NovelToon NovelToon
Murid Tengil, Kesayanganku

Murid Tengil, Kesayanganku

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: LIXX

Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.

Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.

Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Ke Bukittinggi

Setelah mendapatkan nomor Adimas, Rani menghubungi nomor itu, namun tidak diangkat. Di chat juga tidak dibalas, dan akhirnya Rani hanya diam di rumah hingga malam hari tiba.

Malam, Adimas pun tidak ke sana. Dan baru saat pagi hari, Adimas ke rumah itu membawa banyak kebutuhan dasar rumah.

Tatapan Rani tajam seolah ingin memakan seseorang, dia mencoba untuk tenang pada awalnya. Namun kamu tahu, diabaikan itu adalah hal yang sangat tidak menyenangkan.

"Udah pulang, Mas?" Tanya Rani, Adimas menatap wajah masam itu beberapa kali hingga dia akhirnya yakin bila Rani memang sedang marah padanya.

“Iya, sudah sarapan? Aku bawa bubur ayam di jok depan.” Tanya Adimas, dia yang membawa belanjaan langsung masuk ke dalam rumah tanpa bertanya dulu pada Rani atau berkata-kata.

Setelah di rumah dan si Mbok juga sedang merapikan halaman belakang, barulah Adimas sadar bila Rani kini benar-benar sedang marah padanya.

“Kenapa?” Tanya Adimas bingung, Rani memalingkan wajahnya.

“Jauh dari warung, tadi aku sama si Mbok sampai jalan beberapa ratus meter, Mas, cuma demi beli roti Jepang. Mas, Mas semalam ke mana aja? Kenapa gak pulang? Terus, kemarin sore dari mana? Kenapa gak kasih kabar?” Cerocos Rani, Adimas terdiam dan menyembunyikan wajahnya yang menahan senyum.

“Mas?” Rani kembali bertanya, namun Adimas justru tertawa. Bibirnya sudah tak sanggup menahan tawanya lagi.

“Kok malah ketawa sih?” Rani memalingkan tubuhnya agar tidak melihat tawa Adimas yang begitu bahagia.

“Haruskah aku pulang tiap malam?” Tanya Adimas, dia melingkarkan tangannya di leher Rani. Rani refleks menahan tangan itu dan mundur setengah langkah, tubuhnya membungkuk dan seketika itu juga badan Adimas melayang.

Bruk!

Adimas tumbang seketika, dia terlentang di atas lantai dengan kakinya menyentuh sofa dan wajahnya kini berada di bawah wajah Rani.

“So, kamu tahu jawabannya sekarang, Hem?” Tanya lagi Adimas, Rani langsung mundur dua langkah dan memasang kuda-kuda. Adimas bangun dan mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.

“Kalau aku sampai nginep di sini, bisa jadi di pagi harinya aku udah digantung di sana, yank.” Ucap Adimas menunjuk lampu gantung di tengah rumah itu.

“Mas, gak papa?” Tanya Rani akhirnya, Adimas tersenyum simpul dan mengangkat bahunya.

“Gak papa, sini bantu masukin ini ke kulkas.” Pinta Adimas, Rani mengangguk dan ikut membereskan belanjaan.

“Hari Senin besok, aku berencana pesan tiket ke Bukittinggi.” Ucap Adimas, Rani menghentikan pekerjaannya sejenak.

“Kamu tidak perlu ikut, suka anak-anak kan?” Tanya lagi Adimas, Rani mengangguk pelan.

“Di sekolah Al-Qur'an, aku sudah siapkan satu tempat mengajar di sana. Itu yang aku lakukan tadi malam, dan sorenya aku melakukan pembukaan.” Ucap Adimas, Rani menundukkan pandangannya. Sejenak perasaan nyaman menjalar di seluruh darah Rani.

“Apa aku sungguh tidak perlu ikut ke sana, Mas?” Tanya Rani lagi, Adimas mengangguk pasti.

