Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Kaisar Pramudya tidak pernah merasa kampus adalah tempat yang pantas dihormati.
Baginya, gedung bertingkat itu hanyalah formalitas, tempat ia datang, duduk sebentar, lalu pergi tanpa meninggalkan apapun selain gosip dan masalah. Jaket hitam masih melekat di tubuhnya ketika ia masuk kelas, helm digantung di siku, tatapan malas tapi penuh percaya diri.
“Ketua geng Kobra datang.”
“Yang suka balapan ilegal itu.”
“Katanya belum pernah pacaran tapi cewek ngantri.”
Bisik-bisik mengiringi langkahnya. Kaisar tersenyum tipis, dia sudah terlalu akrab dengan itu semua.
Dia duduk di bangku tengah, mengeluarkan ponsel, lalu tanpa peduli siapa pun dia mengeluarkan rokok elektrik dari saku jaketnya. Asap tipis mengepul pelan, bercampur aroma manis yang langsung menarik perhatian beberapa mahasiswa.
Belum ada dosen masuk, dan bahkan kalau ada, Kaisar yakin, tidak ada yang cukup berani menegurnya.
Sampai pintu kelas terbuka.
Langkah sepatu terdengar jelas. Tidak tergesa. Tidak ragu, seisi kelas refleks terdiam. Kaisar mengangkat kepala setengah malas dan lalu berhenti bergerak.
Seorang wanita masuk.
Usianya jelas di atas mahasiswa mana pun di ruangan itu. Setelan rapi, rambut disanggul sederhana, kacamata transparan yang justru menambah kesan dingin di wajahnya. Tatapannya tajam, tenang, seperti orang yang terbiasa memegang kendali.
“Selamat pagi,” ucapnya singkat.
Tak ada senyum, tak ada basa-basi.
“Saya Shelina Santosa. Dosen baru Metodologi Penelitian.”
Beberapa mahasiswa langsung menegakkan punggung. Shelina meletakkan tasnya, menyalakan proyektor, lalu matanya berhenti pada satu titik.
Ada aroma asap yang sangat mengganggunya, dan seorang mahasiswa yang tampak sama sekali tidak merasa bersalah.
“Kamu,” katanya datar, menatap Kaisar. “Matikan rokokmu.”
Kaisar mengangkat alis, beberapa detik berlalu dan kemudian ia terkekeh kecil.
“Ini vape, Miss. Bukan rokok.”
Shelina tidak berubah ekspresi.
“Di kelas saya,” jawabnya dingin, “tidak ada asap apapun, matikan.”
Beberapa mahasiswa menahan napas. Ini baru pertama kalinya ada dosen yang berani menegur Kaisar secara langsung dan tanpa gentar.
Kaisar menyandarkan tubuhnya, masih santai.
“Kalau saya nggak mau?”
Beberapa orang langsung menoleh panik. Ini bukan lagi sekadar teguran. Shelina melangkah lebih dekat ke mejanya. Tatapannya turun, sejajar dengan Kaisar.
“Maka kamu keluar dari kelas saya!"
Kaisar tertawa pelan.
“Miss tahu saya siapa?”
Shelina mengangguk kecil.
“Mahasiswa.”
“Ketua geng Kobra,” sambung Kaisar, suara rendah tapi jelas terdengar.
“Dan saya nggak biasa diusir belum pernah ada yang menegur saya seperti ini.”
Shelina menatapnya lurus, tanpa berkedip.
“Dan saya tidak pernah takut pada mahasiswa bermasalah,” katanya tenang. “Silakan keluar, sekarang juga!”
Kaisar menatap Shelina, mencoba mencari celah dan rasa takut, ragu, atau setidaknya kegoyahan. Tapi yang ia temukan hanya ketenangan yang dingin dan tak tergoyahkan.
Kaisar goyah, dia berdiri kasar, kursinya bergeser hingga menimbulkan suara nyaring, seluruh kelas tersentak.
“Baik, Miss,” ucapnya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
“Saya keluar.”
Ia melangkah ke pintu, berhenti sejenak, lalu menoleh.
“Tapi ingat Miss akan nyesel melakukan ini pada saya!”
Shelina tidak menjawab, bahkan tidak melirik.
Pintu tertutup kasar.
Di koridor, Kaisar menghembuskan napas keras, rahangnya mengeras. Ia mengirim pesan ke grup geng Kobra, yang sebagian besar berada di fakultas dan jurusan lain.
[Sialan! Dosen baru killer banget!]
Pintu kelas telah tertutup rapat sejak beberapa menit lalu, namun hawa tegang belum juga menghilang.
Shelina berdiri di depan kelas, jemarinya saling bertaut di atas meja dosen. Tatapannya menyapu seluruh mahasiswa satu per satu dan tanpa tergesa, tanpa emosi berlebihan.
“Kita lanjut.”
