NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Romansa
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengejar cinta anindya

Dokter Yudha menghela napas panjang. Ia mengambil amplop itu, namun bukan untuk membacanya. Ia justru merobeknya menjadi dua di depan mata Yoga.

"Yud! Apa yang kamu lakukan?" Yoga terperanjat.

"Aku menolak pengunduran dirimu," tegas Yudha. "Dunia medis butuh otakmu, Yoga.

Tapi, aku juga seorang pria yang tahu rasanya kehilangan arah. Kamu tidak butuh berhenti, kamu hanya butuh istirahat untuk membereskan kekacauan dalam hidupmu."

Yudha berdiri, berjalan ke arah jendela yang menghadap ke arah jalanan kota Yogyakarta. "Aku memberimu cuti panjang. Tanpa batas waktu. Pergilah ke Jakarta.

Selesaikan urusanmu dengan Anindya. Ambil kembali hatinya. Kembalilah ke rumah sakit ini hanya jika hatimu sudah tenang dan istrimu sudah kembali tersenyum di sampingmu."

Yoga tertegun. Rasa syukur yang luar biasa menyeruak di dadanya. "Terima kasih, Yud. Terima kasih banyak."

****

Yoga tidak membuang waktu. Ia segera kembali ke Surabaya hanya untuk membereskan beberapa urusan krusial sebelum benar-benar meninggalkan kota itu. Di lobi rumah sakit Surabaya, Cakra sudah menunggunya dengan wajah cemas.

Yoga menarik Cakra ke sudut yang sepi. "Cakra, mulai hari ini, segala operasional rumah sakit dan perusahaan ada di tanganmu. Koordinasikan semuanya dengan pusat di Yogyakarta. Aku sudah memberikan kuasa penuh padamu untuk menandatangani urusan mendesak."

Cakra tampak terkejut. "Bos, Anda mau pergi berapa lama?"

"Sampai istriku mau pulang denganku, Cakra," Yoga menepuk bahu asisten setianya itu. "Jaga tempat ini baik-baik. Dan satu lagi... pastikan Dokter Riana tidak mendapatkan akses apa pun ke ruang kerjaku selama aku tidak ada. Kamu mengerti?"

"Sangat mengerti, Bos," jawab Cakra tegas.

Perjalanan Menuju Jakarta

Tanpa menunggu supir, Yoga memutuskan untuk mengendarai mobilnya sendiri menuju Jakarta. Ia ingin merasakan setiap kilometer perjalanan itu sebagai bentuk penebusan dosanya. Sepanjang jalan tol Trans-Jawa, pikirannya tidak lepas dari wajah Anindya dan tawa kecil Arya.

Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, namun pikirannya justru melambat, memutar kembali memori tentang bagaimana ia sering melewatkan sarapan, bagaimana ia mengabaikan pesan singkat istrinya, dan bagaimana ia lebih memilih berdiskusi dengan Riana daripada menanyakan kabar Anindya.

"Tunggu aku, Anin. Aku datang bukan sebagai CEO atau Dokter Prayoga yang sombong. Aku datang sebagai suamimu yang butuh pengampunan," bisiknya di balik kemudi.

Malam itu, lampu-lampu Jakarta mulai terlihat di ufuk. Kota yang penuh hiruk-pikuk ini akan menjadi saksi perjuangan terakhir Yoga. Baginya, takhta dan jabatan kini hanyalah sampah jika dibandingkan dengan satu kesempatan untuk bisa membelai rambut Anindya dan meminta maaf di bawah kakinya.

Yoga memarkirkan mobilnya di depan gerbang besar kediaman Dokter Reza. Ia mengatur napasnya yang sesak, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar tak karuan. Pertempuran sesungguhnya untuk mendapatkan kembali cintanya baru saja dimulai.

Gerbang besi tempa yang menjulang tinggi di kediaman Dokter Reza di kawasan Menteng itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit yang seolah mengejek kehancuran hati Yoga. Mobil yang ia kendarai sendiri dari Surabaya itu tampak berdebu, kontras dengan deretan mobil mewah di garasi mertuanya yang selalu mengilat.

Yoga turun dengan langkah yang tak lagi tegak. Setelan jasnya sudah ia tanggalkan di mobil, menyisakan kemeja yang sedikit kusut—gambaran dari jiwanya yang compang-camping.

Di ruang tamu yang berplafon tinggi dengan lampu kristal yang megah, Mama Kanaya sudah menunggu. Ia duduk dengan anggun, menyesap tehnya, namun sorot matanya sedingin es saat menatap menantunya yang tampak kuyu itu.

"Aku sudah menduga kamu akan menyusul, Yoga," ucap Kanaya tanpa basa-basi, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu.

Yoga menunduk hormat, posisi yang jarang ia lakukan di Surabaya. "Ma, saya datang untuk meminta maaf. Saya ingin bertemu Anin dan Arya."

Kanaya meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi berdenting yang tajam. "Aku mengizinkanmu menginjakkan kaki di rumah ini hanya karena satu alasan: kamu adalah ayah biologis Arya. Selebihnya? Kamu hanyalah tamu bagi kami saat ini."

Yoga menelan ludah yang terasa pahit. "Terima kasih, Ma."

"Jangan senang dulu," potong Kanaya ketus. "Ada syaratnya. Kamu boleh menjenguk, kamu boleh berada di sini, tapi hanya jika Anindya bersedia menemuimu.

Jika dia bilang tidak, maka kamu harus tetap di kamarmu. Dan satu lagi..." Kanaya menjeda, menatap Yoga dengan penuh penekanan. "Kamu tidak akan tidur di kamar utama bersama Anindya."

****

Yoga dipandu oleh seorang pelayan menuju lantai bawah, area belakang yang dekat dengan taman. Ia tidak diarahkan ke lantai atas, tempat kamar mewah Anindya berada.

Pelayan itu membukakan sebuah pintu kamar tamu yang, meskipun sangat mewah untuk standar orang biasa, terasa seperti pengasingan bagi Yoga.

"Ini kamar Dokter Yoga selama di sini," ucap pelayan itu dengan sopan namun terasa berjarak.

Begitu pintu tertutup, Yoga luruh ke tepi ranjang. Ia menatap sekeliling. Tidak ada foto pernikahan mereka di sini. Tidak ada aroma parfum Anindya yang biasanya menenangkan saraf-sarafnya. Yang ada hanyalah keheningan dan wangi pembersih ruangan yang asing.

Perbedaan "kasta" ini menyiksanya secara batin. Di Surabaya, ia adalah raja di istananya sendiri. Ia adalah pengambil keputusan tunggal. Namun di sini, ia harus menunggu izin hanya untuk sekadar melihat wajah istrinya sendiri. Ia merasa seperti seorang peminta-minta di rumah yang seharusnya menjadi milik keluarganya juga.

****

Malam itu, setelah membersihkan diri, Yoga mencoba naik ke lantai dua. Dengan jantung berdebar, ia berdiri di depan pintu kamar Anindya. Ia bisa mendengar suara tawa kecil bayi di dalam sana—suara Arya.

Yoga mengetuk pintu dengan sangat perlahan. "Anin... ini aku, Mas Yoga. Boleh aku masuk sebentar saja? Aku ingin melihat Arya... aku ingin melihatmu."

Keheningan mengikuti ucapannya selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

"Mas pulang saja ke kamarmu," suara Anindya terdengar dari balik pintu, jernih namun tanpa emosi. "Aku sedang menyusui Arya dan aku belum siap melihat wajahmu. Tolong hargai permintaanku."

Yoga menyandarkan keningnya pada daun pintu yang dingin. "Hanya lima menit, Anin. Aku merindukan kalian sampai rasanya dadaku sesak."

"Dadaku sudah sesak selama tiga bulan, Mas. Lima menitmu tidak akan menyembuhkan luka tiga bulanku. Pergilah."

Yoga memejamkan mata rapat-rapat, menghalau air mata yang nyaris jatuh. Ia tidak membantah. Ia berbalik dan kembali menuruni tangga menuju kamar tamunya yang sepi. Di atas ranjang yang luas itu, Yoga meringkuk, menyadari bahwa perjalanan menjemput maaf ini akan jauh lebih sulit daripada operasi bedah saraf paling rumit yang pernah ia lakukan.

Ia adalah tamu di hidup istrinya sendiri, dan itu adalah hukuman paling berat yang pernah ia terima.

Tujuh hari telah berlalu sejak Yoga menginjakkan kaki di kediaman Menteng, dan selama tujuh hari itu pula, harga dirinya sebagai dokter besar telah ia tanggalkan sepenuhnya di depan pintu gerbang. Yoga tidak lagi peduli pada penampilannya.

Kemejanya sering kali tampak kusut, janggut tipis mulai tumbuh liar di rahangnya, dan matanya merah membara—bukan karena amarah, melainkan karena ia hampir tidak pernah memejamkan mata lebih dari dua jam setiap malamnya.

Setiap pagi, sebelum fajar benar-benar menyingsing, Yoga sudah berdiri di depan pintu kamar Anindya. Bukan untuk memaksa masuk, melainkan hanya untuk meletakkan seikat bunga lili putih—bunga favorit Anindya—yang masih berembun, yang ia beli sendiri dari pasar bunga subuh tadi.

Ia akan menunggu di selasar, berharap pintu itu terbuka. Dan ketika pintu itu akhirnya terbuka karena Anindya hendak membawa Arya berjemur, Yoga akan berdiri dengan tubuh yang sedikit gemetar, menatap istrinya dengan pandangan memuja sekaligus memohon.

"Anin... Sayang," bisik Yoga suatu pagi saat mereka berpapasan di balkon belakang. Suaranya pecah, serak oleh rindu yang menggunung.

Anindya hanya diam, terus menepuk-nepuk punggung Arya yang tertidur di gendongannya, seolah Yoga hanyalah bayangan yang lewat.

Yoga melangkah mendekat, menjaga jarak agar tidak membuat Anindya merasa terancam. "Lihat aku sekali saja, Anin. Aku mati tanpamu. Jakarta ini terasa begitu sempit dan sesak tanpa suaramu. Aku sudah tinggalkan semua itu... jabatan, takhta, semua ego CEO-ku sudah kubuang.

