sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pesan misterius
Hari pagi mulai menyapa, dengan badan ku lebih segar dan bergegas mandi karena ada suatu misi yang harus ku lakukan. Sebelum itu aku mengirim pesan pada seseorang untuk menemaniku bertemu dengan Gilang dan sang sahabat Nala.
Hai,, aku butuh bantuan. Boleh kamu mengantarku. Aku tunggu kamu di rumah 15 menit lagi aku siap.
Isi pesanku pada orang seseorang itu, aku tidak yakin bisa pergi sendiri untuk kali ini. Aku yang berantakan tak mungkin bisa kembali dengan secepat itu. Untuk itu aku meminta seseorang menemani ku.
Sesuai janjiku kepada orang itu 15 menit waktu yang cukup membuatku bersiap hingga kini aku menunggunya di ruang tamu harap cemas dia akan datang atau tidak.
Bruuummm,.. Terdengar bunyi motor yang amat berisik di teras rumahku . Aku yakin dia yang datang. Aku berlari memijak anak tangga dengan gusar. Aku mencoba tenang dengan keputusanku.
Aku gugup, tapi aku harus tenang.
" Ma Ila gak usah sarapan jadi kalau mama mau pergi segeralah. Aku tahu pekerjaan mama menunggu. " Ucapku saat melihat mama turun dari atas dengan penampilan yang berantakan dan terburu buru. Aku yakin dia sedang terburu buru untuk pergi bekerja.
"Hufft.. Sampai kapan." Aku membuang nafas sambil bergumam melihat keadaan rumahku. Dia terdiam menatap sekitar. Dia seperti terisolasi dalam kesunyian.
Sedangkan mama sudah beranjak meninggalkan tempat tinggalnya untuk ke kantor.
"Eh, nak Al. Kamu mau cari Ila ya rupanya dia mau pergi toh? Titip dia ya" Terdengar ucapan mama pada pengendara sepeda yang baru sampai tersebut yang tak lain adalah Alga saat berpapasan.
" Baik tante, Ila akan aman" Ucap orang itu dengan meyakinkan mamaku.
Aku yang mendengar dari dalam ikut keluar dan mengunci pintu rumah takut bila Alga menunggu lama. Sejenak aku terpaku melihatnya. Dengan jaket levis dan celana jins hitam yang amat kontras dengan warna kulitnya membuat dia terlihat sempurna.
Aku dan Alga kini sedang dalam perjalanan menuju tempat yang ingin mereka tujuh. Dengan hati yang terus berkecamuk dan menerka nerka di setiap jalan yang ku laluinya. Aku menatap jalanan yang padat di pagi ini. Raga diam memeluk Al dari boncengannya. Tapi kini jiwaku melalang buana memikirkan suatu yang belum tahu kemungkinannya.
Alga melihat raut wajahku yang tidak biasanya mulai peka terhadapku. Dia menarik tanganku, memegang nya. Hangat membuatku lebih tenang. Dia mengusap tanganku di selah menunggu lampu di depan berganti warna. Aku dengan reflek memandangnya punggung tegapnya dari boncengan ini.
" Dia, membuatku ingin memilikinya. " Batinku memikirkan bagaimana sempurnanya dia dalam pandangku.
" La, semua akan baik baik saja. " Alga menenangkanku lirih. Dia lihai dengan jalanan yang macet ini.
Aku sampai di tempat tujuanku saat beberapa waktu lalu aku harus berkawan dengan debu dan bisingnya kendaraan lain.
Kini aku berada di hamparan rumput yang hijau dengan pernak pernik bunga yang menghiasi. Aku melihat dua orang yang sedang duduk membelakangiku. Sepertinya mereka menungguku, mereka duduk dengan tenang dan rapi seperti tidak ada apa apa walaupun aku mengerti merekan menyimpan rapih.
Aku mendekatinya dan memberikan kotak berpita hijau dengan setumpuk kertas yang setiap saat aku temukan di teras rumah yang telah ku kumpulkan.
Aku melihat satu diantaranya terkejut. Wajahnya kentara menyiratkan keterkejutan. Aku membakar mereka dengan tatapan yang menusuk, memaksa mereka untuk jujur.
"Ada yang bisa jelaskan?" Aku menembak mereka dengan satu kalimat. Mereka memandangku dengan terperanjat. Mata mereka melebar. Seakan tak percaya.
