"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Pertemuan Kedua
Senin pagi, Suyin bangun jam lima dengan perasaan campur aduk. Semalam hampir tidak bisa tidur setelah telepon dari Meifeng. Pikiran terus berputar—bagaimana kalau sepupunya itu benar-benar mencoba merebut gelang? Bagaimana kalau dia cerita ke orang-orang tentang nilai gelang ini?
"Tenang, Suyin. Fokus dulu ke delivery hari ini," ucapnya pada diri sendiri sambil cuci muka.
Setelah sholat subuh dan sarapan roti dengan selai, Suyin langsung siapkan paket pesanan Bu Lina. Empat box besar berisi sayuran segar sudah tertata rapi di ruang tamu sejak semalam.
Ia periksa satu per satu—memastikan tidak ada yang rusak atau layu. Semua masih sempurna. Efek gudang penyimpanan di ruang dimensi memang luar biasa.
Jam tujuh pagi, Suyin sudah di parkiran basement dengan mobil sedan tuanya yang penuh dengan box sayuran. Perjalanan ke Senopati memakan waktu sekitar empat puluh menit—untung masih pagi jadi macetnya belum parah.
Restoran Lina's Organic Kitchen terletak di gang kecil area Senopati, bangunan dua lantai dengan konsep minimalis modern. Papan nama kayu dengan tulisan hijau terlihat elegan.
Suyin parkir di depan, lalu menelepon Bu Lina.
"Bu, saya sudah sampai."
"Oh, Mbak Suyin! Tunggu sebentar ya, saya turun!"
Beberapa menit kemudian, seorang wanita berusia sekitar empat puluhan keluar dari pintu restoran. Rambutnya diikat simpel, mengenakan apron putih—terlihat profesional tapi ramah.
"Mbak Suyin? Saya Lina!" Wanita itu mengulurkan tangan dengan senyum lebar.
"Pagi, Bu Lina. Ini pesanan Ibu." Suyin berjabat tangan.
Mereka berdua membawa box-box sayuran masuk ke restoran. Dapur restoran terlihat bersih dan tertata rapi—semua peralatan stainless steel mengkilap.
Bu Lina membuka satu per satu box, memeriksa isinya. Matanya berbinar melihat kualitas sayuran.
"Mbak Suyin... ini... ini kualitasnya luar biasa!" serunya sambil mengangkat satu buah tomat. "Warnanya sempurna, kulitnya mulus, baunya segar sekali!"
"Terima kasih, Bu. Saya pastikan semua yang saya kirim adalah kualitas terbaik."
Bu Lina lanjut periksa sawi, kangkung, bayam, selada—semuanya. Ekspresi wajahnya makin takjub.
"Mbak, ini organik sungguhan ya? Soalnya kadang ada yang ngaku organik tapi sebenernya pakai pestisida juga."
Suyin tersenyum percaya diri. "Dijamin organik seratus persen, Bu. Tidak ada pestisida atau bahan kimia sama sekali. Murni alami."
"Sempurna!" Bu Lina memanggil asistennya. "Devi, tolong masukin semua ke kulkas khusus ya. Ini untuk menu spesial minggu ini."
Setelah semua sayuran diterima, Bu Lina membayar tunai—enam ratus lima puluh ribu rupiah pas.
"Mbak Suyin, saya sangat puas. Kamis depan saya mau pesan lagi ya, malah mau tambah varietas. Bisa?"
"Tentu bisa, Bu. Nanti saya kabari kalau ada sayuran baru."
"Oh ya, satu lagi." Bu Lina mendekat, suaranya pelan. "Saya punya teman pemilik kafe organik di kawasan Kemang. Namanya Mas Arief. Dia lagi cari supplier sayuran organik berkualitas. Boleh saya rekomendasikan Mbak?"
Hati Suyin berdebar senang. Pelanggan baru lagi!
"Boleh sekali, Bu! Terima kasih banyak!"
"Nanti saya share kontaknya lewat WhatsApp ya."
Suyin pulang dari restoran dengan perasaan melayang. Delivery pertama sukses besar! Bu Lina puas, bahkan langsung kasih rekomendasi ke calon pelanggan lain.
Jam sembilan pagi, Suyin sampai di kantor dengan senyum lebar—meski tubuhnya sebenarnya capek.
"Pagi, Suyin! Kok kelihatan seneng banget?" sapa Mira dari meja sebelah.
"Pagi! Biasa, seneng hari Senin," bohong Suyin sambil tersenyum.
"Bohong deh. Siapa sih yang seneng hari Senin?" Mira tertawa. "Oh ya, tomat yang kamu jual kemarin enak banget! Suami sampai tanya, beli di mana. Aku mau pesan lagi boleh?"
"Boleh dong! Nanti aku bawain besok ya."
