NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku takut

Aku dan keluarga kak Erick berlibur selama 10 hari di China, setelah itu ia hanya berada di Jakarta selama 3 hari, kemudian kembali ke Surabaya. Sedangkan aku mulai menyusun skripsiku selama sisa liburan akhir semester.

Mendekati masa haidku, aku terus menghitung harinya, aku sungguh takut hamil. Seminggu berlalu tapi haidku belum kunjung datang.

"Babe... mmm... aku takut, harusnya haidku datang di tanggal-tanggal ini, tapi belum datang juga.", ucapku pada panggilan video dengan kak Erick.

"Menurut hitungan, kamu telat berapa lama babe?"

"Seminggu mungkin."

"Jangan takut, aku atur jadwal supaya aku bisa pulang lusa ok, nanti kita tes bareng-bareng."

Kak Erick menepati janjinya, 2 hari kemudian ia kembali ke Jakarta.

"Babe aku takut."

""Apa yang kamu takutkan, aku diisini kan babe, semua akan baik-baik saja."

Aku melakukan tes pada beberapa alat tes kehamilan, dan menunggu hasilnya dengan perasaan tidak tenang.

"Udah waktunya, kamu yang baca duluan hasilnya babe.", pintaku pada kak Erick, kemudian aku melihatnya tersenyum.

"Apa hasilnya?"

"Kamu positif babe, ada calon anak kita diperut kamu."

Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar lalu mengambil semua alat tes itu dan membacanya, ternyata hasilnya memang benar positif. Berbanding terbalik dengan kebahagiaan kak Erick, aku langsung merasa lemas dan segera duduk dengan lututku yang tertekuk dan menyembunyikan kepalaku dengan tanganku.

"Babe aku akan segera menikahimu, ga akan ada yang berubah, kamu tetap bisa melanjutkan skripsi dan menyelesaikan kuliah, jadi semua akan baik-baik saja.", ia memelukku tapi aku tetap diam menunduk tidak memberikan reaksi apapun. Seakan belum bisa menerima kenyataan aku bertanya padanya,

"Kok bisa ya, aku kan minum pencegah kehamilan selama 3 hari setelah itu, kenapa masih bisa hamil?", tanyaku pelan.

Kemudian hal berikutnya yang kudengar adalah sesuatu yang tidak aku harapkan. Tiba-tiba ia berlutut dengan kedua kakinya dihadapanku, dan memegang tanganku.

"Soal itu aku sudah berdosa sama kamu babe, aku ga kasih kamu obat pencegah kehamilan, yang aku kasih itu vitamin biasa untuk menambah imunitas."

"Kak!", tanpa terasa air mata mengalir di pipiku.

"Maafkan aku babe, aku sungguh bersalah sama kamu."

"Kenapa?", tanyaku sambil menangis, meski aku tau jawabannya tapi aku ingin mendengar ia mengakuinya.

"Aku bisa kasih banyak alasan untuk itu, tapi sebenarnya adalah keegoisanku, maaf aku egois dan memutuskan secara sepihak."

"Kakak jahat!"

"Maafin aku."

Kemudian kami sama-sama terdiam. Kemudian aku berkata pelan,

"Aku sungguh belum siap jadi ibu, katanya kalau baru berapa hari masih belum berbentuk janin kan, kalau aku aborsi bagaimana?"

"Jeny!", ucapnya marah.

"Itu anak kita, aku memang melakukan kesalahan dan bersikap egois, tapi apa kamu sebenci itu? Apa kamu sangat membenciku?", aku diam dan hanya menatap ke bawah.

"Jeny, marah lah sama aku sepuas kamu, tapi jangan benci aku. Aku bersedia menerima hukuman dari kamu sampai kamu maafin aku, aku juga akan menebus kesalahan aku seumur hidupku. Aku akan membahagiakan kamu, dan meratukan kamu seumur hidupku, kamu tau kan kalau aku sangat mencintaimu, tapi tolong Jen beri kesempatan anak kita untuk hidup."

Mendengar kata hidup, aku tersadar aku telah melakukan kesalahan, benar... ada kehidupan lain dalam tubuhku, aku tidak setega itu, aku hanya takut.

"Babe bicara sama aku, pleaseee babe..."

"Babe jangan lakukan itu please... pukul aku babe, pukul sampai kamu puas luapkan kemarahan kamu sama aku.", sesaat kemudian kak Erick mulai memukuli dirinya sendiri, awalnya aku hanya semakin menangis melihatnya, kemudian aku berkata,

"Stop, aku ga benci kakak. Aku juga saat itu melakukannya secara sadar, jadi aku juga salah disini, aku hanya takut akan penilaian orang lain sama aku."

"Siapa yang mau menilai buruk kamu, keluargaku pasti bahagia mendengar ini, keluarga besarmu aku kurang tau soal itu, tapi aku yakin orang yang mencintaimu pasti akan mendukungmu, mereka yang menilaimu buruk berarti ga mengenal kamu dengan baik, jadi buat apa kamu perdulikan mereka. Kamu hanya perlu perduli sama orang yang benar-benar sayang sama kamu."

"Maaf tadi aku bilang kata aborsi, aku ga bermaksud begitu."

"Ya aku tau itu, jadi kita akan menghadapinya bersama Jen, kalau kamu belum siap, kamu hanya perlu berdiam diri di tempat dan menerima aku. Aku yang akan mengurus keperluan kamu, keperluan kita, sebisa mungkin mengambil beban kamu, dimulai dari keluargaku, biar aku yang bicara dengan mereka."

Aku mengangguk pelan, ia mengusap air mataku, kemudian mengecup kedua mataku.

"Sekali lagi maafkan aku babe, apa kamu mau memaafkan aku?"

"Ya."

"Makasih sayang. Jadi apa kamu mau menikahiku?"

"Ya, aku ga dikasih pilihan lain kan sama kamu.", sindirku, tapi ia hanya tersenyum.

"Aku mencintaimu babe, sungguh sangat mencintaimu."

"Hmmm...", balasku.

"Sudah hampir subuh, kamu harus tidur sekarang.", kemudian ia memelukku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!