NovelToon NovelToon
Glitz And Glamour

Glitz And Glamour

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Fantasi Wanita / Berondong / Playboy / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."

Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu yang Tidak Diundang

Matahari baru saja menyentuh balkon apartemen penthouse Claire yang serba putih saat pintu kamarnya digedor tanpa ampun. Claire, yang kecantikannya bahkan tetap paripurna dengan rambut berantakan, mengerang dari balik selimut sutranya.

"Claire! Bangun! Kita dalam masalah besar!" seru Siska, asisten pribadinya, sambil menyerbu masuk.

Claire duduk tegak, matanya menyipit. "Apa? Saham Aimo Group anjlok? Atau ada merk tas yang lupa kirim katalog terbaru?"

"Bukan! Manajer kamu baru saja menolak tawaran drama 'The Silent Heir'... lagi! Dan tebak siapa lawan mainnya?"

Claire kembali merebahkan diri dengan malas. "Laki-laki alat vacuum cleaner itu lagi? Tentu saja ditolak. Aku tidak mau bibirku berakhir seperti disedot mesin pembersih debu di depan kamera 4K. Reputasiku sebagai putri konglomerat terlalu mahal untuk itu."

Belum sempat Claire memejamkan mata kembali, suara bel apartemennya berbunyi secara brutal. Bukan sekali, tapi berkali-kali—seperti seseorang yang sedang menabuh genderang perang.

"Siska, cek siapa itu. Kalau itu wartawan, bilang aku sedang meditasi di Tibet," perintah Claire.

Siska berlari ke depan, namun tak sampai satu menit, langkah kaki berat terdengar mendekat ke arah kamar. Pintu kamar Claire terbuka lebar, dan di sana berdirilah sesosok pria dengan kacamata hitam yang disampirkan di kerah kemeja mahal yang kancing atasnya sengaja dibuka.

Leonard Abelano.

"Claire Odette Aimo," suara Leo rendah, bergema di ruangan itu dengan nada yang sangat tidak santai. "Kita perlu bicara. Sekarang."

Claire menarik selimutnya hingga ke dagu, menatap Leo dengan pandangan menghina. "Keluar dari kamarku, Leo. Kamu tidak punya sopan santun? Aku bahkan belum pakai skincare."

"Aku tidak peduli," Leo melangkah maju, mengabaikan Siska yang gemetar di ambang pintu.

"Ini penolakan kedelapan. Kedelapan, Claire! Artis papan atas mana pun di negara ini akan mengantre, bahkan membayar, untuk bisa satu frame denganku. Tapi kamu? Kamu menolak naskah terbaik tahun ini seolah itu sampah dapur."

Claire tertawa sinis, berdiri dari tempat tidur dengan anggun meskipun hanya memakai piyama satin. Dia melipat tangan di dada, menantang mata Leo yang tajam.

"Dengar ya, Tuan Duta Kokop," puji Claire dengan penekanan pada kata terakhir. "Aku masuk dunia ini untuk akting, bukan untuk ikut kompetisi 'siapa yang paling cepat kehabisan napas' saat adegan ciuman. Aku sudah lihat semua dramamu. Kamu tidak mencium mereka, Leo. Kamu melahap mereka. Aku lebih baik pensiun dini dan mengurus yayasan sosial daripada harus berurusan dengan alat cleaner sepertimu."

Wajah Leo mengeras. Dia melangkah satu inci lebih dekat, membuat Claire bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang mahal.

"Jadi itu masalahnya?" Leo menyeringai tipis, sebuah seringai yang biasanya membuat jutaan wanita pingsan. "Kamu takut tidak bisa mengimbangi permainanku?"

"Aku takut bibirku hilang, Leo!" balas Claire sengit.

Leo berdiri terpaku sejenak di tengah kamar mewah Claire. Hinaan "alat cleaner" itu masih berdengung di telinganya. Jika itu aktris lain, dia pasti sudah menyuruh manajernya untuk memblacklist nama mereka. Tapi ini Claire Odette Aimo.

"Kamu masih sama saja seperti dulu di St. George International," gumam Leo, suaranya kini lebih tenang namun tajam. "Sombong, merasa paling suci, dan selalu memandang rendah orang lain dari menara gadingmu."

