NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeratan Vina

Galeri Nasional Indonesia, Opening Night, Pukul 18.30

Lampu sorot temaram menyapu dinding-dinding putih yang sakral, menyinari karya-karya seni dari berbagai generasi dan medium. Suara gemerisik gaun, obrolan berbahasa Indonesia dan Inggris yang terukur, dan gelas wine yang berdenting memenuhi ruang pamer utama. Udara berbau campuran parfum mahal, cat akrilik, dan sedikit kayu dari bingkai-bingkai baru.

Ferdy, Andika, dan Roni berdiri di depan sudut mereka yang diberi judul "PAMOR: Jejak yang Tertinggal". Ketiganya mengenakan pakaian yang disewa khusus untuk malam ini: Ferdy dengan setelan jas sederhana warna navy (hasil patungan bertiga), Andika dengan blazer hitam, Roni dengan kemeja putih dan vest. Mereka terlihat gugup namun bersinar.

Tiga karya mereka dipajang dengan sempurna. Pencahayaan spot yang diatur Kirana membuat tekstur pada foto-foto digital print itu terlihat nyaris tiga dimensi. Foto keris dengan refleksi samar menjadi pusat perhatian, diapit oleh foto guci retak dan kain tenun usang. Di bawahnya, teks kuratorial Pak Suryadi tertulis elegan, membuka interpretasi yang dalam.

"Wah, ini karya kalian? Sangat evocative," ujar seorang kolektor paruh baya, mengangguk-angguk.

"Terima kasih banyak," jawab Ferdy, berusaha terdengar percaya diri.

Di seberang ruangan, Kirana tampak seperti seorang konduktor yang mengatur simfoni acara. Dia mengenakan gaun jumpsuit panjang warna emas kusam yang sederhana namun elegan, rambutnya disanggul rapi, sepatu hak tinggi yang membantunya melesat dari satu titik ke titik lain.

Dia berbicara dengan kurator, memastikan tamu VIP mendapat katalog, mengatur timing sambutan, semuanya dengan senyum profesional dan gestur yang mulus. Sesekali matanya menyapu ruangan, mengecek keadaan, dan berhenti sebentar di sudut Ferdy dan kawan-kawan. Dia mengangguk kecil, memberi isyarat bahwa semuanya berjalan baik.

Dasima hadir di sana. Wujudnya yang biasanya samar, di ruang penuh energi manusia yang intens dan emosi yang beragam ini, justru terasa lebih kuat baginya.

Dia berdiri di dekat karya mereka, seperti penjaga yang bangga. Dia menyaksikan Raden Wijaya-nya—dalam wujud Ferdy yang gugup namun bersemangat—berdiri di antara para bangsawan dan saudagar modern, menerima penghargaan untuk bakatnya.

Ini adalah puncak yang tak pernah ia saksikan di kehidupan Raden yang dulu, yang selalu terbelenggu oleh politik dan perang.

"Kau layak mendapatkan ini," bisik Dasima, matanya berkaca-kaca melihat kebanggaan yang tersembunyi di balik senyuman nervous Ferdy.

Acara berjalan lancar. Beberapa tamu menunjukkan ketertarikan serius pada karya mereka, bertukar kartu nama. Pak Suryadi bahkan membawa seorang kurator dari Singapura untuk diperkenalkan. Momentum itu nyata. Ferdy bisa merasakannya—ini bukan akhir, tapi pintu pembuka yang lebar.

---

Pukul 20.15

Puncak acara sudah lewat, tamu-tamu mulai berbaur lebih santai, sebagian berpindah ke area resepsi untuk menikmati kudapan. Ferdy baru saja selesai berbincang dengan seorang jurnalis seni ketika dia melihatnya.

Vina.

Dia masuk ke ruang pamer, mengenakan dress merah menyala yang ketat dan pendek, dengan potongan yang menggoda.

Rambutnya tergerai, makeup-nya lebih dramatis dari biasanya, dengan highlight dan contour yang membuat wajahnya tampak seperti boneka porselen yang sempurna.

Langkahnya penuh percaya diri, matanya langsung mencari dan menemukan Ferdy. Senyumnya lebar, namun bagi Ferdy—dan terutama bagi Dasima—ada sesuatu yang tidak beres di baliknya.

