Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Langkah kaki Tetua Lin terdengar begitu ringan di atas lantai kayu yang dipoles mengkilap, kontras dengan gemuruh jantungku yang mulai beradaptasi dengan aliran Atma-Mekanis yang semakin stabil. Aku berjalan tepat dua langkah di belakangnya, menjaga jarak yang sopan sembari membiarkan indra penglihatanku merekam setiap inci koridor menuju Paviliun Pustaka. Di sudut mataku, sistem terus memberikan notifikasi berupa barisan kode hijau yang menandakan bahwa proses sinkronisasi memori otot setelah pertarungan tadi sedang berlangsung dengan sempurna.
Tetua Lin berhenti di depan sebuah pintu ganda yang dihiasi ukiran naga melingkar, lalu ia memutar tubuhnya untuk menatapku dengan binar mata yang sangat menyelidik.
"Kau tahu, Jin-woo, apa yang kau tunjukkan di lapangan tadi bukan sekadar keberuntungan atau bakat yang tiba-tiba muncul," ucap wanita itu seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Saya hanya mencoba bertahan hidup, Tetua," sahutku dengan nada yang tetap terjaga dan rendah hati.
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang sulit kubaca maknanya namun tidak terasa mengancam. Ia mendorong pintu paviliun hingga terbuka lebar, memperlihatkan rak-rak tinggi yang menjulang hingga ke langit-langit, penuh dengan gulungan kertas dan buku-buku kuno yang tersusun sangat rapi.
[Mendeteksi gudang informasi tingkat tinggi. Memulai prosedur pemindaian latar belakang. Estimasi waktu untuk pengarsipan seluruh teks: empat jam.]
Suara mekanis di kepalaku memberikan laporan yang membuat jantungku berdenyut lebih kencang karena rasa antusias. Jika aku bisa mendapatkan akses ke semua pengetahuan di ruangan ini, maka tingkat pemahamanku tentang hukum bela diri di dunia ini akan melesat melampaui siapa pun dalam waktu singkat.
"Paviliun ini adalah jantung dari pengetahuan klan Han, namun hanya sedikit yang benar-benar memahami esensi di balik setiap kata yang tertulis di sini," jelas Tetua Lin seraya melangkah masuk dan memberi isyarat agar aku mengikutinya.
Aku melangkah melewati deretan rak, merasakan sensasi menggelitik di ujung jari setiap kali sistem mendeteksi resonansi energi dari buku-buku yang mengandung teknik tingkat tinggi.
"Mengapa Anda membantu saya?" tanyaku seraya menakar niat di balik kebaikan wanita ini yang tiba-tiba.
Tetua Lin menghentikan langkahnya di depan sebuah meja kayu jati yang besar. Ia mengambil sebuah gulungan tua berwarna kuning kecokelatan dan meletakkannya di hadapanku dengan gerakan yang sangat anggun.
"Ibumu, Han Seo-yun, adalah sahabat baikku sebelum ia mengasingkan diri dari urusan klan. Aku melihat bayangan ketajamannya di dalam matamu yang sekarang," ungkap Tetua Lin dengan nada bicara yang melunak, menyimpan sebuah kerinduan yang mendalam.
Mendengar nama ibuku disebut, ada gelombang emosi yang menghantam dadaku. Selama ini aku hanya mengenalnya sebagai sosok yang lemah dan selalu sakit, namun kenyataan bahwa ia memiliki hubungan dengan seorang tetua kuat seperti Lin membuatku menyadari bahwa ada banyak misteri yang belum terungkap tentang asal-usulku.
"Ibu tidak pernah bercerita banyak tentang masa lalunya," balasku dengan suara yang sedikit serak.
"Tentu saja, dia ingin melindungimu dari ambisi orang-orang seperti Tetua Agung. Namun sekarang, setelah kau membangkitkan kekuatan itu, kau tidak bisa lagi bersembunyi," tegas Tetua Lin seraya menunjuk ke arah gulungan di atas meja.
[Objek terdeteksi: Teknik Pernapasan Arus Langit. Tingkat: Langka. Memulai ekstraksi data...]
Panel transparan di depan mataku mulai menyalin isi gulungan itu meskipun aku belum membukanya. Barisan kalimat kuno berubah menjadi instruksi digital yang langsung terintegrasi ke dalam pusat sarafku.
"Bacalah teknik ini. Jika kau benar-benar memiliki bakat untuk membedah gerakan seperti yang kau lakukan tadi, tunjukkan padaku pemahamanmu dalam satu jam," tantang Tetua Lin dengan nada yang penuh tantangan namun juga harapan.
Aku tidak segera menyentuh gulungan itu. Alih-alih merasa tertekan oleh ujiannya, aku justru merasa sangat percaya diri. Partikel Atma-Mekanis di dalam tubuhku berputar dengan kecepatan tinggi, menciptakan simulasi di dalam pikiranku tentang bagaimana energi harus mengalir sesuai dengan teknik Arus Langit tersebut.
