Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sisa Debu di Cangkir Porselen
Pagi itu, Kedai Harapan tidak langsung dibuka. Pintu kayunya masih tertutup rapat, memberikan ruang bagi keheningan yang syahdu setelah badai besar yang hampir meratakan segalanya. Di dalam, aroma antiseptik bercampur tajam dengan bau bubuk kopi yang baru digiling.
Rian terbaring di sofa panjang ruang tengah rumah Pak Jaya. Bahu kirinya sudah dijahit oleh mantri desa semalam—tujuh jahitan yang menurut Rian adalah "tanda mata" paling berkesan dari Niko. Wajahnya masih pucat, tapi ia sudah bisa duduk sambil menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal.
"Minum ini. Jangan banyak gerak dulu kalau nggak mau jahitannya lepas lagi," ujar Gia sambil meletakkan segelas jamu kunyit asam dan sepiring pisang rebus di meja kecil samping Rian.
Rian menatap piring itu dengan dahi berkerut. "Neng, aku ini habis selamat dari maut, lho. Masa dikasihnya pisang rebus? Nggak ada ayam goreng atau martabak gitu buat nambah darah?"
Gia berkacak pinggang, menatap Rian dengan mata yang masih sedikit sembap. "Pisang rebus itu bagus buat pencernaan. Lagian, kamu itu masih punya utang penjelasan sama aku. Gimana caranya kamu bisa selamat dari arus dermaga yang kayak gitu?"
Rian terkekeh, lalu meringis pelan saat luka di bahunya tertarik. "Insting, Neng. Pas peluru Niko nyerempet, aku sengaja jatuhin badan lebih dulu sebelum dia nembak lagi. Aku biarin arus bawa aku ke kolong dermaga. Di sana ada fondasi kayu tua yang lumayan buat pegangan. Sampai polisi dateng dan Niko dibawa, aku baru berenang ke arah gubuk nelayan di sisi timur."
Gia terdiam, membayangkan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati pria di depannya ini. Ia duduk di tepi sofa, jemarinya perlahan menyentuh tangan Rian yang kasar. "Rian, semuanya sudah benar-benar selesai di Jakarta. Mahendra sudah ditahan, asetnya dibekukan, dan firma lamamu sedang dalam pengawasan ketat."
Rian menatap langit-langit ruangan. "Belum semua, Gia. Mahendra itu cuma kepalanya. Badannya masih ada di mana-mana. Dan Danu... dia belum muncul sama sekali di berita, kan?"
Gia mengernyit. Benar juga. Sahabat Rian yang berkhianat itu seolah hilang ditelan bumi saat badai menghantam Mahendra Group.
"Dia licin, Gia. Danu itu tipe orang yang bakal loncat dari kapal sebelum kapalnya tenggelam," bisik Rian, matanya kini tampak sangat waspada.
Siang harinya, Kedai Harapan akhirnya dibuka kembali. Warga desa datang berbondong-bondong, bukan hanya untuk minum kopi, tapi untuk memastikan pahlawan mereka benar-benar sudah kembali. Pak Jaya tampak sibuk di bar, wajahnya cerah kembali, seolah beban puluhan tahun telah terangkat dari pundaknya.
Namun, di tengah keriuhan itu, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam metalik berhenti di depan kedai. Kali ini bukan mobil Mahendra. Mobil ini terlihat lebih elegan, tanpa ada kesan intimidasi yang norak.
Seorang wanita cantik berusia sekitar 30-an tahun turun dari mobil tersebut. Ia mengenakan setelan kantor yang sangat berkelas, kacamata hitamnya ia selipkan di kerah baju. Ia melangkah masuk ke kedai dengan langkah yang sangat terukur.
Gia yang sedang mengelap meja segera menghampirinya. "Selamat siang, selamat datang di Kedai Harapan. Mau pesan apa, Mbak?"
Wanita itu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang tajam namun tampak lelah. Ia mengabaikan menu yang disodorkan Gia. matanya menyapu seisi kedai hingga berhenti pada sosok Rian yang sedang duduk di pojokan sambil membaca koran.
