"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik: Reputasi dan Tekad Seorang Gadis Kecil
Plak!
Suara tamparan itu pecah di udara—keras, kering, tanpa ragu.
Bai Ruoxue yang berdiri di balik sekat kayu merasakan bunyinya lebih dulu daripada rasa sakitnya, meski pipi yang ditampar bukan miliknya. Awalnya gadis itu akan keluar dari kamarnya, ingin mencari angin segar. Menghindari suara ibunya yang tengah bertengkar dengan ayahnya. Namun, sesuatu telah terjadi di balik sekat itu.
Ia terdiam.
Tangannya mengepal di sisi tubuh. Jantungnya berdegup kencang, merasa sangat terkejut dengan keadaan saat ini. Seseorang yang dipilih ibunya itu kini menyakitinya. Sosok yang pernah memberikannya sesuatu kini telah hilang sepenuhnya. Kini hanya satu sosok yang terbayang di benaknya.
Sosok yang jahat.
Yang telah menampar ibunya.
Telah menyakiti hati ibunya.
Ibunya terhuyung satu langkah ke samping. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit terlepas. Ia tidak jatuh, tapi tubuhnya jelas kehilangan keseimbangan. Yang paling menyakitkan bukan tamparan itu—melainkan cara pria itu berdiri tegak setelahnya, seolah baru saja melakukan sesuatu yang wajar. Tak ada rasa bersalah maupun penyesalan. Membuat dada wanita itu terasa sangat sakit.
“Beraninya kau mengucapkan hal seperti itu?” suara ayah tirinya dingin, berlapis kemarahan yang ditahan. “Apa kau lupa di mana kau berdiri?”
Ibunya mengangkat wajahnya perlahan. Pipi yang ditampar memerah. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada tangis. Ia menelan ludah, seolah menelan sesuatu yang pahit dan tajam sekaligus.
“Aku hanya meminta—” suaranya pelan, nyaris habis. “Aku hanya ingin anakku aman.”
“Aman?” pria itu tertawa pendek, sinis. “Kau tahu apa yang membuat kita aman di dunia ini?”
Ia melangkah maju satu langkah. Bayangannya menutupi tubuh sang ibu.
“Reputasi.”
Kata itu jatuh berat, seperti palu yang menghantam lantai.
“Reputasiku adalah yang paling utama,” lanjutnya. “Bukan perasaanmu. Bukan air matamu. Dan tentu saja—bukan anak itu.”
Bai Ruoxue menahan napas.
Anak itu.
Bukan menyebut namanya. Bukan menyebutnya putri. Hanya anak itu—seolah ia benda yang bisa dipinggirkan.
“Kau pikir apa yang akan terjadi jika orang tahu rumah ini bermasalah?” lanjut pria itu. “Kau pikir posisiku di istana akan tetap utuh jika gosip tentang anak bawaanmu menyebar?”
Ibunya menggigil. “Dia hampir mati,” ucapnya lirih. “Jika aku diam lagi—”
“Cukup!” bentak pria itu. “Kau sudah terlalu jauh.”
Ia menghela napas tajam, lalu berkata dengan nada yang lebih rendah, lebih berbahaya. “Aku membawamu ke rumah ini. Aku memberimu nama. Status. Perlindungan. Jangan lupa diri.”
Keheningan jatuh.
Bai Ruoxue menunduk perlahan. Ada sesuatu di dalam dadanya yang retak, lalu mengeras. Retakan itu tidak berdarah. Tidak berisik. Tapi permanen.
Ia tidak menangis. Ia tidak merasa ingin berteriak.
Yang muncul justru kejernihan yang dingin.
Jadi begini rupanya dunia orang dewasa.
Keselamatan bisa dikorbankan demi nama. Darah bisa disapu demi kehormatan palsu.
Ia berbalik pelan dan berjalan pergi sebelum ada yang menyadari keberadaannya. Tak jadi melanjutkan langkahnya untuk mencari udara segar. Nyatanya, apapun sekarang sudah tak mampu menyegarkan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya.
Malam itu, Bai Ruoxue tidak tidur.
Ia duduk di dekat jendela, memandang langit yang gelap. Angin malam menyelinap masuk, dingin, menusuk kulit. Menggoyangkan rambut hitamnya ke sana ke mari seolah memang sengaja mempermainkannya. Tapi pikirannya jauh lebih dingin.