" Apa itu? " Gilang menjawabku dengan menatapku tenang. Setenang air, tapi menghanyutkan. Aku hampir terperangkap. Aku menarik diriku dari perangkapnya.
"Bukan itu jawabanya. " Gilang dengan prinsipnya. Dia tetap ingin mengaburkan kebenarannya. Aku mencoba untuk tersenyum. Tetap diam dengan apa yang ku lihat. Aku menatapnya menelisik, mencari jawabannya. Dia pandai menyembunyikan kebenarannya. Bukan dia tujuanku.
" La, kamu paham dengan itu" Nala berucap memandangku ragu. Dia memalingkan wajahnya. Tatapannya tidak beraturan. Dia tidak pandai untuk itu.
"Kamu sangat yakin banget ya La? Emang kamu tahu"Aku mencercanya hingga dia terpojok. Bibirnya terbuka tapi tiada kata yang terucap.
" Kamu paham setiap pesannya. Dia sangat ingin kamu bahagia Ila. Sampai kapan kamu akan seperti ini? Apakah kamu tidak merasakan sakit?
Apakah kamu ingi menyiksa dirimu lagi? " Dia. Menjawab tepat sasaran. Menyentil sedikit ego yang terlalu sombong. Aku menatapnya datar.
" Katakan, dimana? " Aku meminta kejelasan padanya. Dia bungkam, mulutnya terbuka tapi urung memberi jawaban.
" Dia akan selalu ada Aila Putri Cantika, dia tidak pergi tapi dia tidak bisa menemuimu saat ini. Percayalah dia akan menemuimu sebentar lagi. Beri dia waktu percayalah." Sedangkan orang yang di sampingnya mulai memberiku kejelasan. Tanpa jawaban dimana dia yang kucari.
Masih tetap sama hanya teka teki yang kudapatkan. Lantas akankah aku harus menyusun teka teki itu sendiri. Bagaimana cara aku memulainya.
Tanpa sadar setiap perdebatan itu di saksikan Alga. Dia selalu mendengarkan dengan seksama dan memahami apa yang terjadi sekarang. Dia menjadi jalan tengah di antara kami.
" Jadi ini soal Aksara?" Alga menyahut dengan nada yang tak pernah aku fahami. Di sana ada api yang mencoba dia padamkan.
"Dan kenapa harus Tanala? Tidak ada yang lain? " Dia bertanya ulang dengan nada yang sama. Di sana terlihat, walaupun dia padamkan.
"Hanya dia, Gilang hanya pelengkap." Aku menjawabnya, tapi takut menatap mata itu. Tajam, seakan menguliti. Dia mengepalkan tangan lagi. Dia pandai mengontrol itu.
"Maaf, aku melibatkanmu inilah tujuanku agar aku tidak melewati batas. " Aku mencoba mendongak menatap matanya kembali dengan ragu ragu. Dia melemah, mengelus surai rambutku. Dia tersenyum membuatku tenang.
" Tanala kuncinya" Tangan itu kembali mengepal saat dia menyebut nama sahabatku. Apa yang terjadi. Apa yang aku lewatkan. Kenapa dia tahu.
" Tunggu dia pulang" Tanala yang sedari tadi diam mulak bersuara kembali. Tatapannya mengarah pada Alga dengan pandangan khawatir. Apa mereka mengenal.
"Mengapa aku harus menunggu? Dan kenapa jawaban Alga tepat sasaran? " Batinku mulai menari nari.
Aku diam diam memperhatikan gelagat mereka. Mulai dari Nala yang sibuk memilin ujung bajunya, Gilang yang menatap Nala dan Alga dengan sorot mata kecewa. Dan Alga yang menatap Nala dengan sorot mata yang tajam, sisi lain Alga terlihat. Buku jari Alga mengepal.
Aku memperhatikan mereka bergantian. "Tangan itu kembali, dia mulai terpancing. Ada apa? " Batinku bergejolak.
Dengan perlahan tanganku menyentuh tangan Alga. Ku tarik perlahan dan kubuka. Dia terluka, amarahnya dia tekan.
"Kenapa kamu menyakiti dirimu? " Aku meniup perlahan tangannya. Aku menelisiknya dengan tatapan menuntut.
" Tidak" Dia memalingkan wajah. Nafasnya memburu, jelas dia tidak ingin pertanyaan ini di teruskan.
Aku berpikir sudahi semua ini, kita di sini akan sama. Berakhir dengan luka masing masing. Belum saatnya semua terjawab. Ini terlalu cepat.
****