"Rian Ardiansyah," panggil wanita itu. Suaranya jernih dan berwibawa.
Rian menurunkan korannya. Ekspresi wajahnya yang tadi santai mendadak berubah menjadi kaku, seperti melihat hantu dari masa lalu. "Maya? Ngapain kamu ke sini?"
Gia menoleh ke arah Rian, lalu kembali ke wanita itu. Maya? Siapa lagi ini? batin Gia dengan perasaan yang mulai tidak enak.
"Aku ke sini bukan buat berdebat soal masa lalu, Rian," ujar wanita bernama Maya itu sambil mendekati meja Rian. "Firma sedang hancur. Mahendra tertangkap, tapi Danu melarikan diri dengan membawa semua dana cadangan operasional. Kamu satu-satunya orang yang tahu di mana dia menyembunyikan 'arsip bayangan' itu."
Rian tertawa hambar. "Kalian yang mengusirku, kalian yang memfitnahku, dan sekarang kalian minta bantuanku buat nyari pengkhianat lain?"
"Ini bukan soal firma lagi, Rian," suara Maya merendah, ia melirik Gia sekilas sebelum kembali menatap Rian. "Danu merencanakan sesuatu yang lebih gila. Dia mau menjual desain jembatan layang yang gagal itu ke kontraktor di luar negeri tanpa memberitahu cacat konstruksinya. Kalau itu dibangun, korbannya bukan lagi di Jakarta, tapi di tempat lain. Kamu mau tanggung jawab kalau itu terjadi?"
Rian terdiam. Integritasnya sebagai arsitek kembali diuji. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja.
Gia melangkah mendekat, berdiri di samping Rian dengan tatapan protektif. "Maaf, Mbak. Rian baru saja sembuh dari luka tembak. Dia nggak akan pergi ke mana-mana, apalagi berurusan lagi dengan orang-orang seperti kalian."
Maya menatap Gia dengan tenang, hampir tanpa emosi. "Kamu pasti Gia. Rian banyak berubah ya, sekarang dia punya 'penjaga'. Tapi ini masalah profesional, Nona. Ribuan nyawa taruhannya."
Rian berdiri dengan perlahan, menahan rasa sakit di bahunya. Ia menatap Gia, seolah meminta izin lewat sorot matanya. "Gia, dia benar. Danu nggak boleh dibiarkan pakai hasil riset itu buat nyelakain orang lain."
"Tapi Rian, kamu masih luka!" protes Gia.
"Aku nggak perlu ke Jakarta, Gia. Aku cuma perlu akses ke sistem pusat mereka dari sini," Rian menoleh ke Maya. "Kasih aku akses enkripsi tingkat satu. Aku bakal bantu kalian melacak Danu, tapi setelah itu, jangan pernah temui aku atau Gia lagi. Anggap aku sudah mati di dermaga itu."
Maya mengangguk. "Deal."
Malam itu, Kedai Harapan berubah menjadi pusat operasi digital. Rian dengan bahu yang masih diperban duduk di depan tiga monitor yang dibawa oleh tim Maya. Gia setia menemani di sampingnya, meski hatinya gelisah melihat Rian kembali masuk ke dalam "dunia hitam" yang hampir membunuhnya.
"Ketemu," bisik Rian setelah tiga jam bekerja tanpa henti. "Dia nggak ke luar negeri. Dia ada di Kabanjahe, Sumatera Utara. Dia mau menemui pembeli rahasia di sana besok malam."
Rian menutup laptopnya dengan keras. Ia menatap Gia yang tertidur di sampingnya dengan posisi duduk. Ia mengusap rambut Gia dengan lembut.
"Maaf ya, Neng. Ternyata utang kopinya masih harus nambah satu babak lagi," gumam Rian pelan.
Tanpa sepengetahuan Rian, Gia sebenarnya tidak benar-benar tidur. Ia mendengar semuanya. Gia membuka matanya saat Rian memalingkan wajah. Ia tahu, petualangan mereka belum benar-benar berakhir. Danu adalah kepingan terakhir yang harus dibereskan sebelum mereka bisa benar-benar hidup tenang di desa.