"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan Sang Monster Es
Ketegangan di lorong sempit di balik aula utama itu terasa seolah-olah oksigen telah dihisap keluar oleh ruang hampa. Kevin berdiri dengan dagu terangkat, jemarinya menari di atas layar ponsel dengan gerakan yang sengaja diperlambat—sebuah teror psikologis yang ia nikmati. Di sisi lain, Elena yang asli terkulai lemas dalam dekapan dua penjaga berbadan tegap. Napasnya pendek-pendek, wajahnya sepucat kain kafan, sementara Alana berdiri di samping Arkan dengan jantung yang berdegup kencang, menanti keputusan pria yang kini menjadi tumpuan hidupnya.
"Waktu hampir habis, Kakakku tersayang," Kevin berbisik, suaranya mengandung racun yang memuakkan. "Tiga puluh detik lagi, dan video ini akan mendarat di kotak masuk Kakek. Bayangkan wajahnya saat melihat cucu kesayangannya memelihara dua wanita berwajah sama. Bayangkan kehancuran saham Arkananta Group besok pagi. Pilihannya mudah: berikan surat pengunduran dirimu sebagai CEO sekarang, atau kita hancur bersama."
Arkan tidak bergeming sedikit pun. Alih-alih tampak panik atau memohon, garis wajahnya justru melunak menjadi sebuah senyuman dingin yang sangat tipis—jenis senyuman yang biasanya ia tunjukkan tepat sebelum ia mengeksekusi lawan bisnisnya di meja perundingan. Matanya yang tajam menatap Kevin seolah-olah adiknya itu hanyalah serangga kecil yang sedang meronta di ujung sepatu.
"Kau selalu menjadi pecatur yang buruk, Kevin," ucap Arkan, suaranya rendah namun menggema di lorong yang sunyi. "Kau terlalu fokus pada satu bidak yang menurutmu mematikan, sampai kau tidak sadar bahwa seluruh papan catur ini sudah aku kendalikan sejak kau melangkahkan kaki ke hotel ini."
Kevin mengerutkan kening, senyumnya sedikit memudar. "Jangan mencoba menggertakku dengan kata-kata filosofismu. Bukti digital tidak bisa kau intimidasi dengan tatapan mata, Arkan."
"Bukti?" Arkan terkekeh hambar, suara tawa yang jarang sekali terdengar itu justru terdengar sangat mengerikan. "Kau pikir mengapa seorang pelayan bisa begitu ceroboh membiarkan Elena keluar dari paviliun rahasia yang dijaga ketat? Kau pikir mengapa tidak ada satu pun alarm keamanan yang berbunyi saat wanita selemah dia berjalan melewati pintu sensor menuju aula utama?"
Mata Kevin membelalak. Ponsel di tangannya sedikit goyah. "Apa... apa maksudmu?"
"Aku yang membiarkannya keluar," jawab Arkan telak.
Alana yang berdiri di belakang Arkan tersentak. Ia menatap punggung lebar Arkan dengan rasa tidak percaya. Arkan yang membiarkannya? Apakah ini semua adalah bagian dari rencananya? Tapi risiko ini terlalu besar! batin Alana berkecamuk.
Arkan melangkah maju, memaksa Kevin mundur hingga punggungnya menabrak dinding yang dingin. "Aku tahu kau telah menyuap salah satu penjaga di paviliun sejak sebulan lalu. Aku tahu setiap sen yang kau kirimkan ke rekening luar negerinya. Aku sengaja membiarkanmu merasa menang, karena aku ingin melihat sejauh mana kau berani melangkah untuk menghancurkan keluarga ini demi ambisi pribadimu."
Tepat saat itu, sekelompok pria berseragam hitam—tim keamanan khusus Arkan yang paling elit—muncul dari kedua ujung lorong dengan langkah serempak. Mereka mengunci semua akses keluar, mengepung Kevin dalam lingkaran tanpa celah. Dari balik barisan penjaga, Baskara, asisten pribadi Arkan yang paling setia, melangkah maju sambil membawa sebuah tablet militer dengan lampu indikator biru yang berkedip.
"Tuan Arkan," Baskara melapor dengan nada datar namun tegas, "Sinyal signal jammer berkekuatan tinggi sudah aktif di seluruh area hotel sejak sepuluh menit yang lalu. Kami telah memutus semua jaringan Wi-Fi, seluler, dan satelit dalam radius 500 meter. Tidak ada satu pun bit data yang bisa keluar dari gedung ini. Video di ponsel Tuan Kevin telah gagal terunggah ke cloud server."
