Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 200 – Api dan Cahaya
Lift Heavens Arena berhenti di lantai 200 dengan suara ding yang terasa seperti bel akhir. Pintu terbuka ke koridor yang berbeda dari lantai bawah—lebih luas, lebih gelap, dengan lampu sorot merah dan biru yang berkedip seperti denyut nadi raksasa. Udara di sini terasa lebih berat, penuh aroma keringat, darah kering, dan aura yang saling bertabrakan.
Raito keluar lift terlebih dulu. Mira di samping kanannya, Yuna di belakang dengan tangan memegang lengan Mira erat-erat. Mereka sudah naik cepat dalam seminggu terakhir—lantai 150 sampai 199 dirampungkan dengan kemenangan yang semakin mudah, tapi juga semakin melelahkan. Lawan-lawan di lantai tinggi tidak lagi bertarung karena uang atau nama. Mereka bertarung karena ingin tahu seberapa jauh mereka bisa pergi.
Koridor lantai 200 sepi. Hanya beberapa petarung lain yang berjalan pelan, mata mereka kosong tapi penuh api. Di ujung koridor, pintu arena utama terbuka lebar. Di dalam, ring besar dikelilingi tribun penuh penonton—bukan penonton biasa, tapi petarung dari lantai atas, scout organisasi gelap, dan orang-orang yang datang khusus untuk melihat pertarungan legendaris.
Wasit di tengah ring—pria tua dengan bekas luka di wajah—mengumumkan dengan suara menggelegar:
“Lantai 200 – Pertarungan spesial! Raito vs ‘Crimson Reaper’! Pemenang dapat hak naik ke lantai 201 dan hadiah 10 juta jenny!”
Raito naik ke ring. Lawannya sudah menunggu: pria tinggi kurus berusia sekitar 35 tahun, rambut merah panjang diikat ke belakang, mata merah seperti darah segar. Crimson Reaper—julukan yang dikenal di lantai tinggi karena aura-nya seperti api yang membakar segalanya. Tangan kanannya dibungkus sarung tangan kulit merah yang sudah hangus di beberapa bagian, aura Transmutation-nya mengubah udara di sekitar menjadi panas yang menyengat.
Crimson Reaper tersenyum tipis. “Aku dengar kamu bikin lawan menyerah tanpa darah. Lucu. Aku nggak akan menyerah sebelum kamu terbakar habis.”
Raito berdiri tenang. Embun cahaya tipis sudah mengelilingi tubuhnya—sekarang lebih tebal dari sebelumnya, seperti jubah fajar yang hangat. “Aku nggak mau kamu terbakar. Aku mau kamu lihat… ada cara lain selain membakar.”
Wasit meniup peluit.
Crimson Reaper bergerak pertama—cepat, seperti api yang melompat. Tinju kanannya mengeluarkan lidah api kecil, mengarah ke dada Raito. Panasnya terasa bahkan sebelum menyentuh—udara di sekitar bergetar.
Raito tidak menghindar. Dia angkat tangan kanan—embun cahaya mengembang jadi gelombang hangat yang menyambut api itu. Api bertabrakan dengan cahaya—ada suara hiss keras seperti air bertemu bara panas. Api tidak padam, tapi juga tidak maju. Ia terjebak di gelombang cahaya, berputar-putar seperti terperangkap dalam angin hangat.
Crimson Reaper melebar mata. “Apa ini? Cahaya-mu bisa tahan api-ku?”
Raito bicara pelan. “Bukan tahan. Menerima. Api-mu kuat… tapi ia juga membakar dirimu sendiri.”
Crimson Reaper marah. Dia maju lebih cepat—pukulan beruntun, setiap pukulan mengeluarkan gelombang api kecil. Ring mulai panas, asap tipis naik dari lantai kayu.
Raito tetap tenang. Embun cahaya-nya berubah—bukan perisai tebal, tapi lingkaran-lingkaran kecil yang mengelilingi tubuhnya seperti orbit. Setiap pukulan api menyentuh lingkaran itu—api tidak padam, tapi melambat, seperti terperangkap dalam pusaran hangat.
Penonton mulai berbisik. “Dia nggak serang balik. Dia cuma… menyerap?”