"Satu jam adalah waktu yang terlalu lama, Tetua," jawabku dengan seringai tipis yang tidak bermaksud sombong namun penuh keyakinan.
Tetua Lin mengangkat alisnya, tampak terkejut sekaligus tertarik dengan keberanianku yang baru. Aku menutup mata sejenak, membiarkan sistem menyelesaikan rekonstruksi data secara menyeluruh. Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit bagi sistem untuk menyempurnakan setiap rute meridian yang diperlukan untuk teknik ini.
Saat aku membuka mata kembali, aku bisa merasakan aliran udara di dalam ruangan ini bergerak mengikuti irama napasku. Energi Atma yang sebelumnya terasa kasar dan liar kini mulai mengalir lembut seperti air sungai yang jernih namun memiliki kekuatan dorong yang dahsyat.
"Apakah ini yang Anda maksud dengan pemahaman?" tanyaku seraya mengangkat tangan kanan, di mana sebuah pusaran energi biru pucat mulai terbentuk secara konsisten di atas telapak tanganku.
Wajah Tetua Lin memucat seketika, dan ia mundur satu langkah dengan mata yang membelalak lebar. Ia menatap pusaran energi di tanganku seolah-olah ia sedang melihat sebuah keajaiban yang tidak masuk akal dalam logika kultivasi selama ini.
"Kau... kau baru saja menguasai tahap awal dalam hitungan menit?" desis Tetua Lin dengan suara yang bergetar hebat karena rasa tidak percaya yang luar biasa.
"Sistem pernapasan ini memiliki struktur yang sangat logis jika kita tahu bagian mana yang harus dioptimalkan," ulas aku dengan penjelasan yang setengah teknis, menyembunyikan bantuan sistem yang sebenarnya melakukan semua kalkulasi berat tersebut.
Aku memadamkan pusaran energi itu dengan satu kepalan tangan yang mantap. Sensasi kekuatan baru ini jauh lebih murni dibandingkan dengan teknik bela diri dasar yang kupelajari sebelumnya. Sepertinya, Partikel Atma-Mekanis ini memang dirancang khusus untuk memproses teknik-teknik yang lebih kompleks dengan efisiensi yang semakin tinggi.
"Jin-woo, kau benar-benar adalah anomali yang berbahaya bagi struktur klan ini. Jika Tetua Agung tahu kau bisa melakukan ini, dia tidak akan hanya memenjarakanmu, dia akan menghancurkanmu sampai ke akarnya," bisik Tetua Lin seraya menoleh ke arah pintu seolah memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan kami.
"Itulah sebabnya saya membutuhkan lebih banyak akses ke paviliun ini, Tetua. Saya butuh kekuatan untuk memastikan tidak ada lagi yang bisa menyentuh saya atau orang-orang yang saya pedulikan," tegasku dengan sorot mata yang dingin dan tak tergoyahkan.
Wanita di hadapanku terdiam cukup lama, menimbang risiko yang harus ia ambil dengan mendukungku. Namun akhirnya, ia menghela napas panjang dan memberikan sebuah lencana perak kecil kepadaku.
"Gunakan lencana ini. Kau memiliki akses ke tingkat dua paviliun ini setiap malam. Namun ingat, jangan pernah menunjukkan kemajuanmu yang sebenarnya di depan umum sampai hari pertemuan dewan tetua tiba," pesan Tetua Lin dengan intonasi yang sangat serius.
Aku menerima lencana dingin itu dan menyimpannya di balik jubah. Ini adalah kunci yang kubutuhkan untuk mendaki lebih cepat.
"Terima kasih atas kepercayaan Anda," ucapku seraya memberikan penghormatan singkat.
Aku berbalik dan mulai berjalan menuju rak-rak yang lebih dalam, membiarkan sistem memulai proses pengarsipan massal. Setiap buku yang kulewati kini menjadi bagian dari basis dataku. Aku bisa merasakan duniaku meluas, dari seorang pemuda yang hanya tahu cara menerima pukulan menjadi seorang arsitek kehancuran bagi musuh-musuhnya.
Di balik rak-rak buku yang sunyi, aku mulai menyusun strategi. Han-bin dan ayahnya hanyalah permulaan kecil. Dengan pengetahuan yang tersimpan di sini, aku akan membangun fondasi yang tidak akan bisa diguncang oleh siapa pun di seluruh kekaisaran Murim ini.
[Proses pengarsipan tingkat satu: 45 persen selesai. Mendeteksi buku rahasia di balik rak nomor tujuh. Rekomendasi: Investigasi segera.]
Petunjuk dari sistem membuatku menghentikan langkah di depan sebuah rak yang tampak biasa saja. Aku menyentuh bagian pinggir rak kayu tersebut, merasakan sebuah mekanisme tersembunyi yang bergetar di bawah telapak tanganku. Sepertinya, paviliun ini menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang dibayangkan oleh Tetua Lin sekalipun.