Sepanjang pagi, beberapa teman kantor menghampiri meja Suyin untuk pesan sayuran. Ada yang mau tomat, ada yang mau paket sayuran lengkap, bahkan ada yang pesan khusus arugula karena penasaran.
Suyin catat semua pesanan di ponsel sambil sesekali tersenyum. Bisnis sayurannya benar-benar berkembang cepat.
Tapi kebahagiaan paginya sedikit terganggu saat Pak Hendra memanggil ke ruangannya.
"Suyin, masuk sebentar."
Suyin deg-degan. Jangan-jangan kinerjanya menurun karena terlalu fokus ke bisnis sayuran?
Di ruangan Pak Hendra, bosnya duduk di belakang meja dengan ekspresi serius.
"Duduk, Suyin."
Suyin duduk dengan gugup. "Ada apa, Pak?"
"Klien kemarin—Pak Xiao—dia sangat puas dengan presentasimu. Bahkan dia minta kamu yang handle penuh proyeknya, tidak pakai desainer lain." Pak Hendra tersenyum. "Ini pencapaian bagus. Jarang ada klien kelas atas yang langsung percaya sama desainer muda."
Suyin menghela napas lega. "Terima kasih, Pak. Saya akan kerjakan semaksimal mungkin."
"Tapi ada satu hal." Pak Hendra bersandar di kursi. "Pak Xiao minta meeting lagi hari Rabu. Katanya mau diskusi beberapa detail tambahan. Kamu bisa?"
"Tentu, Pak."
"Bagus. Meeting jam dua siang. Tapi kali ini di kantor pusat perusahaannya—Xiao Corporation, gedung di Sudirman. Kamu akan ke sana sendiri ya."
Suyin mengangguk, tapi hatinya mulai was-was lagi. Meeting dengan Xiao Zhen... pria misterius yang tatapannya tajam dan selalu menatap gelang gioknya dengan penuh arti.
"Baiklah, Pak. Saya siap."
Siang itu, Suyin makan siang sendirian di pantry sambil scrolling media sosial. Tiba-tiba ada notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal.
Nomor tak dikenal: "Selamat siang, Mbak Suyin. Saya Arief, teman Bu Lina. Beliau merekomendasikan sayuran organik Mbak. Apakah bisa kita bertemu untuk diskusi kerja sama?"
Suyin langsung balas.
Suyin: "Selamat siang, Mas Arief. Tentu bisa! Kapan dan di mana enaknya?"
Arief: "Bagaimana kalau besok sore jam empat di kafe saya? Alamatnya Jalan Kemang Raya nomor 45. Nama kafenya Green Leaf Cafe."
Suyin: "Baik, Mas. Saya akan ke sana. Terima kasih!"
Satu lagi calon pelanggan! Suyin hampir berteriak senang di pantry, tapi ditahan karena ada beberapa orang lain yang sedang makan juga.
Ia langsung buka catatan di ponsel, nulis jadwal:
Senin: Delivery Bu Lina - DONE ✓
Selasa: Packing pesanan teman kantor
Rabu: Meeting Xiao Zhen jam 2 siang
Rabu: Panen ulang di ruang dimensi
Kamis: Delivery Bu Lina (pesanan kedua)
Kamis: Meeting Mas Arief jam 4 sore
Jadwalnya mulai padat. Tapi Suyin suka sibuk seperti ini—jauh lebih baik daripada hidup hambar yang dulu.
Sore hari setelah pulang kantor, Suyin langsung masuk ke ruang dimensi untuk cek kondisi tanaman.
WUSH!
Tanaman-tanaman yang baru ditanam setelah panen kemarin sudah tumbuh lagi—kecambah setinggi lima sentimeter mulai bermunculan di semua bedengan.
Suyin tersenyum puas. Siklus berjalan sempurna.
Ia sempatkan menyiram semua tanaman, lalu jalan ke area Pohon Kehidupan yang ditemukan beberapa hari lalu.
Pohon kecil itu sekarang sudah setinggi pinggang! Batangnya lebih tebal, dan ada beberapa cabang kecil dengan daun-daun hijau muda yang baru tumbuh.
"Cepet banget tumbuhnya," gumam Suyin takjub.
Ia menyentuh batang pohon—hangat dan bergetar lembut seperti biasa. Kali ini ada sensasi berbeda—seperti ada aliran energi yang mengalir dari pohon ke tubuhnya.
Suyin menutup mata, merasakan sensasi itu. Hangat. Menenangkan. Seperti... dipeluk.
Tiba-tiba, suara lembut bergema di kepalanya.
"Selamat datang, Pemilik Ruang."
Suyin membuka mata cepat. "Siapa?!"
"Saya adalah Pohon Kehidupan. Kesadaran dari ruang dimensi ini."
Suyin mundur selangkah, terkejut. Pohon ini... bisa bicara?!