Wajah Kevin seketika memucat, berubah dari merah penuh kemenangan menjadi putih pasi karena horor. Ia dengan panik menekan layar ponselnya berkali-kali, namun hanya muncul ikon tanda seru merah yang menandakan Connection Timeout.
"Tidak mungkin! Aku sudah mengatur server cadangan di Singapura!" teriak Kevin histeris.
"Server cadangan yang kau maksud adalah milik perusahaan cangkang bernama 'K-Capital'?" Arkan menggelengkan kepala seolah merasa kasihan pada kebodohan adiknya. "Aku sudah mengakuisisi perusahaan itu pagi ini tepat jam sembilan. Kau bermain di kolam yang terlalu dalam untukmu, Kevin. Kau bahkan tidak tahu siapa yang memegang kendali atas air tempatmu berenang."
Arkan kemudian memberi isyarat kepada penjaga yang memegang Elena yang mulai kehilangan kesadaran. "Bawa Elena ke ambulans pribadi di basemen melalui lift barang. Pastikan tim medis terbaik menanganinya. Dan Alana..." Arkan menoleh sedikit, suaranya melembut sesaat namun tetap penuh otoritas. "Ikutlah dengan mereka. Pastikan dia sampai di rumah sakit dengan aman."
"Tapi Tuan, bagaimana dengan Anda? Di depan sana..." Alana menggantung kalimatnya, khawatir akan keributan yang mungkin terjadi di aula.
"Tugasmu sebagai 'Elena' di aula sudah selesai untuk malam ini. Kau sudah memerankan bagianmu dengan sangat baik, Alana. Sekarang, biarkan aku menyelesaikan kotoran keluarga ini sendirian," ucap Arkan.
Alana mengangguk patuh, meski hatinya berat. Ia membantu penjaga memapah Elena yang lemas. Sebelum pintu darurat tertutup, Alana sempat menoleh ke belakang. Ia melihat Arkan merenggut ponsel dari tangan Kevin dengan gerakan kasar, lalu melemparnya ke lantai dan menghancurkannya dengan satu injakan sepatu pantofelnya yang mengkilap hingga layar kaca itu retak menjadi serpihan tak berarti.
Sepuluh menit kemudian, aula utama kembali tenang. Arkan melangkah masuk dengan ketenangan yang luar biasa, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan makan malam bisnis biasa, bukan baru saja menghancurkan masa depan adiknya. Ia menghampiri Tuan Besar Arkananta yang masih duduk di singgasananya, dikelilingi oleh para kolega yang mulai berbisik-bisik bertanya ke mana perginya sang cucu kesayangan dan istrinya tadi.
"Kakek," Arkan membungkuk dengan hormat yang sempurna. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Elena tiba-tiba merasa tidak enak badan. Trauma dari kecelakaan lamanya sepertinya kambuh akibat kelelahan dan cahaya lampu kilat kamera. Saya sudah meminta tim medis mengantarnya pulang lebih awal agar kondisinya tidak memburuk."
Tuan Besar Arkananta menyipitkan mata, menatap Arkan lama. "Dia memang selalu merepotkan. Tapi setidaknya dia tahu cara menjaga martabat tadi. Namun, di mana Kevin? Mengapa wajahmu tampak begitu tegang?"
Arkan menarik napas panjang, memberikan kesan seolah ia sedang menahan beban emosional yang berat. "Itulah hal kedua yang harus saya sampaikan, Kakek. Dengan sangat berat hati, saya harus melaporkan bahwa Kevin... adik saya, tampaknya telah kehilangan akal sehatnya akibat tekanan bisnis. Dia baru saja menyerang saya dan Elena di belakang dengan tuduhan-tuduhan delusi yang tidak berdasar. Saya khawatir ambisinya yang gagal telah merusak mentalnya."
Bisik-bisik di aula semakin kencang. Arkan tidak berhenti. Ia memberi kode pada Baskara untuk menyalakan layar proyektor raksasa yang seharusnya menampilkan video penghormatan keluarga.
Namun, yang muncul di layar bukanlah foto-foto kenangan, melainkan deretan dokumen transaksi keuangan ilegal, tanda tangan palsu, dan aliran dana ke rekening gelap.
"Ini adalah bukti penggelapan dana proyek pembangunan resort di Bali yang dilakukan oleh Kevin selama dua tahun terakhir," suara Arkan memenuhi aula, jernih dan berwibawa. "Dia mencoba memeras saya malam ini agar saya menutupi kejahatannya. Sebagai CEO, saya memiliki kewajiban moral untuk menjaga integritas Arkananta Group, meskipun pelakunya adalah darah daging saya sendiri."
