#Mertua Julid
Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.
Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.
Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.
Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.
Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Bayar ganti rugi
.
Safitri semakin kesal melihat Raka dan Amelia semakin dekat. Ia ingin melakukan sesuatu untuk memberikan pelajaran pada Amelia. Tapi apa? Hingga kemudian satu rencana jitu muncul di otaknya. Tak hanya akan menjadi pelajaran bagi Amelia tapi juga Bu Sukma.
Tapi bagaimana caranya? Ia tidak bisa bertindak sendiri. Karena itu, ia memutuskan untuk mencari bantuan dari luar.
Ketika malam tiba, Safitri diam-diam keluar rumah. Ia membawa sebuah amplop tebal berisi uang dan sebotol obat rumput yang sangat mematikan, yang ia curi dari persediaan obat tanaman milik ayahnya. Ia berjalan menuju sebuah rumah kecil di ujung desa, tempat seorang pria miskin bernama Barjo biasa berkumpul dengan teman-temannya.
Safitri membayar Barjo untuk merusak sawah Bu Sukma. Barjo adalah orang yang nekat dan tidak takut melakukan apapun demi uang. Ia menjanjikan sejumlah uang yang cukup besar kepada Barjo jika ia berhasil merusak tanaman padi Bu Sukma dengan obat rumput itu.
"Ini uang muka untukmu," ucap Safitri sambil menyerahkan amplop itu kepada Barjo. "Dan ini obat rumputnya. Pastikan semua tanaman padi Bu Sukma mati dalam semalam. Setelah pekerjaan selesai, aku akan memberikan sisanya."
Barjo menerima amplop dan botol itu dengan senyum licik. Matanya berbinar melihat tumpukan uang di dalamnya. "Jangan khawatir, Neng," ucapnya dengan nada serak. "Pekerjaan ini akan selesai dengan sempurna."
Setelah Safitri pergi, Barjo berunding dengan temannya. “Kita kerjakan nanti pas tengah malam saja," ucapnya. “Jangan lupa bawa tangki semprot!"
Ketika semua orang sedang terlelap bergelung selimut, mereka pergi ke sawah Bu Sukma. Mereka membawa botol obat rumput yang diserahkan oleh Safitri. Mereka menyelinap masuk ke sawah Bu Sukma dan mulai menyemprotkan obat rumput itu ke tanaman padi yang baru saja mulai berbunga.
"Aku tidak punya dendam denganmu, Bu Sukma," bisik Barjo sambil melangkah di antara rumpun padi. "Tapi aku suka dengan uang merah yang banyak.”
Setelah selesai menyemprotkan obat rumput, Barjo dan temannya bergegas meninggalkan sawah itu dan kembali ke rumah. Mereka merasa senang dan puas karena telah berhasil menjalankan aksinya.
Keesokan harinya, Bu Sukma yang pergi ke sawah untuk memetik cabai yang ada di pematang, terkejut saat melihat tanaman padinya layu. Daun-daunnya berubah menjadi coklat kehitaman.
"Ya Allah Gusti, apa yang terjadi dengan padiku?”
Suara teriakan histeris Bu Sukma memantik para petani yang sedang berada di sawah masing-masing berdatangan dan memeriksa tanaman padi Bu Sukma.
“Ya ampun, kok bisa kaya gini padimu, Bu?”
Mereka terkejut saat melihat kondisi sawah Bu Sukma. Pasalnya, baru kemarin sore mereka ngobrol bersama di pematang sawah, dan padi Bu Sukma masih baik-baik saja.
"Kalau ini jelas obat rumput ini,” pekik yang lain.
"Siapa yang tega melakukan ini?" gerutu Pak Karto dengan nada marah. "Ini sudah keterlaluan! Kalau disemprot obat rumput begini, bukan cuma layu, tapi mati semua!"
Para petani saling berpandangan dengan tatapan penuh curiga. Mereka menduga, ada seseorang yang sengaja merusak tanaman padi Bu Sukma.
.
Amelia yang sudah berada di kantor desa, terkejut saat seorang tetangga datang dan mengabarkan bahwa Bu Sukma sedang menangis di sawah. Ia pun bergegas pergi ke sawah diantarkan oleh Raka.
Di balik meja kerjanya, Safitri tersenyum puas.
.
Sesampai di sawah, Amelia mencoba menenangkan Bu Sukma. Melihat sekilas saja ia tahu jika itu adalah efek obat rumput.
"Ini benar-benar keterlaluan," ucap Raka dengan nada geram saat melihat kondisi tanaman padi Bu Sukma. "Siapa yang tega melakukan ini?"
"Ini pasti perbuatan orang yang sengaja merusak, Mas," ucap Amelia. "Lihat, tanaman padinya disemprot obat rumput. Ini obat rumput yang sangat kuat, Mas. Padi ibuku tidak akan bisa diselamatkan. Nanti siang saat matahari terik, padi ini akan wassalam."
Raka mengepalkan tangannya dengan geram. Ia merasa sangat marah dan bertekad untuk mencari tahu siapa pelaku perusakan tanaman padi Bu Sukma.
Namun, Raka bingung harus memulai penyelidikan dari mana. Tidak ada saksi mata, tidak ada petunjuk apapun yang bisa ia gunakan. Ia merasa frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Bu Sukma dan Amelia.
