Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: BADAI DI BALIK DINDING MAYFAIR
Malam seharusnya menjadi waktu untuk mencerna kenyataan pahit yang baru saja terungkap, namun bagi Elara, istirahat adalah kemewahan yang tidak bisa ia raih. Di kamarnya yang luas, ia duduk di depan meja rias, jemarinya terus meraba tengkuknya. Ada sensasi asing di sana sekarang—bukan lagi sekadar rasa sakit karena stres, melainkan kesadaran bahwa ada sesuatu yang ditanamkan secara paksa ke dalam tubuhnya.
Ia bukan lagi Elara Vance, mahasiswi seni. Ia adalah Aset 01.
Tiba-tiba, suara dentuman keras bergema dari lantai bawah. Bukan suara pintu yang terbanting, melainkan suara ledakan kecil yang diikuti oleh rentetan tembakan yang diredam.
Jantung Elara hampir melompat keluar dari dadanya. Ia berdiri, namun kakinya terasa lemas. Sebelum ia sempat mencapai pintu, pintu itu terbuka dengan kasar. Julian masuk dengan pistol di tangan, wajahnya tidak lagi tenang. Ada kegelapan yang murni di matanya.
"Ikut aku. Sekarang!" perintah Julian. Ia tidak menunggu jawaban. Ia menyambar pergelangan tangan Elara dan menariknya keluar ke koridor.
"Julian, ada apa? Siapa mereka?" tanya Elara dengan napas memburu.
"Faksi yang tidak sabar menunggu ekstraksi medis," jawab Julian pendek sambil terus bergerak menuju tangga belakang. "Mereka melumpuhkan sistem keamanan luar lebih cepat dari perkiraanku."
Suara tembakan kembali terdengar, kali ini lebih dekat. Elara bisa melihat bayangan beberapa pria berpakaian taktis hitam bergerak di balik jendela besar lobi. Marcus dan beberapa penjaga Moretti mencoba membalas tembakan, menciptakan kekacauan di rumah yang tadinya sunyi itu.
Saat mereka mencapai lantai bawah, sebuah peluru menghantam pilar tepat di samping kepala Elara. Pecahan marmer mengenai pipinya, meninggalkan luka gores yang perih. Julian segera memutar tubuhnya, menarik Elara ke balik dinding pelindung, dan membalas tembakan dengan presisi yang menakutkan.
"Dengarkan aku, Elara," Julian menatap mata Elara, mencengkeram bahunya kuat-kuat agar gadis itu fokus di tengah kepanikan. "Di ujung lorong ini ada lift menuju safe room di rubanah. Marcus akan membawamu ke sana. Kau jangan keluar sampai aku sendiri yang datang menjemputmu. Mengerti?"
"Lalu kau?" suara Elara bergetar.
Julian tidak menjawab. Ia hanya memeriksa sisa peluru di senjatanya. "Jangan pernah melepas cincin itu. Itu satu-satunya cara sistem cadanganku mengenalimu sebagai teman, bukan target."
"Julian!" Elara menahan lengan pria itu saat Julian hendak beranjak.
Julian berhenti sejenak, menatap tangan Elara di lengannya, lalu kembali menatap wajahnya. Untuk sesaat, topeng es itu retak. Ia menarik Elara dan mencium keningnya dengan cepat—bukan sebuah gestur romantis, melainkan sebuah tanda perpisahan yang mendesak.
"Pergi, Elara!"
Elara berlari menyusuri lorong yang gelap, sementara suara pertempuran di belakangnya semakin menggila. Marcus muncul dari kegelapan, memberikan perlindungan bagi Elara hingga mereka mencapai pintu lift baja. Namun, tepat saat pintu lift hampir tertutup, sebuah granat asap dilemparkan ke dalam lorong.
Asap tebal berwarna abu-abu memenuhi ruangan dalam sekejap. Elara terbatuk, matanya perih. Ia mendengar suara perkelahian fisik di luar lift—suara pukulan dan rintihan Marcus.
"Marcus?" panggil Elara panik.
Pintu lift yang seharusnya menutup terganjal oleh sebuah laras senapan. Sebuah tangan besar bersarung tangan hitam menarik pintu itu hingga terbuka kembali. Elara mundur hingga punggungnya menempel pada dinding besi lift yang dingin.
Dari balik kabut asap, muncul pria misterius dari pesta semalam. Pria dengan bekas luka di alisnya itu menatap Elara dengan senyum tipis yang dingin.
"Julian terlalu sombong jika mengira mansion ini tidak bisa ditembus," ucap pria itu. Ia melangkah masuk ke dalam lift, menutup pintu secara manual dari dalam.
"Jangan mendekat!" Elara mengangkat tasnya, satu-satunya benda yang ia pegang, mencoba melakukan perlawanan yang sia-sia.
Pria itu hanya tertawa kecil. Ia tidak menyerang. Ia justru merogoh sesuatu dari sakunya—sebuah perangkat elektronik kecil—dan menempelkannya pada dinding lift. "Aku tidak di sini untuk membunuhmu, Elara. Aku di sini untuk memberimu pilihan yang tidak diberikan Julian."
Layar kecil di perangkat itu menyala, menampilkan data biologis Elara yang sedang berdenyut. "Chip di tengkukmu itu memiliki protokol penghancuran diri jika dipindahkan secara paksa oleh orang yang salah. Julian tidak memberitahumu, kan? Bahwa ekstraksi di Zurich itu memiliki peluang kematian delapan puluh persen bagimu."
Napas Elara tercekat. "Kau bohong."
"Julian butuh datanya, Elara. Bukan nyawamu. Dia hanya ingin memastikan data itu tidak jatuh ke tangan musuh, bahkan jika itu artinya kau harus mati dalam prosesnya," pria itu mengulurkan tangan. "Ikut denganku. Aku punya teknisi yang bisa menonaktifkan chip itu tanpa membunuhmu. Kau bisa bebas. Benar-benar bebas dari Moretti, dari Ayahmu, dan dari perang ini."
Tiba-tiba, lift bergetar hebat. Suara hantaman keras terdengar dari atas langit-langit lift. Seseorang sedang mencoba masuk dari atas.
Elara menatap tangan pria misterius itu, lalu menatap pintu lift di mana Julian mungkin sedang bertaruh nyawa untuknya. Ia berada di titik paling krusial dalam hidupnya.
Apakah Julian adalah pelindung yang rela mengorbankannya demi aset? Ataukah pria asing ini hanyalah iblis lain yang menawarkan kebebasan palsu?