Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tidak Pergi
Pertanyaan Sasha menggantung di udara seperti kabut pekat yang menolak menghilang. Dingin, lembap, dan menyesakkan. Jika Dimas benar-benar sudah pernah berada di rumah ini jauh sebelum mereka pindah... jika pria itu mengenal setiap jengkal sudut tersembunyi di sini... maka rumah ini bukan lagi sebuah tempat berlindung. Bagi Sasha, rumah mewah yang seharusnya menjadi istana barunya ini mendadak berubah menjadi labirin maut di mana sang predator sudah lebih dulu menghafal setiap jalan keluar.
Sasha merasakan jemari tangannya seakan membeku. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin setelah hujan, tapi karena rasa ngeri yang merayap di bawah kulitnya. Namun, sebelum ia jatuh luruh ke lantai, sepasang lengan kokoh menangkapnya. Gio mendekap pinggangnya erat, memberikan tumpuan yang sangat ia butuhkan.
"Jangan takut. Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu," bisik Gio tepat di telinga Sasha. Suara berat dan bariton itu entah kenapa memberikan kehangatan yang perlahan menjalar ke seluruh tubuh Sasha, meredakan getaran di bahunya.
Gio membantu Sasha berdiri tegak. Meski lampu masih padam, Sasha bisa merasakan tatapan Gio yang intens tertuju padanya. Ada kemarahan yang berkilat di mata pria itu, namun saat beralih menatap Sasha, kilat itu berubah menjadi kelembutan yang dalam.
“Kita ke kamar,” ucap Gio dengan nada rendah namun penuh otoritas.
Langkah kaki mereka terasa seperti menyeret beban berat saat menaiki tangga. Listrik yang padam membuat suasana kian sunyi, hanya ada suara detak jantung Sasha yang berpacu cepat. Cahaya dari senter ponsel Gio membelah kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding. Sasha mencengkeram kemeja Gio begitu kuat, menyembunyikan wajahnya di balik lengan kokoh suaminya. Untuk pertama kalinya, ia merasa aroma parfum maskulin Gio yang bercampur sedikit aroma kopi adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras.
Begitu sampai di depan pintu kamar utama, Gio tiba-tiba berhenti. Jantung Sasha seakan melompat ke tenggorokan. Pintu itu… sedikit terbuka.
Padahal seingat Sasha, mereka sudah menutupnya rapat-rapat saat turun tadi. Hening yang menyelimuti lantai dua terasa begitu berat. Gio mendorong daun pintu kayu itu perlahan.
Cahaya senter menyapu seisi ruangan. Seprai masih rapi, namun ada sesuatu yang mengusik nurani Sasha. Ia merasa ada jejak yang tertinggal meski tidak terlihat.
“Di bawah bantal,” bisik Sasha dengan suara parau yang hampir hilang.
Gio melangkah maju ke sisi tempat tidur tempat Sasha biasa berbaring. Tangannya terulur, mengangkat bantal sutra berwarna putih itu. Dan di sanalah benda itu berada. Sebuah flash disk hitam pekat yang tampak begitu kontras di atas seprai mereka. Benda itu seolah menjadi pesan bisu bahwa privasi mereka hanyalah sebuah lelucon bagi si pengirim.
Gio membawa benda itu ke meja kerja. Ia menyalakan laptop yang masih memiliki sisa daya baterai. Cahaya biru dari layar segera menerangi wajah mereka yang pucat. Saat folder otomatis terbuka, napas Sasha mendadak terhenti. Puluhan video tersusun rapi dengan label tanggal yang berbeda-beda.
Satu klik, dan dunia Sasha runtuh.
Layar itu menampilkan rekaman dirinya. Saat ia menangis sendirian di malam pertama pernikahan mereka yang kaku. Saat ia duduk di lantai kamar, memeluk lutut dengan tatapan kosong karena meratapi nasibnya. Bahkan saat ia mengganti pakaian tanpa menyadari ada "mata" yang sedang memperhatikannya.
Sasha menutup mulutnya rapat-rapat, air mata tumpah ruah. Ia merasa telanjang, merasa dirampas kehormatannya tanpa pernah disentuh secara fisik. "Matikan, Gio... aku mohon, matikan..."
Gio segera menutup laptop itu dengan kasar hingga menimbulkan suara dentuman kecil. Ia berbalik, melihat Sasha yang sudah terduduk lemas di tepi ranjang dengan bahu yang terguncang. Rasa bersalah menghantam dada Gio. Selama ini, ia pikir dengan memberikan rumah mewah dan fasilitas, ia sudah melindungi Sasha. Ternyata, ia justru membiarkan istrinya hidup dalam sangkar yang diawasi monster.
