Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. PEMBERITAHUAN PHK
Suara mesin-mesin yang biasanya berdecit riang di lantai produksi PT. Indah Jaya Teknik terasa jauh lebih sunyi pada hari itu. Udara yang biasanya penuh dengan asap las dan debu besi tampak lebih sepi, dengan hanya beberapa pekerja yang masih aktif di posisi mereka – sebagian besar sudah mengetahui bahwa hari ini adalah hari di mana perusahaan akan memberikan keputusan akhir tentang PHK yang telah menjadi perbincangan hangat selama beberapa minggu terakhir.
Rian berdiri di depan mesin las yang telah menjadi teman kerjanya selama lima tahun, memeriksa setiap bagian dengan cermat seolah ingin mengingat setiap detailnya. Anton mendekat dengan langkah yang berat, wajahnya penuh dengan kesedihan dan kekhawatiran. “Rian, supervisor memanggil kita ke ruang rapat. Mereka bilang akan memberikan surat pemberitahuan kepada setiap karyawan yang terkena PHK,” ujarnya dengan suara yang rendah dan bergetar.
Rian mengangguk perlahan, sudah merasa ada yang tidak baik akan terjadi. Dia melepas sarung tangan pelindungnya dengan hati-hati dan menaruhnya di atas meja kerja, sebelum mengikuti Anton menuju ruang rapat yang terletak di lantai atas gedung pabrik. Di jalan menuju sana, mereka bertemu dengan beberapa teman kerja lain yang juga sedang bergerak ke arah yang sama – wajah mereka semuanya menunjukkan ekspresi yang sama: campuran antara ketakutan dan penerimaan akan takdir yang mungkin akan datang.
Di ruang rapat yang sudah dipenuhi dengan kursi kosong, Supervisor Budi yang biasanya selalu tampak tegas dan penuh semangat kini berdiri di depan dengan wajah yang pucat dan ekspresi yang penuh kesusahan. Dia melihat sekeliling ruangan, menatap setiap karyawan dengan mata yang penuh rasa iba sebelum akhirnya membuka mulut untuk berbicara.
“Sebelum saya mulai, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua teman-teman yang telah bekerja dengan keras dan setia selama bertahun-tahun untuk perusahaan ini,” ujarnya dengan suara yang jelas namun penuh emosi. “Kita semua tahu bahwa perusahaan sedang menghadapi kesulitan keuangan yang sangat berat, dan meskipun kita telah melakukan segala upaya untuk menyelamatkannya, akhirnya kita tidak punya pilihan lain selain melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sebagian karyawan.”
Suara itu seperti petir yang menyambar langsung ke hati Rian. Dia merasa dada semakin sesak, tapi tetap mencoba untuk tetap tenang dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Supervisor Budi.
“Berikut adalah nama-nama karyawan yang terkena PHK,” lanjut Supervisor Budi, mulai membaca daftar nama yang sudah disiapkan. Setiap kali nama seseorang disebutkan, suara napas yang terengah-engah dan tangisan kecil terdengar dari berbagai penjuru ruangan. Rian merasa hati semakin berat ketika nama-nama teman kerja yang dekat dengannya disebutkan satu per satu – Budi dari bagian perakitan, Sugeng dari kontrol kualitas, hingga Pak Slamet yang sudah bekerja selama sepuluh tahun.
“Rian Wijaya,”
Suara itu terdengar jelas di telinganya. Rian merasa seperti ada batu besar yang menimpa tubuhnya. Dia berdiri dengan pelan, merasa semua mata di ruangan tertuju padanya. Supervisor Budi memberikan pandangan yang penuh rasa iba kepadanya sebelum melanjutkan membaca daftar nama lainnya. Setelah selesai, setiap karyawan yang terkena PHK diminta untuk mendekat ke meja depan untuk menerima surat pemberitahuan resmi beserta dengan uang pesangon yang telah dihitung sesuai dengan masa kerja mereka.
