NovelToon NovelToon
Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi
Popularitas:269
Nilai: 5
Nama Author: aryaa_v2

Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.

Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.

Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan dan Parasit Tidak Terduga

Minggu berlalu dalam ritme baru: kelaparan, pesta, kekosongan.

Leo, sebagai Alex Dharma, telah menjual dua ton tembaga dalam lot kecil melalui perantara di Cikarang. Uangnya mengalir ke beberapa rekening bawah tanah—hasil interaksi dengan dunia gelap yang ia dekati dengan hati-hati. Dia belajar bahwa uang tunai dalam jumlah besar sama berbahayanya dengan emas batangan. Sistem perbankan digital adalah penjara yang nyaman, tapi ia butuh pintu keluar yang fleksibel. Solusinya: cryptocurrency.

Di sebuah coworking space mewah di SCBD, Alex Dharma yang rapi—dengan kemeja bermerek kelas menengah dan jam tangan sederhana—duduk menghadap laptop terbaru. Udara dingin beraroma kopi spesialis dan ambisi muda. Di sini, ia bukan orang yang dikubur hidup-hidup. Ia adalah seorang trader yang sedang naik daun, belajar blockchain dari para ahli di YouTube dan forum gelap.

Wajahnya di layar mencerminkan pria dengan sedikit lebih banyak daging di tulangnya. Rasa lapar kosmik telah ia atasi, untuk sementara, dengan pola makan brutal: 5000 kalori sehari, dipenuhi lemak dan protein, dibagi dalam enam waktu makan. Tubuhnya beradaptasi, menjadi lebih padat, otot-ototnya dipahat oleh metabolisme yang tak wajar. Marka giok di tangannya, yang sempat redup, kini kembali berdenyut mantap dengan cahaya hijau zamrud yang samar.

Tapi mimpinya di malam hari adalah sesuatu yang lain.

Ia selalu kembali ke liang kubur. Tapi bukan tanah dan kegelapan yang ia rasakan. Ia merasakan kerumunan. Ribuan bayangan dirinya sendiri, berdiri rapat dalam formasi tak terbatas di dalam Vault, masing-masing memandanginya dengan mata hampa. Dan dari kegelapan di balik mereka, sesuatu yang lebih besar bergerak. Sesuatu yang lapar.

Ia terbangun setiap kali dengan keringat dingin dan rasa logam di mulut.

“Masih trauma,” bisiknya pada diri sendiri setiap pagi, menatap langit-langit losmen yang bocor. Tapi ia tahu ini lebih dari itu. Ini adalah gema. Jejak dari tempat asal kekuatannya.

Hari ini, fokusnya adalah pada transaksi kripto pertama. Dengan VPN berlapis dan dompet digital yang dijalankan dari mesin virtual, ia membeli Bitcoin dan Ethereum senilai seratus juta rupiah menggunakan uang dari penjualan tembaga. Prosesnya lambat, hati-hati. Setiap klik adalah jejak digital, meski ia yakin identitas Alex Dharma akan bertahan dari pemeriksaan biasa.

Saat menunggu konfirmasi transaksi, matanya tanpa sengaja tertuju pada seorang pria di seberang ruangan. Pria itu mungkin berusia pertengahan tiga puluhan, berkacamata, dengan ketegangan jelas di bahunya. Dia sedang melakukan panggilan video, suaranya terdengar frustrasi.

“…tidak, data sampelnya masih tidak konsisten. Reaksi fusi mini itu membutuhkan presisi di tingkat sub-atomic. Satu kesalahan kalibrasi dan seluruh prototip bisa…”

Fusi mini. Dua kata itu membuat Leo mendadak sangat waspada.

Pria itu adalah Dr. Arif Gunawan. Leo mengenalinya dari profil LinkedIn yang pernah ia telusuri saat membangun Aeternum Tech. Seorang fisikawan plasma brilian dari ITB, pernah bekerja di proyek energi nasional yang mangkrak karena korupsi. Kabar terakhir, dia bergabung dengan sebuah startup energi—bukan Surya Nusantara, tapi yang lebih kecil.

Dan dia tampak terdesak.

Leo dengan tenang menutup laptopnya, berpura-pura mengecek ponsel, sambil menyimak. Intinya jelas: pendanaan Dr. Arif dipotong. Investor utamanya, sebuah anak perusahaan dari konglomerat yang namanya tidak asing, menarik diri tiba-tiba. Kode yang disebutkan Dr. Arif—"Proyek Prometheus"—sedang sekarat.

Rafael. Atau setidaknya, jaringan raksasanya. Ini polanya: akuisisi paksa untuk yang besar, matikan pendanaan untuk yang kecil. Membunuh inovasi di akarnya.

Naluri Leo yang lama—sang CEO yang ingin membangun—berteriak. Tapi naluri barunya, sang penyintas dengan kekuatan tak terbayangkan, lebih berhati-hati. Ini bisa menjadi kesempatan. Atau jebakan.

Dia menunggu sampai Dr. Arif menutup panggilan dengan putus asa, meraih jaketnya, dan berjalan keluar. Leo membayar kopinya dan mengikutinya, menjaga jarak yang aman.