Vina tidak sendirian. Di sekujur tubuhnya, khususnya di sekitar pinggang dan mata, berkeliaran khodam-khodam kecil berwarna merah muda dan ungu yang kini tampak lebih aktif, lebih besar, dan lebih… lapar.

Mereka meliuk-liuk dengan gerakan yang memabukkan, memancarkan energi magnetis yang kuat dan memaksa. Salah satu khodam yang berbentuk seperti asap dengan mata merah kecil bahkan mencoba menyebarkan "debu" energi ke arah beberapa pria di sekitar Vina, yang langsung meliriknya dengan pandangan terpana.

"Ini… lebih kuat dari sebelumnya," gumam Dasima, langsung siaga. Energinya yang tenang berubah menjadi waspada, membentuk perisai halus di sekitar Ferdy.

"Ferdy! Akhirnya ketemu!" sapa Vina dengan suara merdu yang sengaja dilembutkan. Dia langsung mendekat, melupakan protokol ruang pamer.

Tangannya menyentuh lengan Ferdy. "Karyamu luar biasa! Aku benar-benar terpesona." Matanya berkedip-kedip, dan dari pupilnya, seberkas cahaya ungu samar terpancar.

Ferdy langsung merasakan pusing. Bukan pusing biasa, tapi seperti kepala diisi kabut. Rasanya ingin menyenangkan Vina, ingin menuruti semua katanya. "Uh, terima kasih, Vina," jawabnya, suaranya terdengar datar di telinganya sendiri.

Andika dan Roni, yang melihat Vina mendekat, saling pandang dengan cemas. Mereka tahu reputasi Vina, tapi malam ini aura 'godaannya' terasa lebih kuat, bahkan mereka yang dari kejauhan sedikit merasa tidak nyaman.

"Aku ada di sini sendirian, teman-temanku pada nggak dateng," ujar Vina, mendekatkan wajahnya. Aroma parfumnya yang floral-berat bercampur dengan sesuatu yang manis dan memabukkan—aroma pesona.

"Bisa temenin aku sebentar? Aku mau denger cerita di balik karya-karyamu." Tangannya yang bercat kuku merah meraih lengan Ferdy lagi, dan kali ini sentuhannya terasa seperti sengatan listrik kecil yang membuat Ferdy linglung.

Ini bukan cuma rayuan biasa, pikir Ferdy yang setengah sadar. Ini… ada yang salah.

Di dalam kepalanya yang berkabut, sebuah suara panik berteriak: TOLAK! JAUHKAN DIA!

Itu suaranya sendiri, tapi diperkuat oleh kepanikan luar biasa yang bukan berasal dari dirinya. Itu "Melati".

Tapi tubuhnya sulit bergerak. Khodam-khodam Vina sudah bekerja cepat, menyelimuti aura Ferdy, mencoba merobek pertahanan alaminya dan "pelindung" samar dari Dasima. Mereka seperti lintah energi, menghisap kemauan dan memperkuat sugesti yang ditanamkan Vina.

Vina tersenyum puas, melihat mata Ferdy yang mulai kosong. "Ayo, kita ke balkon. Sepi di sana." Dia menarik lengan Ferdy dengan lembut tapi pasti.

Dasima tidak bisa lagi diam. Melihat Raden-nya diperdaya seperti ini, di puncak momen kebanggaannya, memicu amarah dan naluri perlindungan yang mendalam.

TIDAK! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU!

Energi Dasima yang biasanya lembut dan keemasan, tiba-tiba meledak. Wujudnya tampak lebih nyata sesaat bagi makhluk halus di sekitarnya—seorang perempuan dengan kebaya biru tua, rambut mengembang, mata madu yang kini menyala seperti api emas. Dia melangkah maju, menghalangi antara Ferdy dan khodam-khodam Vina.

"PERGI DARI SINI!" teriak Dasima, suaranya gelombang energi murni yang hanya bisa didengar oleh Vina (secara bawah sadar) dan khodam-khodamnya.

Khodam-khodam Vina terkejut, mundur. Tapi mereka jumlahnya banyak dan dipersenjatai oleh niat kuat Vina. Mereka berbalik menyerang Dasima, mencakar dengan energi negatif.