Ketika giliran Rian tiba, dia menerima amplop berwarna putih dari tangan Supervisor Budi dengan tangan yang sedikit gemetar. “Maafkan saya Rian,” ujar Supervisor Budi dengan suara rendah. “Kamu adalah salah satu pekerja terbaik yang pernah saya miliki. Saya berharap kamu bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik di tempat lain.”
Rian hanya bisa mengangguk dan memberikan senyum yang terpaksa. Dia keluar dari ruang rapat dengan langkah yang lambat dan berat, menuju ruang ganti untuk mengambil barang-barangnya. Di sana, Anton yang tidak terkena PHK mendatanginya dengan pelukan yang erat. “Saya sangat menyesal Rian,” ujar Anton dengan suara yang penuh kesedihan. “Jika ada yang bisa saya bantu, jangan sungkan untuk bilang ya.”
“Terima kasih teman,” jawab Rian dengan suara yang sedikit terengah-engah. Dia membersihkan barang-barangnya dari lemari yang telah digunakan selama bertahun-tahun, menyimpan setiap benda dengan hati-hati ke dalam tas kecil yang dia bawa. Ketika dia keluar dari ruang ganti untuk yang terakhir kalinya, dia berhenti sejenak untuk melihat sekeliling lantai produksi yang sudah seperti rumah kedua baginya. Kenangan-kenangan selama lima tahun bekerja di sana mengalir deras di benaknya – candaan bersama teman kerja, kesusahan yang mereka lalui bersama, hingga kegembiraan ketika berhasil menyelesaikan proyek besar.
Perjalanan pulang menggunakan angkutan kota terasa lebih panjang dari biasanya. Rian duduk di pojok belakang, menatap pemandangan jalanan yang lewat dengan mata kosong. Amplop berisi surat PHK dan uang pesangon terasa sangat berat di dalam kantong jasanya. Dia memikirkan Novi, Hadian, dan Alea – bagaimana mereka akan bereaksi ketika mengetahui bahwa dia telah kehilangan pekerjaan yang menjadi tulang punggung penghasilan keluarga mereka. Meskipun mereka telah membicarakan kemungkinan ini sebelumnya, tapi menerima kenyataan yang sebenarnya adalah hal yang sama sekali berbeda.
Ketika sampai di depan komplek rumah kontrakan, Rian melihat Alea yang sedang bermain dengan boneka Kiki-nya di teras depan rumah bersama anak tetangga lainnya. Putri kecil itu langsung berlari ke arahnya dengan wajah yang ceria ketika melihat ayahnya datang.
“Papa sudah pulang! Kamu pulang lebih cepat ya hari ini,” ujar Alea dengan suara ceria, meraih tangan ayahnya dan menariknya ke arah rumah. Rian mencoba untuk memberikan senyum pada putrinya, tapi rasanya sangat sulit untuk menunjukkan ekspresi bahagia di wajahnya yang sedang penuh dengan kesedihan dan kekhawatiran.
Di dalam rumah, Novi sedang memasak makanan siang di dapur. Dia langsung menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi khawatir ketika melihat wajah suaminya yang pucat dan penuh dengan kesedihan.
“Sayang, apa terjadi? Kamu terlihat tidak baik sekali,” ujar Novi dengan suara yang penuh perhatian, segera mematikan kompor dan mendekat ke arah Rian. Hadian yang sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya di ruang tamu juga keluar dengan melihat wajah ayahnya yang tidak biasa.
Rian menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk mengatur napas dan emosinya sebelum berbicara. Dia melihat wajah istri dan anak-anaknya yang penuh dengan perhatian dan kekhawatiran, merasa bahwa kata-kata yang akan dia ucapkan adalah hal yang paling sulit yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.
“Aku menerima surat PHK dari perusahaan hari ini,” ujarnya dengan suara yang jelas namun penuh dengan emosi yang tertahan. “Perusahaan memang benar-benar melakukan pemutusan hubungan kerja, dan aku termasuk salah satu karyawan yang terkena dampaknya.”
