NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 21

Ruangan OSIS yang seharusnya menjadi tempat rapat serius kini telah berubah fungsi menjadi markas rahasia.

Sejak kejadian musim panas yang menyengat waktu itu, Sasha, Yudas, Indah, Kael, dan Lily menjadikannya tempat pelarian favorit.

Di tengah ruangan, mereka sedang duduk melingkar di lantai, terlibat dalam permainan kartu **Uno** yang sangat sengit.

"Ayo, Raka! Jangan kelamaan mikir, keluarin kartunya!" seru Kael sambil tertawa puas melihat Raka yang tampak kebingungan memegang tumpukan kartu di tangannya. Raka, yang biasanya kaku, ternyata cukup kompetitif dan mulai menikmati atmosfer berisik ini.

"Diamlah, Kael. Aku sedang menyusun strategi," gumam Raka serius sebelum meletakkan kartu *Wild Draw Four*. "Makan itu! Sasha, ambil empat kartu!"

"Sialan kau, Wakil Ketua!" teriak Sasha sambil menarik kartu dengan kasar. Suasana pecah dengan tawa dan sorakan saat Sasha mulai memaki keberuntungannya.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Aria melangkah masuk dengan setumpuk map di pelukan dan wajah yang tampak sangat lelah setelah rapat panjang.

Ia berhenti sejenak, menghela napas panjang melihat kekacauan di kantornya. "Baiklah, berhenti sebentar semuanya. Ada pengumuman penting."

Semuanya terdiam dan menoleh. Permainan kartu terhenti seketika. "Ada apa, Tuan Putri? Wajahmu suram sekali," tanya Sasha sambil masih memegang sisa kartunya.

"Aku baru saja dapat kabar dari rapat staf. Berhubung liburan musim panas akan segera dimulai, maka **Tes Ujian Musim Panas** akan dilaksanakan mulai besok pagi," ucap Aria datar.

"APA?!" teriak Sasha paling kencang, hampir melompat dari duduknya. "Besok? Kau bercanda?! Itu terlalu mendadak!"

Aria memijat pelipisnya. "Sasha, Kepala Sekolah sudah mengumumkannya di upacara minggu lalu. Kalian saja yang tidak mendengarkan karena sibuk bergosip atau tidur."

Raka menimpali sambil merapikan kartu-kartu di lantai. "Dan jangan lupa, bagi siapa pun yang mendapat nilai merah, mereka wajib mengikuti **Remedial Spesial** tepat saat liburan musim panas dimulai. Artinya, tidak ada liburan ke pantai atau gunung."

Wajah Sasha mendadak pucat, lalu berubah menjadi merah padam karena kesal. "Ini konspirasi! Mereka ingin menyiksa kita!"

Aria menatap Sasha dengan tatapan prihatin. "Makanya, kau harus belajar lebih giat lagi mulai malam ini agar tidak tertinggal. Aku tidak mau melihatmu mendekam di sekolah saat kami semua berlibur."

Sasha mendengus sombong, mencoba menutupi kepanikannya.

Ia menyeringai ke arah teman-temannya. "Halah, untuk apa aku belajar mati-matian? Nanti juga kalian semua akan menemaniku di kelas remedial. Kita kan satu nasib, tidak mungkin kalian meninggalkanku sendirian."

Keheningan yang canggung tiba-tiba menyelimuti ruangan. Sasha mengernyitkan dahi melihat ekspresi teman-temannya yang ragu-ragu. "Kenapa kalian diam saja? Jangan bilang..."

Yudas berdehem pelan, lalu merogoh tasnya. Ia mengeluarkan dua lembar kertas hasil *try-out* kemarin. "Maaf, Sasha... tapi aku sudah aman di mata pelajaran Olahraga dan Matematika. Lihat, nilainya 100 sempurna."

Sasha melotot. "APA?! Dari mana kau keluarkan kertas itu?! Kau kan atlet, kenapa matematikamu bisa seratus?!"

Indah ikut meringis pelan dan menunjukkan laporannya. "Aku juga sudah aman di Bahasa Inggris dan Sejarah, Kak. Nilaiku seratus semua..."

"KAU JUGA?! Darimana kalian mendapatkan kertas-kertas ajaib ini?!" jerit Sasha frustrasi.

Kael, dengan senyum tanpa dosa, mengeluarkan lembar Fisika dari balik *hoodie*-nya. "Fisika, seratus poin! Ternyata aku jenius kalau sedang niat."

Sasha menunjuk wajah Kael dengan tangan gemetar. "KAU! Kau pasti menyogok gurumu dengan susu cokelat, kan?! Tidak mungkin kau bisa mengerjakan Fisika!"

Dengan harapan terakhir yang tersisa, Sasha menoleh perlahan ke arah Lily, anggota yang paling pendiam. "Lily... kumohon, katakan padaku kau belum siap."