Mira di tribun memegang tangan Yuna. “Itu… bentuk baru. Dia nggak lawan. Dia terima.”
Yuna mata berbinar. “Kak Raito keren!”
Crimson Reaper berteriak. “Jangan main-main! Aku akan bakar kamu sampai habis!”
Dia lompat ke udara—kedua tangannya dibungkus api besar, aura Transmutation-nya mencapai puncak. “Inferno Crash!”
Pukulan itu turun seperti meteor api—panasnya membuat udara bergetar, ring mulai terbakar di beberapa titik.
Raito angkat kedua tangan. Embun cahaya mengembang jadi kubah hangat yang menyelimuti seluruh tubuhnya—bukan pertahanan keras, tapi seperti selimut api yang lembut. Api Crimson Reaper bertabrakan dengan kubah itu—ada suara boom pelan, tapi bukan ledakan destruktif. Api itu terserap, berputar di dalam kubah cahaya, lalu perlahan padam seperti lilin yang ditiup angin hangat.
Crimson Reaper mendarat dengan napas tersengal. Api di tangannya padam. Dia memandang tangannya sendiri—seperti baru sadar bahwa api itu juga membakar dirinya.
“Kenapa… aku tiba-tiba nggak mau lanjut?”
Raito menurunkan tangan. Kubah cahaya meredup pelan. “Karena kamu lihat sendiri… api itu nggak cuma membakar musuh. Ia membakar kamu juga. Aku nggak padamkan api-mu. Aku cuma tunjukkin bahwa kamu bisa berhenti sebelum terbakar habis.”
Crimson Reaper jatuh berlutut. Matanya kosong—bukan kalah fisik, tapi kalah dalam hati.
“Aku… menyerah.”
Wasit angkat tangan. “Pemenang: Raito!”
Penonton terdiam sejenak, lalu sorak sorai meledak—bukan sorakan biasa, tapi campuran kagum dan takut.
Mira dan Yuna berlari ke ring. Yuna memeluk kaki Raito. “Kak Raito nggak terbakar!”
Mira memandang Raito dengan mata penuh kebanggaan. “Kamu nggak cuma menang. Kamu ubah cara orang bertarung.”
Raito tersenyum lelah. “Aku cuma… biarkan cahaya bicara.”
Mereka turun dari ring. Di koridor luar arena, Raito merasakan aura yang familiar lagi—dingin, lengket, penuh rasa ingin tahu.
Hisoka berdiri di ujung koridor, bersandar di dinding, kartu remi berputar di jarinya.
“Aku lihat pertarunganmu tadi,” katanya pelan. “Kamu nggak lawan dia. Kamu… terima dia. Dan dia menyerah karena dia sendiri yang memilih menyerah.”
Raito berhenti. Mira maju setengah langkah, tapi Raito menahannya.
Hisoka tersenyum tipis. “Kamu semakin menarik. Lantai 200 sudah dekat. Aku akan tunggu di sana. Dan kali ini… aku nggak akan main-main.”
Dia berbalik, menghilang ke koridor gelap.
Raito memandang ke arahnya pergi. Cahaya di dadanya berdenyut pelan—bukan takut, tapi siap.
Mira berbisik. “Dia nggak bohong. Lantai 200 akan jadi pertarungan sungguhan.”
Raito mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku nggak akan bertarung untuk menang. Aku akan bertarung untuk tunjukkin… ada cara lain.”
Yuna memandang ke atas. “Kak Raito… kamu nggak takut sama dia?”
Raito tersenyum. “Takut. Tapi takut itu nggak akan menghentikan aku. Karena aku punya kalian.”
Mereka bertiga berjalan ke lift lagi—menuju lantai berikutnya.
Di belakang mereka, Hisoka berdiri di bayang-bayang, senyumnya melebar.
“Fajar yang tertahan… sekarang mulai menyingsing. Aku akan ikuti… sampai kau benar-benar terbakar… atau menerangi segalanya.”
Lift bergerak naik.
Dan di lantai 200, pertarungan terakhir menunggu—bukan hanya melawan Hisoka, tapi melawan pertanyaan terakhir: apa arti “menang” bagi cahaya yang sudah terima retaknya?