Aula itu meledak dalam kekacauan suara. Tuan Besar Arkananta bangkit dari kursinya dengan bantuan tongkat emasnya, wajahnya merah padam karena amarah yang meluap. "KEVIN!" raungnya hingga urat-urat di lehernya menonjol.
Kevin muncul di ambang pintu aula saat itu juga, wajahnya kacau dan pakaiannya berantakan karena sempat meronta dari penjaga. Ia bermaksud membela diri, namun melihat dokumen-dokumen dosanya terpampang jelas di depan seluruh relasi bisnis internasional mereka, ia sadar ia telah masuk ke dalam jebakan maut Arkan.
"Kakek, itu bohong! Arkan yang memalsukannya! Dia menyembunyikan rahasia besar tentang istrinya!" teriak Kevin histeris.
"Cukup!" Kakek memukul meja dengan tongkatnya hingga menimbulkan suara dentuman yang membuat semua orang terdiam. "Penjaga! Seret tikus ini keluar! Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi di mansion maupun di kantor. Mulai detik ini, nama Kevin Arkananta dihapus dari daftar ahli waris!"
Arkan berdiri tegak di samping Kakeknya, memperhatikan saat Kevin diseret keluar oleh petugas keamanan seperti sampah. Ia telah menang. Takhtanya tetap aman. Namun, saat ia menatap pantulan dirinya di gelas sampanye, ia tidak merasakan kemenangan. Ia merasakan beban dosa yang semakin berat menindih pundaknya. Ia baru saja mengorbankan adiknya sendiri—meski Kevin memang bersalah—hanya untuk menutupi kebohongan besarnya tentang identitas Alana.
Malam itu, jam menunjukkan pukul dua pagi ketika Arkan tiba di mansion. Suasana rumah begitu sunyi, hanya suara rintik hujan yang menghantam jendela kaca besar di ruang tamu. Ia langsung menuju kamar Alana, bukan kamar utama tempat ia biasanya tidur dengan "Elena".
Ia menemukan Alana sedang duduk di tepi tempat tidur dengan wajah kuyu. Gadis itu masih mengenakan gaun merah marunnya, namun perhiasannya sudah dilepas.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Arkan parau, suaranya menunjukkan kelelahan yang luar biasa.
"Elena stabil. Dia sedang diobservasi di rumah sakit pribadi kita. Dokter bilang dia hanya mengalami syok fisik yang berat," jawab Alana pelan. Ia bangkit dan berjalan mendekati Arkan, menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tuan... apa yang akan terjadi pada Kevin?"
"Dia sudah selesai. Besok pagi, seluruh dunia akan tahu dia adalah seorang koruptor. Kakek telah membuangnya," Arkan melepaskan dasinya dengan gerakan kasar, seolah benda itu sedang mencekiknya. Ia menjatuhkan dirinya di sofa kamar Alana, memijat pelipisnya.
Alana menatap pria di depannya. Arkan tampak begitu perkasa di luar, namun di dalam ruangan yang sunyi ini, Alana bisa melihat betapa rapuhnya pria itu. Arkan baru saja menghancurkan keluarganya demi mempertahankan kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
"Anda melakukan serangan balik yang cerdas, Tuan. Tapi... apakah Anda benar-benar baik-baik saja dengan ini?" tanya Alana dengan nada lembut yang tulus.
Arkan terdiam lama. Ia menatap Alana dengan tatapan yang dalam, penuh penderitaan sekaligus kerinduan akan sesuatu yang nyata. "Aku baru saja mengukuhkan kekuasaanku di atas kehancuran saudaraku sendiri, Alana. Takhta ini memang berlumuran dosa, dan aku adalah raja yang paling kotor di atasnya."
Tanpa sadar, Alana mengulurkan tangan dan menyentuh pundak Arkan, mencoba memberikan sedikit kehangatan. "Anda melakukannya untuk melindungi rahasia kita. Anda melindungi ibu saya yang sedang sakit, dan Anda melindungi saya dari kemurkaan Kakek. Terima kasih."
Arkan tiba-tiba menarik Alana ke dalam pelukannya. Pelukan itu begitu erat, seolah-olah Alana adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam lautan kepalsuan. Alana bisa merasakan detak jantung Arkan yang kencang, kontras dengan wajahnya yang selalu tenang.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Alana," bisik Arkan di balik rambut gadis itu. "Jika kau pergi, aku tidak akan punya alasan lagi untuk tetap menjadi manusia."
Di luar, hujan semakin deras, membasuh jejak-jejak pengkhianatan malam itu. Namun mereka berdua tahu, ini hanyalah akhir dari satu babak kecil. Elena yang asli telah bangun, dan kebenaran adalah badai yang tidak bisa dihalau hanya dengan kekuasaan.