Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Dibawah Langit Malam
Seminggu berlalu dengan penuh sembunyi-sembunyi. Zayden, sang Panglima yang biasanya memimpin ratusan orang, kini berubah menjadi ahli strategi hanya untuk mencuri waktu dua jam bersama Amy.
Kencan pertama mereka bukan di restoran mewah, melainkan di sebuah bukit kecil di pinggiran kota yang sepi, tempat mereka bisa melihat lampu kota tanpa takut terlihat oleh mata-mata ayahnya Amy. Mereka duduk di atas kap mobil Zayden (kali ini ia membawa mobil tua yang ia bangun sendiri di bengkel agar Amy merasa nyaman).
Suasana yang awalnya hangat tiba-tiba berubah berat saat Amy menatap kosong ke arah lampu kota. Trauma yang ia pendam selama dua tahun akhirnya meluap.
"Zayden," panggil Amy pelan. Suaranya bergetar, memecah keheningan malam.
"Ya, Sayang?" Zayden menoleh, wajahnya melembut.
Amy menatap matanya dalam-dalam, ada luka yang begitu pedih di sana. "Apakah... apakah pacaran memang harus diakhiri dengan tidur bersama? Apa laki-laki hanya menginginkan itu?"
Zayden tertegun. Ia bisa merasakan arah pembicaraan ini bukan tentang mereka, tapi tentang sesuatu yang lebih besar dan menyakitkan.
"Aku sangat kecewa pada kakakkku, Zayden," lanjut Amy, air mata mulai menggenang. "Aku kecewa kenapa dia memberikan segalanya. Kenapa dia tidak memakai pengaman? Kenapa dia begitu bodoh sampai membiarkan dirinya hamil dan akhirnya memilih mati karena laki-laki itu meninggalkannya?"
Zayden terdiam seribu bahasa. Ia baru menyadari betapa dalamnya luka yang dibawa Amy setiap hari.
"Zayden... jawab jujur," Amy mencengkeram jaket Zayden. "Apa nanti, kalau kamu sudah mendapatkan segalanya dari aku... kalau aku hamil anakmu, apa kamu juga akan pergi? Apa aku hanya akan jadi bab lain dalam hidupmu yang akhirnya kamu buang?"
Zayden tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu meraih kedua tangan Amy dan menggenggamnya dengan sangat lembut, seolah Amy adalah porselen yang bisa pecah kapan saja. Ia tidak mencoba mengambil kesempatan, ia hanya ingin memberi kekuatan.
"Amy, dengerin gue," ucap Zayden, suaranya berat dan tulus. "Gue mungkin anak urakan. Gue mungkin nggak tahu banyak tentang aturan main orang-orang kaya di dunia lo. Tapi satu hal yang gue tahu, Cinta bukan tentang apa yang bisa gue ambil dari lo, tapi tentang apa yang bisa gue jaga buat lo."
Zayden menghapus air mata di pipi Amy dengan ibu jarinya.
"Tidur sama lo? Amy, bahkan buat nyentuh tangan lo aja gue gemeteran karena takut ngerusak kesucian lo. Gue bukan laki-laki yang bakal nuker masa depan lo demi kesenangan satu malam. Gue sayang sama lo bukan karena tubuh lo, tapi karena lo adalah satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa kalau Zayden Abbey itu manusia, bukan monster."
Zayden mengecup kening Amy lama sekali, kecupan yang penuh rasa hormat, bukan nafsu.
"Kalau soal meninggalkan?" Zayden tersenyum tipis. "Gue ini anak tunggal yang ibunya udah nggak ada dan ayahnya nggak nganggep gue ada. Gue tahu rasanya ditinggalkan, Amy. Rasanya kayak mati tapi napas masih jalan. Gue nggak akan pernah sanggup ngelakuin itu ke lo."
Zayden menatap langit. "Jika suatu saat dunia memaksa kita punya masa depan bersama, gue yang bakal jadi orang pertama yang berdiri di depan bokap lo, minta izin buat jagain lo secara sah. Bukan lewat jalan belakang yang bikin lo malu atau hancur. Gue mau lo jadi alasan gue buat hidup lebih lama, bukan alasan buat lo pengen mati."
Amy terpaku. Kata-kata Zayden yang puitis namun penuh komitmen itu meruntuhkan sisa-sisa es di hatinya. Untuk pertama kalinya, Amy merasa aman.
"Makasih, Zayden," bisik Amy, kali ini benar-benar menyandarkan kepalanya di bahu Zayden tanpa rasa takut.
"Sama-sama, Satu Derajat Celcius," sahut Zayden konyol lagi untuk mencairkan suasana.
"Lagian, kalau gue berani macem-macem sama lo, gue yakin arwah kakak lo bakal ngejar gue pake sapu, dan Dio bakal ngetawain gue tujuh turunan karena jadi pengecut. Gue nggak mau itu terjadi."
Amy tertawa kecil di tengah sisa tangisnya. Malam itu, suhu di hati Amy naik drastis. Bukan lagi satu derajat, mungkin sudah mencapai suhu yang cukup untuk memulai sebuah kehidupan yang baru.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