Gio berlutut di depan Sasha. Ia tidak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai CEO yang kaku. Ia meraih kedua tangan Sasha yang gemetar dan mencium punggung tangan itu berkali-kali.
"Maafkan aku, Sasha. Maaf karena aku tidak ada di sini saat kamu merasa sendirian," ucap Gio tulus.
Sasha mendongak, matanya yang sembab menatap Gio. "Aku merasa kotor, Gio... dia melihat semuanya."
"Tidak," bantah Gio tegas namun lembut. Ia menangkup wajah Sasha dengan kedua tangannya, menghapus air mata dengan ibu jarinya. "Kamu tidak kotor. Kamu adalah wanita paling berani yang pernah aku kenal. Kamu bertahan di rumah ini sendirian saat aku sibuk dengan duniaku sendiri. Mulai detik ini, aku bersumpah, tidak akan ada satu detik pun aku membiarkanmu merasa tidak aman."
Tatapan mereka bertemu. Dalam keremangan kamar, Sasha melihat sisi lain dari pria yang menikahinya karena skandal ini. Tidak ada jarak lagi. Tidak ada lagi kontrak atau formalitas. Yang ada hanyalah seorang pria yang benar-benar ingin mendekap istrinya.
Perlahan, Gio menarik Sasha ke dalam pelukannya. Sasha tidak melawan. Ia justru menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Gio, menghirup dalam-dalam aroma pria itu yang kini menjadi candu baginya. Tangan Gio mengusap punggung Sasha dengan gerakan melingkar yang menenangkan.
"Aku di sini, Sasha. Aku tidak akan ke mana-mana," bisik Gio di sela rambut Sasha.
Momen itu terasa begitu abadi. Ketakutan yang tadi mencekam perlahan memudar, digantikan oleh debar jantung yang berbeda. Sasha mendongak sedikit, menatap bibir Gio yang berada tepat di depan matanya. Dan seolah ada magnet yang tak terlihat, jarak itu menghilang. Bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan yang lembut, penuh dengan rasa ingin melindungi dan rasa syukur karena mereka masih memiliki satu sama lain.
Kecupan itu terasa manis, berbeda dengan semua ketegangan yang mereka lalui. Bagi Sasha, ini adalah ciuman pertamanya yang benar-benar terasa nyata. Bukan karena tuntutan akting di depan media, tapi karena hatinya yang memilih.
Tepat saat itu, lampu kamar menyala. Klik.
Cahaya terang memenuhi ruangan, menandakan listrik telah kembali. Mereka berdua refleks sedikit menjauh dengan wajah yang merona merah. Gio berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya meski tatapan matanya tetap terkunci pada Sasha.
Ting!
Ponsel Gio yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
"Kalian sudah menemukan hadiahnya? Bagus. Tapi ingat Gio, Sasha tidak akan pernah benar-benar menjadi milikmu."
Gio membaca pesan itu. Kali ini, ia tidak terpancing emosi yang meledak-ledak. Ia justru tersenyum sinis dan mengetik balasan dengan tenang sambil merangkul pundak Sasha, membiarkan istrinya melihat apa yang ia tulis.
"Terima kasih atas videonya. Itu hanya membuktikan bahwa istriku tetap cantik bahkan saat dia sedang rapuh. Dan asal kau tahu, malam ini kami tidak lagi sendirian. Jangan pernah berani muncul lagi, atau aku pastikan kau membusuk di penjara sebelum sempat mengedipkan mata."
Sasha menatap Gio dengan kekaguman. "Kamu tidak takut dia marah?"
"Biarkan dia marah. Orang lemah hanya berani bersembunyi di balik kamera," jawab Gio mantap. Ia lalu mengecup kening Sasha lama. "Sekarang, kita turun ke bawah. Keamanan sudah sampai di depan."
Tepat saat mereka hendak melangkah keluar kamar, suara pintu depan di lantai bawah terbuka dengan suara derit yang panjang. Kriieettt...
Langkah kaki terdengar berat memasuki lobi rumah. Sasha kembali tegang, namun Gio menggenggam tangannya sangat erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatannya.
"Siapa itu, Mas?" tanya Sasha lirih.
Gio menoleh, memberikan senyuman tipis yang menenangkan. "Ayo kita lihat sama-sama. Siapa pun dia, dia harus tahu kalau kamu punya aku sekarang."