NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Detik-detik Terakhir

Putih. Semuanya tampak putih di mata Nida saat ia perlahan membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah. Bukan putihnya awan di langit yang sering ia tulis dalam puisi-puisinya, melainkan putih langit-langit ruang ICU yang dingin dan steril. Suara *tit... tit... tit...* dari mesin EKG terdengar seperti detak jam yang sedang berlomba dengan waktu. Nida menyadari, tubuhnya kini sudah hampir kehilangan daya. Sel-sel jahat itu telah memenangkan pertempuran fisik, namun jiwanya masih berpegangan pada satu janji yang belum sepenuhnya tuntas.

Di samping ranjangnya, Fandy duduk dengan punggung membungkuk. Wajah tampan suaminya itu kini tampak sangat tua, guratan duka dan kelelahan terukir dalam di keningnya. Fandy menggenggam tangan Nida yang kini sangat kurus, tulang-tulangnya menonjol di balik kulit yang pucat pasi. Begitu merasakan gerakan kecil dari jemari Nida, Fandy langsung mendongak. Matanya merah dan bengkak.

"Nida... Sayang, kamu bangun?" bisik Fandy, suaranya pecah oleh harapan yang tipis.

Nida mencoba tersenyum di balik masker oksigen. Suaranya tidak keluar, hanya gerakan bibir yang sangat pelan. Fandy mendekatkan telinganya ke mulut Nida. "A... anak-anak..." bisik Nida lirih sekali.

"Mereka ada di luar, Nida. Hana sedang menjaga mereka. Mereka semua menunggumu," jawab Fandy sambil mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali.

Fandy kemudian memberi isyarat kepada perawat. Tak lama kemudian, pintu kaca ICU terbuka. Hana masuk membawa Syabila dan Syauqi. Mama Rosa mengikuti di belakang dengan wajah yang sembap oleh penyesalan yang tak kunjung usai. Suasana ruangan itu seketika dipenuhi oleh aura kesedihan yang begitu pekat, namun tetap ada kedamaian yang aneh di sana.

Syauqi langsung memeluk pinggiran ranjang. "Ibu... Ibu jangan tidur lama-lama. Syauqi sudah hafal surah Al-Ma'un, mau setoran ke Ibu," isak bocah kecil itu.

Nida membelai rambut putranya dengan sisa kekuatan yang ada. Air matanya mengalir perlahan, jatuh ke bantal. Ia kemudian menatap Syabila. Putri sulungnya itu tidak lagi menangis dengan histeris; ia tampak lebih tenang, meskipun matanya memancarkan luka yang sangat dalam. Syabila menggandeng tangan Hana dengan erat, seolah mencari kekuatan dari sana.

"Ibu... Syabila sudah mengerti," bisik Syabila sambil mencium kening ibunya. "Ibu tidak perlu khawatir lagi. Syabila akan jaga Syauqi, jaga Ayah, dan Syabila akan selalu sama Kak Hana. Ibu boleh istirahat kalau Ibu sudah capek."

Kata-kata Syabila seolah menjadi kunci pembuka pintu rida di hati Nida. Nida kemudian menatap Hana. Hana mendekat, ia berlutut di samping ranjang. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Hana, hanya sebuah anggukan mantap yang penuh dengan janji setia. Sebuah janji tanpa suara bahwa ia akan mengambil alih amanah yang ditinggalkan Nida.

"Mas... Fandy..." Nida memberi isyarat agar suaminya mendekat. Fandy mendekatkan wajahnya, air matanya jatuh membasahi pipi Nida. "Maafkan... aku... Jaga... mereka... Bersama... Hana..."

Fandy terisak hebat. Selama ini ia menolak, ia melawan, ia curiga. Namun di detik ini, saat maut sudah berdiri di ambang pintu, Fandy menyadari bahwa ini adalah bentuk cinta tertinggi istrinya. Nida tidak sedang mencarikannya istri, Nida sedang memastikan bahwa ia tidak akan hancur saat separuh jiwanya pergi.

"Iya, Nida. Iya... aku janji. Aku akan menjaga mereka. Aku akan... aku akan belajar mencintai Hana seperti keinginanmu. Tidurlah dengan tenang, Sayang. Terima kasih sudah menjadi bidadariku di dunia," ujar Fandy sambil membisikkan kalimat syahadat di telinga Nida.

Nida merasa sebuah kelegaan yang luar biasa menjalar di dadanya. Beban yang selama ini menghimpit bahunya seolah menguap. Ia melihat Mama Rosa yang kini mengelus kakinya sambil membisikkan kata maaf. Ia melihat anak-anaknya yang kini sudah punya pelindung baru dalam diri Hana. Naskahnya sudah selesai. Titik terakhir sudah ia bubuhkan dengan tinta keikhlasan.

Cahaya putih di matanya kini kian benderang, namun tidak lagi dingin. Ia merasa seperti sedang berjalan menuju taman bunga yang pernah ia mimpikan. Di sana, ia tidak lagi merasakan sakit. Di sana, ia kembali menjadi Nida yang sehat, yang cantik, yang sedang menunggu keluarganya di pintu surga.

Suara mesin EKG tiba-tiba berubah menjadi satu nada panjang yang statis. *Tiiiiiiiiiiit...*

"Nida! Tidakkkk! Nida!" Fandy menjerit, memeluk tubuh istrinya yang sudah terkulai lemas. Syabila dan Syauqi menangis sejadi-jadinya, sementara Hana hanya bisa bersimpuh di lantai, merapalkan doa-doa pengantar kepergian dengan suara yang terbata-bata.

Nida telah pergi. Sang sutradara telah pulang. Ia pergi di saat semua kepingan puzzle yang ia susun dengan air mata dan rasa cemburu telah terpasang dengan sempurna. Ia pergi dengan senyum tipis di bibirnya, senyum seorang pemenang yang berhasil mengalahkan egonya demi cinta yang abadi.

Sore itu, saat jenazah Nida dibawa pulang, langit Jakarta kembali menangis dengan gerimis yang lembut. Namun, di tengah duka itu, ada pemandangan yang mengharukan. Hana menggandeng tangan Syauqi di satu sisi, dan Syabila di sisi lain. Mereka berjalan di belakang keranda, mengikuti langkah Fandy yang gontai namun berusaha tetap tegak.

Nida mungkin sudah tiada secara fisik, namun "Istri untuk Suamiku" bukan lagi sekadar ide gila di buku catatan cokelat. Itu telah menjadi kenyataan yang akan menjaga rumah itu tetap bercahaya. Nida telah meninggalkan warisan yang lebih berharga dari sekadar royalti buku: ia meninggalkan sebuah keluarga yang tetap memiliki kiblat meski sang penunjuk arah telah tiada.

Suasana pemakaman nampak syahdu di bawah pohon kamboja yang harum. Saat tanah terakhir ditimbun, Fandy berdiri di samping Hana. Mereka tidak bicara, namun ada sebuah kesepakatan batin yang lahir di atas pusara itu. Perjuangan Nida tidak sia-sia. Di balik nisan bertuliskan namanya, sebuah kisah baru akan dimulai—kisah tentang bagaimana cinta yang ditinggalkan akan terus tumbuh melalui tangan-tangan yang telah dipilih oleh takdir.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!