Dr. Arif tidak pergi jauh. Dia hanya duduk di bangku taman dekat Bundaran HI, memandangi air mancur dengan tatapan kosong. Kehilangan seorang ilmuwan akan mimpinya.

Leo mendekat. "Maaf, Pak. Bukan maksud mengganggu. Tapi… saya dengar Anda berbicara tentang fusi mini."

Dr. Arif menoleh, wajahnya waspada sekaligus curiga. "Dan siapa Anda?"

"Alexander Dharma. Saya… tertarik dengan energi masa depan." Leo duduk di ujung bangku yang sama, memberikan ruang. "Saya dengar ada masalah pendanaan."

"Anda dari media? Atau dari mereka?" tanya Dr. Arif, suaranya tajam.

"Bukan dari siapa-siapa. Hanya seseorang yang percaya angka 0,73 itu memalukan dan harus diubah."

Mata Dr. Arif menyipit. Kalimat itu adalah kode tidak resmi di antara para visioner energi. "Apa yang Anda inginkan?"

"Data," kata Leo lugas. "Data mentah Proyek Prometheus. Simulasi, desain reaktor, hasil tes plasma."

"Gila! Itu proprietary—"

"Proyek Anda sudah mati, Doktor. Investor Anda menarik dana karena diperintahkan. Bukan karena kegagalan teknis." Leo menatapnya langsung. "Saya tidak ingin mencurinya. Saya ingin… mempelajarinya. Dan mungkin, jika itu sepadan, memberikan suntikan dana yang tidak akan menarik diri."

Dr. Arif tertawa getir. "Anda? Suntikan dana? Maaf, Tuan… Dharma. Proyek ini butuh puluhan miliar untuk tahap berikutnya."

Leo tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengeluarkan teleponnya, membuka aplikasi dompet kripto, dan menunjukkan saldo kepada Dr. Arif. Angkanya cukup untuk membiayai tahap prototip selama setahun.

Dr. Arif terdiam. "Ini… dari mana?"

"Dari perdagangan. Dan dari keyakinan." Leo menyimpan ponselnya. "Saya tidak butuh nama saya terlibat. Anda tetap pemilik intelektualnya. Saya hanya butuh akses ke data, dan laporan perkembangan. Jika berhasil, kita bicara lebih lanjut. Jika gagal, Anda tetap punya data dan penelitian yang bisa dilanjutkan."

Tawaran itu terlalu bagus untuk ditolak oleh seseorang yang berada di ujung tanduk. Setelah berdebat internal singkat, Dr. Arif mengangguk. Mereka bertukar kontak terenkripsi.

Malam itu, di losmen, Leo menerima paket data melalui jaringan aman. Ratusan gigabyte desain teknik, data plasma, dan kode simulasi. Ini adalah mahakarya ilmiah yang sekarat.

Dengan hati berdebar, Leo meletakkan jari bermarka giok pada solid-state drive yang berisi data.

Kehendak: GANDAKAN. SIMPAN.

Lelah datang, tapi tidak separah saat menggandakan tembaga. Kompleksitas data tinggi, tetapi massanya nol. Di Vault, sebuah struktur data baru terbentuk, berkilau seperti kota kristal informasi.

Tapi sesuatu yang aneh terjadi.

Begitu data itu tersimpan, marka giok di tangannya terasa… hangat. Lebih dari biasanya. Dan untuk sesaat singkat, di benaknya, terbentuk bukan hanya salinan data, tetapi juga pemahaman. Seolah-olah esensi dari pengetahuan itu—prinsip-prinsip fisika plasma, persamaan magnetohidrodinamika—meresap ke dalam dirinya. Samar, seperti gema, tapi nyata.

Kekuatannya tidak hanya menggandakan benda mati. Ia juga menggandakan informasi murni, dan mungkin, menginternalisasinya.

Senang karena penemuan baru ini, ia tidak segera menyadari keanehan lain. Di sudut Vault, di antara tumpukan tembaga dan emas, salah satu "salinan" batang tembaga tampak… berbeda. Warnanya sedikit lebih gelap. Seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya.

Leo memusatkan perhatian padanya. Dan ia merasakan sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Dari salinan tembaga yang gelap itu, mengalir perasaan lapar yang asing. Bukan laparnya, tapi lebih tua, lebih kosong. Seperti gema dari mimpinya.

Kekuatannya tidak menciptakan salinan yang inert. Ia membawa sesuatu dari tempat asalnya. Dan sesuatu itu, perlahan-lahan, mulai terbangun.

1
Arya Saputra
jangan-jangan ada identitas tersembunyi nih dari batu akiknya, jadi penasaran🤔
Arya Saputra
yok lah bisa otw ke peradaban tipe 1 nih
Arya Saputra
Jujur ini cerita yang layak masuk rekomendasi sih, perkembangan karakter Leo yang signifikan dari diinjak-injak bahkan dikubur lalu bangkit dengan identitas berbeda dan merubah sikap 180°, sistem kekuatan giok juga logis dibarengi cerita sains.
Arya Saputra
saya suka nih kalo ada cerita bertemakan sains🤩
Arya Saputra
awal yang lumayan bagus👏🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!