Pertempuran tak kasatmata pun terjadi di tengah keramaian pameran.

Dasima mengibaskan lengan energinya. Sebuah gelombang energi keemasan menyapu, mendorong khodam-khodam itu. Tapi mereka tangguh, dibuat khusus untuk pesona dan perlawanan. Mereka menyerang balik, mengikat Dasima dengan tali-tali energi hitam.

Sementara itu, Ferdy seperti orang berjalan dalam mimpi, hampir saja mengikuti Vina yang menariknya ke arah balkon.

Dasima, terikat, melihat Ferdy semakin menjauh. Keputusasaan menyergap. Dia tidak bisa kalah. Tidak di sini. Tidak sekarang.

Dia mengingat siapa dia.

Dasima, putri tabib, yang darahnya mengandung kekuatan pengobatan dan perlindungan. Dan dia juga adalah penunggu berusia lima abad, yang kekuatannya berasal dari cinta dan penantian yang tak terputus.

Dia memusatkan seluruh energinya, bukan untuk menyerang khodam-khodam itu, tetapi untuk menyentuh inti kesadaran Ferdy. Dia menarik napas energi yang dalam, dan dengan segenap jiwa raganya, meneriakkan sebuah nama ke dalam jiwa Ferdy:

"WIJAYA!"

Bukan Ferdy. Tapi nama aslinya, dari kehidupan lalu. Nama yang memiliki getaran jiwa yang sama.

Ferdy tiba-tiba terhenti di tempatnya, seperti ditampar keras di batin. Kabut di kepalanya pecah. Dia melihat sekeliling dengan mata yang tiba-tiba jernih. Tangannya yang dipegang Vina terasa asing dan menjijikkan.

"Lepasin!" geram Ferdy, menarik tangannya dengan kasar.

Vina terkejut. "F-Ferdy? Kenapa?"

Jauhin gue," kata Ferdy, suaranya rendah namun penuh tekad. Pikirannya kini bening, dan amarah mulai menggelegak. Dia sadar hampir saja diperdaya dengan cara yang tidak fair.

Tapi Vina belum menyerah. Dia menggigit bibirnya, dan dari dalam tas kecilnya, diam-diam dia meremas sebuah susuk kecil berbentuk boneka. Khodam-khodamnya, yang sempat terpental oleh teriakan Dasima, kembali bersatu, kali ini dengan intensitas lebih ganas. Mereka membentuk pusaran energi gelap kecil di sekitar Vina dan Ferdy, mencoba membutakan pikiran Ferdy sekali lagi.

Dasima, yang melihat ini, tahu dia harus mengakhiri ini. Melawan khodam-khodam itu frontal akan menghabiskan energinya dan mungkin menarik perhatian makhluk lain.

Tapi ada cara lain. Dia ingat pelajaran ayahnya: setiap pesona memiliki titik balik, celah di mana energinya rapuh.

Dia melayang mendekati Vina, bukan menyerang khodamnya, tetapi menatap langsung ke mata Vina. Dan dengan suara yang menembus langsung ke alam bawah sadar, dia membisikkan kebenaran:

"Dia tidak akan pernah mencintaimu. Pesonamu palsu. Yang kau tarik hanya nafsu dan kebencian. Lihatlah dirimu sendiri, tanpa topeng ini. KESEPIAN.

Kata-kata itu seperti anak panah es yang menancap di jiwa Vina. Matanya terbuka lebar, penuh teror. Untuk sepersekian detik, ilusi pesona itu buyar. Dia melihat dirinya sendiri: seorang wanita yang kesepian, menggunakan cara kotor untuk mendapatkan perhatian, dikelilingi oleh makhluk-makhluk mengerikan yang hanya memakan energi negatifnya.

Sebuah jeritan kecil tercekik keluar dari mulutnya. Khodam-khodamnya, yang tiba-tiba kehilangan 'makanan' utama yaitu keyakinan dan niat Vina, menjadi kacau. Mereka berputar-putar tak karuan, lalu satu per satu melemah dan menghilang, kembali ke alam mereka.