Suaranya tenang. Namun, justru ketenangan itulah yang membuat beberapa mahasiswa menelan ludah. Insiden barusan cukup menjadi bukti bahwa wanita di hadapan mereka bukan tipe dosen yang bisa ditekan atau diremehkan.
“Sebelum saya mulai,” Shelina kembali bersuara, “saya ingin menegaskan beberapa hal.”
Dia menekan tombol remote, slide pertama muncul di layar.
“Aturan di kelas saya sederhana.”
“Pertama, datang tepat waktu.”
“Kedua, tidak ada asap, ponsel berbunyi, atau sikap tidak sopan.”
“Ketiga, tidak ada yang kebal terhadap sanksi.”
Tatapannya berhenti sejenak, seolah menembus siapa pun yang berniat melanggar.
“Dan yang terakhir,” lanjutnya, “saya tidak tertarik menjadi dosen yang disukai. Saya hanya peduli kalian lulus dengan cara yang benar.”
Tak ada yang berani berkomentar. Beberapa mahasiswa bahkan terlihat mencatat dan bukan materi, melainkan aturan.
Shelina mulai mengajar. Setiap penjelasannya runtut, jelas, dan menusuk tepat sasaran. Tidak bertele-tele dan tidak membuka ruang debat yang tak perlu, dia tegas, tapi tidak kejam.
Jam pelajaran berakhir tepat waktu.
“Silakan keluar,” ucapnya singkat.
“Minggu depan kita kuis.”
Serempak terdengar desahan tertahan.
Shelina membereskan laptopnya, memasukkan berkas ke dalam tas, lalu melangkah keluar kelas dengan langkah terukur. Lorong fakultas mulai lengang. Matahari sore menyelinap di antara gedung-gedung kampus.
Tiba di parkiran, napasnya tertahan sejenak. Bukan karena panik tetapi melainkan karena lelah.
“Sudah bisa ditebak,” gumamnya lirih.
Tak perlu menebak lama. Kampus, mahasiswa, ego yang tersinggung. Polanya terlalu klasik untuk dianggap kebetulan. Shelina berdiri, menyandarkan tas di pundak, lalu mengeluarkan ponselnya.
Belum sempat menelepon, sebuah suara menyapanya dari belakang.
“Ada masalah?”
Shelina menoleh.
Seorang pria berusia akhir tiga puluhan berdiri beberapa langkah darinya. Kemeja rapi, wajah ramah, sorot mata yang hangat tapi tajam. Ia adalah salah satu dosen senior di fakultas itu.
“Ban kempes,” jawab Shelina jujur.
Rangga melirik mobil itu, lalu tersenyum kecil seolah paham.
“Pasti ulah mahasiswa?”
Shelina tak langsung menjawab, hanya mengangguk pelan.
“Selamat datang di dunia nyata kampus,” ucap Rangga ringan.
“Saya Rangga, dosen Hukum Bisnis.”
“Saya tahu,” Shelina membalas.
“Terima kasih.” ujar Shelina dingin, Rangga tersenyum tipis.
Nada bicaranya tetap formal, tapi tidak menolak.
Rangga mengeluarkan ponselnya.
“Saya kenal bengkel mobil langganan. Biasanya cepat.”
Shelina ragu sepersekian detik. Lalu mengangguk.
“Kalau tidak merepotkan.”
“Tidak sama sekali,” jawab Rangga.
“Anggap saja bentuk solidaritas sesama dosen yang masih waras.”
Shelina tersenyum tipis, hampir tak terlihat, tapi cukup nyata.
Rangga menelpon layanan servis, menjelaskan lokasi, lalu menutup panggilan. “Sekitar dua puluh menit.”
Shelina menghela napas pelan. “Terima kasih.”
“Dosen baru biasanya diuji,” ujar Rangga santai.
“Yang bertahan bukan yang galak, tetapi yang konsisten.”
Shelina menatap ban mobilnya lagi.
“Saya tidak berniat menyerah.”
Rangga tersenyum. “Kelihatan.”
Shelina tidak tahu atau mungkin belum ingin tahu bahwa ban kempes itu hanyalah awal. Karena di sudut lain kampus, seorang mahasiswa bernama Kaisar Pramudya sedang menatapnya kesal.
Seminggu kemudian.
Hanya butuh waktu tujuh hari bagi Shelina Santosa untuk menyimpulkan satu hal penting, Kaisar Pramudya bukan sekadar mahasiswa bermasalah dan ia adalah ujian kesabaran berjalan.
Hari pertama, ia datang terlambat, hari kedua, ia memotong penjelasan dan hari ketiga, ia tertawa keras di tengah kelas. Dan setiap kali ditegur, Kaisar selalu punya satu senjata yang sama, senyum santai dan tatapan seolah dunia tak pernah berhasil mengaturnya.
Shelina menahan diri.
Shelin, mencatat setiap pelanggaran, menyimpannya rapi di ingatan dan karena baginya, disiplin bukan tentang emosi, melainkan konsistensi.
