NovelToon NovelToon
Kontrak Dua Minggu

Kontrak Dua Minggu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Wanita Karir
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.

Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Misi Perubahan dan Siasat Si Pewaris.

Marisa melangkah keluar dari lobi apartemen, mengenakan pakaian Dalend yang kebesaran-sebuah hoodie abu-abu tebal dan celana training-membuatnya tampak seperti remaja yang sedang buru-buru.

Meskipun aneh, pakaian ini terasa seperti perisai, menyembunyikan wanita yang baru saja hancur dan gaun pengantin yang lusuh.

Ia segera memanggil taksi daring. Dalam perjalanan menuju bank di pinggiran kota, Marisa terus membolak-balik kertas berisi kode brankas dan alamat bank. Jantungnya berdebar setiap kali ia membayangkan membuka brankas atas nama Grup Angkasa Raya. Ini gila. Ini adalah titik di mana kisah hidupnya benar-benar berubah dari drama romansa menjadi thriller komedi.

Marisa membuka ponselnya, yang selama ini ia diamkan. Ia harus mengirim kabar pada kenalannya di kampung mengenai ibunya, dan tentu saja, ia harus mencari tahu rute bus pulang jika misi ini gagal.

...

Bank yang dituju ternyata adalah cabang kecil di area komersil yang sepi. Marisa menelan ludah. Ia melangkah ke dalam, menuju meja resepsionis, dan menunjukkan dokumen dari Dalend.

Prosesnya ternyata jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan. Petugas bank tidak curiga sedikit pun.

Dalend rupanya telah memberikan kuasa khusus kepada Marisa untuk mengambil uang dari rekening pribadi yang terpisah dari rekening keluarga.

"Totalnya seratus juta rupiah tunai, Nona," kata petugas bank, menyerahkan tas kertas coklat tebal. "Sudah sesuai dengan instruksi Tuan Dalend Angkasarapu."

Mata Marisa membulat. Dalend tidak hanya mengambil Rp 50 juta untuk fee-nya, tetapi juga mengambil Rp 50 juta tambahan untuk modal operasional mereka malam ini. Total Rp 100 juta di tangannya! Tangannya gemetar saat menerima tas itu.

Ia segera keluar dari bank, merasa seperti magnet bagi semua penjahat di kota. Marisa segera mencari taksi menuju lokasi berikutnya: Mall Plaza Bintang.

...

Setibanya di Mall Plaza Bintang, Marisa langsung menuju toko pakaian desainer. Ia masuk ke butik yang paling mewah, di mana gaun-gaun malam bersinar dibawah lampu kristal. Marisa, yang biasanya hanya membeli pakaian di pasar atau diskonan, merasa seperti penyusup.

Saat ia sedang memilih gaun hitam klasik yang aman, ponselnya berdering. Itu Dalend.

"Halo?"

"Tunangan, kamu sudah sampai di Mall?" Suara Dalend terdengar santai, tapi ada nada cemas di baliknya.

"Sudah. Dan Lo gila, Dalend. Kenapa Lo ambil seratus juta? Lima puluh juta saja sudah cukup!" Marisa berbisik, takut pengunjung butik mendengar.

Dalend tertawa di seberang sana. "Tentu saja. Lima puluh juta buat ibu Lo, dan lima puluh juta sisanya buat investasi. Investasi terbesar Lo malam ini adalah penampilan, Marisa."

"Maksud Lo?"

"Dengar, Sayang. Lo harus terlihat bukan hanya cantik, tapi mahal. Lo harus tampil lebih berkelas daripada cewek kaku pilihan Mama yang mungkin pake gaun warisan. Kita harus tunjukan bahwa Dalend memilih Lo karena Lo adalah berlian langka yang baru dia temukan.Gaun minimal sepuluh juta, sisanya buat sepatu dan perhiasan."

Marisa terdiam. Sepuluh juta untuk gaun? Itu gajinya selama berbulan-bulan di kafe.

"Gue nggak bisa."

"Marisa, ingat gaun pengantin Lo yang lusuh? Gaun itu adalah simbol kekalahan. Malam ini, kita beli gaun baru yang mewah. Anggap ini gaun kemenangan Lo. Balas dendam terbaik pada Bara dan Anya adalah tampil memukau di panggung elite, lalu pergi meninggalkan kota ini dengan uang yang menyelamatkan ibu Lo."

Kata-kata Dalend menohok. Balas dendam. Itu adalah kata kunci yang Marisa butuhkan.

"Oke. Gaun sepuluh juta. Sisanya buat sepatu dan make-up," desis Marisa.

"Good girl. Tapi jangan gaun yang terlalu formal, Sayang. Cari yang anggun tapi modern, yang cocok sama Lo.  Dan jangan gaun hitam, itu terlalu. Cari warna yang menonjolkan kulit Lo yang cantik itu. " Dalend mendadak terdengar seperti fashion stylist.

"Lo serius memperhatikan kulit gue?"

