NovelToon NovelToon
DI BALIK SOROT LAMPU

DI BALIK SOROT LAMPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Model / Karir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.

Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU DETIK MENYELAMATKAN DUNIA

Ia melangkah kembali menuju studio. Bersiap bukan hanya untuk bekerja, melainkan untuk mendampingi seseorang yang selama ini hanya dilihat dunia dari balik topeng popularitas.

Studio yang sempat mendingin selama waktu istirahat mendadak kembali memanas. Baru sepuluh menit sejak lampu-lampu panggung dinyalakan kembali, suara Elvario sudah menggelegar membelah ruangan. Bukan teriakan histeris, melainkan rentetan kalimat tajam yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.

"Ini blocking siapa yang kerjakan?"

"Gue minta angle kanan, kenapa kameranya geser ke kiri?"

"Suara dari tadi kacau, dibilang beres tapi tetap saja bocor!"

Para kru saling lempar pandang dengan wajah pias. Rizal berdiri di dekat monitor, mencoba menengahi dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar tetap tenang.

"El, itu ada perubahan mendadak dari produser—"

"Selalu saja alasan!" potong Elvario telak. "Apa sih yang benar-benar becus dari tim ini?"

Udara di dalam studio seolah membeku. Beberapa kru memilih menunduk dalam-dalam, sementara yang lain berhenti bergerak sama sekali karena takut setiap gerakan kecil mereka akan memicu ledakan yang lebih besar. Rizal menghela napas panjang, mencoba mendekat.

"El, tenang dulu—"

"Jangan suruh gue tenang!" bentak Elvario, matanya menyala penuh kilat frustrasi. "Mau sampai kapan kerja berantakan begini?"

Di tengah ketegangan yang nyaris memuncak itu, terdengar bunyi ketukan sepatu yang teratur mendekat. Adrina berjalan tegak melintasi lantai studio. Wajahnya tenang, bahunya tidak merosot karena takut, dan tidak ada keraguan sedikit pun dalam langkahnya.

Ia berhenti tepat di hadapan Elvario. Jaraknya sangat sopan—cukup dekat untuk memastikan suaranya terdengar hanya oleh mereka, namun cukup jauh agar tidak terkesan menantang otoritas sang bintang.

"Kenapa, Mas?" tanya Adrina.

Nada suaranya datar dan netral. Ia tidak menyalahkan kru, namun juga tidak membela Elvario secara buta. Ia hanya bertanya untuk mencari fakta. Elvario menoleh ke arahnya, dan untuk sesaat, sorot matanya yang liar tampak sedikit meredup—seperti seseorang yang akhirnya menemukan titik untuk bernapas di tengah kepungan asap sesak.

Semua mata di studio tertuju pada mereka. Hening yang mencekam menyelimuti.

"Kenapa?" ulang Adrina lebih lembut, namun tetap stabil.

Elvario mengusap tengkuknya dengan kasar. Rahangnya yang semula mengeras perlahan mulai turun. "Mereka tidak mengerti ritme," ucapnya akhirnya, suaranya sudah tidak setinggi tadi. "Gue sudah bilang instruksinya dari awal."

Adrina mengangguk kecil, menunjukkan bahwa ia mendengar dan mengerti. "Oke. Yang mana dulu yang paling membuat Mas terganggu?"

Ia tidak bertanya siapa yang salah, melainkan apa masalahnya. Strategi itu berhasil mengalihkan emosi personal Elvario menjadi masalah teknis yang logis.

Elvario terdiam beberapa detik, mencoba menyusun kembali pikirannya. "Pertama blocking. Terus posisi kamera. Terus suara yang delay."

Adrina segera menoleh ke arah kru teknis. "Kita urutkan ya," katanya dengan suara tegas yang sanggup merambat ke seluruh penjuru ruangan. "Masalah blocking dulu."

Ia memberikan isyarat pada floor director. "Pasang ulang sesuai tanda awal yang diminta Mas El. Kamera satu tetap di kanan, jangan digeser lagi. Kamera dua standby di posisi netral."

Kru yang tadinya kaku ketakutan langsung bergerak sigap. Mereka merasa seolah baru saja diberi jalan keluar dari labirin yang menyesakkan. Elvario memperhatikan pergerakan itu, dan perlahan-lahan napasnya yang tadi memburu mulai kembali teratur.

Tiba-tiba Elvario berucap, suaranya terdengar cukup jelas oleh semua orang di ruangan itu. "Nah. Biar Adrina yang urus. Kalian ini sepertinya memang tidak mau belajar."

Kalimat itu tidak terdengar penuh kemarahan lagi. Lebih seperti sebuah penegasan atas otoritas baru di sana. Para kru terdiam, lalu bekerja lebih cepat dan lebih fokus daripada sebelumnya. Rizal yang berdiri di sisi panggung menatap Adrina dengan perasaan lega yang tak terlukiskan. Ia menyilangkan tangan di dada, mengangguk kecil pada dirinya sendiri.

Tenang itu akhirnya datang juga, batin Rizal.

Adrina kembali menoleh pada Elvario. "Mas, lima menit untuk persiapan akhir. Setelah itu kita lanjut."

Elvario mengangguk tanpa membantah. "Oke."

Tidak ada nada tinggi. Tidak ada protes. Studio kembali bisa "bernapas".

Seorang kru berbisik pelan pada temannya di balik tumpukan kabel. "Gila, dia benar-benar bisa bikin Elvario menurut."

"Bukan menurut," sahut yang lain dengan suara nyaris tak terdengar. "Dia bikin Elvario merasa tenang."

Adrina tetap berdiri di tengah studio, tablet masih di genggamannya, memantau setiap detail persiapan dengan teliti. Ia tidak berdiri di sana sebagai seorang asisten, bukan pula sebagai penggemar yang memuja. Ia berdiri di sana sebagai seseorang yang dipercaya penuh untuk mengendalikan keadaan.

Dan untuk pertama kalinya sejak kariernya melesat menuju puncak, Elvario Mahendra tidak lagi merasa sendirian saat dunia di sekitarnya kembali terasa terlalu bising.

1
Selfi Polin
mampir thor, awal yg bagus😍
Joice Sandri
bagus...tertata dg baik kisah n bhsnya
Ros Ani
mampir ah siapa tau suka dg karyamu thor
Dinna Wullan: terimakasih ka saran sarannya
total 1 replies
Tismar Khadijah
bahasanya hmm👍
Tismar Khadijah
lanjuut💪
Tismar Khadijah
baguus
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya ka
total 1 replies
Mar lina
aku mampir, thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!