Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Di Ambang Kehancuran
Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Aku menyeret koperku keluar dari gerbang rumah mewah yang selama dua tahun ini kusebut sebagai penjara, lalu kemudian kusebut sebagai harapan, dan kini kembali menjadi neraka. Langkahku gontai, menyusuri trotoar yang sepi di bawah temaram lampu jalan. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah-olah bumi memiliki gravitasi sepuluh kali lipat untuk menahan tubuhku yang sudah hancur tak bersisa.
Aku tidak tahu harus ke mana. Pulang ke rumah Ayah? Tidak mungkin. Ayah baru saja pulih dari sakitnya, dan melihatku datang tengah malam dengan mata sembab dan koper di tangan hanya akan membunuhnya secara perlahan. Aku tidak ingin menjadi beban lagi. Aku sudah cukup mengorbankan harga diriku selama dua tahun demi melunasi hutang-hutangnya melalui kontrak gila itu. Kini, saat kontrak itu berakhir, aku justru mendapati diriku berdiri di persimpangan jalan tanpa arah tujuan.
Aku merogoh saku, mencari ponselku. Getaran di dalamnya tak kunjung berhenti. Nama "Mas Aris" muncul berulang kali di layar, disertai puluhan pesan singkat yang memohon agar aku kembali. Aku menatap layar itu dengan tatapan kosong. Air mataku sudah mengering, meninggalkan rasa perih yang menjalar hingga ke pelipis. Dengan tangan gemetar, aku mematikan daya ponsel itu. Aku tidak ingin mendengar suaranya. Suara yang tadi sore menjanjikan keabadian, namun ternyata hanya berisi racun yang mematikan saraf-saraf kepercayaanku.
Aku memutuskan untuk memesan taksi online dan pergi ke sebuah hotel murah di pinggiran kota. Aku butuh tempat tersembunyi, tempat di mana tidak ada satu pun orang yang mengenalku sebagai "Istri Aris Dirgantara".
Di dalam taksi, aku menyandarkan kepala ke kaca jendela. Cahaya lampu kota yang melintas di depanku tampak kabur karena pandanganku kembali menggenang. Aku teringat bagaimana Mas Aris berlutut di lantai tadi. Wajahnya yang memohon, suaranya yang parau menyebut namaku. Mengapa dia harus melakukan itu? Jika dia memang memiliki rahasia sebesar itu dengan Clara, mengapa dia harus memberiku harapan setinggi langit? Mengapa dia membiarkanku merasa menang, hanya untuk menjatuhkanku ke jurang yang paling dalam?
"Mbak, sudah sampai," suara sopir taksi membuyarkan lamunanku.
Aku turun dan berdiri di depan bangunan hotel tua yang tampak suram. Ini sangat jauh dari kemewahan rumah Mas Aris. Tapi di sini, aku merasa lebih aman. Aku masuk ke kamar kecil yang berbau pembersih lantai yang tajam. Begitu pintu tertutup, aku luruh ke lantai. Aku memeluk lututku sendiri, membiarkan isak tangis yang tadi kutahan meledak begitu saja.
"Kenapa, Mas... kenapa harus sekarang?" bisikku pada kesunyian kamar.
Bayangan Clara yang tersenyum kemenangan terus menghantui pikiranku. Pesan itu... kalimat 'kenang-kenangan yang tidak bisa dia hapus'... itu benar-benar mengoyak batinku. Seorang anak. Jika benar Clara mengandung anak Mas Aris, maka posisiku di hidup pria itu tidak akan pernah benar-benar ada. Aku hanyalah istri yang datang melalui kontrak, sementara Clara memiliki ikatan darah yang abadi dengan pria yang kucintai.
Pikiranku terus berputar pada kemungkinan-kemungkinan buruk. Bagaimana jika Ibu Sofia tahu? Wanita itu sangat menginginkan cucu, tapi dia selalu membenciku. Jika dia tahu Clara hamil, dia pasti akan dengan senang hati menendangku keluar dan menyambut Clara sebagai menantu kesayangannya. Aku bisa membayangkan senyum sinis Ibu Sofia saat dia memintaku menandatangani surat cerai.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat Mas Aris dan Clara bersama. Aku membayangkan mereka di malam yang Mas Aris katakan sebagai 'malam mabuk' itu. Rasa mual mendadak mengaduk perutku. Aku berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening karena lambungku yang kosong. Tubuhku menggigil hebat.
Aku menatap pantulan diriku di cermin buram kamar mandi. Arini yang dulu kuat kini tampak seperti wanita malang yang kehilangan jiwanya. Mataku bengkak, bibirku pucat, dan bahuku merosot lesu. Aku memegang perutku sendiri. Selama ini, aku diam-diam berharap bisa memberikan Mas Aris seorang anak, buah dari cinta yang baru saja kami bangun. Namun kenyataan justru menamparku dengan fakta bahwa wanita lain telah mendahuluiku, melalui cara yang paling merendahkan martabatku sebagai seorang istri.
Aku kembali ke tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang retak. Retakan itu persis seperti hatiku saat ini. Aku menyadari satu hal: cinta saja ternyata tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang disebabkan oleh ketidakjujuran. Mas Aris mungkin mencintaiku sekarang, tapi dosanya di masa lalu adalah bom waktu yang telah menghancurkan seluruh dunia yang kami bangun.
Di tengah kesunyian malam, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan mereka melihatku hancur lebih jauh. Jika Mas Aris memilih untuk menyembunyikan sampah itu dariku, maka dia juga harus siap kehilangan aku selamanya. Aku bukan lagi Arini yang bisa dibeli dengan kontrak. Aku adalah wanita yang punya harga diri, dan harga diriku tidak bisa ditukar dengan cincin emas atau kata-kata manis yang ternyata hanya selubung dari sebuah pengkhianatan yang menjijikkan.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, tapi bagiku, matahari tidak akan pernah benar-benar terbit lagi. Hari-hari ke depan akan menjadi medan perang yang penuh air mata, dan aku harus bersiap untuk kehancuran yang lebih besar.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.