Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23. Ren Zen dan Lyra vs Para Pengejar
Kabut pagi menggantung rendah di bagian utara ibukota Kekaisaran Awan Putih, menyelimuti pepohonan yang tidak terlalu rimbun dengan lapisan tipis berwarna keperakan. Udara dingin merayap masuk ke paru-paru, membawa aroma tanah basah dan daun tua.
Dari kejauhan, terdengar derap langkah cepat—dua sosok bergerak lincah menembus sela-sela batang pohon, menahan napas, menekan jejak.
Ren Zen berlari di depan.
Otot-ototnya padat dan terlatih, bergerak efisien setiap kali ia melompat, berbelok, atau menapak akar yang licin. Wajahnya tetap tenang meski napasnya sedikit memburu. Mata itu—tajam, fokus, seperti bilah pedang yang baru diasah—tak pernah berhenti menilai arah, jarak, dan kemungkinan.
Di belakangnya, Lyra mengikuti dengan langkah ringan nyaris tanpa suara. Rambut ungunya yang sebahu berayun lembut, memantulkan sinar matahari pagi yang menyelinap melalui kabut. Pakaian hitamnya melekat pas di tubuh ramping dan lentur, sabuk perak di pinggang berkilau singkat saat ia melompat dari batu ke batu. Senyum tipis menghiasi bibirnya, seolah kejaran ini hanyalah permainan yang sedikit lebih serius dari biasanya.
Satu jam yang lalu, mereka baru saja bertemu dengan lima pemuda dengan aura-aura mengerikan. Salah satunya adalah pemuda berambut perak, pemuda yang pernah Ren Zen kalahkan.
Untuk menghindari pertarungan, mereka berdua pun memilih melarikan diri. Akan tetapi kelima pemuda itu tidak ingin membiarkan mereka lolos begitu saja. Mereka berlima segera mengejar Ren Zen dan Lyra tanpa henti.
“Ke kiri,” bisik Ren Zen cepat, tanpa menoleh.
Lyra mengangguk dan mengikuti, berbelok tajam di balik pohon tua. Namun sebelum mereka bisa mempercepat jarak, tekanan aura berat tiba-tiba menyapu area itu seperti gelombang dingin.
Langkah Ren Zen terhenti.
Ia berbalik—dan mendapati lima sosok telah muncul dari balik pohon, membentuk setengah lingkaran yang kemudian menutup rapat, menjebak mereka di sebuah lapangan kecil yang dikelilingi pohon.
Kabut bergulung pelan di antara mereka.
Sosok pertama melangkah maju: rambut peraknya bergoyang pelan, jubahnya berkibar lembut tertiup angin utara. Zhang Luo. Wajahnya datar, namun mata itu—mata yang pernah merasakan kekalahan—menyimpan amarah tenang yang berbahaya.
“Kali ini kau tidak akan bisa lolos, bocah,” ucapnya lantang. Suaranya menggema pendek di antara pepohonan. “Aku pasti akan membunuhmu sekarang.”
Di sisi kanan Zhang Luo, Lian Zhi muncul dengan senyum congkak. Rambut emasnya memantulkan cahaya, dan ia mengibaskan tangan seolah menepiskan debu tak terlihat.
“Sungguh menyebalkan harus berlarian pagi-pagi begini. Semua hanya karena seorang bocah lemah. Aku tidak yakin kau dikalahkan oleh bocah seperti ini Zhang Luo.”
Zhang Luo mendengus. Tatapannya semakin membara kearah Ren Zen.
Di belakang mereka, Rong Ze berdiri dengan mata merah menyala, senyum tipisnya seperti milik serigala yang sudah mencium darah. Auranya liar, berdenyut tak sabar. Ia menjilat bibirnya perlahan, menatap Ren Zen seolah menilai mangsa.
Tak jauh darinya, Ling Xiu berdiri tanpa suara. Kulitnya pucat, mata biru pudar memandang lurus dan dingin. Pakaian hitam panjangnya berkibar, auranya tenang—tenang yang membuat bulu kuduk meremang.
Terakhir, langkah berat mengguncang tanah. Kai Lun maju satu langkah, tubuhnya tinggi besar, otot-ototnya menonjol jelas. Sebuah palu logam raksasa bertengger di pundaknya. Ia mengendus udara, mendengus pelan. “Bau mereka masih segar. Aku semakin tidak sabar ingin membunuh mereka.”
Mereka membentuk lingkaran, mengunci jalan Ren Zen dan Lyra untuk kabur.
