja di pabrik. Nggak dapat santunan yang layak. Keluarganya ditinggal tanpa apa apa.
"Tapi aku nggak akan kayak Ayah. Aku akan sukses. Aku akan kasih Naura dan Faris kehidupan yang lebih baik. Aku janji."
Jam dua belas pas, Pak Rahmat turun ke basement. Zidan langsung buka pintu belakang buat dia.
"Terima kasih. Kita makan di restoran Jepang di mall sebelah. Kamu tau kan?"
"Tau Pak. Mall Grand Plaza kan?"
"Iya. Ayo."
Zidan nyetir ke mall yang jaraknya cuma lima menit. Parkir di parkir khusus valet. Pak Rahmat turun sambil bilang, "Kamu ikut makan sama Bapak."
"Eh? Saya ikut Pak?"
"Iya. Kamu kan belum makan siang. Ayo."
"Tapi Pak, saya sopir. Nggak enak kalau makan bareng Bapak."
"Nggak apa apa. Bapak nggak suka makan sendirian. Lagian kamu anak temen Bapak. Anggap aja makan sama keluarga."
Mereka masuk ke restoran Jepang yang mewah. Pelayan langsung sambut Pak Rahmat dengan ramah. Kayaknya dia pelanggan tetap.
"Selamat siang Pak Rahmat. Mau tempat biasa?"
"Iya. Dua orang."
Mereka duduk di meja di sudut yang agak privat. Pelayan kasih menu. Zidan buka menu itu dengan hati hati. Matanya langsung melotot liat harga harganya.
Sushi satu porsi delapan puluh ribu. Ramen satu mangkok enam puluh ribu. Sashimi seratus dua puluh ribu.
Gila. Mahal banget!
"Pesan aja yang kamu mau. Jangan malu."
"Pak, ini mahal banget. Saya nggak enak."
"Bapak yang bayar. Pesan aja."
Zidan akhirnya pesan ramen yang paling murah. Enam puluh ribu. Pak Rahmat pesan sushi set sama sashimi.
Sambil nunggu makanan dateng, Pak Rahmat mulai ngobrol.
"Zidan, kamu tau nggak kenapa Bapak nawarin kamu kerja?"
"Nggak tau Pak."
"Karena Bapak lihat kamu punya karakter yang bagus. Jujur. Nggak serakah. Waktu Bapak nawarin uang kemarin, kamu nolak. Itu jarang. Kebanyakan orang langsung terima uang tanpa pikir panjang. Tapi kamu beda."
Zidan menunduk. "Saya cuma ngerasa nggak enak aja Pak. Bapak temen ayah saya. Nggak patut saya terima uang cuma gara gara bantuin benerin mobil."
"Nah itu. Itu yang Bapak suka. Kamu punya prinsip. Punya harga diri. Itu penting dalam dunia bisnis."
"Dunia bisnis Pak?"
Pak Rahmat senyum sambil minum teh hijaunya. "Iya. Bapak nggak cuma mau kamu jadi sopir doang. Bapak mau ajarin kamu tentang bisnis. Supaya suatu hari nanti kamu bisa punya usaha sendiri. Nggak jadi karyawan terus."
Zidan melotot. "Serius Pak?"
"Serius. Ayahmu dulu pernah bilang ke Bapak, dia pengen anaknya sukses. Jadi pengusaha. Punya bisnis sendiri. Bapak inget itu. Sekarang Bapak mau bantuin wujudin mimpi ayahmu."
Air mata Zidan jatuh. Dia langsung lap cepet cepet pake tisu. Malu kalau ketauan nangis di tempat umum.
"Terima kasih Pak. Terima kasih banyak. Saya... saya nggak tau harus bilang apa."
"Nggak usah bilang apa apa. Kamu kerja yang baik aja. Belajar yang rajin. Dengerin apa yang Bapak ajarin. Bapak yakin kamu bisa sukses."
Makanan dateng. Zidan makan ramennya dengan pelan. Rasanya enak banget. Kuahnya gurih. Mienya kenyal. Toppingnya banyak.
Ini makan siang paling enak dalam hidupnya.
Sambil makan, Pak Rahmat cerita tentang bisnisnya. Tentang pabrik garmen yang dia punya. Tentang gimana dia mulai dari nol. Tentang kesalahan kesalahan yang pernah dia buat. Tentang pelajaran berharga yang dia dapat.
Zidan dengerin dengan serius sambil sesekali ngangguk. Otaknya nyerap semua informasi itu kayak spons.
"Bisnis itu bukan cuma soal uang, Zidan. Tapi soal kepercayaan. Kalau orang nggak percaya sama kamu, mereka nggak akan mau berbisnis sama kamu. Makanya jaga nama baik. Jaga kejujuran. Itu modal paling penting."
"Saya catat di hati Pak."
Setelah makan, mereka balik ke kantor. Sore jam lima, kerja selesai. Pak Rahmat bilang Zidan bisa pulang.
"Besok jam tujuh pagi dateng lagi ya. Jangan telat."
"Siap Pak. Terima kasih banyak hari ini."
Zidan pulang naik motor bebeknya dengan hati yang melayang. Sepanjang jalan dia senyum senyum sendiri. Orang orang yang liat pasti mikir dia gila.
Sampe di kontrakan, dia langsung masuk sambil teriak. "Naura! Naura!"
Naura lagi nyusuin Faris. Dia kaget. "Mas kenapa? Kenapa teriak teriak?"
Zidan duduk di sampingnya sambil peluk istrinya dari samping. Senyum lebar nggak ilang ilang.
"Naura, hari ini luar biasa! Aku nyetir mobil mewah! Aku makan di restoran mahal! Aku dapet pelajaran bisnis dari Pak Rahmat!"
"Pelan pelan Mas. Cerita yang jelas."
Zidan cerita semua yang terjadi hari ini. Dari nyetir Mercedes, makan ramen enam puluh ribu, sampai pelajaran bisnis dari Pak Rahmat.
Naura dengerin sambil senyum senyum. Seneng liat suaminya yang excited kayak anak kecil.
"Alhamdulillah Mas. Sepertinya Pak Rahmat orang baik ya."
"Baik banget! Dia nggak nganggap aku cuma sopir. Dia nganggap aku kayak... kayak anak sendiri gitu. Dia mau ajarin aku bisnis. Mau bantuin aku sukses."
Zidan pegang tangan istrinya dengan erat. Matanya berbinar.
"Naura, aku ngerasa... ngerasa sepertinya hidup kita akan berubah. Kita nggak akan susah terus. Kita akan naik. Pelan pelan tapi pasti."
Naura tersenyum sambil usap pipi suaminya. "Iya Mas. Aku percaya. Tapi jangan lupa ya, apapun yang terjadi, jangan lupa sama Allah. Jangan lupa sholat. Jangan lupa sedekah. Jangan lupa asal kita dari mana."
"Aku janji. Aku nggak akan lupa. Aku akan tetep jadi Zidan yang sekarang. Yang sayang kamu. Yang sayang Faris. Yang takut sama Allah."
Mereka berpelukan sambil Faris di tengah tengah masih nyusu dengan tenang.
Malam itu mereka tidur dengan hati yang penuh harapan.
Harapan akan masa depan yang lebih baik.
Harapan akan kehidupan yang lebih layak.
Harapan akan mimpi mimpi yang akan terwujud.
Tapi mereka nggak tau.
Harapan itu akan jadi kenyataan.
Tapi kenyataan itu akan datang dengan ujian yang lebih berat.
Ujian yang akan menguji iman mereka.
Menguji cinta mereka.
Menguji kesetiaan mereka.
Dan ujian itu akan segera dimulai.
Pelan.
Tapi pasti.
Tanpa mereka sadari.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja