Bianca Kingston, sosok perempuan yang nyaris sempurna, cantik, kaya, memiliki pengaruh yang besar, baik di dunia bisnis maupun di dunia bawah. Ahli senjata dan juga beladiri.
Perempuan sesempurna itu harus merenggang nyawa di tangan rival bisnis nya, satu-satunya orang yang berani mengancam kelemahan nya, menggunakan anak-anak asuhnya.
Kematian nya, meninggalkan duka mendalam di hati kelurga Kingston dan semua orang terdekat nya, tapi takdir berkata lain, jiwa Bianca terlempar ke dunia yang sangat jauh berbeda dengan dunia nya.
Bianca terbangun di tubuh Putri Jasmine Harper, Putri terasing, yang hidup dalam kesendirian. Namun kejutan belum berakhir.
"Dua Minggu lagi, pernikahan Anda dengan Duke Lucas akan digelar!"
Bagaimana seorang Bianca Kingston yang biasa memimpin sebuah organisasi, harus menjalani hidup baru nya yang sangat jauh berbeda dari kehidupan nya dulu?
Dan siapa Duke Lucas, calon suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APAPUN UNTUK JASMINE
Setelah sarapan yang emosional itu selesai, suasana di kediaman Alistair menjadi jauh lebih sibuk dari biasanya.
Tuan Steven langsung menuju ruang kerjanya untuk mengirim surat-surat penting kepada para saudagar rempah, sementara Duke Lucas berada di belakang kediaman Alistair, berdiri dengan raut wajah yang sangat serius.
"Ethan!" panggil Lucas dengan suara baritonnya yang tegas.
Seorang pria muda berpakaian rapi dengan pedang di pinggangnya muncul dan membungkuk hormat.
"Saya, Yang Mulia Duke," jawab Ethan tegas dan sopan.
"Aku ingin kamu menyisir seluruh pasar ibu kota, bahkan jika perlu, periksa kapal-kapal dagang yang baru bersandar dari benua asing!" perintah Lucas tanpa basa-basi.
"Cari bahan-bahan makanan yang memiliki aroma kuat, rempah-rempah langka, atau apa pun yang tidak biasa disajikan di meja bangsawan kita! Dan cari tahu apa yang bisa membangkitkan selera makan istriku, jika kamu gagal, jangan harap bisa kembali ke barak dengan tenang!" lanjut Duke Lucas, dengan ancaman yang tidak main-main.
Ethan sedikit terkejut melihat tuannya yang sedingin es itu begitu menggebu-gebu soal urusan dapur dan begitu perduli dengan Nyonya Duches nya.
"Apa Duke sudah mulai menyukai Duches," batin Ethan, penasaran.
"Apa lagi yang kamu tunggu Ethan, cepat pergi! Lakukan apa yang aku perintahkan!" ucap Duke Lucas, keras.
"B-baik, Yang Mulia. Saya akan segera melaksanakan tugas ini dengan teliti," jawab Ethan, mengangguk kan kepala nya.
Sementara itu, di sisi lain kediaman, Nyonya Kimberly tidak membiarkan Jasmine termenung di kamar, mertua idaman itu dengan semangat yang meluap-luap, dia menggandeng tangan Jasmine menuju area belakang kediaman Alistair.
"Ayo, Sayang! Jika makanan di meja tidak bisa menyenangkan mu, mungkin alam bisa," ucap Nyonya Kimberly ceria.
"SALAM YANG MULIA DUCHES!"
"SALAM NYONYA BESAR!"
Ucap prajurit yang berjaga di pintu belakang.
"Hem"
Gumam mereka berdua, mengangguk kan kepala nya.
"Ayo sayang," ucap Nyonya Kimberly, membuka gerbang kayu.
Begitu pintu gerbang kayu besar di belakang kediaman dibuka, mata Jasmine membelalak takjub, bagaimna tidak, di hadapannya saat ini terbentang kebun buah-buahan yang sangat luas, menyerupai hutan kecil yang tertata rapi.
Seketika aroma manis buah yang matang di pohon langsung menyergap indra penciumannya.
"Wah ini luar biasa, Ibu," gumam Jasmine kagum, dengan mata berbinar-binar.
"Keluarga Alistair memiliki tanah yang subur, Sayang, di sini ada segalanya,"ucap Nyonya Kimberly menunjuk ke arah barisan pohon.
"Di sebelah sana ada buah persik yang berair, di sisi kanan ada berbagai jenis jeruk dari wilayah Barat, dan lihat itu, pohon mangga langka yang dibawa Ayah Lucas sepuluh tahun lalu," ucap Nyonya Kimberly, menjelaskan.
Jasmine berjalan perlahan di bawah rimbunnya pepohonan, di ikuti Luna di belakang nya, kakinya menginjak rumput hijau yang lembut.
"Duches, hati-hati," ucap Luna, khawatir.
Di gazebo sana, Nyonya Kimberly tersenyum melihat menantu nya yang sedang berkeliling kebun dengan rona bahagia di wajah nya.