Suara itu seperti petir yang menghancurkan kehangatan di dalam rumah. Novi merasa kaki nya menjadi lemah, dia harus menyandarkan tubuhnya pada meja makan agar tidak jatuh. Hadian berdiri dengan wajah yang penuh dengan keterkejutan dan kesedihan, tidak bisa berkata apa-apa. Alea yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi hanya melihat orang tuanya dengan wajah yang bingung dan sedikit takut.
“Tidak mungkin… kamu bilang kamu sudah tidak bekerja lagi?” tanya Novi dengan suara yang sedikit bergetar, mata nya sudah mulai berkaca-kaca. Rian mengangguk perlahan, mendekat ke arah istri dan membungkusnya dengan pelukan yang erat.
“Aku sudah melakukan segala yang bisa aku lakukan Sayang,” ujar Rian dengan suara yang penuh kesedihan, menahan air mata yang ingin keluar. “Tapi perusahaan memang tidak punya pilihan lain. Mereka memberikan uang pesangon sesuai dengan masa kerjaku, tapi itu tidak akan cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga kita dalam waktu yang lama.”
Novi menangis pelan di dalam pelukan suaminya, mencoba untuk tidak membuat suara terlalu keras agar tidak membuat anak-anak semakin khawatir. “Apa yang akan kita lakukan sekarang Sayang? Kita punya hutang untuk membayar, biaya sekolah anak-anak yang harus kita bayarkan, dan sewa rumah yang tidak bisa kita tunda,” ujarnya dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Rian memeluk istri dengan lebih erat, memberikan rasa aman sebanyak mungkin meskipun dia sendiri juga merasa sangat bingung dan takut dengan masa depan keluarga mereka. “Kita akan melalui ini bersama-sama Sayang,” ujarnya dengan suara yang penuh keyakinan, meskipun dalam hatinya dia sendiri tidak terlalu yakin bagaimana cara mereka akan melakukannya. “Kita punya uang pesangon yang bisa kita gunakan untuk beberapa bulan ke depan, dan aku akan segera mencari pekerjaan baru. Kita juga bisa mengatur ulang pengeluaran keluarga agar bisa lebih hemat.”
Hadian yang selama ini hanya berdiri diam akhirnya mendekat ke arah orang tuanya dan memeluk mereka dengan erat. “Papa tidak perlu khawatir ya,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar namun penuh semangat. “Aku akan belajar lebih giat dan tidak akan meminta barang-barang yang tidak penting lagi. Aku juga bisa membantu Bu Mama di pekerjaannya agar kamu tidak perlu terlalu bekerja keras Papa.”
Rian merasa mataharinya berkaca-kaca mendengar kata-kata putranya yang sudah mulai tumbuh dewasa. Dia melepaskan pelukan pada Novi dan membungkus putranya dengan pelukan yang erat. “Terima kasih Nak,” ujarnya dengan suara yang penuh kasih. “Kamu sudah sangat kuat dan dewasa untuk anak seusiamu. Papa sangat bangga padamu.”
Alea yang melihat semua itu juga berlari ke arah mereka dan masuk ke dalam pelukan keluarga. “Aku juga akan baik-baik saja Papa,” ujarnya dengan suara yang lembut, memeluk kaki ayahnya dengan erat. “Aku tidak akan menangis lagi kalau tidak dapat mainan baru.”
Melihat anak-anaknya yang begitu mengerti dan mendukungnya, Rian merasa sedikit lega meskipun beban yang dia pikul tetap sangat berat. Dia tahu bahwa mereka akan menghadapi masa-masa sulit yang panjang dan penuh dengan tantangan, tapi dia juga merasa bahwa dengan cinta dan dukungan dari keluarga kecilnya, mereka pasti akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada di depannya.
Setelah itu, Rian mengambil amplop berisi uang pesangon dari kantong jasanya dan memberikannya kepada Novi. “Ini uang pesangon yang diberikan perusahaan,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Kita harus menggunakannya dengan sangat hati-hati ya Sayang. Sebagian harus kita sisakan untuk kebutuhan mendesak, sebagian lagi bisa kita gunakan untuk modal jika aku menemukan kesempatan untuk usaha kecil atau mencari pekerjaan baru.”
Novi mengangguk dan menerima amplop dengan hati-hati, menyimpannya di dalam lemari yang aman. “Aku akan berbicara dengan Kakak Wati besok,” ujarnya dengan suara yang sudah mulai tenang kembali. “Mungkin dia bisa memberikan pekerjaan sambilan yang lebih banyak atau bahkan pekerjaan tetap untukku. Aku juga bisa mencoba untuk mencari pekerjaan lain di waktu senggang agar kita bisa mendapatkan penghasilan tambahan.”
Rian mengangguk dengan rasa terima kasih kepada istri yang selalu setia dan mendukungnya dalam setiap kesusahan. “Kita tidak boleh terlalu memaksakan diri ya Sayang,” ujarnya dengan suara yang penuh perhatian. “Kesehatan kamu dan anak-anak tetap yang paling penting. Kita bisa menemukan cara lain untuk bertahan hidup tanpa harus membuat kita semua terlalu capek.”
Mereka semua duduk bersama di ruang tamu, membicarakan berbagai langkah yang akan mereka lakukan untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti itu. Rian berencana untuk segera mengurus surat-surat pekerjaan dan mulai mencari lowongan kerja di perusahaan lain di kawasan industri Cirebon. Dia juga akan mempertimbangkan untuk mengikuti pelatihan keterampilan tambahan jika diperlukan agar bisa meningkatkan peluangnya untuk mendapatkan pekerjaan baru.
Novi berencana untuk berbicara dengan Kakak Wati tentang kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak atau bahkan menjadi karyawan tetap di usaha catering kakaknya. Dia juga akan mencari informasi tentang pekerjaan sambilan lain yang bisa dia lakukan di waktu senggang tanpa harus mengabaikan anak-anak.
Hadian bahkan menawarkan untuk mengurangi aktivitas ekstrakurikuler di sekolah agar mereka tidak perlu membayar biaya tambahan. Dia juga berjanji untuk membantu mengajar Alea belajar di rumah agar mereka tidak perlu membayar les tambahan untuk putrinya.
Meskipun jalan yang akan ditempuh tampak sangat sulit dan penuh dengan ketidakpastian, tapi Rian merasa bahwa ada sedikit harapan yang muncul di dalam hatinya ketika melihat keluarga kecilnya yang bersatu dan siap untuk menghadapi segala tantangan bersama-sama. Dia tahu bahwa mereka tidak akan sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit ini, dan bahwa cinta dan dukungan yang mereka miliki satu sama lain adalah kekuatan terbesar yang bisa mereka andalkan.
Di malam hari itu, ketika anak-anak sudah tertidur pulas, Rian dan Novi masih duduk bersama di teras depan rumah menikmati udara malam yang segar. Mereka tidak banyak berbicara, hanya saling memegang tangan dan melihat ke arah langit yang penuh dengan bintang-bintang kecil yang bersinar lembut. Rian berdoa dengan tulus dalam hati, meminta agar Tuhan memberikan kekuatan dan kebijaksanaan bagi dirinya dan keluarga untuk bisa melalui masa-masa sulit ini dengan selamat. Dia juga berdoa agar diberikan kesempatan yang baik untuk mendapatkan pekerjaan baru atau menemukan cara lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Meskipun masa depan masih sangat tidak jelas dan penuh dengan ketakutan, tapi Rian merasa bahwa dia memiliki alasan yang kuat untuk terus bertahan hidup dan bekerja keras – yaitu keluarga kecilnya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Dia bertekad untuk tidak pernah menyerah dan akan melakukan segala yang bisa dia lakukan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi istri dan anak-anaknya, bahkan jika itu berarti dia harus menghadapi segala kesulitan dan tantangan yang ada di depannya.
“Kita akan baik-baik saja Sayang,” ujar Rian dengan suara yang lembut, memeluk istri dengan erat. Novi hanya mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya, merasa bahwa meskipun dunia luar mungkin penuh dengan kesulitan dan ketidakpastian, tapi dengan adanya suami dan anak-anaknya, dia merasa bahwa dia memiliki segalanya yang dia butuhkan di dunia ini.