Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
Niko terdiam, ia merasa sindiran halus itu tepat mengenai sasaran.
"Terkadang menyembunyikan sesuatu adalah cara untuk bertahan hidup Bu Alisa." seru Niko.
“Atau mungkin itu hanya cara untuk merasa aman di balik dinding yang kita bangun sendiri?” balas Alisa lembut.
Niko tidak menjawab, ia hanya terus menatap es krim yang mulai meleleh di tangannya.
Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa wanita di depannya ini tidak hanya cantik secara fisik tapi juga memiliki kemampuan untuk membaca lapisan-lapisan emosi yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Sore itu di pinggir jalan yang berdebu dengan aroma es krim vanila dan cokelat ada sebuah komunikasi tanpa kata yang terjalin.
Alisa tahu bahwa Niko adalah pria yang terluka di balik kehebatannya dan Niko mulai menyadari bahwa Alisa adalah kehangatan yang mungkin selama ini diam-diam ia butuhkan di tengah dinginnya ruang operasi.
Mereka berpisah saat matahari mulai berwarna jingga pekat.
Di dalam mobil Niko tidak menyalakan radio, ia hanya menikmati kesunyian yang kini terasa berbeda.
Sementara Alisa kembali ke kelasnya untuk mengambil tas ia mendapati dirinya bersenandung kecil.
Dua orang dari dunia yang berbeda itu kini memiliki satu kesamaan yaitu mereka mulai menantikan hari esok dengan alasan yang sama.
Hujan di bulan November memang tidak pernah punya rasa kasihan.
Sejak pagi langit Jakarta sudah dibungkus mendung tebal dan tepat saat jam istirahat sekolah, hujan turun dengan derasnya seolah langit sedang tumpah.
Alisa yang baru saja selesai membantu anak-anak merapikan peralatan makan siang merasakan kepalanya berdenyut hebat.
Sebenarnya rasa tidak enak badan itu sudah ia rasakan sejak dua hari lalu.
Namun sifat perfeksionisnya membuat Alisa terus mengabaikan sinyal bahaya dari tubuhnya sendiri.
Ia terus mengajar, terus tersenyum dan terus memastikan Arka serta murid-murid lainnya mendapatkan perhatian penuh.
Puncaknya adalah hari ini, pandangannya sesekali kabur dan rasa dingin yang aneh mulai merayap di sela-sela tulang-tulangnya.
“Bu Alisa, wajah Ibu pucat sekali, ibu sakit?” tanya salah satu rekan gurunya, Bu Maya saat mereka berpapasan di ruang guru.
Alisa memaksakan sebuah senyum tipis, meski bibirnya terasa kering.
“Hanya kurang tidur sedikit Bu Maya, kebetulan semalam saya lembur memeriksa tugas anak-anak.” tutur Alisa.
“Jangan dipaksakan Bu Alisa, kamu itu manusia bukan robot, apalagi sekarang musim flu.” nasihat Bu Maya tulus.
Alisa hanya mengangguk pelan, ia melirik jam dinding pukul dua siang dan sebentar lagi adalah jadwal penjemputan Arka.
Entah kenapa meski kepalanya sakit ada secercah keinginan di sudut hatinya untuk melihat mobil sedan hitam itu lagi.
Sudah tiga hari ia tidak melihat Niko karena pria itu kabarnya sedang menghadiri simposium medis di luar kota.
Tepat pukul tiga sore saat Alisa berdiri di lobi untuk mengantar anak-anak ke mobil jemputan, pandangannya mendadak berputar.
Dinginnya angin hujan yang masuk melalui celah pintu membuat tubuhnya menggigil hebat, ia mencoba berpegangan pada pilar kayu, namun tangannya terasa lemas.
Di saat itulah sebuah mobil yang sangat ia kenal berhenti di depan lobi, Niko keluar dari mobil tanpa payung dan membiarkan kemeja mahalnya sedikit basah saat ia berlari kecil menuju teras sekolah.
