menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 Gerbang Zona Nol
Cahaya monokrom itu menelan segalanya. Ketika penglihatan Saka kembali, ia tidak lagi berada di gang gelap Jalan Braga tahun 2014. Ia berdiri di sebuah padang luas yang tak berujung, di bawah langit berwarna abu-abu statis seperti layar televisi yang kehilangan sinyal. Tidak ada angin, tidak ada suara, dan yang paling mengerikan: tidak ada waktu.
Di tempat ini, jarum jam pada arloji saku Saka berputar gila, seolah-olah ia sedang mencoba menemukan arah di tengah badai magnet.
"Selamat datang di Zona Nol, Saka," suara Rian dewasa terdengar hampa. "Tempat pembuangan bagi segala sesuatu yang dianggap 'kesalahan' oleh sejarah. Kenangan yang terbuang, orang yang terlupakan, dan garis waktu yang gagal... semuanya bermuara di sini."
Saka melihat ke bawah. Tanah yang ia pijak bukan terdiri dari pasir, melainkan jutaan lembar foto lama, sobekan surat, dan barang-barang pribadi yang sudah memudar warnanya. Ini adalah sampah memori dari seluruh umat manusia.
"Di mana ibuku?" tanya Saka, suaranya terdengar seperti bisikan di dalam gua.
Luna menunjuk ke sebuah struktur di kejauhan. Itu adalah sebuah mercusuar yang terbuat dari jam-jam raksasa yang saling bertumpuk, menjulang tinggi hingga menembus awan abu-abu. "Dia ada di puncak Menara Oblivion. Tapi hati-hati, Saka. Penjaga tempat ini bukanlah parasit waktu, melainkan The Remnants—sisa-sisa jiwa yang marah karena mereka dihapus dari ingatan orang yang mereka cintai."
Saka mulai berjalan menuju menara itu. Namun, baru beberapa langkah, tanah di bawahnya bergetar. Dari tumpukan sampah memori, bangkitlah sosok-sosok tanpa wajah yang terbungkus kain kafan berwarna abu-abu. Mereka adalah The Remnants.
"Berikan... ingatanmu..." bisik mereka serempak. Suara itu bukan terdengar di telinga, melainkan berdenyut di dalam kepala Saka. "Kami lapar akan... keberadaan..."
Saka segera mengaktifkan kekuatan dari luka hitam di tangannya. Namun, kali ini energinya terasa berbeda. "Rian, kenapa kekuatanku tidak mau keluar?"
"Di sini tidak ada waktu untuk dimanipulasi, Saka!" teriak Rian sambil menghantam salah satu sosok dengan koper besinya. "Kamu harus bertarung menggunakan tekad. Bayangkan sesuatu yang membuatmu merasa 'nyata'!"
Saka memejamkan mata. Ia membayangkan aroma parfum melati Anita. Ia membayangkan rasa sakit saat ia ditusuk dulu. Ia membayangkan senyum ibunya. Seketika, pilar cahaya emas memancar dari tubuhnya, menghalau sosok-sosok abu-abu itu kembali ke tumpukan debu.
Mereka sampai di gerbang Menara Oblivion. Di sana, berdiri sesosok pria yang sangat Saka kenal. Pria itu memakai jas lab putih yang sudah robek-robek.
"Dokter Aris?" Saka terperangah.
Pria itu mendongak. Wajahnya tampak sangat tua, seolah-olah ia sudah berada di sini selama ribuan tahun. "Saka... kamu akhirnya datang untuk menagih janji. Aku adalah sisa memori dari Aris yang asli, yang dibuang ke sini setelah kamu mengacaukan rencana The Eraser."
"Di mana ibuku, Aris?" Saka mencengkeram kerah baju pria itu.
"Dia ada di atas. Tapi dia bukan lagi ibu yang kamu kenal," Aris tertawa lirih. "Dia telah menjadi jantung dari tempat ini. Jika kamu membawanya pulang, Zona Nol akan runtuh, dan semua hal yang seharusnya terlupakan akan tumpah kembali ke dunia nyata. Kriminal yang sudah mati, wabah yang sudah musnah, dan kiamat yang sudah dihindari... semuanya akan kembali."
Saka melepaskan cengkeramannya. Ini adalah jebakan terakhir dari semesta. Menyelamatkan ibunya berarti menghancurkan dunia yang baru saja ia amankan.
"Ada jalan tengahnya," Luna berbisik, matanya menatap puncak menara. "Tapi itu membutuhkan seseorang untuk tetap tinggal di sini sebagai pengganti jantung menara ini. Seseorang yang memiliki cukup banyak 'beban waktu' untuk menyeimbangkan dimensi ini."
Saka menatap Rian dewasa, lalu menatap tangannya sendiri. Ia tahu apa yang harus dilakukan.
"Tidak, Saka. Bukan kamu," Rian dewasa melangkah maju. "Aku adalah Saka dari masa depan yang gagal. Aku tidak punya tempat di duniamu yang sekarang. Biarkan aku yang menebus kesalahanku di sini."
Namun, sebelum kesepakatan itu tercapai, sebuah ledakan besar mengguncang menara. Di puncak menara, sesosok wanita berdiri dengan mata yang bersinar putih terang. Itu adalah ibunya, namun auranya sangat gelap dan penuh dengan kekuatan penghancur.
"Saka..." suara ibunya menggelegar, meretakkan langit abu-abu Zona Nol. "Kenapa kamu membiarkanku berada di tempat gelap ini begitu lama?"