Aku hanya ingin menjadi suamimu lagi. Aku hanya ingin menjadi Papa yang bisa menggendong Arya saat dia terbangun malam hari."

Yoga merendahkan tubuhnya, hampir berlutut di atas lantai marmer yang dingin. "Kumohon, satu kali saja, lihat mataku... rasakan betapa hancurnya aku tanpa kalian."

****

Anindya berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, namun bukan tatapan cinta yang Yoga dapati, melainkan tatapan kosong yang menusuk hingga ke hulu hati.

"Kamu terlihat menyedihkan, Mas," ucap Anindya datar. "Tapi apakah kamu tahu apa yang lebih menyedihkan dari wajah kuyumu itu? Wajah Arya yang membiru karena panas tinggi saat ayahnya sedang sibuk tertawa di ruang kerjanya."

"Anin, aku sudah jelaskan semuanya—"

"Tidak perlu penjelasan lagi, Mas," potong Anindya dengan nada yang amat sangat lelah. "Kamu melakukan semua rayuan ini, membawakan bunga, membisikkan kata-kata mesra... menurutku itu bukan karena kamu sadar akan kesalahannya.

Kamu hanya merasa kehilangan 'pelayan' di rumahmu. Kamu kehilangan orang yang menyiapkan bajumu, yang mengurus rumahmu, dan yang selalu menunggumu tanpa mengeluh."

Anindya melangkah maju satu tindak, membuat Yoga terpaksa mendongak.

"Kamu tidak benar-benar meminta maaf padaku, Mas. Kamu hanya sedang merayu egomu sendiri agar tidak merasa kalah.

Bagimu, aku hanyalah bagian dari properti kesuksesanmu yang tiba-tiba hilang, bukan manusia yang punya rasa sakit."

"Itu tidak benar, Anin! Aku mencintaimu!" seru Yoga dengan air mata yang mulai menggenang.

"Cinta tidak membiarkan orang yang dicintainya berjuang sendirian di tengah malam yang mencekam, Mas. Cinta tidak memiliki ruang untuk wanita lain di saat istrinya sedang mempertaruhkan nyawa untuk anaknya," Anindya membuang muka.

"Simpan semua kata-kata manis itu. Bagiku, itu hanya terdengar seperti racun yang dibungkus madu."

Anindya melangkah pergi meninggalkan Yoga yang mematung di tengah teriknya matahari pagi Jakarta. Kata-kata Anindya barusan jauh lebih menyakitkan daripada tamparan di rumah sakit. Yoga menyadari bahwa ia tidak hanya harus meyakinkan Anindya tentang cintanya, tapi ia harus membuktikan bahwa ia telah benar-benar berubah dari seorang penguasa menjadi seorang pelayan bagi cinta mereka.

Malam itu, Yoga kembali ke kamar tamu. Ia duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur, menatap ponselnya yang berisi foto pernikahan mereka. Ia tidak akan menyerah.

Jika satu minggu tidak cukup, ia akan menunggu satu bulan. Jika satu bulan tidak cukup, ia akan menunggu seumur hidupnya di rumah ini sampai Anindya percaya bahwa penyesalannya bukanlah sebuah akting.

Malam di Menteng selalu terasa lebih panjang bagi mereka yang hatinya sedang dirundung lara. Di lorong remang-remang lantai dua kediaman Dokter Reza, sebuah bayangan pria tampak bersandar lesu di dinding, tepat di samping pintu kamar Anindya.

Itu adalah Yoga. Sang dokter hebat itu kini tak lebih dari seonggok raga yang kehilangan nyawa. Wajahnya yang dulu tegas dan berwibawa kini tampak tirus, dengan tulang pipi yang menonjol akibat nafsu makan yang telah hilang entah ke mana. Rambutnya berantakan, dan kemeja birunya nampak longgar di tubuhnya yang kian menyusut.

1
Mardiana
tegangggg.... kasihan Hanin nyawanya bolak balik terancam.....🤣🤣🤣
yuningsih titin: makasih komentarnya kak👍
total 1 replies
Siti Amyati
emang udah watak jahat di kasih kesempatan yg baik malah tetap bikin onar smoga dapat karma yg setimpal buat Dinda
yuningsih titin: makasih komentarnya kak
total 1 replies
Echy Izzafa
emang la kekanak-kanakan kamu anin dikit-dikit ada masalah ngadu ke mama
mana anin yang dulu hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua
ga selesai masalah kamu anin klo ditangani orang tua jangan manja
yuningsih titin: makasih komentarnya kak
total 1 replies
Echy Izzafa
koq muter2 ga jelas alur ceritanya ga sesuai harapan
yuningsih titin
makasih komentarnya kak
Echy Izzafa
semangat yoga
untuk dinda hukum tabur tuai semoga kamu n emak mu dapat karmanya segera
Siti Amyati
ngga suka sikap Anin,harusnya di omongi cari solusi bukanya setiap ada masalah lari ke ortu lanjut kak
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Semangat Yogaa
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!