Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 - Permainan yang Dimulai Kembali
Ruangan itu tidak memiliki jendela.
Hanya satu lampu menggantung rendah,
cahayanya kuning redup,
cukup untuk menerangi dinding yang penuh tempelan.
Foto.
Banyak foto.
Tidak ada label.
Tidak ada garis merah seperti di film-film murahan.
Hanya foto-foto yang dipasang rapi, sejajar, presisi.
Karina.
Dalam berbagai sudut.
Saat di kantor.
Saat turun dari mobil.
Saat berbicara pada media.
Saat tidak sadar sedang diawasi.
Arga.
Lebih sedikit.
Tapi cukup untuk memahami ritmenya.
Cara berdiri.
Cara memperhatikan sekitar.
Dan Adelia Christy.
Foto paling baru.
Masih bersih.
Masih utuh.
Tangan itu terangkat perlahan.
Menyentuh sudut foto Adelia.
Mencabutnya dari dinding.
Kertasnya berdesir pelan.
Tidak ada kata-kata.
Tidak ada monolog.
Hanya satu keputusan yang sudah lama disiapkan.
Lampu ruangan dipadamkan.
...----------------...
Pelaku sudah duduk di sana sebelum mereka datang.
Posisi strategis.
Tidak mencolok.
Cukup dekat untuk mendengar potongan percakapan.
Karina terlihat berbeda malam itu.
Lebih manusia.
Lebih lelah.
Dan Adelia tertawa.
Tertawa yang terlalu bebas untuk dunia seperti ini.
Pelaku tidak langsung bereaksi.
Ia hanya mengamati.
Gestur tangan.
Nada suara.
Jarak kursi yang terlalu dekat.
Ia melihat bagaimana Adelia menyentuh tangan Karina.
Bagaimana Karina tidak menariknya.
Itu cukup.
Ketika mereka berpisah,
pelukan itu tidak lama.
Tapi cukup lama untuk memastikan sesuatu:
Adelia adalah titik lemah.
...----------------...
Adelia masuk ke mobilnya.
Pelaku menunggu beberapa detik.
Lalu bergerak.
Jarak dijaga.
Lampu jalan membantu.
Lalu lintas tidak terlalu ramai.
Mobil Adelia berhenti di depan rumahnya.
Rumah dengan pagar rendah.
Lampu teras menyala.
Ia turun.
Masuk.
Pintu tertutup.
Beberapa menit hening.
Lalu langkah itu mendekat.
Sisanya—
seperti yang sudah terjadi.
Bekapan dari belakang.
Pertanyaan yang tidak dijawab dengan jelas.
Satu pukulan.
Dua pilihan yang tak pernah benar-benar menjadi pilihan.
Dan ketika napas terakhir terlepas,
darah mulai mengering.
Huruf itu ditulis pelan.
A.
Bukan dengan tergesa.
Bukan dengan emosi.
Dengan presisi.
Pelaku berdiri beberapa detik lebih lama.
Seolah memastikan:
dampaknya akan cukup dalam.
Lalu pergi.
...----------------...
Pelaku berada cukup jauh saat garis polisi dipasang.
Ia melihat Karina datang.
Langkahnya cepat.
Lalu melambat.
Ada sesuatu dalam tubuh manusia yang mengenali alamat sebelum akal menerimanya.
Karina berhenti beberapa detik di depan rumah itu.
Pelaku melihat perubahan wajahnya.
Ia tahu momen itu penting.
Ketika kain penutup jasad diangkat,
pelaku tidak perlu mendekat.
Ia tahu siapa yang ada di bawahnya.
Yang menarik bukan tubuh tak bernyawa itu.
Tapi wajah Karina.
Mata yang mencoba tidak percaya.
Dagu yang mengeras menahan runtuh.
Lalu Arga mendekat.
Pelaku memperhatikan Arga.
Cara Arga memeluknya.
Cara ia membawa Karina menjauh.
Pelaku tidak tersenyum.
Tidak juga merasa puas.
Ia hanya mencatat.
Arga sekarang berada lebih dekat dari sebelumnya.
...----------------...
Malam itu, lampu ruang tamu masih menyala.
Dari jarak yang aman,
pelaku bisa melihat bayangan mereka melalui tirai tipis.
Karina duduk tertunduk.
Arga di sampingnya.
Percakapan tidak terdengar jelas,
tapi bahasa tubuh cukup.
Karina terlihat kecil.
Arga terlihat menjaga.
Pelaku berdiri cukup lama di seberang jalan.
Tidak mendekat.
Tidak perlu.
Permainan bukan tentang seberapa cepat seseorang jatuh.
Tapi seberapa lama ia sadar bahwa ia sedang didorong.
Lampu ruang tamu akhirnya dipadamkan.
Pelaku berbalik.
Langkahnya tenang.
Karena sekarang,
semuanya bergerak seperti yang diharapkan.
Dan mereka tidak pernah sadar—
bahwa sejak awal,
mereka tidak pernah benar-benar sendirian.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y