Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Strategi di Balik Kipas Hitam
Hentakan langkah kaki yang terburu-buru menghantam lantai batu di lorong utama Sekte Tianhuo. Seorang pria berpakaian abu-abu dengan ngos-ngosan menerjang pintu aula besar, membuat para penjaga di depan gerbang nyaris menghunuskan tombak mereka. Ia tidak peduli pada protokol karena informasi yang ia bawa jauh lebih berharga daripada kepalanya sendiri.
“Lapor! Laporan darurat untuk Tuan Muda!” teriaknya sambil jatuh bertumpu pada lutut di tengah ruangan yang dipenuhi uap panas dari tungku-tungku alkimia raksasa.
Di ujung aula, duduk seorang pemuda di atas kursi kayu yang diukir membentuk motif lidah api. Ia adalah Hong Xiaoshi, jenius nomor satu dari Sekte Tianhuo. Penampilannya sangat mencolok dengan mata kirinya tertutup kain hitam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Sedangkan di tangannya, sebuah kipas besar yang terbuat dari bulu angsa hitam terlipat rapi, mengetuk-ngetuk telapak tangannya dengan irama yang tenang.
Mendengar keributan itu, Hong Xiaoshi tidak segera menjawab. Dia membiarkan mata-matanya tersengal-sengal di bawah sana, menikmati ketakutan yang terpancar dari punggung pria itu. Dunia kultivasi di Benua Dongzhou adalah medan perang yang tidak pernah benar-benar tidur. Sekte-sekte besar terus bersaing memperebutkan setiap jengkal gua ber-qi murni dan setiap harta kuno yang muncul ke permukaan. Sekte Qingyun, meskipun hanya sekte menengah, selalu menjadi duri di dalam daging bagi ambisi Sekte Tianhuo yang ingin mendominasi wilayah perbatasan.
“Bicaralah,” ucap Hong Xiaoshi. Suaranya datar, namun membawa ketajaman yang membuat suhu di ruangan itu terasa meningkat. “Apa yang membuatmu berlari seperti anjing yang dikejar harimau?”
“Ji Zhen… murid dari Sekte Qingyun yang dikabarkan sampah itu,” lapor sang mata-mata sambil mendongak sedikit. “Dia telah meninggalkan sekte menuju Nancheng. Tapi Tuan, dia bukan lagi sampah. Saya melihatnya sendiri di pinggir hutan, dia membantai sekelompok bandit dengan teknik Dao Es yang sangat murni. Dia bahkan mengikat Yang Huiqing, putri keluarga Yang, sebagai pelayan pribadinya.”
Gerakan mengetuk kipas di tangan Hong Xiaoshi pun terhenti. Ia perlahan membuka kipas hitamnya, menutupi separuh wajahnya hingga hanya mata kanannya yang tajam yang terlihat.
Bagi Hong Xiaoshi, nama Sekte Qingyun adalah noda dalam sejarah hidupnya. Bertahun-tahun lalu, dalam sebuah turnamen kecil antar sekte, ia pernah dipermalukan oleh salah satu murid unggulan Qingyun. Menimbulkan dendam yang tidak pernah padam. Dia membenci setiap helai kain yang membawa lambang sekte rivalnya itu. Kini, mendengar adanya “sampah” yang tiba-tiba bangkit dan membawa teknik es yang langka, hatinya terasa terbakar oleh campuran rasa benci dan penasaran.
“Dao Es?” Hong Xiaoshi terkekeh, suara tawanya kering seperti kayu yang terbakar. “Qingyun selalu beruntung menemukan mutiara di dalam lumpur. Tapi mutiara yang berada di tangan yang salah hanya akan hancur menjadi serpihan tidak berguna.”
Hong Xiaoshi pun berdiri, kipas hitamnya dikibaskan sekali, menciptakan aliran udara panas yang memaksa mata-matanya mundur beberapa langkah. Ia adalah ahli strategi yang membenci kegagalan. Baginya, Ji Zhen yang naik daun adalah ancaman bagi superioritas Tianhuo di wilayah ini. Jika Qingyun memiliki kultivator es yang kuat, keseimbangan kekuatan di perbatasan akan terganggu, dan rencana Tianhuo untuk mengambil alih jalur perdagangan sumber daya akan terhambat.
“Dia hanyalah bocah yang kebetulan mendapatkan warisan keberuntungan,” gumam Hong Xiaoshi. “Membawa nama Qingyun sambil berjalan menuju Nancheng… dia benar-benar mencari mati. Nancheng adalah wilayah di mana kekuatan ditentukan oleh siapa yang paling licik, bukan siapa yang paling keras berteriak.”
Hong Xiaoshi memejamkan matanya yang terbuka, membayangkan wajah Ji Zhen yang belum pernah ia temui. Ia ingin menghancurkan pemuda itu bukan hanya untuk membalas dendam lama pada Qingyun, tapi untuk memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyaingi pengaruh Sekte Tianhuo di Benua Dongzhou. Menangkap Ji Zhen dan merampas teknik esnya akan menjadi hadiah yang sempurna untuk ayahnya, Sang Patriark Tianhuo.
“T-tuan, apa perintah Anda selanjutnya?” tanya mata-mata itu.
Hong Xiaoshi menutup kembali kipasnya. “Biarkan dia merasa aman untuk sementara. Terus pantau pergerakannya di Nancheng. Jangan biarkan dia lepas dari pandanganmu satu detik pun. Aku akan menyiapkan penyambutan yang layak untuk ‘pahlawan’ baru Qingyun ini.”
Ia pun melangkah menuju jendela aula yang menghadap ke arah pegunungan terjal. “Nancheng akan menjadi makam bagi naga kecil yang malang itu. Siapkan tim pengejar diam-diam. Aku ingin Ji Zhen dibawa ke hadapanku dalam keadaan hidup, agar aku bisa mencabut setiap inci kultivasi es itu dari meridiannya.”
Hong Xiaoshi menyeringai di balik kain penutup matanya. Permainan catur ini baru saja dimulai, dan ia sudah menyiapkan langkah skakmat sebelum lawannya menyadari bahwa papan permainan telah digelar. Tapi akankah Ji Zhen kalah semudah itu? Atau dia justru berakhir menertawakan kekalahan Hong Xiaoshi sama seperti saat dirinya menertawakan Ma Yingjie?