Ia mengingat wajah ibunya saat ditampar. Bukan rasa sakit yang paling menonjol—melainkan rasa tidak berdaya. Rasa kalah sebelum bertarung. Rasa tahu bahwa suaranya tidak pernah dihitung. Rasa tak berdaya karena tak bisa melawan. Tak bisa mendapatkan hak nya—yakni perlindungan yang seharusnya diperoleh putrinya—dirinya.
Dan tiba-tiba, Bai Ruoxue tahu satu hal dengan kepastian yang menenangkan sekaligus menakutkan:
Ia tidak boleh menjadi perempuan seperti itu.
Bukan berarti ia menyalahkan ibunya. Justru sebaliknya—ia mencintainya terlalu dalam untuk mengulang nasib yang sama.
Sejak hari itu, Bai Ruoxue berubah.
Ia tidak mengumumkan tekadnya. Tidak menulis janji. Tidak menangis di sudut kamar. Ia hanya mulai bergerak.
Setiap pagi, ia bangun lebih awal. Membaca apa pun yang bisa ia dapatkan. Kitab lama. Catatan bekas. Tulisan-tulisan yang dianggap tidak penting oleh rumah ini. Ia menyimpan semuanya rapi, tersembunyi.
Ia belajar diam-diam.
Belajar bukan untuk dipuji. Bukan untuk diperhatikan. Melainkan untuk pergi suatu hari nanti. Pergi dari rumah ini, membawa ibunya. Ia tak perlu lagi mengandalkan sosok lain untuk menafkahi mereka. Ia akan menjadi sosok itu, dengan caranya. Dan, ia akan memastikan ibunya tak lagi pernah merasakan kesedihan seperti ini. Mereka akan hidup di tempat yang jauh dari sini.
Ia memilih jalur yang paling sunyi tapi pasti: menjadi guru.
Bukan karena itu pekerjaan rendah. Justru karena itu pekerjaan yang memberinya identitas sendiri.
Ia belajar di luar rumah, diam-diam. Menyelinap di sela waktu. Menghafal pelajaran sambil berjalan. Menulis ulang catatan di malam hari dengan penerangan seadanya.
Tak ada yang menyemangati. Tak ada yang memuji. Dan ia tidak membutuhkannya.
Setiap kali lelah, ia teringat suara tamparan itu. Setiap kali ragu, ia teringat kata reputasi yang diucapkan tanpa peduli darah.
Itu cukup.
Namun setiap kali ia kembali ke rumah, hatinya kembali diuji.
Ibunya sering duduk diam di ruang dalam. Tatapannya kosong, seolah melihat sesuatu yang jauh di balik dinding. Wajahnya tetap lembut, tapi ada bagian dari dirinya yang sudah tidak ada. Ibunya sudah berubah.
“Ruoxue,” ibunya akan tersenyum saat melihatnya. Senyum itu rapi. Terlalu rapi. “Kau pulang.”
Bai Ruoxue membalas senyum itu. Ia mengangguk. Ia menjawab seperlunya.
Tapi ia tahu.
Ia tahu senyum itu dipaksakan. Ia tahu ibunya sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan justru karena itu, tekad Bai Ruoxue semakin mengeras.
Ia tidak ingin ibunya terus berpura-pura. Ia tidak ingin hidup di rumah yang mengukur nilai manusia dari nama dan posisi. Ia ingin pergi.
Dan ia ingin membawa ibunya bersamanya.
Setiap malam, sebelum tidur, ia membayangkan tempat itu.
Bukan istana. Bukan rumah besar. Tempat yang tenang. Tempat di mana tidak ada tamparan yang dibenarkan atas nama reputasi.
Tempat di mana ibunya bisa tersenyum tanpa takut.
“Aku akan jadi seseorang,” bisiknya dalam hati. “Seseorang yang tidak perlu bergantung pada siapa pun.”
Hari-hari berlalu. Luka-lukanya memudar, tapi ingatannya tidak. Ia tumbuh bukan dengan harapan—melainkan dengan tujuan.
Dan tanpa ia sadari, di balik semua itu, satu hal terbentuk perlahan: Bai Ruoxue bukan lagi gadis kecil yang bertahan.
Ia sedang menjadi perempuan yang menyiapkan jalan keluar.
Bukan untuk melawan hari ini.
Melainkan untuk menang suatu hari nanti.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi