NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Artefak Langka Dari Banteng Roh

Hantaman kaki seberat ribuan kilogram membuat tanah di depan gua itu bergetar hebat. Seekor makhluk raksasa muncul dari kegelapan, membelah jalar-jalar akar dengan tanduknya yang lebar. Itu adalah Banteng Roh Kulit Batu, penguasa lereng utara yang berada di ranah Pembentukan Fondasi Lapis Satu. Kulitnya tidak ditutupi bulu, melainkan lempengan batu abu-abu yang keras dan saling bertumpuk seperti kulit badak.

“Zulong! Kau bilang dia hanya binatang roh biasa?! Ini monster Pembentukan Fondasi!” teriak Ji Zhen sambil melompat ke samping, menghindari serudukan maut yang menghancurkan sebatang pohon liang liu besar di belakangnya.

“Jangan banyak protes, Bocah! Kulit batunya memang keras, tapi sambungan antar bebatuannya adalah titik lemahnya. Gunakan otakmu, jangan hanya mengandalkan kaki untuk berlari!” balas Zulong, suaranya tetap tenang meski situasinya kritis.

Ji Zhen berguling di atas rumput, matanya menyisir gerakan sang banteng. Binatang itu berputar, mendengus mengeluarkan uap panas dari hidungnya, siap untuk serangan kedua. Ji Zhen yang menyadari hal itu pun menarik napas dalam, memanggil sirkulasi qi es dari meridiannya yang masih terasa perih.

“Baiklah, mari kita lihat seberapa keras batu ini,” gumam Ji Zhen. “Jelas ini tidak akan semudah menaklukkan kalkun cakar kapak yang biasa aku temui.”

Ia tidak merangsek maju dengan sembrono tapi dengan satu sentakan tangan untuk melepaskan Serigala Es. Energi dingin memadat membentuk tiga ekor serigala kristal yang berlari mengitari sang banteng. Binatang roh itu menggeram, mencoba menyeruduk serigala-serigala yang bergerak lincah tersebut. Saat fokus si banteng terpecah, Ji Zhen melesat ke arah samping.

“Sekarang! Incar kaki belakangnya!” perintah Zulong.

Ji Zhen menghantamkan telapak tangannya ke tanah. Paku Es Menusuk mencuat dari permukaan bumi, tajam dan padat. Namun, alih-alih mencoba menembus punggung yang terlindungi batu, paku-paku itu menghunjam tepat di lipatan sendi kaki belakang sang banteng. Suara krak terdengar saat es membeku di antara celah kulit batunya, menghambat gerak otot makhluk itu.

Banteng itu meraung kesakitan, gerakannya menjadi pincang. Melihat celah itu, Ji Zhen segera melompat tinggi. Pemuda Qingyun itu memusatkan seluruh sisa qi esnya ke jari telunjuknya, sampai terbentuk sebuah tombak es raksasa yang berkilauan.

“Tunggu… tiga detik… arahkan ke bawah leher saat dia mendongak!” Zulong memberi aba-aba dengan presisi.

Satu… dua… tiga!

Banteng itu mengangkat kepalanya untuk mengaum, memperlihatkan bagian bawah leher yang tidak terlindungi batu setebal punggungnya. Ji Zhen meluncur turun dengan kecepatan penuh. Tombak esnya menembus daging lunak di bawah rahang, menembus hingga ke otak. Makhluk raksasa itu membeku seketika dari dalam, sebelum akhirnya tumbang menghantam tanah dengan suara dentuman yang memekakkan telinga.

Ji Zhen mendarat dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat karena kelelahan, namun matanya berkilat senang. Di balik bangkai raksasa yang mulai memudar menjadi partikel energi itu, sebuah benda jatuh dari sela-sela tumpukan tulang yang tadi dijaga si banteng.

Itu adalah sebuah cawan emas murni. Ukurannya tidak terlalu besar, namun di sekeliling bibirnya melingkar untaian giok hijau yang memancarkan cahaya lembut.

“Gila! Aku kaya!” Ji Zhen memungut cawan itu dengan tangan gemetar, mengangkatnya ke arah sinar matahari. “Lihat emasnya, Zulong! Ukirannya sangat halus. Ini pasti laku ribuan keping emas di pasar Nancheng!”

