menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 24
Pertandingan voli pantai itu dimulai dengan kekacauan yang murni. Pasir putih beterbangan saat kedua tim mengambil posisi.
Kael, yang merasa dirinya adalah titisan komentator olahraga profesional, berdiri di pinggir lapangan dengan tangan melipat, siap meledakkan emosi siapa pun yang mendengar suaranya.
"Baiklah pemirsa yang budiman! Di sisi kiri kita punya **Tim Macan Ompong** yang dipimpin oleh Nona Besar Sasha, si tukang pukul ! Dan di sisi kanan ada **Tim Buku Berjalan** di bawah komando Kanjeng Ratu Aria!" teriak Kael dengan nada yang sengaja dibuat cempreng.
Sasha melemparkan tatapan membunuh. "Kau sebut kami apa tadi, Kael? Mau kumatikan mikrofonmu itu selamanya?"
Permainan dimulai! Yudas melakukan servis maut yang meluncur tajam.
Namun, bukannya mengenai bola dengan benar, Raka malah mencoba menangkis bola menggunakan gaya kaku seperti sedang menolak proposal anggaran.
"Aduh! Lihat itu pemirsa! Gaya menangkis Raka lebih mirip orang yang sedang menepis lalat di kantor OSIS! Benar-benar tidak atletis!" komentar Kael sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Raka mendengus kesal, "Diam kau, Kael! Fokus!"
Bola melambung ke arah Aria. Dengan sisa tenaga kerjanya, Aria melakukan *set* yang sempurna ke arah Indah.
Indah melompat tinggi—atau setidaknya mencoba melompat—namun ia malah terpeleset pasir dan jatuh terduduk. Bola mengenai kepalanya dan memantul kembali ke area lawan.
"POIN UNTUK TIM B! Teknik 'Sundulan Kepala Tanpa Sengaja' dari Indah benar-benar jenius! Sepertinya dia menggunakan gaya gravitasi bumi untuk mengecoh lawan!" Kael berguling-guling di pasir karena tertawa.
"Heh! Mana ada poin seperti itu!" protes Sasha tidak terima. "Tadi itu murni kecelakaan!"
Permainan semakin memanas dan penuh drama komedi.
Yudas berkali-kali mencoba melakukan *smash* keras, namun setiap kali ia melompat, Kael selalu berteriak, "Awas celanamu sobek, Yudas! Jangan terlalu tinggi, nanti kau terbang ke langit menyusul Sasha!" Hal itu membuat konsentrasi Yudas pecah dan bolanya malah tersangkut di net.
Lily, yang biasanya diam, mendadak menjadi sangat kompetitif.
Ia berlari mengejar bola ke sana kemari hingga menabrak tiang net. "Lily! Kau mau main voli atau mau merobohkan fasilitas pantai?" ejek Kael lagi.
Lily hanya bisa merengut sambil mengusap dahinya yang terkena net.
Sasha yang sudah naik darah karena komentar Kael, akhirnya berteriak, "Kael! Kalau kau bicara satu kata lagi tentang gaya main kami, aku akan menservis bola ini tepat ke mulutmu!"
Kael malah makin menjadi. "Wah, ada ancaman kekerasan dari Kapten Sasha! Pemirsa, sepertinya tekanan udara di Brazil merusak saraf kesabarannya!"
Aria mencoba menenangkan suasana sambil tertawa kecil. "Sudahlah, ayo fokus lagi!" Aria melakukan servis pelan, namun tiba-tiba angin laut berhembus kencang. Bola yang seharusnya jatuh di tengah lapangan malah melayang aneh.
Sasha bersiap melakukan *spike* sekuat tenaga untuk mengakhiri penderitaannya dari suara Kael. "Rasakan ini!" teriaknya sambil memukul bola dengan seluruh kekuatannya.
*DUAAARR!*
Bukannya jatuh di lapangan lawan, bola itu malah terpental karena mengenai ujung jari Raka yang mencoba memblokir.
Bola melesat jauh sekali, melewati pohon kelapa, melewati tikar mereka, dan terus terbang menuju area semak-semak di ujung pantai yang agak jauh.
Semua orang terdiam, napas mereka terengah-engah, wajah mereka penuh pasir dan keringat, namun mata mereka tertuju pada bola yang menghilang itu.
"Wah... itu tadi pukulan emosi tingkat tinggi," komentar Kael yang akhirnya sedikit terpukau. "Siapa yang mau ambil? Aku wasit, wasit tidak boleh meninggalkan pos!"
Indah, yang merasa paling bertanggung jawab karena tidak berhasil menahan bola tadi, mengangkat tangannya.
"Biar aku saja yang ambil! Kalian istirahatlah dulu!" Indah pun berlari kecil menuju arah jatuhnya bola, meninggalkan teman-temannya yang masih sibuk mengatur napas dan sebagian lagi masih ingin mencekik Kael.