Ia baru saja mendarat dari Singapura dua jam yang lalu dan entah mengapa hal pertama yang ingin ia lakukan bukan beristirahat di rumah melainkan menjemput Arka.
Niko menghentikan langkahnya saat melihat Alisa, sebagai seorang dokter instingnya bekerja lebih cepat daripada logikanya sebagai pria.
Ia melihat cara Alisa berdiri yang tidak stabil, napasnya yang pendek, dan wajahnya yang seputih kertas.
“Bu Alisa?” panggil Niko suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya.
Alisa menoleh, mencoba memfokuskan matanya.
“Ah, Pak Niko… sudah pulang?” suaranya terdengar parau dan sangat lemah.
Sebelum Alisa sempat menyelesaikan kalimatnya, kakinya terasa seperti jeli, ia limbung.
Namun sebelum tubuhnya menyentuh lantai dingin, sepasang lengan yang kuat dan kokoh menangkapnya.
Niko bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, mendekap tubuh Alisa agar tidak jatuh.
“Bu Alisa! Alisa!” Niko memanggil namanya tanpa embel-embel formalitas untuk pertama kalinya.
Tangan Niko menyentuh dahi Alisa secara spontan.
Panas.
Suhu tubuh wanita ini pasti sudah melewati angka 39 derajat Celsius, ada kemarahan kecil yang muncul di hati Niko yaitu marah karena wanita ini begitu bodoh mengabaikan kesehatannya sendiri.
“Arka masuk ke mobil sekarang!” perintah Niko pada keponakannya yang tampak ketakutan melihat gurunya pingsan.
Niko kemudian mengangkat tubuh Alisa dengan gaya bridal style, tubuh Alisa terasa jauh lebih ringan dari yang ia bayangkan, seolah-olah wanita ini memang sedang benar-benar rapuh.
Ia membawa Alisa masuk ke dalam mobilnya merebahkannya di kursi penumpang depan yang sudah ia miringkan.
“Om, Bu Guru kenapa?” tanya Arka dari kursi belakang, suaranya gemetar.
“Bu Guru hanya butuh istirahat di rumah sakit Om, Arka diam ya Om harus menyetir cepat.” jawab Niko dengan nada yang berusaha ia tenang-tenangkan, meski tangannya di kemudi mencengkeram sangat kuat.
Sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit Medika Utama dan Niko sesekali melirik ke arah Alisa yang tak sadarkan diri.
Rambut cokelatnya yang biasanya rapi kini berantakan di atas jok mobil.
Niko merasakan kecemasan yang tidak masuk akal, sebagai dokter bedah ia sering menghadapi situasi hidup dan mati, tapi melihat Alisa yang lemah seperti ini memberikan rasa sesak yang berbeda di dadanya.
Begitu tiba di rumah sakit, Niko tidak memanggil ambulans atau perawat di depan.
Ia sendiri yang menggendong Alisa masuk melewati pintu darurat khusus dokter.
“Siapkan kamar di bangsal VIP lantai lima. Sekarang!” teriak Niko pada perawat jaga.
“Tapi Dokter, itu harus melalui prosedur pendaftaran....” ucap perawat namun langsung dipotong oleh Niko.
“Aku yang menjaminnya! Lakukan saja!” potong Niko dengan nada yang membuat perawat itu langsung berlari tanpa berani membantah.
Alisa segera dibaringkan di tempat tidur rumah sakit, Niko sendiri yang memasangkan infus ke tangan Alisa.
Ia melakukannya dengan sangat lembut seolah-olah jika ia menekan sedikit saja terlalu keras Alisa akan hancur.
Ia juga memeriksa detak jantungnya menggunakan stetoskop, suara detak jantung Alisa yang cepat namun teratur di telinganya memberikan sedikit rasa lega.
“Gejala kelelahan hebat dan infeksi virus ringan, dia terlalu memaksakan diri.” gumam Niko dengan rasa marah bagaimana bisa dia tidak memikirkan kesehatan tubuhnya sendiri.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...