Namun, hari itu, kesabarannya diuji dengan cara yang jauh lebih personal.
Jam istirahat siang.
Shelina keluar kelas lebih cepat karena toilet dosen penuh. Dia terpaksa menggunakan toilet mahasiswa di lantai bawah. Dengan gerakan refleks, ia melepas jas kremnya dan menggantungkannya di depan pintu, memastikan tidak terkena air.
Dia masuk lalu keluar beberapa menit kemudian. Shelina menatap kosong beberapa detik, mencoba mencerna, lorong sunyi. Tak ada siapa pun, hanya lantai dingin dan dinding kusam. Tetapi, kemana perginya jas miliknya yang dia simpan di luar.
Perasaannya tidak langsung meledak yang muncul justru perasaan asing, jengkel yang ditahan, marah yang dipaksa diam. Kemudian saat pergi ke kelas, Shelina mengajar tanpa memakai jas, hanya kemeja dengan lengan pendek yang memperlihatkan lengannya sesuatu yang biasanya selalu ia tutupi dengan rapi.
Begitu ia masuk kelas, suasana berubah, beberapa mahasiswa saling sikut. Beberapa tersenyum aneh, beberapa berani bersiul pelan.
“Wah, hari ini beda, Miss.”
“Baru kali ini lihat Miss Shelina tanpa jas.”
“Lebih … santai ya.”
"Lebih sexy," goda salah satu mahasiswa
Shelina berhenti di depan kelas. Tatapan matanya menyapu ruangan. Tidak tajam, tidak marah. Tapi cukup untuk membuat beberapa mahasiswa langsung menunduk.
“Kalau ada yang merasa hari ini saya berubah,” ucapnya datar, “itu hanya karena Anda terlalu terbiasa tidak fokus pada hal yang seharusnya.”
Kelas kembali sunyi.
Ia mulai mengajar seperti biasa. Suaranya tetap stabil, bahasanya tetap formal, tapi dadanya terasa berat. Bukan karena komentar murahan tetapi melainkan karena sesuatu yang hilang bukan hanya jasnya, martabatnya di permainkan.
Saat kelas berakhir, Shelina melangkah keluar lebih dulu. Di lorong, ia berhenti di depan tong sampah besar. Matanya tertuju pada kain krem yang familiar dan terlipat kasar di antara plastik dan kertas bekas.
Itu adalah jasnya kedua tangan Shelina terkepal erat. Tanpa mengambilnya tetapi membiarkan jas itu terbuang begitu saja.
Di sudut lain koridor, Kaisar bersandar santai bersama beberapa mahasiswa. Tatapannya bertemu dengan Shelina.
Shelina melangkah pergi tanpa sepatah kata. Namun, di dalam kepalanya, satu keputusan telah dibuat. Kaisar Pramudya mungkin menganggap ini permainan. Tapi Shelina Santosa tidak pernah bermain-main dalam hal batasan.
Sore itu, langit kampus berwarna jingga ketika Kaisar melangkah menuju parkiran bersama gengnya. Jaket hitamnya sudah melekat, helm di tangan, dan tawa ringan masih terdengar, itu seolah hari buruk di kelas tadi sudah selesai.
Ponselnya bergetar, nama Mommy tertera di layar ponselnya. Kaisar mengerutkan dahi. Ibunya jarang menelepon dengan nada mendesak.
“Kenapa, Mommy?” tanyanya begitu panggilan tersambung.
Suara Karina terdengar panik, napasnya tidak beraturan.
[Kamu ke rumah sakit sekarang.]
Kaisar berhenti melangkah. “Ada apa?”
[Pokoknya ke sini dulu,] potong Karina cepat. [Jangan tanya macam-macam.]
“Mom—”
[Sekarang, Kaisar!]
Sambungan terputus.
Rumah sakit menyambut Kaisar dengan bau antiseptik dan lorong panjang yang dingin. Langkahnya cepat, dadanya terasa sesak tanpa ia mengerti sebabnya.
Karina berdiri di ujung koridor lantai tiga. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi sikapnya tetap tegas seperti biasa.
“Ada apa sih, Mommy?” tanya Kaisar dengan suara ditekan.
Karina menarik napas panjang. “Pak Rudi … mantan asisten Daddy kamu.”
Kaisar terdiam, nama itu tidak asing meski jarang bertemu.
“Dia sekarat,” lanjut Karina pelan. “Dan dia punya satu permintaan terakhir.”
Kaisar menegang. “Permintaan apa?”
Karina menatap anak bungsunya lama, seolah menimbang kata-kata. Lalu, dengan suara yang terdengar terlalu tenang untuk kabar sebesar itu, ia berkata,
“Dia ingin kamu menikah dengan anak perempuannya.”
Kaisar tertawa singkat, reflek seakan menganggap itu hanya lelucon.
"Mommy serius,"
“Apa?!" teriaknya kemudian.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.