Lily menatap Sasha dengan tatapan bersalah yang amat sangat. Perlahan, ia mengeluarkan setumpuk kertas dari tasnya. "Maafkan aku, Kak Sasha... Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, dan Kimia... semuanya seratus."

Sasha terpaku. Tangannya lemas hingga sisa kartu Uno di genggamannya jatuh berserakan ke lantai.

Ia menatap dinding kosong dengan pandangan kosong, menyadari bahwa di ruangan itu, hanya dialah satu-satunya "spesies" yang terancam punah oleh ujian musim panas.

Keheningan itu hanya dipecahkan oleh suara napas berat Sasha yang sedang meratapi nasib liburannya yang sebentar lagi akan hancur lebur.

---

Setelah bel pulang sekolah berdentang, koridor yang tadinya ramai perlahan menjadi sunyi.

Satu per satu anggota geng ruangan OSIS itu pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan Sasha yang berjalan sendirian dengan langkah yang menghentak-hentak trotoar.

Wajahnya ditekuk, memikirkan nasib ujian esok hari yang terasa seperti vonis hukuman mati baginya.

"Sial! Kenapa mereka semua bisa dapat nilai seratus secara mendadak begitu?" gerutu Sasha pada dirinya sendiri.

"Dan sekarang Aria tidak bisa lagi mengawasiku belajar setiap saat karena kesibukan OSIS. Kalau nilaiku rata-rata bawah, aku benar-benar akan membusuk di kelas remedial sementara mereka bersenang-senang di pantai."

Pikirannya yang kalut membuatnya tidak sadar bahwa ia telah mengambil rute jalan pintas melewati sebuah gang sempit yang remang-remang.

Langkahnya terhenti ketika di ujung gang, segerombolan pria bertampang garang sudah berdiri menunggunya.

Ia menoleh ke belakang, dan ternyata jalan keluarnya pun sudah ditutup oleh belasan orang lainnya. Total ada lebih dari 20 orang yang mengepungnya dengan senjata tumpul di tangan.

"Itu dia! Itu gadis yang menghajar kami habis-habisan waktu itu!" seru salah satu preman sambil menunjuk Sasha dengan gemetar.

Sasha menyipitkan mata, mencoba mengingat-ingat.

Begitu ia melihat wajah pemimpin mereka yang memiliki bekas luka kecil, ia langsung teringat. "Oh, jadi kalian cecunguk yang waktu itu mencoba mengganggu Aria di halte? Masih belum kapok juga rupanya?"

"Hari ini kau tidak akan bisa lari, Nona Besar! Kami bawa pasukan lebih banyak untuk mematahkan kakimu!" teriak pemimpin preman itu.

Sasha hanya menghela napas panjang, wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun, melainkan rasa bosan yang amat sangat. "Aku sedang pusing memikirkan rumus matematika, dan sekarang kalian menambah daftar masalahku. Baiklah, ayo selesaikan ini dengan cepat. Aku punya jadwal belajar yang harus kuhancurkan."

Para preman itu berteriak dan merangsek maju secara bersamaan.

Suara hantaman, teriakan kesakitan, dan dentuman keras memenuhi gang sempit itu selama beberapa menit.

Debu berterbangan menutupi pandangan.

Beberapa menit kemudian, suasana mendadak hening.

Sasha melangkah keluar dari kegelapan gang tersebut dengan tenang. Ia merapikan kerah seragamnya yang sedikit miring, rambutnya tetap rapi, dan tidak ada satu pun luka atau noda darah di wajahnya.

Di belakangnya, di dalam gang tersebut, 20 orang preman itu tergeletak tumpang tindih, babak belur, dan merintih kesakitan di atas tanah.

Sasha terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia berhenti di depan sebuah minimarket yang terang benderang.

Sambil menunggu detak jantungnya kembali normal, ia merogoh ponsel dan menghubungi kepala pelayannya.

"Halo? Jemput aku di minimarket biasa. Sekarang," perintahnya singkat dengan nada dingin.

Sambil menunggu mobil jemputan datang, Sasha duduk di kursi depan minimarket, membuka tasnya, dan menatap buku catatan fisika dengan tatapan benci tapi rindu.

Tak lama, mobil sedan hitam mewah miliknya sampai di depan minimarket. Kepala pelayan turun dan membukakan pintu dengan hormat.

"Anda tampak lelah, Nona Sasha. Apa terjadi sesuatu di jalan?" tanya pelayan itu pelan.

Sasha masuk ke dalam mobil, menyandarkan kepalanya ke kursi kulit yang dingin. "Hanya beberapa serangga pengganggu yang mencoba menghambat perjalananku pulang. Ayo jalan, aku harus memaksakan otakku bekerja malam ini."

Mobil itu pun melaju tenang meninggalkan area minimarket, membawa Sasha pulang ke rumahnya untuk menghadapi pertarungan yang jauh lebih sulit daripada melawan 20 preman: yaitu belajar untuk ujian esok hari.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!