“Percaya ya?” Pinta lagi Adimas, mengusap kepala Rani. Kini mata Rani mendelik tajam pada Adimas, mengisyaratkan jangan menyentuh dirinya.

“Oke-oke, aku tidak melakukannya lagi.” Adimas mengangkat lagi tangannya, Rani tersenyum dan kembali membereskan semua belanjaan.

.

.

.

Hari yang ditentukan akhirnya tiba, Adimas dengan tekadnya kini berdiri di sebuah pondok pesantren besar dengan santri yang sangat banyak.

“Ya Allah…” Gumam Adimas pasrah, hingga seorang kakek tua menggunakan sarung dilipat hingga sampai lutut dengan celana kolor menutupi lututnya, membawa seember gabah padi berjalan santai menghampiri Adimas.

“Cari siapa?” Tanya pria tua itu, Adimas memang belum sempat bertemu dengan kakek Rani sebelumnya. Jadi dia tidak tahu bagaimana rupa pria itu, alhasil daripada tersesat di jalan maka lebih baik bertanya dulu, kan?

“Saya ingin bertemu dengan Ibu Elmaira dan Kakek Hadad.” Ucap Adimas, pria tua itu mengangguk paham. Kini matanya menatap Adimas dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki.

“Ikut saya!” Pinta kakek itu, Adimas akhirnya tersenyum. Dia dengan ransel besarnya mengikuti pria tua itu.

Adimas dibawa ke sebuah kolam ikan mas, di sana pria tua itu memberi makan ikan dan tampak begitu santai. Rasa bingung kini memenuhi perasaan Adimas, kenapa pria tua itu justru membawanya ke kolam ikan mas?

“Kek, kakek mau apa?” Adimas bingung saat pria itu turun ke kolam dan mengambil saringan ikan.

“Calon cucu menantu saya tiba di sini, aku harus menyambutnya. Nak, bisa bantu aku mengambil ikan terlebih dahulu?” Tanya kakek tua itu. Adimas menghela napas kasar.

‘Ah sudahlah, itung-itung beramal.’ Pikir Adimas, dia akhirnya menaruh ranselnya dan mengangkat celana panjangnya hingga sampai ke lutut.

“Baik, Kek, sebentar.” Adimas menempatkan tasnya di tempat aman, Adimas turun ke kolam air. Tidak begitu dalam, namun Adimas cukup kesulitan mengambil ikan itu, hingga beberapa kali gagal. Namun akhirnya, dia berhasil menangkap dua ikan besar.

“Ini cukup, Kek?” Tanya Adimas, pria tua itu mengangguk.

“Itu siapa yang sama Pak Kiai?” Tanya seorang santri pria yang mungkin usianya sama dengan Adimas.

“Gak tahu, aku saja baru melihatnya sekarang.” Ucap temannya yang lain, mereka melihat sendiri bagaimana guru mereka tertawa dan menertawakan kelakuan Adimas yang sedang kesulitan membawa dua ikan sekaligus.

“Pak, astaghfirullah, lagi apa?” Kaget seorang wanita yang dikenali Adimas, Adimas seketika terdiam di tempat. Dengan dua ekor ikan besar ada dalam pelukannya.

“Pak Adimas, Ya Allah, kalian sedang apa?” Ucap Ibu Rani, tertawa geli melihat Adimas dikerjai oleh ayahnya sendiri.

“Eh, Bu. Assalamu'alaikum!” Teriak Adimas, para santri yang baru lewat setelah belajar nampak kebingungan dan bertanya-tanya tentang identitas pria yang lebih mirip seperti preman itu kini menangkap ikan di kolam kesayangan guru mereka.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ayo naik!” Ucap Ibu Rani mengajak Adimas dan ayahnya naik, Adimas sejenak melihat kakek tua itu yang masih saja geli melihat penampilan Adimas.

“Kapan sampai? Ya Allah, ayo masukkan ke sini.” Ibu Rani menaruh ember hitam di samping Adimas, dengan cekatan Adimas menaruh dua ikan besar itu ke dalam ember.

“Ini Kakek?” Tanya Adimas setengah berbisik pada Ibu Rani, Ibu Rani mengangguk pelan.

“Ayo masuk, maaf, Nak. Bukan maksud Kakek mengerjai kamu, kamu benar-benar anaknya Ghiffari?” Tanya lagi pria tua itu, Adimas tersenyum mengecup punggung tangan pria tua itu, dan mengangguk.

“Iya, Kakek kenal Daddy?” Tanya Adimas, Kiai Hadad hanya tersenyum menjawab pertanyaan Adimas.

“Raninya gak diajak pulang?” Tanya Ibu Rani, Adimas terkekeh dan menggeleng pelan.

“Ada sebuah sekolah anak di dekat rumah, Bu, di sana sedang membutuhkan pengajar. Rani sangat suka dengan anak kecil, jadi dia sekarang sedang mengajar di sana.” Ucap Adimas, Ibu Rani terdiam.

“Apa tidak ada yang ganggu di sana?” Tanya Kiai Hadad, Adimas menggelengkan kepalanya.

“Enggak kok, Kek, Rani tinggal di rumah saya.” Ucap Adimas, seketika Ibu Rani dan Kiai Hadad terdiam. Mata mereka langsung menatap tajam Adimas.

“Ee, saya tinggal di apartemen. Tidak tinggal satu atap, Elyra sedang di Bali jadi Rani tinggal di rumah saya dulu.” Adimas langsung menjelaskan, dia seperti habis ditebas pedang karena tatapan itu.

Jadi ini maksud Rani kehilangan setengah nyawa? Rasanya memang tidak enak, pikir Adimas.

“Kapan kalian menikah?” Tanya langsung Ibu Rani, Adimas terdiam. Bayangkan ditanya seperti itu di tengah jalan. Di tengah lapangan di mana di kanan kiri banyak santri yang memperhatikan, ditambah lagi banyak kamar santri masing-masing tiga lantai di sana, belum lagi tempat mengajar yang ramai orang. Bayangkan bagaimana perasaan Adimas saat itu?

1
falea sezi
bentar ank di luar nikah emank bisa di wali kan sama. leon/Drowsy/ mana bisa aduh kn mereka bukan saudara kandung lagian anak di luar nikah g boleh pake binti bapak nya woy pengalaman pribadi soalnya/Hunger/
Miss Typo
lah lah lah, kok tau² dah tamat thor???

happy ending 👏👍
makasih thor, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
Miss Typo
ketinggalan gara² paketan hbs 🙈
Dewi kunti
hbs malu,trus malu2 in😄😄😄😄
Miss Typo
otw Adimas junior 😁
Miss Typo
Aamiin 🤲
Miss Typo
wah mau buka segel Rani si Adimas 😁
Miss Typo
huaaaaaa aku terharu 😭
selamat menempuh hidup baru Adimas dan Rani, semoga SaMaWa dan cepat dikasih momongan 🤲

awas Adimas jangan nyosor dulu mentang² berdua doang, inget mau sholat ashar berjamaah 🤣
Miss Typo
semoga lancar
Miss Typo
nangis sesenggukan tapi juga ketawa saat Kyun dateng 😭🤣
Miss Typo
bingung mau komen apa
Miss Typo
Rani adiknya Leon, semoga Rani tetap menikah dgn Adimas
Miss Typo
baru bisa baca lagi
huaaaaaa nyesek bacanya 😭😭😭
Tri Rahayuningsih
ditunggu ya kak
Miss Typo
jadi jadi gmn ini,,, alamak makin penasaran thor 😭
Miss Typo
kok aku makin geram sama ayahnya Rani ya
Miss Typo
semoga aja Adimas merubah penampilannya makanya gak bareng 😁
Miss Typo
semoga lancar gak ada halangan, deg²an Adimas gak brgkt bareng
Tri Rahayuningsih
jgn lama up ya thor..kalo bisa triple 😄 soale critane kereen 👍dan seru
LIXX: oke, 🤭makasih
total 3 replies
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!