Ren Zen berdiri tegak, tangannya mengepal. Ia menatap Zhang Luo tanpa gentar. “Kau masih belum belajar. Menyingkirlah, kami tidak ada urusan dengan kalian.” katanya tenang.
Urat di pelipis Zhang Luo berdenyut. “Jangan memancingku, bocah.”
Ling Xiu akhirnya membuka suara, suaranya datar seperti es. “Serahkan pusaka inti Sekte Pagoda Suci. Maka kami akan membiarkan kalian berdua pergi. Tanpa luka.”
Ren Zen tertawa kecil—singkat, tanpa humor. “Ternyata kalian adalah orang-orang Sekte Pagoda Suci. Dasar pengkhianat. Asal kalian tahu.., pusaka itu adalah wasiat terakhir guruku.” Ia menggeleng. “Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya. Aku sudah bersumpah untuk menjaganya dengan nyawaku sendiri.”
Lyra melangkah setengah langkah ke depan, berdiri sejajar dengan Ren Zen. Ia tersenyum tipis, matanya berkilau. “Kalau mau, silakan ambil sendiri,” ujarnya santai. “Itu juga kalau kalian mampu.”
Rong Ze mendengus. “Perempuan cerewet.”
“Mulutmu sangat bau,” balas Lyra ringan.
Suasana membeku sesaat.
Lalu—meledak.
Kai Lun meraung dan mengayunkan palu raksasanya.
"Palu Penggetar Bumi," ucapnya lantang.
Tanah retak saat palu itu menghantam, gelombang kejut menyebar seperti riak air. Ren Zen melompat ke samping, tubuhnya berputar di udara, mendarat ringan di balik batu.
“Awas!” seru Ren Zen cepat.
Lyra sudah bergerak. Dengan satu langkah geser, ia menghilang dari pandangan, hanya bayangan ungu yang tersisa. Sepasang belati tipis muncul di tangannya, berkilau dingin.
Lian Zhi tertawa dan membentangkan tangannya. Cahaya keemasan berputar, membentuk bilah energi. “Matilah!”
Bilah energi itu bergerak cepat kearah Ren Zen dan Lyra, namun mereka berdua dapat menghindarinya dengan mudah.
Zhang Luo melangkah maju, telapak tangannya menghantam udara. Tekanan berat menyapu ke arah Ren Zen, memaksa pemuda itu menahan dengan kedua lengannya. Otot-otot Ren Zen menegang, kakinya menancap dalam tanah.
“Teknik tekanan?” gumam Ren Zen. “Lambat.”
Ia memutar tubuhnya, memecah tekanan itu dengan aliran energi yang terkontrol. Dalam sekejap, ia melesat maju, tinjunya mengarah ke dada Zhang Luo. Zhang Luo menepis, namun benturan itu membuatnya mundur setengah langkah—cukup untuk membuat matanya melebar.
“Lebih kuat dari beberapa hari yang lalu,” desis Zhang Luo.
Di sisi lain, Lyra menari di antara bayangan. Sepasang belatinya bergerak cepat, memaksa Rong Ze mundur. Setiap serangan Lyra ringan namun tepat, memotong udara, mengincar titik-titik vital tanpa ragu.
“Berhenti bergerak!” geram Rong Ze, melepaskan tekanan auranya yang berada di ranah Kuno *1. Jari-jarinya mengeluarkan kuku-kuku tajam, layaknya serigala buas.
"Cakar Serigala Merah."
Ia melepaskan tiga cakaran berwarna merah pekat kearah Lyra.
Lyra melompat, berputar di udara. Tiga cakar itu lewat di bawah kakinya. Ia mendarat di dahan pohon, tersenyum. “Kau terlalu lambat.”
Ling Xiu bergerak.
Tanpa suara, ia muncul di belakang Ren Zen, tangan kanannya terangkat. Udara di sekitarnya membeku, suhu turun drastis.
Ren Zen merasakan bahaya dan berjongkok, berguling ke samping tepat saat tombak es menancap di tanah, memecahkan batu.
Ren Zen bangkit, napasnya tetap stabil. “Empat lawan satu?” katanya dingin. “Dasar pengecut.”
Kai Lun kembali menyerang, palunya menghantam bertubi-tubi. Ren Zen menghindar dengan langkah-langkah pendek, setiap gerakannya presisi. Saat palu itu menghantam tanah lagi, Ren Zen memanfaatkan celah—ia melompat ke arah lengan Kai Lun dan menghantam titik sendi dengan siku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
Lanjut Terussss.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru