NovelToon NovelToon
Ibu Susu Bayi Sang Duda

Ibu Susu Bayi Sang Duda

Status: tamat
Genre:Duda / Janda / Selingkuh / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Hari yang seharusnya menjadi momen terindah bagi Hanum berubah menjadi mimpi buruk. Tepat menjelang persalinan, ia memergoki perselingkuhan suaminya. Pertengkaran berujung tragedi, bayinya tak terselamatkan, dan Hanum diceraikan dengan kejam. Dalam luka yang dalam, Hanum diminta menjadi ibu susu bagi bayi seorang duda, Abraham Biantara yaitu pria matang yang baru kehilangan istri saat melahirkan. Dua jiwa yang sama-sama terluka dipertemukan oleh takdir dan tangis seorang bayi. Bahkan, keduanya dipaksa menikah demi seorang bayi.

Mampukah Hanum menemukan kembali arti hidup dan cinta di balik peran barunya sebagai ibu susu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Calon pelakor

Beberapa hari kemudian, suasana kantor Abraham sedikit berbeda. Ruangan rapat utama dipenuhi dengan berbagai dokumen, proposal, dan blueprint proyek baru yang akan dikerjakan bersama perusahaan lain. Julio, tangan kanan Abraham, terlihat sibuk menata berkas di meja, menunggu keputusan akhir dari sang pemimpin.

Abraham masuk dengan langkah mantap, jas hitamnya terlipat rapi. Di,a duduk di kursi utama tanpa banyak bicara, lalu matanya jatuh pada satu nama di dokumen kerja sama itu. Rahangnya mengeras, matanya melebar.

“Batalkan proyek ini,” ujarnya tegas, membuat Julio menoleh kaget.

“Batalkan, Tuan?” Julio mengulang, memastikan ia tidak salah dengar.

Abraham menatap Julio dengan dingin. “Ya, selama orang itu yang memimpin, aku tidak akan pernah menjalin kerja sama. Aku tahu Rania. Dia terlalu emosional, tidak profesional. Aku tidak mau mencampurkan masa lalu ke dalam pekerjaanku.”

Julio menarik napas, lalu memberanikan diri menjelaskan. “Saya mengerti maksud Tuan. Tapi … proyek ini berbeda, perusahaan Rania menawarkan keuntungan dua kali lipat dibandingkan rekanan lain. Kalau kita menolak, kita justru kehilangan peluang besar. Bahkan investor luar sudah menaruh perhatian pada kerja sama ini.”

Abraham terdiam, jemarinya mengetuk meja pelan. Pandangannya tajam, seolah menghitung risiko di kepalanya. “Keuntungan dua kali lipat bukan alasan untuk menaruh bom waktu di dalam perusahaan, Julio.”

“Tapi Tuan selalu mengajarkan saya untuk tidak membiarkan perasaan mencampuri bisnis,” balas Julio hati-hati. “Saya yakin, kalaupun Nona Rania punya masalah pribadi, dia tidak akan berani membawa itu ke ranah kerja. Dia butuh reputasi baik, sama seperti kita.”

Keheningan memenuhi ruangan. Hanya suara jam dinding yang terdengar. Abraham menyandarkan tubuhnya ke kursi, menutup mata sejenak. Wajah Hanum sempat melintas di benaknya, begitu pula Alma, lalu bayangan Rania beberapa hari lalu saat datang ke rumahnya, semua itu bercampur aduk. Akhirnya, Abraham membuka mata kembali. Sorotnya tajam.

“Baiklah, kita jalankan proyek ini.”

Julio menghela napas lega, meski masih tegang.

“Tapi,” lanjut Abraham, “pastikan semua komunikasi resmi hanya lewat kamu. Aku tidak ingin banyak bertatap muka dengannya kecuali sangat terpaksa.”

“Baik, Tuan,” jawab Julio cepat.

Abraham berdiri, merapikan jasnya. “Ingat, Julio, sekali saja dia mencoba mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, aku yang akan menghentikannya. Tidak peduli seberapa besar keuntungan yang kita dapat.”

Julio mengangguk mantap, meski dalam hatinya bertanya-tanya, apakah keputusan itu benar-benar murni profesional, ataukah justru perasaan Abraham yang mulai goyah.

Rapat panjang akhirnya selesai, Abraham baru saja menutup berkas presentasi ketika Julio berbisik pelan, mengingatkan jadwal berikutnya. Di ruangan itu, Rania masih duduk dengan wajah penuh percaya diri, menatap Abraham seakan mereka masih punya urusan pribadi yang belum selesai.

“Kalau begitu, saya pamit. Kita bahas lanjutan proyek besok,” kata Abraham datar, lalu melangkah keluar tanpa memberi kesempatan Rania berbicara lebih jauh.

Namun, bukannya kembali ke ruangannya, Rania justru turun ke lobi untuk mengambil pesanan makan siangnya yang sudah dia atur sejak pagi. Dia sengaja memesan lebih banyak, dengan dalih untuk berbagi dengan Abraham.

Saat pintu lift terbuka, langkahnya terhenti. Pandangannya jatuh pada sosok wanita muda yang sedang duduk di kursi tunggu, menggenggam kotak bekal dengan wajah penuh harap.

Senyum tipis muncul di bibir Rania, namun senyum itu lebih mirip ejekan. Dia melangkah mendekat, lalu berpura-pura ramah.

“Oh … kamu istrinya Abraham, ya?” suaranya terdengar lembut, tapi matanya meneliti bekal di tangan Hanum. “Bawa makanan? Wah, sayang sekali.”

Hanum berdiri cepat, berusaha menjaga sopan santun. “Iya, Nona Rania. Saya memang datang untuk mengantar makan siang. Ibu mertua saya yang meminta. Tuan Abraham pasti belum sempat makan...”

Belum selesai, Rania menyela sambil terkekeh. “Kamu nggak tahu, ya? Abraham sudah pesan makan siang dari luar. Kebetulan saya yang mengurus pesanan itu. Jadi … sepertinya bekal kamu tidak akan terpakai.”

Hanum terdiam, wajahnya memucat. Dia melirik sekilas ke arah resepsionis yang sejak tadi melarangnya naik, seolah mendapat pembenaran dari ucapan Rania.

Namun Hanum mencoba bertahan. “Tapi … saya sudah menunggu hampir dua jam. Saya hanya ingin memastikan Tuan Abraham tidak melewatkan makan siang.”

Rania mendekat, menunduk sedikit seakan berbicara dengan anak kecil. “Sayang, kamu harus tahu … pria seperti Abraham tidak punya waktu untuk hal-hal sepele seperti ini. Dia sibuk, kalau kamu memaksa, itu sama saja mengganggunya.”

Kata-kata itu terasa seperti tamparan bagi Hanum. Ia menggenggam kotak bekal lebih erat, berusaha menahan air matanya. “Saya istrinya, tidak mungkin saya mengganggu.”

Resepsionis yang berdiri di meja tampak ragu, tetapi tetap menggeleng saat Hanum memohon izin untuk naik. “Maaf, Nyonya. Perintahnya jelas, tidak boleh ada yang masuk ke lantai eksekutif tanpa izin.”

Situasi semakin panas. Hanum yang mencoba bersabar, dan Rania yang terus menekan dengan senyum sinisnya. Tanpa mereka tahu, di lantai atas, Abraham baru saja menerima telepon dari ibunya, Siska.

[Hanum, mengantarkan makan siang untukmu. Jangan sampai kau lupa, Biam. Dia sudah berusaha.]

Seketika wajah dingin Abraham melunak. Ada perasaan hangat yang jarang muncul di dadanya. Dia langsung berdiri dari kursinya, meninggalkan Julio yang kebingungan.

“Aku turun ke lobi,” katanya singkat.

Sementara itu, di bawah, suara Hanum mulai bergetar ketika ia berkata, “Kalau Tuan Abraham memang menolak … biar saya sendiri yang mendengar darinya. Tidak perlu lewat orang lain.”

Rania mendecak pelan, hendak menanggapi lagi, tapi saat itu suara berat yang sangat dikenalnya terdengar di belakang mereka.

“Apa yang sedang terjadi di sini?”