Vina terhuyung-huyung, wajahnya pucat pasi. Dia memandang Ferdy dengan ekspresi hancur, campur malu dan ketakutan yang nyata. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik dan berlari keluar dari ruang pamer, meninggalkan Ferdy yang masih berdiri dengan jantung berdebar kencang.

Ferdy menatap kepergian Vina, lalu memandang sekeliling. Tidak ada yang tampak aneh bagi tamu lain. Hanya Andika dan Roni yang mendekat dengan wajah khawatir.

"Loe kenapa, Fer? Tadi wajah loe kosong banget," tanya Andika.

"Dan tiba-tiba loe keliatan marah," tambah Roni.

Ferdy mengusap wajahnya. "Gue… gue nggak tau. Tadi pusing. Tapi sekarang…" Dia menarik napas. "Rasanya kayak baru bangun dari mimpi buruk."

Dari balik bahunya, Dasima berdiri dengan wujud yang agak goyah. Pertempuran tadi mengurasnya. Tapi dia tersenyum, lega. Dia berhasil. Dia melindungi Raden-nya.

Ferdy tiba-tiba merasakan wangi melati yang sangat kuat, hampir menyengat, lalu perlahan memudar menjadi aroma lembut yang biasa. Dia tahu. "Melati" baru saja melakukan sesuatu yang besar. "Makasih," bisiknya, sangat pelan.

"Ada apa?" tanya Roni.

"Gak ada. Gue cuma… perlu udara," jawab Ferdy.

Dia berjalan ke balkon yang awalnya hendak dituju Vina. Di sana, dia berdiri sendirian, menatap lampu-lampu kota Jakarta. Malam ini hampir menjadi bencana. Tapi sekali lagi, dia diselamatkan.

Kirana muncul di sampingnya, membawa dua gelas air. "Kau terlihat seperti baru melalui pertempuran," katanya, menyodorkan satu gelas.

Ferdy menerimanya. "Bisa dibilang begitu."

"Mbak berkebaya merah itu… kenalanmu?" tanya Kirana, diplomatis.

"Junior kampus. Tapi bukan orang yang baik buat diajak kenalan," jawab Ferdy jujur.

Kirana mengangguk, tidak mengejar.

"Karyamu mendapat banyak pujian tadi. Bahkan ada kolektor yang serius menanyakan harga. Pak Suryadi sangat senang."

Itu seharusnya membuatnya bersorak. Tapi momen tadi masih membayangi.

"Kirana," tanya Ferdy tiba-tiba, "apa kau percaya ada hal-hal… di luar yang kita lihat? Seperti energi, atau penunggu, atau… perlindungan?"

Kirana memandangnya, matanya yang sipit menatap tajam. Lalu, senyum kecil muncul.

"Ayah saya kolektor benda pusaka. Saya dibesarkan dengan cerita bahwa setiap benda punya riwayat dan 'penghuni'. Beberapa melindungi, beberapa menguji. Jadi ya, saya percaya. Kenapa tanya?"

Ferdy menghela napas. "Karena kadang… aku merasa dilindungi. Dan malam ini, aku yakin itu."

Kirana terdiam sebentar, lalu meneguk airnya.

"Maka berterimakasihlah pada pelindungmu. Dan jangan sia-siakan perlindungan itu dengan ceroboh." Ucapannya terdengar biasa, tapi ada bobot pengalaman di baliknya.

Mereka berdiri dalam keheningan yang nyaman untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kembali ke keramaian acara.

Di dalam, pameran terus berlanjut dengan sukses. Karya "PAMOR" menjadi salah satu pusat perbincangan.

Tapi bagi Ferdy, malam ini memiliki dua kemenangan: satu di dunia seni, dan satu di dunia yang tak kasatmata—di mana seorang wanita dari masa lalu berperang dengan segala yang dia punya untuk menjaga seorang pangeran yang tak lagi mengingatnya, membuktikan bahwa ikatan mereka lebih kuat dari pesona najis mana pun.

Dan Dasima, yang kini beristirahat dengan tenang di sudut ruangan, mengetahui bahwa perang mungkin belum berakhir. Tapi malam ini, dia menang. Dan yang terpenting, Raden-nya aman. Itu sudah cukup menjadi hadiah untuk lima abad penantian.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!