Claire tertegun. Ingatannya melayang ke masa sepuluh tahun lalu di Inggris. Sebagai sesama anak konglomerat yang dibuang ke sekolah asrama elit di pinggiran London, mustahil mereka tidak saling tahu.

Leonard Abelano, saat itu usia 14 tahun, sudah menjadi pusat semesta. Sebagai anak kedua dari dinasti Abelano Group, Leo tidak memiliki beban berat untuk mewarisi takhta perusahaan seperti kakak laki-lakinya. Hal itu membuatnya menjadi remaja yang kurang kerjaan. Waktu luangnya di London habis untuk balapan mobil, berpesta, dan tentu saja, mematahkan hati gadis-gadis dari berbagai negara.

Sementara Claire, yang setahun lebih tua, adalah primadona di kelas senior. Dia disiplin, dingin, dan sangat fokus pada mimpinya di dunia seni peran. Mereka berada di lingkungan yang sama, menghirup udara London yang sama, namun Claire selalu membangun dinding kaca setinggi langit.

"Aku tidak memandang rendah orang lain, Leo," balas Claire, suaranya mendingin. "Aku hanya menjaga standar. Dan standar itu tidak termasuk bekerja dengan pria yang memperlakukan lokasi syuting seperti taman bermain pribadinya."

"Taman bermain?" Leo tertawa hambar. "Aku sudah membintangi dua belas drama dengan rating nomor satu. Aku bekerja keras untuk itu."

"Kamu bekerja keras untuk apa? Untuk menyalurkan hobi kokop-mematikan itu? Kamu masuk dunia akting karena kamu bosan jadi ahli waris yang tidak punya jabatan di perusahaan ayahmu, kan?"

Skakmat.

Claire tahu persis titik lemah Leo. Di balik popularitasnya, Leo sering dianggap sebagai "anak emas yang manja" oleh kalangan elit, yang lebih memilih berpose di depan kamera daripada duduk di ruang rapat Abelano Group.

Leo melangkah mendekat, kali ini begitu dekat hingga Claire bisa melihat pantulan dirinya di mata cokelat pria itu. Atmosfer di kamar itu tiba-tiba berubah, dari penuh amarah menjadi penuh ketegangan yang menyesakkan.

"Kalau begitu, buktikan," tantang Leo. "Mainkan drama ini denganku. Kalau kamu merasa aktingmu jauh lebih berkelas dariku, tunjukkan di depan kamera. Atau... kamu sebenarnya cuma takut kalau rumor itu benar? Takut kalau sekali aku menyentuhmu, kamu tidak akan bisa melupakannya?"

Claire mendengus, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu.

"Dalam mimpimu, Abelano."

"Naskah 'The Silent Heir' berlatar di London, Claire. Tempat kita sekolah dulu. Sutradaranya menginginkan chemistry alami antara dua orang yang paham rasanya kesepian di negeri orang. Jika kamu menolak lagi, aku akan memastikan seluruh industri tahu kalau Claire Odette Aimo tidak profesional karena masalah pribadi."

Leo berbalik, berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Satu lagi. Aku bukan Leo tahun yang dulu lagi, Claire. Dan soal julukan Duta Kokop itu... mungkin kamu harus merasakannya sendiri sebelum menghakimi."

Pintu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Claire yang gemetar karena geram dan sedikit rasa penasaran yang tidak ingin dia akui.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰😍

1
Retno Isusiloningtyas
happy ever after
Retno Isusiloningtyas
aku kok blm nerima undangannya yaaa🤭
ros 🍂: Ntar dikirimin ya kak undangannya 🤣
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
wow...
keren....
Retno Isusiloningtyas
seruuuuuu👍
Retno Isusiloningtyas
😍
Sweet Girl
Buktikan. Claire... dr pada mati penasaran.
Sweet Girl
Bwahahaha dibilang Duta Kokop.🤣
sasip
ngeri loh kalimat pernyataan leo: "satu²nya skenario yg ingin dipelajari sampe mati".. mantab jiwa.. 👍🏻🫣😉🤭😅
sasip
enggak nyangka ei.. novel sebagus ini masih sepi pembaca.. sy yg awalnya cuma iseng mampir gegara liat cover yg provokatif pun terhipnotis & kepengen baca terus, tapi sempetin mampir deh buat memberi semangat othor keren.. 👍🏻 TOP pake banged.. lanjut ya thor.. 🫶🏻💪🏻🫰🏻
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampirr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!