“Dasar bodoh! Singkirkan pikiran picikmu itu!” sergah Zulong dengan nada menghina. “Kau pikir aku akan menyuruhmu mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan hiasan meja? Itu adalah Cawan Air Suci, artefak tingkat tinggi yang sangat langka.”

Ji Zhen mengerutkan kening, masih memandangi pernak-pernik giok di cawan itu. “Cawan Air Suci? Memangnya apa gunanya selain terlihat mewah?”

“Artefak itu memiliki kemampuan untuk memurnikan energi alam. Kau tinggal memasukkan air biasa ke dalamnya, dan dalam satu jam, air itu akan berubah menjadi Air Suci. Cairan itu bisa mempercepat pemulihan fondasimu yang retak dan memberikan energi murni untuk menerobos Pembentukan Fondasi tanpa hambatan. Ini jauh lebih berharga daripada pedang rongsokan di turnamen kemarin!”

Mata Ji Zhen lantas melebar. Ia menimang cawan itu dengan lebih hati-hati sekarang. “Bisa mengubah air biasa jadi air suci? Kalau begitu—” sebuah senyum licik melengkung di wajah Ji Zhen, “—aku tetap akan kaya! Aku bisa menjual air suci ini per botol kepada para kultivator di Nancheng. Mereka pasti akan berebut sampai berdarah-darah untuk membelinya!”

Zulong terdiam sejenak, lalu mendengus sangat keras hingga kepala Ji Zhen terasa pening. “Benar-benar tidak tertolong lagi. Kau memiliki kunci menuju keabadian di tanganmu, dan pikiranmu malah terjebak menjadi pedagang asongan. Betapa bodohnya bocah tua ini.”

Ji Zhen tertawa, tidak memedulikan ejekan Zulong. Ia segera memasukkan cawan emas itu ke dalam cincin ruangnya dengan gerakan cepat. Namun, sebelum ia benar-benar beranjak dari bangkai yang mulai hancur itu, matanya menangkap binar lain dari dalam gua. Ji Zhen segera memasuki gua dan mengambil sebuah bongkahan kristal biru pekat yang memancarkan hawa dingin alami.

“Ini kristal es inti yang kau ceritakan tadi?” tanya Ji Zhen, membolak-balik benda padat itu.

“Tepat. Binatang roh selevel itu biasanya menyimpan kristal semacam itu sebagai cadangan energi. Meski kekuatannya lumayan untuk berkultivasi, keberadaannya sekarang terasa agak hambar karena kau sudah punya Cawan Air Suci,” jawab Zulong.

Ji Zhen menimbang kristal itu di telapak tangannya. Meskipun cawan emas jauh lebih efektif untuk memperbaiki fondasinya yang retak, kristal es inti ini tetaplah komoditas berharga. “Simpan saja dulu. Ini bisa jadi cadangan darurat kalau cawan air suci tidak mencukupi, atau kalau aku butuh uang cepat untuk membeli pil penguat atau senjata baru. Hidup di Nancheng butuh modal besar, bukan?”

“Dasar pragmatis. Simpanlah sesukamu, asal jangan lupa jika kau punya misi utama dari pria caping itu,” Zulong mendengus lagi.

Alhasil Ji Zhen memasukkan kristal tersebut ke dalam cincin ruangnya dengan perasaan puas. Dunia mungkin menganggapnya kehilangan peluang di turnamen, namun di balik lereng utara ini, ia baru saja merampas harta yang jauh lebih berguna.

Ji Zhen berdiri tegak, merapikan pakaiannya yang sudah tidak beraturan. Ia teringat jika Guru Han Kong meminta bukti. Ia melangkah kembali ke arah banteng yang sudah membiru. Dengan bantuan energi es, ia memotong salah satu tanduk besar yang tersisa.

“Misi selesai,” gumam Ji Zhen sambil memanggul tanduk raksasa itu di pundaknya. “Sekarang tinggal lapor pada guru misterius itu. Aku ingin tahu ekspresi wajahnya saat melihat murid ‘lemah’ ini membawa kepala penguasa lereng utara, Ha ha ha!”

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!