"Jangan takut. Saya adalah bagian dari dirimu. Kita terhubung."
"Terhubung... bagaimana?" tanya Suyin dengan suara gemetar.
"Ruang dimensi ini terikat dengan jiwa dan darahmu. Aku tumbuh karena kamu merawat ruang ini dengan baik. Semakin kuat ruang ini, semakin kuat pula aku... dan semakin kuat pula kamu."
Suyin mencerna informasi itu perlahan. Jadi pohon ini seperti... manifestasi dari ruang dimensi?
"Kenapa baru sekarang kamu bicara?" tanya Suyin hati-hati.
"Aku baru cukup kuat untuk berkomunikasi. Level 1 sudah hampir selesai. Kamu hanya perlu 35 jenis tanaman lagi dan 450 kilogram hasil panen lagi untuk mencapai Level 2."
Suyin ternganga. "Kamu tahu progress-nya?!"
"Aku tahu segala hal yang terjadi di ruang ini. Aku adalah ruang itu sendiri."
"Lalu... apa yang akan terjadi kalau mencapai Level 2?"
"Ruang akan berkembang. Area akan bertambah menjadi lima hektar. Percepatan waktu meningkat menjadi lima belas kali lipat. Dan... akan ada fungsi baru yang terbuka."
Mata Suyin berbinar. Lima belas kali lipat?! Itu artinya tanaman bisa tumbuh lebih cepat lNo!
"Apa fungsi baru yang akan terbuka?"
"Itu adalah kejutan. Kamu akan tahu saat waktunya tiba." Suara pohon terdengar seperti tersenyum—kalau pohon bisa tersenyum.
"Oh ya, satu lagi," Suyin teringat sesuatu. "Akhir-akhir ini ada orang-orang yang curiga sama gelang giok ini. Sepupu saya, Meifeng, bahkan sudah mulai selidiki. Terus ada klien bernama Xiao Zhen yang juga sepertinya tahu ada yang aneh dari gelang ini. Apa mereka... berbahaya?"
Suara pohon diam sebentar sebelum menjawab.
"Gelang giok adalah kunci akses ke ruang ini. Hanya kamu yang bisa menggunakannya karena darahmu cocok dengan segel yang ditinggalkan nenek. Orang lain tidak bisa masuk atau mengambil alih ruang ini. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Mereka bisa mencoba merebut gelang dengan paksa. Dan jika gelang terpisah terlalu lama dari tubuhmu... ikatan bisa melemah."
Hati Suyin mencelos. "Berapa lama yang dimaksud terlalu lama?"
"Tujuh hari. Jika lebih dari tujuh hari gelang tidak menyentuh kulitmu, ikatan akan putus dan ruang dimensi akan tertutup selamanya."
Suyin menggenggam gelang di pergelangan tangannya erat-erat. "Aku tidak akan lepas gelang ini. Apapun yang terjadi."
"Bagus. Jagalah baik-baik. Dan satu peringatan—orang bernama Xiao Zhen yang kamu sebut tadi... dia bukan orang biasa. Aku merasakan energi kultivator dari dirinya saat dia menyentuh tanganmu."
"Kultivator?!" Suyin ingat term itu dari novel-novel yang pernah dibaca. "Maksudnya... dia bisa pakai kekuatan supernatural?"
"Kemungkinan besar. Hati-hati dengannya. Dia mungkin tahu tentang ruang dimensi seperti ini."
Suyin menelan ludah. Xiao Zhen... semakin misterius.
"Terima kasih sudah kasih tahu," ucap Suyin pelan.
"Sama-sama, Pemilik Ruang. Aku akan selalu di sini jika kamu butuh bicara. Cukup sentuh pohon ini dan panggil aku."
Suara itu perlahan menghilang, meninggalkan Suyin berdiri sendirian di bawah Pohon Kehidupan yang daun-daunnya bergoyang pelan tertiup angin.
Suyin keluar dari ruang dimensi dengan pikiran penuh.
Meifeng yang mencoba selidiki gelang.
Xiao Zhen yang ternyata kultivator.
Dan ruang dimensi yang semakin kompleks dengan Pohon Kehidupan yang bisa bicara.
Hidupnya... benar-benar sudah tidak biasa lagi.
Tapi anehnya, Suyin tidak takut. Justru semakin penasaran.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Siapa sebenarnya Xiao Zhen?
Dan apa rencana jahat Meifeng?
Semua pertanyaan itu akan terjawab... perlahan.
Suyin berbaring di kasur, menatap langit-langit apartemen.
"Nenek," bisiknya. "Sepertinya kamu memberiku lebih dari sekadar ruang dimensi. Kamu memberiku... petualangan."
Gelang giok bersinar lembut di pergelangan tangannya.
Dan Suyin tertidur dengan senyum—siap menghadapi apapun yang akan datang.