---
Indah berjalan menyusuri bibir pantai yang mulai sepi menuju area semak-semak tempat bola voli tadi menghilang.
Namun, saat ia membungkuk untuk mengambil bola tersebut, langkahnya terhenti. Tiga orang laki-laki bertubuh tegap dengan gaya seperti anak kuliahan yang sedang berpesta tiba-tiba muncul dan menutup jalan keluarnya.
"Wah, lihat apa yang kita temukan di sini. Gadis manis yang sedang sendirian," ucap salah satu dari mereka dengan senyum nakal yang menjijikkan.
Indah mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. "Maaf, permisi. Aku hanya ingin mengambil bolaku," ujarnya sambil mencoba melewati mereka.
Laki-laki kedua menghalangi langkahnya. "Jangan buru-buru, Cantik. Pantai ini luas, kenapa tidak bermain bersama kami saja dulu? Teman-temanmu pasti tidak akan keberatan kalau kau terlambat sedikit."
Indah mulai panik. Ia menoleh ke arah teman-temannya, namun jarak mereka terlalu jauh. Suara deburan ombak dan keramaian di pusat pantai menelan suara kecilnya.
Orang-orang di sekitar hanya fokus pada kegiatan masing-masing, tidak menyadari drama yang sedang terjadi di sudut sepi itu. "Tolong, biarkan aku lewat. Aku sedang bersama teman-temanku," tolak Indah dengan suara bergetar.
---
Sementara itu, di bawah pohon kelapa, Sasha mulai tidak sabar. "Lama sekali anak itu. Mengambil bola saja seperti sedang melakukan ekspedisi ke kutub utara," gerutunya sambil berdiri.
"Mungkin dia kesulitan menemukannya di semak-semak," sahut Yudas.
Sasha menyipitkan mata, melihat ke arah siluet Indah yang tampak dikerumuni tiga orang.
Aura di sekitar Sasha mendadak mendingin. "Itu bukan sekadar mencari bola. Ada lalat sampah yang sedang mengganggunya. Yudas, Raka, ikut aku!"
Tanpa menunggu jawaban, Sasha melesat pergi dengan langkah lebar yang penuh amarah.
Yudas dan Raka segera menyusul di belakang, menyadari ada yang tidak beres.
Kembali ke tempat Indah, salah satu laki-laki itu mulai berani menyentuh bahu Indah. "Ayolah, jangan sombong—"
*TAK!*
Sebuah batu berukuran sebesar kepalan tangan melesat dengan kecepatan peluru, menghantam telak wajah laki-laki yang bicara tadi.
Ia langsung tersungkur ke pasir sambil memegangi hidungnya yang bersimbah darah.
Dua laki-laki lainnya terkejut, namun sebelum mereka sempat bereaksi, Sasha sudah berada di depan mereka dengan kecepatan kilat.
Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia melayangkan tinju keras ke ulu hati laki-laki kedua hingga pria itu terlipat dan jatuh berlutut, tak mampu mengeluarkan suara karena kehabisan napas.
Laki-laki terakhir mencoba menyerang, namun Sasha merunduk rendah dan memberikan tendangan memutar yang sangat kuat tepat ke arah lehernya. *BRAK!* Pria itu terpental jauh ke arah semak-semak, pingsan seketika.
Suasana menjadi sunyi. Orang-orang di sekitar pantai kini menoleh, terperangah melihat seorang gadis SMA baru saja menumbangkan tiga pria dewasa dalam hitungan detik.
Yudas dan Raka sampai di lokasi tepat saat Sasha merapikan pakaiannya. "Indah! Kau tidak apa-apa?" tanya Yudas dengan nada khawatir yang mendalam.
Raka memeriksa keadaan Indah dengan cemas. "Mereka menyakitimu? Katakan padaku bagian mana yang luka."
Indah menggeleng pelan, nafasnya masih tersengal karena syok. "Aku... aku tidak apa-apa. Terima kasih. Tapi mereka... mereka terlihat sangat kesakitan."
Sasha menatap ketiga pria yang mengerang di tanah dengan tatapan jijik, seolah-olah mereka hanyalah tumpukan sampah yang menghalangi jalan.
Ia mengambil bola voli dari pasir tanpa ekspresi.
"Sudah, ayo pergi. Tidak usah membuang waktu mengurusi sampah-sampah ini. Mereka masih beruntung aku tidak mematahkan leher mereka," ucap Sasha dingin sambil berbalik badan.
Sasha melangkah pergi dengan gaya angkuh yang khas, sementara Yudas dan Raka merangkul Indah untuk menjauh dari sana.
Orang-orang di sekitar hanya bisa menonton dengan mulut menganga saat kelompok remaja itu kembali ke area mereka, seolah-olah pertarungan brutal barusan hanyalah selingan kecil di hari libur mereka.
Bersambung...