Hanum dan Rania sama-sama terkejut. Abraham berdiri beberapa langkah dari mereka, tatapannya tajam menusuk.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝘼𝙗𝙧𝙖𝙝𝙖𝙢 𝙠𝙪𝙧𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙧𝙖𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙜𝙖𝙨 𝙠𝙚 𝙧𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙟𝙙 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚𝙠𝙖𝙣, 𝙠𝙧𝙣 𝙘𝙢 𝙖𝙣𝙘𝙖𝙢𝙖𝙣2 𝙖𝙟𝙖 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩 𝙧𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙝 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙖𝙦 𝙠𝙞𝙧𝙖 𝘼𝙗𝙧𝙖𝙝𝙖𝙢 𝙙𝙤𝙣𝙜𝙤😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙤𝙩𝙬 𝙗𝙪𝙘𝙞𝙣 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝘼𝙗𝙧𝙖𝙝𝙖𝙢2 𝙠𝙤𝙬𝙚 𝙠𝙞 𝙗𝙩𝙝 𝙃𝙖𝙣𝙪𝙢 𝙜𝙖𝙬𝙚 𝙖𝙣𝙠𝙢𝙪 𝙠𝙤𝙠 𝙢𝙡𝙝 𝙠𝙤𝙬𝙚 𝙨𝙞𝙣𝙜 𝙣𝙜𝙜𝙚𝙩𝙖𝙠2 𝙃𝙖𝙣𝙪𝙢, 𝙩𝙖𝙠 𝙨𝙡𝙚𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙥𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙬 𝙣𝙜𝙠𝙤 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙞𝙣𝙜𝙚𝙩 𝙨𝙢 𝙞𝙣𝙖𝙧𝙤𝙝 𝙠𝙡𝙤 𝙠𝙮𝙠 𝙜𝙞𝙣𝙞 😭😭😭🤣🤣
Ruk Mini
kadang org jahat boleh lh d bales asal setimpal, tpi memaaf kn jauh lbh hebat mmg sulit, aq sgt terkesan thor jon kehidupan yg berliku mmg hrs ttp d jalani inilh hidup ky Rollercoster, akhir yg sgt epik, tq thor d tgg karya" mu lgi🙏👍👍👍
Just_Emma
hanuuuummmm 😍😍😍
Zalmah Adiwi
novel pertama yg sy baca..keren bngt cerita..demen bngt dg tokoh bian..😍😍
Surya Panjaitan
baru bab 2. udh tegang x aku.. 👍👍
TRIDIAH SETIOWATI
bagus ceritanya
Imelda Mell Lele
wah ending yg bagus Thor..aq suka/Smile//Smile//Smile/
ig@__02chani: halo kakak 🙋🏻‍♀️ salam kenal.. jika berkenan & suka novel nuansa korea yg santai & humoris boleh mampir jg di novel "Chef Do", saya up tiap hari kak, terima kasih🙏🏻👍
total 1 replies
Ida Jubaidah
diatas di tulis kotak bekalnya diletakkan abraham duatas meja kerjanya...di bagian ini kenapa jadi dipegang sama hanum ya thor
lia permata
kerennn
Ryan Dynaz
cerita yg bagus..
Kamiem sag
luarbiasa bodoh dan kemahnya Hanum
cerita ini kira-kira direka tahun berapa sih thor???? kok masih ada orang kaya sebodoh dan selemah Hanum??? kan dia bisa bilang ke pelayan etalase " tolong cek cctv biar tau siapa yg memadukkan perhiadan itu kedalam tasnya Hanum???? "
ailehhhhh!!!!! cerita ini mentololkan pembaca
Kamiem sag
Hanum... selemah itu... akutak suka
apa salahnya Hanum membela diri, menunjukkan bahwa Lilis adalah pelakor dan pembunuh biar Lilis terkejut dan malu
tapi dasar!! Hanum lemah!!!
Kamiem sag
untuk menyusui bayi Kevin kan gak harus nikah
bisa kan cukup jadi ibu susu? bisa juga menyusui dgn menerima upah??
Kamiem sag
ikut baca siapa tau tokohnya bijak biar nular bijaknya
Reni Setia
makasih untuk karya novelnya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!