Ketika kondisi sawah Bu Sukma semakin menjadi perbincangan dari mulut ke mulut, dan bahkan terdengar hingga desa sebelah, tiba-tiba sebuah video tiba-tiba muncul di grup RT tempat Bu Sukma tinggal.
Entah siapa pengirimnya, yang jelas video itu berisi rekaman pertemuan dan percakapan antara Safitri dengan Barjo di rumah Barjo. Ada rekaman saat Barjo membuka amplop berisi uang dari safitri. Ada juga rekaman aksi Barjo dan teman-temannya saat menyemprotkan obat rumput di sawah Bu Sukma. Kualitas video itu cukup jelas, sehingga wajah semua yang terlibat, terlihat dengan sangat jelas.
Video itu langsung membuat geger seluruh warga desa. Semua orang terkejut dan marah melihat perbuatan Safitri dan Barjo. Mereka tidak menyangka, Safitri yang selama ini dikenal sebagai gadis yang baik dan sopan, ternyata bisa melakukan perbuatan sekeji itu.
Raka langsung menyuruh dua orang untuk memanggil Barjo dan Safitri yang ternyata sudah tidak berada di kantor.
Di pendopo kantor desa, suasana terasa tegang. Raka duduk di kursi kepala desa dengan raut wajah serius. Di hadapannya, duduk Safitri, Barjo, Bu Sukma, Amelia, dan beberapa perangkat desa. Dan Juragan Barnowo yang datang mendampingi anaknya.
Raka membuka suara dengan nada tegas. "Safitri, kenapa kamu tega menyuruh Barjo untuk merusak sawah Bu Sukma?"
Safitri menggelengkan kepalanya dengan panik. "Tidak, Mas Raka! Saya tidak melakukan itu! Video itu palsu! Itu fitnah!" ucap gadis itu dengan berlinang air mata.
Namun, Raka tidak terpengaruh. Ia memutar video tersebut di layar besar yang ada di balai desa. Semua orang bisa melihat dengan jelas, bagaimana Safitri menyerahkan uang dan botol obat rumput kepada Barjo.
Safitri terdiam membisu. Ia tidak bisa mengelak lagi, karena wajahnya terekam dengan sangat jelas di dalam video tersebut.
"Safitri, kenapa kamu melakukan ini?" tanya Bu Sukma dengan nada sedih dan kecewa. "Apa salah saya sama kamu?"
Safitri menundukkan kepalanya. Tangannya terkepal erat, wajahnya sama sekali tak menampakkan rasa penyesalan.
Juragan Barnowo menggeram marah melihat perbuatan Safitri yang telah merusak reputasinya.
"Kamu bodoh, Safitri!" bentak Juragan Barnowo dengan nada geram. "Kamu sudah membuat malu keluarga kita!"
Raka menatap Safitri dengan tatapan dingin. "Safitri, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu," ucapnya tegas. "Kamu sudah merugikan Bu Sukma dan membuat kekacauan di desa ini."
Raka kemudian menoleh ke arah Amelia. "Amel, aku serahkan keputusannya padamu," ucapnya. "Kamu yang berhak menentukan hukuman apa yang pantas untuk Safitri, karena kamu dan Bu Sukma yang dirugikan."
Amelia berdiri dan menatap Safitri dengan tatapan dingin.
"Safitri," ucap Amelia dengan nada tenang. "Aku memberikanmu dua pilihan. Bayar ganti rugi kepada ibuku senilai hasil panen padi seluas seperempat hektar sawah, atau aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Pilihan ada di tanganmu.”
Suara Amelia tetap tenang namun menusuk. Gadis itu sudah berunding dengan Bu Sukma sebelumnya. Sawah Bu Sukma yang dirusak oleh Safitri memang seluas seperempat hektar.
Safitri menatap Amelia dengan amarah yang membara.
Juragan Barnowo yang mendengar tuntutan Amelia maju ke depan dan berbicara dengan nada membujuk.
"Nak Amelia, sudahlah. Aku mohon, maafkan Safitri. Dia sudah mengaku bersalah dan menyesali perbuatannya. Mungkin dia hanya berniat main-main saja."
Amelia menatap Juragan Barnowo dengan tatapan dingin. “Main-main? Dengan menghancurkan tanaman orang? Jika ada orang yang melakukan hal itu pada sawah Juragan, apa Juragan akan memaafkan?"
Juragan Barnowo terkejut mendengar jawaban Amelia. Tadinya dia pikir Amelia hanya seorang gadis lemah, karena Safitri selalu mengatakan kalau Amelia hanya seorang mantan pembantu. Mengganti kerugian setara hasil panen padi seperempat hektar sawah? Bisa dia bayangkan berapa juta yang harus ia keluarkan. Ia tidak rela.
“Tapi, Nak Amelia…”
"Maaf, Juragan," sela Amelia dengan nada dingin. "Itu sudah sangat sepadan dengan kerugian yang kami tanggung. Bayar ganti rugi, atau saya akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Terserah bagaimana Anda akan mengatur ini dengan pak Barjo. Karena dia yang menjadi eksekutor.”