Dalend berdehem. "Semalam, di bawah lampu jalan yang temaram, Lo masih terlihat ayu, Marisa. Sekarang, setelah mandi dan pake gaun itu, Lo pasti akan mencuri perhatian. "

Marisa merasakan pipinya sedikit memanas. Ia kesal, tapi diakui, godaan dan perhatian kecil itu terasa menyenangkan setelah berhari-hari hanya merasa tidak berharga.

"Lo mau gue beli warna apa?" Tanya Marisa, suaranya lebih lembut.

"Warna yang berani. Merah anggur, biru safir, atau hijau zamrud. Ambil warna yang membuaf Lo terlihat kuat. Setelah selesai, kabari gue. Gue akan suruh orang ambilkan perhiasan milik Mama yang dia kasih ke gue, sebelum dia blokir akses gue."

"Perhiasan Mama Lo?"

Dalend mengangguk. Tertawa ringan. "Sampai ketemu, Tunangan. Bawa pulang kemenangannya."

Dalend menutup teleponnya.

Marisa menarik napas panjang. Ia mengambil gaun merah anggur yang berpotongan modern dan elegan.

...

Tujuh jam kemudian. Marisa berdiri di depan cermin besar apartemen Dalend.

Di pangkuannya, tergeletak tas coklat berisi sisa uang tunai yang masih banyak, setelah ia membeli gaun, high heels perak yang berkilau, dan satu set perlengkapan rias yang ia beli di butik lain.

Di depannya, Dalend berdiri terpaku. Dia sudah bersih dan rapi. Mengenakan kemeja putih mahal yang dipadukan dengan celana bahan hitam, ia terlihar seperti pewaris muda yang menawan, bukan pria gelandangan.

Namun, perhatian Dalend tertuju sepenuhnya pada Marisa. Gaun merah anggur itu menbalut tubuhnya dengan sempurna, menampilkan leher jenjang dan bahunya. Marisa menata rambut hitam panjangnya menjadi sanggul rendah yang sederhana namun elegan. Riasan mata smokey tipisnya menonjolkan mata indahnya, dan lipstik merah anggur yang senada dengan gaunnya membuat penampilannya dramatis.

Dalend tersenyum lebar. Bukan senyum sinis atau lelah, tapi senyum yang benar-benar kagum.

"Holy moly... Lo seriusan Marisa yang semalam nangis tanpa air mata di halte?" Tanya Dalend, mendekat perlahan.

"Berhenti menggoda, Dalend. Gue pakai baju ini untuk ibu gue, bukan untuk Lo atau keluarga Lo," desis Marisa meskipun hatinya sedikit terangkat.

"Gue enggak menggoda, Tunangan," Dalend membantah, suaranya merendah. Ia mengambil sebuah kotak beludru dari meja dan nembukanya. Di dalamnya, ada kalung berlian kecil dengan liontin batu permata biri safir.

"Ini kalung pertama Mama gue yang sering disimpan dan beliau kasih ke gue. Lo pakai ini, dan mereka akan langsung tahu gue serius," jelas Dalend.

Ia melangkah ke belakang Marisa dan menyematkan kalung itu di leher Marisa. Jari-jarinya yang hangat menyentuh punggung leher Marisa yang terbuka. Marisa merasakan sengatan listrik yang singkat dan aneh.

"Kenapa Lo enggak panggil asisten atau penata rias?" Tanya Marisa, mencoba mengalihkan perhatian dari sentuhan itu.

"Gue nggak mau ada mata-mata Bima tahu. Kita harus profesional, Marisa Lo adalah tunangan gue, fan gue bangga menampilkan Lo seperti ini," bisik Dalend tepat di telinga Marisa. "Lo pantas dapat yang terbaik,"

Marisa menoleh, tatapan mereka bertemu di cermin. Mata Dalend terlihat lebih intens dari sebelumnya, bukan hanya karena rencana mereka, tetapi seolah-olah ia melihat sesuatu yang baru pada Marisa.

"Gue enggak butuh belas kasihan Lo," kata Marisa, meski nadanya tidak setegas itu.

"Bukan belas kasihan. Ini kontrak. Gue harus jual 'produk' gue dengan harga tertinggi. Dan Lo adalah produk premium, Marisa," Dalend tersenyum, lalu mundur, memberikan ruang. "Oke. Jam delapan. Kita harus berangkat sekarang."

Marisa mengambil tas kecilnya. Di dalamnya sudah tersedia sisa uang tunai, ponselnya, dan yang terpenting: kunci apartemen.

Saat mereka berjalan menuju pintu, Dalend menoleh sekali lagi ke arah Marisa.

"Satu hal lagi," Dalend mendekat lagi, kali ini ia meraih tangan Marisa, menggenggamnya, dan mencium punggung tangan Marisa dengan lembut.

"Good luck to us, my beautiful fiancèe," bisiknya.

Marisa menatapnya, tidak tahu harus membalas apa. Godaan Dalend kini terasa seperti persiapan mental untuk pertempuran di depan. Marisa menggenggam tangan Dalend erat-erat. Malam ini, mereka bukan lagi dua orang asing. Mereka adalah sebuah tim. Sebuah tim penipu.

...

1
Sherlys01
Semangat yaa😁💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!