"Florence, lihatlah Putri mu, dia terlihat bahagia hanya dengan hal kecil seperti ini," batin Nyonya Kimberly, mengingat mendiang sahabat nya.
Sedari tadi Jasmine tidak henti-hentinya berdecak kagum, melihat berbagai jenis buah yang sedang berbuah, dia melihat buah beri yang merah merona, anggur yang bergelantungan seperti permata ungu, dan buah-buah asing yang belum pernah dia lihat di dunianya dulu.
"Petik lah apa pun yang kamu mau, Jasmine. Anggap saja ini milikmu sendiri," ucap Nyonya Kimberly, berjalan ke arah Jasmine, membawa sebuah keranjang kecil.
"Makanlah yang banyak, temukan kembali energimu," ucap Nyonya Kimberly mengelus rambut Jasmine dengan penuh kasih sayang.
"Ibu tidak sabar melihat pipimu merona dan tubuhmu lebih berisi, Lucas mungkin terlihat kaku dan tidak pandai bicara, tapi Ibu tahu dia sangat mengkhawatirkan mu tadi," lanjut Nyonya Kimberly, tersenyum kecil.
Jasmine tersenyum tipis, mengingat bagaimana Duke Lucas menggenggam tangannya di meja makan tadi, ada rasa hangat yang mulai merayap di hatinya.
"Ibu, ayo kita berkebun," ucap Jasmine, semangat.
Pagi itu di kebun belakang kediaman Alistair di penuhi dengan tawa ceria Jasmine, Nyonya Kimberly dan Jasmine memetik banyak buah-buahan.
Cukup lama mereka berkebun, hingga akhir nya mereka menyudahi kegiatan berkebun mereka, karena buah-buahan yang mereka petik juga sudah banyak.
"Ibu, seperti nya ini sudah cukup untuk hari ini, buah yang kita petik sudah banyak," ucap Jasmine, menenteng keranjang buah yang sudah penuh.
"Baiklah, ayo kita kembali ke dalam, kamu setelah ini harus istirahat, kamu pasti lelah bukan," jawab Nyonya Kimberly, penuh perhatian.
Jasmine tersenyum dan mengangguk kan kepala nya.
"Ayo"
Mereka kembali ke dalam rumah, dengan Luna yang setia mengikuti kemapuan Jasmine pergi.
"Sayang ibu ke kamar dulu ya, kamu bersih-bersih setelah itu istirahat," ucap Nyonya Kimberly, saat sudah sampai di dalam kediaman.
"Iya, terimakasih untuk hari ini Ibu," jawab Jasmine tersenyum kecil.
"Apapun untuk mu Sayang," ucap Nyonya Kimberly, menepuk pucuk kepala Jasmine sebelum akhirnya berjalan pergi.
Setelah ibu mertua nya pergi, Jasmine kembali melanjutkan langkahnya.
"Luna ayo,"
Jasmine dan Luna berjalan menuju kamar Jasmine.
Di pertengahan jalan, Jasmine melihat suaminya yang sedang berbicara dengan Ethan di ujung lorong sana.
Karena rasa penasaran, Jasmine berusaha menguping, bersembunyi di balik dinding.
"Yang Mulia jangan, nanti ketahuan Duke," ucap Luna, khawatir.
"Syutttt.... Diam," bisik Jasmine, menajamkan indra pendengaran nya.
"Yang Mulia Duke, masalah banjir di Desa B semakin parah," ucap Ethan, nadanya penuh kecemasan.
"Orang-orang kita sudah mencoba segala cara, tetapi proyek pembangunan bendungan yang lama justru memperburuk keadaan. Mereka bilang Desa B mungkin harus direlokasi, Yang Mulia," lanjut Ethan, melaporkan kabar yang baru saja dia terima.
Tadi saat Ethan pergi untuk menjalankan perintah dari Duke Lucas, untuk mencari rempah-rempah yang berbau kuat, tiba-tiba mendapat kan kabar buruk dari orang kepercayaan nya.
Hah....
Duke Lucas menghela napas panjang, sebuah tanda stres yang sangat langka, memikirkan semua masalah yang ada di otak nya, masalah banjir di Desa B yang sudah berhari-hari, dan juga masalah makan istri nya.
"Relokasi?" tanya Duke Lucas terdengar berat.
"Desa B sudah ada di sana selama tiga abad, Ethan, mereka adalah produsen gandum utama kita. Relokasi akan membutuhkan biaya besar, memakan waktu, dan menghancurkan moral penduduk desa," ucap Duke Lucas, tidak setuju.
"Saya tahu, Yang Mulia, tetapi sungai yang meluap itu terus mengikis fondasi desa. Bendungan yang dibangun sepuluh tahun lalu justru mengalihkan aliran air ke area pemukiman saat musim hujan tiba, menenggelamkan rumah-rumahan warga, kita tidak punya solusi lain untuk mengendalikan luapan di bagian itu," jelas Ethan, juga pusing dengan masalah yang terjadi.
Jasmine gitu loh... 🤣